“Anastasya Shanum” nama simple yang orang tuaku berikan kepadaku. Tentu aku sangat bangga, kata Ibu namaku memiliki arti kelahiran yang diberkati.
Yah tentunya harapan orang tuaku terhadapku adalah menjadi anak yang berguna bagi banyak orang, sukses, dan tentunya membanggakan orang tua.
Namun pada kenyataannya takdir berkata lain, berbeda dari arti namaku serta harapan orang tuaku. Pada nyatanya aku adalah anak yang cenderung introvert, tidak mudah bergaul, serta sering merasa insekyur.
O’iya aku merupakan anak pertama dari tiga bersaudara, dimana adiku perempuan dan adik bungsuku laki-laki.
Adiku yang perempuan bernama Vanya Vacencia sedangkan adik bungsuku bernama renald mahendra.
Pagi yang cerah dengan kericuhan kuda besi yang saling berpacu dengan gagahnya menjadikan hari-hari begitu menyebalkan.
Ditambah teriakan orang dari sebrang membuyarkan lamunanku. “yoo… yo… pasar.. pasar.., langsung berangkat”.
Hari ini hari senin, dimana banyak orang berkutat dengan kesibukan masing-masing, termasuk aku.
Segera aku masuk kedalam angkot tersebut, kebetulan sekolahku satu jurusan dengan pasar sehingga cocok.
Di dalam angkot ternyata penuh dengan banyaknya orang, baik itu anak sekolah ataupun ibu-ibu yang hendak ke pasar.
“Tetot.. tetot” kupencet bel agar angkot berhenti. Segera kutenteng tas merahku menuju sekolah.
Sebenarnya untuk siswa kelas 12 sepertiku tidak wajib ke sekolah karena hanya tinggal menunggu kelulusan dan wisuda saja, karena ujian nasional telah kami lalui.
Alasanku masuk ke sekolah hari ini tak lain adalah karena ingin bertemu dengan sahabat-sahabatku Ochi dan Citra sebelum berpisah untuk menuju kampus impian, yang letaknya di kota yang berbeda.
Aku dan citra sudah berteman sejak lama, karena kesamaan dan kecocokan kami akhirnya menjadi seorang sahabat.
Kesamaan kami adalah seorang introvert yang tak mudah bergaul, untuk berteman dengan lawan jenis aja kami merasa kurang percaya diri.
Pernah suatu ketika saat citra menyukai salah satu kakak kelas, dengan gugup dia hanya mampu menyimpan rasa itu di dalam hati saja.
Sempet ada perasaan getir dihati citra ketika kakak kelas tersebut memiliki hubungan khusus dengan salah satu teman sekelas sekaligus sahabat kami yakni Ochi.
Ochi merupakan primadona disekolah kami, tak heran banyak kakak kelas, teman seangkatan, bahkan adik kelas mencoba mendekati Ochi.
Aku dan Ochi merupakan teman masa kecil, sehingga aku merasa beruntung memiliki teman seorang primadona sekolah.
Sampai dikelas suara bariton menggema di telinga ini.
“ Anez, lo udah lihat mading belum?”, tanya Ochi dengan gaya bahasa gaul khasnya.
“Belum sih, kan baru datang juga chi”, jawabku.
“Nez, aku kasih satu berita ya yang bisa buat kaget dan senang”, bicaranya dengan antusias.
“ Apaan chi, jangan bikin aku penasaran deh”, tanyaku dengan penasaran.
“Tau gak, kita berdua keterima jalur undangan di Universitas Airlangga”, kabarnya dengan bahagia.
“Serius chi, gak bercanda kan?”, tanyaku.
“Enggak nez, dan yang lebih bahagia aku sekampus sama kak Aldo”, ucapnya sambil kegirangan.
“jadi nggk kuliah dong chi, malah ngebucin terus”, jawabku menggoda ochi.
“ehmmm bisa jadi heheh… gue gak sabar mau ke kampus tanpa pakai seragam lagi”, jawabnya antusiasnya
“terus si citra bagaimana, diterima juga kah di Universitas Impianya di jogya?”, tanyaku pada Ochi.
“sepertinya citra tidak lolos jalur undangan nez”, jawab Ochi.
Suara langkah kaki terdengar dan terlihat gadis remaja itu tertunduk lesu dengan menyandarkan kepala dengan tangan diatas meja.
“citra, are u okey?”, tanyaku menghampirinya.
“fine nez”, jawabnya lesu.
“I’ts okay cit, masih ada jalur lainnya untuk menuju kampus impian”, sambung Ochi menenangkan.
“Yah, Papaku sudah mendaftarkanku ke salah satu universitas swasta di Surabaya” jawabnya lesu.
“No problem cit, kita ambil hikmahnya kita bisa bersama meskipun berbeda universitas. Aku, kamu, Ochi”. Jawabku menenangkan sambil mengelus pundaknya.
“ Ide bagus, maybe kita bisa hangout tiap minggu biar keren” jawab Ochi.
Selanjutnya kami lanjutkan dengan saling berpelukan dan bercerita satu sama lain.