Jasmine tidak bisa membayangkan memiliki bos yang begitu kaku, menyebalkan, bahkan cerewet, galak, dan semuanya yang buruk ada dengan Mada. Seperti sekarang, mereka ada meeting bersama. Ini adalah hari ke dua Jasmine bekerja, ia datang cukup pagi bahkan Mada belum tiba di kantor. Ia membuatkan kopi seperti kebiasaan Mada datang ke kantor untuk minum kopi.
Jasmine hanya diam, mencatat dan mendengar semua penjelasan dari tim tanggung jawab dan konsep, Mada hanya menganggukan kepala. Memang dia adalah arsitek, tapi tidak semua sketsa dan desain dia yang membuat. Setiap bagian memiliki tugas sendiri, setelah mereka berhasil membuat desain, ia melaporkan dengan Mada langsung.
“Tapi menurut saya, konsep tanpa ada pohon tanam akan membuat suasana menjadi panas. Sebaiknya di bagian utara dekat tempat ini, coba tanamkan pohon sekitar 4 atau 5 agar suasana menjadi rindang,” tiba – tiba Jasmine mengusulkan sesuatu sebagai pelengkap. Semua mata menuju ke Jasmine, dia kadang masih bingung soal konsep, tapi jika membayangkan langsung ia bisa menilai nyaman atau tidak.
Jasmine tersenyum kecil, melihat Mada menatapnya tajam. Ia bahkan memotong penjelasan dari tim yang tiba – tiba, tidak sopan. Tapi ia hanya ingin berpendapat, tidak salah kan? Hanya kurang tepat.
“Usulan diterima,” ucap Mada setuju dan semuanya menatap bos dinginnya. Tidak seperti biasanya Mada menyetujui usulan? Biasanya ia menyuruh untuk revisi dan mengganti konsep, ini…, hanya menambahkan pohon saja.
“Pak Mada, anda yakin dengan usulan Jasmine? Berapa pohon? 4 atau 5 pohon Pak?” tanya mereka sedikit gugup dan takut.
“Jelaskan, berapa baiknya!” bukannya menjawab justru Mada melemparkan pertanyaan ke Jasmine langsung.
Jasmine tersenyum, setidaknya sikap bosnya bisa dilawan dengan akal dan usulan. Jasmine dengan wajah ceria, bahkan senyumannya tidak luntur menjelaskan detail, bukan sketsa yang mereka buat, tetapi gambaran visual yang ia pikirkan. Mereka cukup setuju, tapi tidak berani memutuskan langsung bagaimana keputusan ada pada Mada,
“Revisi pakai yang di jelaskan dia, saya kira cukup!”
Mada tidak banyak membuang waktu, ia meninggalkan ruangan meeting dengan tim menuju ruangannya sendiri. Jasmine bersyukur akhirnya tidak mendapatkan amarah di hari ini, ia membantu tim menjelaskan secara rinci agar bisa di pahami.
“Jasmine, kamu ternyata soal sketsa cukup paham ya?” ujar salah satu mereka membuat Jasmine berpikir.
“Kalau dari otak sendiri paham, tapi beda lagi dengan otak Pak Mada, saya gak paham.”
Mereka hampir saja tertawa mendengar ucapan Jasmine, tapi setuju. Kadang hasil yang sudah sempurna, di mata Mada masih salah dan jelek. Mereka mengakhiri diskusi, dan melanjutkan kerjaan mereka masing – masing.
*
*
*
Di ruangan yang dingin, Mada melepaskan kacamatanya. Apa yang terjadi beberapa menit lalu membuatnya tak tenang. Mada menyadari, ia memperhatikan cara Jasmine bicara dan membaca cara berpikir asisten barunya itu tanpa mereka sadari.
“Dia..., Jasmine ya?” suara penuh penekanan ia mengambil kertas yang bisa digunakan untuk sketsa. Baru ia mencoret pola abstrak yang tidak jelas hanya ia yang tahu apa yang sedang ia buat.
Mada mulai membuat pola yang menurutnya aneh, justru tangannya semakin gencar membuat bagian itu. Hingga pada akhrinya ia terhenti, sadar apa yang baru saja ia lakukan. Pertama kalinya, Mada tertarik Dengan sesuatu yang aneh.
“Dia hanya gadis ceroboh dan aneh,” gumamnya langsung menutup kertas itu.
Tidak dilanjutkan, bagaimana pun Mada bukan tipe orang yang mudah tertarik. Tapi, jika dengan Jasmine ia akan pikirkan kembali.
Tak terasa jam makan siang tiba, Mada mulai mencari Jasmine mereka akan pergi ke restoran di mana ada meeting dengan investor yang membeli jasa desain untuk membangun rumah sakit. Mada dan Jasmine duduk di mobil yang sama, tidak ada percakapan apapun.
Jasmine sedikit takut dengan cerita Mada yang tidak memberikan kesempatan dalam apapun saat orang lain melakukan kesalahan. Jasmine langsung merinding mendengar cerita dari mereka yang katanya Mada sering membentak, dan tidak akan senggan memecat untuk pergi dari perusahaan langsung.
Brak!
“Astaga, ada apa di depan? Itu ramai kenapa?” ujar Jasmine melihat keramaian di depan sana. Ia mengatur nafas untuk tetap tenang, tiba – tiba keinginan Jasmine untuk turun dan melihat apa yang terjadi tidak mendapatkan izin dari Mada.
“Mau kemana? Diam, kita akan terlambat!” cegah Mada segera melajukan mobilnya kembali.
Jasmine menatap ibu – ibu jatuh dari motor, sedikit tersentuh hatinya. Hanya doa yang bisa di ucapkan, semoga ibu tadi selamat dan sehat selalu. Jasmine diam, ingatan tentang kematian ibunya lalu akibat kecelakaan membuat dirinya sedih. Hingga kini, ia merasa was – was dengan lalu lintas jalan yang ada pengendara ugal – ugalan saat menyetir.
“Apa yang terjadi? Kamu terlihat sedih melihat orang jatuh dari motor,” tanya Mada melirik sebentar Jasmine terlihat murung.
“Hanya kasihan saja,” segera menyembunyikan perasaan sedihnya dan kembali memasangkan wajah datar.
Jasmine tidak banyak bicara. Dia hanya diam, menurut seperti yang di ucapkan teman – teman jangan membuat Pak Mada risih, karena dia tidak suka dengan hal yang berisik. Lebih baik Jasmine mengikuti saran mereka.
Hingga tak terasa mereka tiba di restoran tempat pertemuan, Mada keluar menunggu Jasmine membenarkan rambut yang sedikit berantakan. Setelah rapi, ia baru keluar dari mobil menyusul Mada yang sudah menatapnya tajam.
“Maaf Pak, rambut saya berantakan tadi. Lagipula gak lama,” katanya mencari alasan membuat Mada mengendus kesal.
“Baru ini saya merasa tidak menjadi bos, kamu sebagai asisten yang seharusnya menunggu saya. Bukan saya yang menunggu kamu, bahkan pintu mobil saya bukakan!” oceh Mada yang entah berisik sekali suka marah – marah dengan Jasmine.
“Rambut saya berantakan Pak, saya harus tampil rapi dan cantik bertemu dengan –“
“Pandai cari alasan, lebih baik tidak usah jadi asisten saya lagi.”
Bukan ancaman, bahkan ucapan kosong membuat Jasmine menyusul Mada dengan napas kesal memburu, merapikan rambut yang berantakan apa yang susah? Kalau mau di tinggal ya sana masuk duluan, tidak perlu mengatakan untuk pecat.
Jasmine bahkan berjalan di belakang Mada, tugasnya sebagai asisten ternyata cukup berat terutama menghadapi sikap dan ucapan Mada yang begitu tajam dan tidak mau dibantah bahkan dikalahkan.
“Selamat datang Pak Mada, lama tidak bertemu Anda semakin tampan ya?” sapa salah satu wanita berumur 50 tahunan tapi masih terlihat cantik.
“Terima kasih Ibu Putri, Anda berlebihan memuji saya,” ucap Mada segera duduk setelah Ibu Putri menyuruhnya duduk.
“Wah siapa si cantik ini, Pak?” tanyanya menjabat tangan Jasmine dengan sopan.
“Jasmine, saya asisten baru Pak Mada!” seru Jasmine dengan senyuman manis membuat mereka ikut tersenyum kecuali Mada yang kaku tidak tertarik dengannya.
“Saya baru tahu kalau Pak Mada sekarang ganti asisten wanita ya? Cantik lagi, kemungkinan nanti kalian jadi sepasang kekasih lho,” goda Ibu Putri membuat Jasmine tertawa kecil.
“Anda berlebihan sekali, saya tidak tertarik dengan asisten saya. Bahkan saya terpaksa menerima dia,” ucapan monohok Mada membuat Jasmine tetap tersenyum, bahkan ia menulikan telinganya tidak mendengar ucapan Mada sama sekali.