Hari demi hari berlalu, waktu terasa begitu cepat berjalan. Tidak ada yang istimewa, semua sama saja.
Usia gadis itu sudah beranjak dewasa, hari itu merupakan ulang tahunnya yang menginjak usia dua puluh tahun.
Isabella tengah berjalan di sebuah pasar, membeli perlengkapan kebutuhan rumah yang mulai habis serta bahan makanan.
"Maaf!"
Gadis berambut pirang itu terjatuh karena bertabrakan oleh seseorang, hingga menyebabkan belanjaannya terjatuh dan berhamburan di jalan. Isabella mencoba bangkit dan menepuk-nepuk gaunnya yang kotor.
Isabella mendongakkan kepalanya, melihat uluran tangan seseorang yang berada di hadapannya.
"Maafkan saya, Nona!" ucap pria berseragam serdadu itu.
Gadis itu meraih tangan pria yang langsung membantu dirinya untuk bangkit. Pria itu juga membantu Isabella mengambil belanjaannya yang berhamburan di jalan.
"Hartelijk bedankt," ucap Isabella tersenyum, menampilkan wajah cantiknya yang begitu memesona. Sejenak serdadu itu terperangah, terbius oleh pesona keanggunan yang dimiliki oleh gadis yang baru saja dibantu olehnya.
"Graag Gedaan," jawab pria itu tersenyum.
Isabella berjalan kembali melewati pria uang masih terus memandanginya, gadis itu benar-benar telah memikatnya sejak pandangannya pertama.
Hari semakin menjelang siang, ibu dan adik tirinya sudah menunggu dengan gusar di halaman rumah. Dilihatnya Isabella yang berjalan dari kejauhan untuk kembali menuju rumahnya.
"Kemana saja, u tahu ini sudah jam makan siang! U mau buat ik mati kelaparan!" Dewi berteriak seraya mencengkram tangan gadis itu dengan kuat, mereka menarik Isabella ke dalam rumah lalu menghempaskan tubuh gadis itu hingga terbentur tembok dengan keras.
"Sa-sakit," rintihnya.
Namun seketika rambut pirangnya ditarik dengan kencang oleh Dewi.
Paras wanita itu sangat gusar dan penuh akan kebencian yang mendalam.
"Apa salah ik? Kenapa kalian memperlakukan ik seperti ini?" tanya Isabelle mencoba memberanikan diri. Selama ini ia selalu menjadi anak yang baik dan penurut, tetapi entah mengapa ibu tirinya selalu menyiksa dirinya.
Wanita berusia paruh baya itu tertawa terbahak-bahak lalu menarik rambut Isabella ke arah bawah, hingga kepala gadis itu mengarah ke atas.
Dewi mencengkram rahang gadis blonde itu, menatapnya tajam penuh amarah.
"Dengar, gara-gara bangsa u! Suami ik mati! Kalian semua sama, menganggap kami cuma b***k rendahan!" pekiknya dan semakin menarik kencang rambut Isabella.
Isabella hanya mampu meringis, tubuhnya benar-benar terasa sakit karena ulah ibu serta adik tirinya.
Isabella terdiam, pada kenyataannya rasisme masih mendarah daging di sana. Namun, dia dan ayahnya tidak seperti itu. Mereka menganggap semua manusia sama, terlebih mereka hanyalah pendatang yang menumpang di tanah orang.
"Kalian benar-benar benalu!"
Tubuh gadis itu terjungkal, akibat dorongan yang kuat oleh Dewi. Seandainya dirinya boleh memilih, dia tidak ingin dilahirkan dari kaum yang menindas bangsa lain hanya demi kepentingan dan keuntungan golongan sendiri. Namun Tuhan berkata lain, dirinya dilahirkan memiliki darah campuran dan membuatnya bagai memakan buah simalakama.
Setidaknya, Isabella selalu mencoba berbuat baik kepada siapapun. Walaupun tak dapat menebus dosa-dosa para kaum kolonial yang kejam, tetapi dia selalu berusaha memperbaikinya.
Gadis itu dengan ikhlas mengajarkan anak-anak pribumi untuk belajar membaca dan berhitung, sebuah pelajaran yang tak pernah mereka dapati.
Isabella ingin hidupnya lebih berguna seperti mendiang ibunya, yang namanya bahkan harum hingga ia menutup mata untuk selama-lamanya.
Tok ... Tok ...
"Nyai!"
Suara seseorang memecah keributan yang tengah terjadi, dengan malas Dewi terpaksa membukakan pintu. Karena tidak mungkin ia membiarkan Isabella membukakan pintu, gadis blonde itu benar-benar terlihat kacau.
"Ada apa Soemardji?" tanyanya saat melihat seorang pemuda yang merupakan seorang pesuruh di kantor pemerintah Batavia, datang dengan napas terengah-engah. Pria itu mencoba mengatur napasnya, agar bisa berbicara dengan jelas, sedangkan Violet hanya mengintip dari balik jendela kamarnya. Gadis itu turut penasaran dengan kedatangan Soemardji yang tiba-tiba dan terkesan panik.
"Meneer Josh, Nyai. Meneer! Meneer kecelakaan saat dalam perjalanan pulang menuju Batavia dan meninggal di tempat!"
Bak tersambar petir di siang bolong, tubuh Isabella kaku dan tak dapat bergerak. Tubuh gadis itu merosot begitu saja hingga terduduk di lantai.
"Papa ... Nee! Onmogelijk! Papa tidak mungkin meninggal, papa berjanji tidak akan meninggalkannya Isabella," Gadis itu terisak bersimpuh di lantai rumahnya. Hatinya benar-benar patah dan hancur, gadis itu belum bisa menerima kenyataan yang baru saja di dengarnya.
Gadis itu segera bangkit dan berlari keluar menemui Soemardji. Alangkah kagetnya pemuda itu, melihat penampilan Isabella yang sudah sangat berantakan.
Gadis itu menarik-narik baju Soemardji dengan wajah yang sudah basah dengan air mata.
"Nee, semua yang u katakan bohong! Soemardji, lieg niet! Papa tidak mungkin meninggalkan ik!"
Isabella terus menerus mengguncang-guncangkan pria itu, tangisannya terdengar begitu memilukan siapapun yang mendengarnya.
Hingga hari menjelang sore, jenazah sang ayah baru saja sampai di rumah duka. Dibukanya peti jenazah oleh Isabella, gadis itu menangis sejadi-jadinya kala melihat ayah kesayangannya, pelindungnya telah terbujur kaku di dalam sana.
Tangis histeris memenuhi seluruh ruangan, Isabella meraung berharap sang ayah membuka mata kembali.
"Papa! Bangun papa! Isabella tidak ingin sendiri," teriaknya frustrasi.
Siti hanya bisa menahan tubuh sahabatnya yang nyaris limbung. Kehilangan orang tua benar-benar terasa sulit, dan gadis itu telah kehilangan dua malaikat penjaganya di dunia.
Entah, harus bagaimana ia menjalani kehidupannya esok tanpa sosok sang ayah.
Siti membelai lembut rambut sahabatnya, membawa Isabella kedalam pelukannya.
"Ik gak punya siapa-siapa, ik harus bagaimana?" ucapnya disela-sela isakan tangisnya.
"Sabar, kamu masih punya aku. Kita akan bersahabat selamanya."
***
Rintik hujan menyertai upacara pemakaman pagi itu.
Isabella menatap sendu saat peti jenazah sang ayahanda perlahan dimasukkan kedalam liang lahat.
Gadis itu terus bersandar pada Siti yang setia menemaninya.
"Papa," lirihnya merintih dalam kesedihan yang telah membelenggu dirinya.
Hatinya terasa tersayat, setiap gundukan tanah perlahan menutupi peti jenazah ayahandanya.
Tubuh gadis itu gemetar, jiwa seakan lepas dari dalam raganya.
Air matanya terasa telah mengering dan tak mampu untuk keluar lagi. Diliriknya ibu dan adik tirinya, entah kehidupan seperti apa yang dia akan jalani bersama kedua manusia yang sangat membencinya.
Isabella takut, dia butuh sandaran untuk tempatnya berlindung.
Hingga upacara pemakaman telah usai, satu persatu para pelayat mulai meninggalkan area pemakaman, tak terkecuali ibu dan adik tirinya.
Sama sekali tidak ada raut wajah kesedihan yang tersirat di wajah kedua manusia itu.
Yang ada di dalam pikiran ibu dan adik tirinya saat itu adalah warisan peninggalan Josh yang tidaklah sedikit. Mereka sudah membayangkan hidup mewah tanpa harus melihat Isabella kembali.
Keesokan hari telah tiba, Isabella masih dirundung dengan suasana duka. Gadis itu masih terus bersedih meratapi kepergian ayahnya yang begitu mendadak.
Tatapan gadis itu begitu kosong, memandang halaman rumah yang dulu sering ia dan kedua orang tua gunakan untuk bercengkrama dan menghabiskan waktu bersama.
Hingga tiba-tiba terlihat sebuah mobil memasuki pekarangan rumahnya. Seorang berkulit putih turun dari dalam mobil tersebut dengan menenteng sebuah tas. Isabella memicingkan matanya, mencoba menerka-nerka siapa gerangan pria itu.
Brak!
"Cepat keluar! Dan berpakaian lah yang layak!" titah Dewi yang tiba-tiba membuka pintu kamar Isabella.
Gadis itu hanya menurut, ia segera mengganti gaun miliknya lalu menemui tamu yang baru saja datang.
"Goedemorgen ledereen! Ik heet Jeson Veterburg. Kedatangan ik hari ini, untuk menyampaikan dan membacakan surat wasiat dari mendiang Meneer Josh Willem," ucap pria bernama Jeson Veterburg memulai pembicaraan.
Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai seorang advokat, yang bekerja untuk para petinggi yang memiliki kedudukan di pemerintahan Hindia Belanda khususnya di Batavia.
Dibukanya sebuah surat yang dibubuhi oleh tanda tangan Josh Willem, dengan penuh kehati-hatian ia mulai membaca tulisan yang terukur di sana.
Isabella hanya menunduk, dia sama sekali tidak memiliki semangat untuk mendengarkan wasiat tersebut. Jika boleh memilih, lebih baik ia kehilangan segalanya tetapi sang ayah bisa hidup kembali dan terus bersamanya.
Berbeda dengan adik dan ibu tiri Isabella, yang tampak semangat dengan mata berbinar-binar.
"Dengan ini saya Josh Willem dengan sangat sadar dan tanpa tekanan apapun, menyerahkan seluruh harta yang saya miliki kepada putri saya satu-satunya, yaitu Isabella Van Josh."
Bak petir disiang bolong, Dewi dan Arum terperangah nyaris tidak percaya. Sampai akhir surat itu dibacakan, tidak ada satupun dari nama mereka yang disebut.
Dewi menatap putri tirinya dengan tatapan membunuh, entah apa yang akan ia lakukan. Wanita itu bertekad akan merebut harta itu dari tangan Isabella.