Arka membuka mata perlahan, membiarkan sinar matahari yang menembus tirai tipis kamar kosnya menerpa wajahnya. Kamar itu kecil, berantakan, tapi nyaman. Buku-buku berserakan di lantai, laptop terbuka di meja, poster band indie menempel di dinding, dan aroma kopi semalam masih tercium samar.
Di rak, sebuah buku tua tanpa judul menarik perhatiannya. Ibunya mengirimnya dari kampung, katanya buku itu berisi catatan dan kisah lama keluarga. Arka menatap buku itu sejenak, jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Ada rasa penasaran aneh yang sulit dijelaskan—seolah buku itu ingin memberitahunya sesuatu.
Ia mandi, mengenakan kemeja abu-abu dan celana jeans hitam, lalu bersiap berangkat ke kampus. Di perjalanan, suara klakson, pedagang bubur, dan mahasiswa yang terburu-buru menyatu menjadi simfoni khas Jakarta. Tapi Arka merasa ada sesuatu yang berbeda di udara pagi itu, sesuatu yang membuatnya gelisah sekaligus penasaran.
> “Kadang, yang terlihat biasa menyimpan hal paling berharga.”
---
Sesampainya di kampus, Arka disambut oleh Bima, Reno, dan Damar.
Bima, dengan kemeja kotak-kotak yang digulung sampai siku dan rambut agak berantakan, langsung bercanda, “Bro, jalan pelan banget. Dari mana aja, habis dikejar zombie?”
Arka tersenyum tipis. “Biasa aja.”
Reno datang membawa gorengan dalam kantong plastik. “Eh, sarapan dulu, bro. Perut kosong nggak bisa mikir.”
Damar datang belakangan, membawa laptop tebal di tangan. Wajahnya kalem, tapi matanya selalu memperhatikan detail sekitar. “Kalau kalian mau ikut seminar sejarah kota, gue bisa cari info dulu, biar aman,” ujarnya santai.
Percakapan ringan mereka membuat Arka merasa nyaman. Mereka tertawa, bercanda, dan sejenak melupakan dunia luar. Tapi di dalam hatinya, bayangan mimpi semalam dan rasa penasaran terhadap buku tua tidak hilang.
---
Kelas ekonomi mikro dimulai. Dr. Ratna, dosen yang tegas tapi humoris, masuk dengan langkah pasti. Ia mulai menjelaskan teori permintaan dan penawaran sambil menulis di papan tulis. Arka menulis catatan dengan cermat, namun pikirannya terus melayang pada mimpi dan buku tua.
Tiba-tiba, pulpen pemberian kakeknya macet. Garis tinta yang terbentuk di kertas tidak biasa—seolah membentuk simbol geometris yang samar. Arka menatapnya beberapa detik, jantungnya berdetak lebih cepat.
Simbol itu terlihat asing, tapi anehnya familiar, seperti pernah ia lihat dalam mimpi. Ia menutup buku catatan, menahan napas, dan mencoba menenangkan diri. Meski begitu, rasa penasaran mulai tumbuh, menandakan ada sesuatu yang akan berubah dalam hidupnya.
> “Tanda-tanda kecil kadang menjadi awal dari perjalanan besar. Jangan abaikan hal yang terasa aneh.”
---
Setelah kelas, Arka memutuskan mampir ke perpustakaan. Ruangan sepi, hanya beberapa mahasiswa yang duduk membaca di sudut. Cahaya matahari sore masuk melalui jendela besar, menciptakan bayangan panjang di lantai.
Saat menelusuri rak buku tua, Arka mendengar suara samar:
"…sudah waktunya… warisan itu…"
Arka terkejut. Kata warisan berulang di kepalanya, seperti gema yang sulit dihapus. Ia mencoba melihat sumber suara, tapi hanya bayangan samar di balik pintu kayu tua yang tampak jarang dibuka.
Sebelum ia sempat mendekat, pustakawan muncul dan menegurnya, memaksanya mundur. Arka menghela napas panjang, menahan rasa kecewa, tapi rasa penasaran semakin kuat. Ia tahu ini bukan kebetulan—seolah hidupnya baru saja digeser sedikit dari jalur biasa.
---
Sore itu, Arka berjalan pulang. Langit jingga keemasan menyelimuti kota Jakarta, gedung-gedung dan pepohonan menciptakan bayangan yang indah sekaligus misterius.
Di dalam hatinya, ia menyadari satu hal: hari yang terlihat biasa ternyata menyimpan sesuatu yang berbeda. Jejak-jejak misteri mulai muncul perlahan, menunggu untuk diikuti.
> “Kadang, hidup memberi kita petunjuk kecil di saat yang tak terduga. Jangan abaikan tanda-tanda, karena itulah awal dari perubahan besar dalam perjalananmu.”
Arka menatap buku tua di tasnya, lalu menatap langit sore. Ia tahu, langkahnya baru saja dimulai.
---