Rintik hujan turun membasahi bumi ibu pertiwi. Seakan selaras dengan tangisan yang terus menerus menggema di hadapan sebuah pusara yang masih nampak basah.
Seorang gadis kecil menangis memeluk pusara yang terukir sebuah nama Rahayu Kinasih, suaranya terdengar begitu memilukan dan menyayat hati.
"Mama, kenapa meninggalkan Isabella sendiri? Isabel ingin ikut!" rintihnya, memeluk pusara ibunya.
Suasana begitu menyedihkan, gadis kecil yang baru berusia sepuluh tahun itu terpaksa harus ditinggalkan oleh ibundanya, karena penyakit tuberkolosis yang tengah mewabah kala itu.
Gadis kecil berparas eropa itu terus menangis hingga kedua mata birunya nampak sembab.
Bahkan ia menolak untuk kembali ke rumah, hingga membuat sang ayah harus memaksanya di dalam gendongannya.
Hari demi hari berlalu tetapi gadis kecil itu masih dirundung dengan suasana duka yang menyelimuti hatinya.
Isabella, gadis kecil yang terkenal memiliki sifat yang ceria ini telah berubah sikapnya menjadi pemurung selepas kepergian sang ibu.
"Isabella, jangan sedih terus menerus. Kasihan mama, mama akan sedih melihatmu seperti itu," tutur Josh Willem yang merupakan ayah dari gadis kecil itu.
Isabella menoleh, menatap ayahandanya yang tengah duduk di sebelahnya dengan tatapan sendu.
"Papa mengapa mama tega meninggalkan Isabel? Apakah dia tidak menyayangi aku lagi?"
"Tidak, mama tidak seperti itu dan harus kamu tahu jika mama sangat menyayangimu. Namun Tuhan sangat menyayangi mama hingga memanggilnya terlebih dahulu untuk mengisi surga."
Gadis kecil itu menundukkan kepalanya, mencoba mencerna setiap kata yang dilontarkan oleh ayahnya.
Dia mengayun-ayunkan kakinya, menatap sebuah boneka kesayangan miliknya.
Josh mengelus kepala putrinya, lalu memeluk gadis kecil yang kesepian itu.
"Kalau Isabella mau, kamu boleh main dengan anak Mbok Marni. Terserah kamu saja mau main kemanapun, asalkan jangan terlalu jauh! Dan besok paman Hans akan datang dari Netherland, dia bawa coklat yang banyak untuk Isabel, dengan syarat anak papa yang cantik ini jangan terus bersedih!" bujuknya mencoba kembali mengembalikan senyuman di wajah putrinya.
Isabela mengalihkan pandangan matanya, menatap sang ayah dengan seksama.
"Benarkah? Aku boleh bermain bersama mereka?"
"Ya, tentu saja! Apapun demi kamu!"
Seketika senyuman terukir di wajahnya, dengan senang dia memeluk sang ayah karena telah mengizinkannya untuk bermain dengan anak-anak pribumi yang tinggal disekitar rumahnya.
***
Keesokan harinya, dengan ditemani Mbok Marni yang merupakan seorang asisten rumah tangga yang dipercayakan oleh ayahnya, gadis itu berjalan menjelajahi sebuah perkampungan yang ramai akan anak-anak seusianya.
Namun, baru saja ia mencoba bergabung tiba-tiba saja anak-anak itu pergi, atau tepatnya ketakutan saat melihat kehadirannya.
Isabella menundukkan kepalanya murung, dia tidak mengerti mengapa para anak-anak itu menjauhi dirinya.
"Non, kita ke rumah bibi aja ya. Main sama anak Si Mbok, tapi tunggu sebentar karena biasanya sekarang Siti sedang mengantar makanan ke ladang," ucapnya yang langsung dijawab anggukan oleh Isabella.
Gadis berdarah Hindia Belanda itu duduk di sebuah rumah gubuk yang hanya terbuat dari rotan bambu. Isabel mengedarkan pandangannya, dia sama sekali tidak menyangka jika ada orang yang ingin tinggal di rumah seperti itu. Rumah yang baginya sangat jauh dari kata layak.
"Assalamualaikum, ibu sudah pulang?" ucap salam seorang gadis kecil berkulit hitam manis itu.
Gadis kecil itu mengunci pandangannya, pada seorang Noni Belanda yang terduduk manis dengan gaun berwarna krem yang membalut tubuhnya.
"Waalaikum salam, Nduk kenalkan ini Non Isabella, anaknya Meneer Josh.
"Bu, apa aku boleh berteman dengannya? Apa tidak akan dimarahi?" tanyanya dengan wajah lugunya.
Mbok Marni tersenyum lalu menganggukkan kepalanya menandakan bahwa Siti tidak akan mendapatkan masalah hanya karena berteman dengan Isabella.
Gadis kecil berkulit sawo matang itu perlahan mendekat, lalu dengan ragu menjulurkan tangannya ke arah Isabella.
"Aku Siti Djati, panggil saja Siti."
"Ik Isabella Van Josh, kamu bisa memanggil ik Isabella. U mau berteman dengan ik?" tuturnya seraya membalas jabatan tangan dari Siti.
Siti menganggukkan kepalanya perlahan, membuat gadis kecil itu sangat senang karena pada akhirnya memiliki seorang teman baru. Jarena selama ini dia sama sekali tidak memiliki teman bermain, sebelumnya dia hanya memiliki teman yang hanya ada di sekolah.
Mereka bermain menyusuri pematang sawah, keceriaan kembali terpancar dari wajah gadis itu yang selama ini tertutup oleh luka duka yang mendalam.
Mereka duduk di sebuah sabung yang terletak di tengah sawah, lalu saling berbagi cerita satu sama lain.
"Esok ik akan membawakan buku cerita, paman ik baru memberikannya pada ik," ucapnya dengan antusias.
"Buku cerita? Tapi, aku tidak bisa membaca," lirih Siti menundukkan kepalanya.
Siti adalah anak yang pintar, tetapi nasib seolah tidak berpihak padanya. Kemiskinan yang seolah menjadi takdir hidupnya, membuatnya tak mampu untuk mengenyam pendidikan yang kala itu hanya mampu di tempuh oleh bangsa Kolonial dan juga para priayi.
Jadi, sangat mustahil baginya merasakan sebuah sekolah.
"Nee, kamu tidak boleh bersedih seperti itu. kalau kamu mau ik bisa mengajarkan kamu cara membaca, kamu mau?"
"Tentu saja!" jawab Siti bersemangat.
Isabella meraih sebuah tas kecil yang sedari tadi berselempang ditubuhnya. Gadis itu meraih beberapa coklat yang memang telah ia bawa dari rumahnya.
"Kamu mau?"
Siti melihat coklat-coklat dan permen yang ada di tangannya Isabella. Makanan yang selama ini hanya ia lihat dari balik kaca toko-toko saat dirinya menemani ayahnya menjual hasil panen ke pusat kota.
Gadis itu menelan salivanya dengan berat, dia ingin sekali mencicipi itu tetapi ada sedikit rasa takut di hatinya.
"Ambilah! Aku punya banyak di rumah," tutur Isabella kembali.
"Boleh? Sungguh?"
Isabella tersenyum dan menganggukkan kepalanya guna menanggapi pertanyaan dari Siti.
Semua itu membuat Siti berani dan perlahan-lahan mengambil beberapa coklat dan permen dari tangan Isabella.
"Bagaimana? Kamu suka?" tanya Isabella tersenyum, menambah kecantikan yang terpancar di parasnya.
Siti menganggukkan kepalanya, kedua gadis kecil itu pada akhirnya kembali bercanda tawa dan bermain hingga senja menjelang.
***
Sejak saat itu, Siti dan Isabella semakin dekat dan menjalin sebuah persahabatan. Isabella pun semakin disukai oleh anak-anak pribumi di sekitarnya. Gadis itu sangat terkenal dengan keramahannya dan tak segan-segan membagikan makanan yang dia punya kepada teman-temannya.
Isabella Van Josh, seorang anak dari buah pernikahan Josh Willem dengan seorang wanita pribumi bernama Rahayu Kinasih. Ayahnya yang merupakan salah satu penjabat di Batavia membuatnya hidup berkecukupan tanpa kekurangan sesuatu apapun.
Limpahan kasih sayang dan didikan sang Ibu membuatnya benar-benar tumbuh menjadi seorang gadis cantik yang baik hati. Berbeda dengan Noni pada umumnya, Isabella tidak pernah memilih-milih teman.
Baginya seluruh ras itu kedudukannya sama, dan walaupun banyak yang mencibirnya karena berteman dan tidak menjaga jarak dengan orang-orang pribumi, dia sama sekali tidak peduli.