"Tanganku terluka pada saat perkelahian itu..."sahut Bryan memberi alasan.
"Seharusnya mas tidak perlu melakukan ini terhadap Selina,dia hanya seorang art dirumah ini...yang mas Bryan pikirkan itu mbak Sandra saat ini!".
"Sandra...apa dia datang kesini ?"tanya Bryan lagi penasaran.
"Tidak...mbak Sandra hanya menghubungiku menanyakan tentangku yang tidak menepati janjinya semalam tapi saya sudah memberi alasan kalau mas sedang ada dinas mendadak untuk beberapa hari!"sahut Virgoun.
Kemudian Ia meninggalkan Bryan sendiri di rooptop itu hatinya merasa janggal melihat sikap bosnya yang seperti menutupi sesuatu darinya.
Keesokan harinya terlihat Selina yang sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk tuannya bubur buatannya yang sangat di sukai Bryan walau ia saat ini sudah menjadi istri sahnya istri dalam bayangan ia merasa berkewajiban untuk melayani pria itu.
"mbak Sasa..sudah jam segini kok mas dewan belum turun juga ya untuk sarapan?"tanya Selina melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.
"loh..beliau sudah berangkat setengah jam lalu,memangnya dia enggak kasih tau kamu sel?"tanya Sasa merasa heran.
"mungkin beliau sedang terburu buru mbak sampai tidak sempat memberitahuku!"sahut Selina berfikir positif walau dalam hatinya ia merasa Bryan masih marah atas kejadian kemarin.
"mana ada orang kaya ,sukses dan mempunyai jabatan di pemerintahan mau menikah dengan wanita miskin sepertiku"ucapnya dalam hati.
Sebelum ia sampai ke gedung kantornya ia singgah disebuah toko bunga memilih bunga mawar putih sebagai tanda permintaan maaf darinya untuk Sandra yang mungkin saat ini kecewa padanya.
Ia segera melangkah masuk menuju apartement lantai lima belas dimana gadis itu tinggal saat ini,mengetuk pintu itu sampai seorang wanita paruh baya keluar dari dalam menemuinya.
"Pagi Tante...apa kabar,Sandranya ada?"
wanita itu mengamati Bryan sambil tersenyum ramah kepadanya.
"Pagi Nak Bryan...Sandra ada didalam..silahkan masuk!"sahut wanita itu mengajak Bryan kedalam.
Ia menunggu diruang tamu yang terlihat luas dan elegan sambil kedapur wanita itu memanggil anaknya yang berada dikamar.
"Sandra...ada nak Bryan ni datang!!"seru wanita itu dengan suara lembut.
Dengan cepat gadis itu keluar dan menemui Bryan yang sedang duduk menunggunya.
"Kamu kenapa enggak kabarin aku dulu kalau mau kesini..."ucapnya duduk di samping pria itu dengan manja.
"IM so sorry ...udah enggak Datang semalam ini buat kamu!"sahut Bryan memberikan buket bunga mawar putih itu .
"Thanks ya...lagian ga papa kok sayang,Virgoun udah bilang juga kok..aku ngerti kalau kamu lagi sibuk"serunya menatap Bryan dengan malu malu mencium buket bunga itu.
Sandra terlihat alami dengan wajahnya yang tanpa makeup dan masih mengenakan piyama.Ia tidak pernah malu dengan dirinya yang selalu tampil apa adanya didepan pria itu.
"yaudah aku kerja dulu ya..nanti sore aku jemput kita dinner dirumah!"sahut Bryan berpamit pergi.
Sandra memeluk pria itu dengan erat merasakan kenyamanan yang dulu sempat hilang.
"Siyaaap...pangeran,semoga waktu tidak terasa lama hari ini by the way kenapa sama tangan kamu kok diperban?"ucapnya menyentuh tangan Bryan yang dibalut dengan plester .
"ini hanya terbentur tadi...".
"kamu makanya hati hati jadi luka kan..!"seru Sandra lagi mengusap punggung tangan itu dengan lembut.
Melihat tingkah pacarnya yang kembali seperti dulu saat mereka masih bersama ia mengacak acak kepala gadis itu sambil tertawa.
Mereka berjalan keluar didepan pintu Sandra melambaikan tangan dan membuat lambang love dari kedua tangannya memandangi Bryan yang pergi.
"Aku enggak akan sia siain kamu lagi Bry...!"gumamnya dalam hati sambil menutup pintu apartement itu.
"Loh ..Bryan nya mana San..mami baru aja buatkan teh untuknya?"tanya wanita itu melihat Bryan yang sudah pergi sambil membawa nampan dengan teh hangat diatasnya.
"Dia sudah pergi mi..!"sahut Sandra masuk kekamarnya dengan gembira.
Hari ini pekerjaannya terhandle dengan baik Bryan mengambil handphone dan tas kerjanya yang berada dilaci meja dan bergegas pergi.
"Rita kalau ada yang mencari saya atau ada rapat dadakan bilang saya ada urusan diluar "ucap Bryan kepada sekretarisnya itu.
"baik mas dewan...!".
Ia segera pergi dan masuk kedalam mobil bersama Virgoun dari kejauhan tampak gadis muda berlari kearahnya.
"Bryan.....!!"seru gadis muda itu memanggilnya.
Bryan menoleh melihat Erica yang menghampirinya ,Ia pun segera turun dari mobil dan berbicara kepada gadis itu.
"Erica kamu ngapain disini?"tanya Bryan.
"Aku habis dari kantor papa...kamu sibuk,kalau enggak kita bisa ngobrol sebentar sambil minum kopi di cafe mau ya sebentar aja kok?"tanyanya penuh harapan .
Karena merasa tidak enak dengan Pak Wiryo ia menyanggupi ajakan Erica dan pergi ke cafe terdekat dari lokasi tempat kerjanya.
"Bry jujur aku semakin kagum melihat kamu yang gigih dan pekerja keras,aku teringat papa saat muda dulu..."ucapnya tersenyum.
"kamu berlebihan Erica,aku hanya menyukai bidangku saja makanya aku mau disini...!".
Mereka saling berbicara dengan santai,Erica yang supel membuat Bryan merasa nyaman saat didekatnya.
"maaf erica...sepertinya aku tidak bisa lama lama disini aku ada urusan lain,kamu enggak papa aku tinggal?"tanya Bryan beranjak dari kursinya.
"Oh ya....its okey..salam buat om Tante ..!"sahut Erica bersalaman dengannya.
Mereka tiba dirumah berjalan berdua masuk kedalam menuju lantai dua dengan lift.
Sandra yang mengenakan dress panjang bermotif floral membuatnya terlihat anggun dengan rambutnya yang di gerai.
"Tunggu sebentar ya..aku mau mandi dan ganti baju dulu!"serunya menyuruh Sandra untuk menunggunya di ruang tamu.
Selina baru saja selesai menyiapkan makan malam untuk tuannya diruang makan.
"Sel...piringnya satu lagi ya sama gelasnya!"seru Sasa memberitahu.
"apa ada tamu mbak Sasa?".
"iya tamu special...mbak Sandra mau dinner malam ini disini dan kamu tolong panggilin mas Bryan dikamarnya kalau makanan sudah siyap"ucap Sasa lagi.
"Baik mbak Sasa kalau begitu saya panggilin dulu mas dewannya."sahutnya segera pergi.
Didepan pintu kamar itu Selina mencoba mengetuk pintu dengan pelan.
Tok..Tokk
"saya di sebelah!!" terdengar suara Bryan yang berasal dari ruang wadrobe sebelah kamar tidurnya.
Selina melangkah kepintu sebelah dengan pelan melihat Bryan yang sedang sibuk mencari sesuatu dari dalam lemari pakaiannya hanya dengan menggunakan handuk kimono.
"kamu liat kaos warna cream saya enggak ya yang saya beli di Paris beberapa bulan yang lalu kok enggak ada?"tanyanya tanpa menoleh kebelakang.
Sebelum menjawab Selina melirik ke arah gantungan pakaiannya mengambil kaos yang dimaksud Bryan dan memberikan kepadanya.
"Terima kasih...kamu memang asisten yang bisa diandalkan sa!"serunya menoleh kebelakang.
Ia terkejut melihat Selina yang sudah berdiri dibelakangnya raut wajahnya berubah menjadi diam dengan sorot tajam menatapnya.
"kenapa kamu disini mana Sasa...kamu tau kan enggak ada yang boleh masuk kearea lantai ini selain Sasa asisten pribadi saya!!"serunya dengan nada tajam.
Selina hanya menunduk sedih,Bryan yang baik hati dan lembut kini bersikap ketus padanya.
"Mbak Sasa ada dibawah mas dewan,beliau yang menyuruh saya kesini untuk memberitahu mas dewan kalau makan malamnya sudah siap"ucap Selina gemetar.
"Sekarang kamu bisa pergi..mungkin saya memaklumi kamu saat itu karena kamu enggak tau tapi saya enggak akan biarin siapapun datang ke area ini".
"maafin saya mas...!"ucapnya segera pergi.
Diruang tamu Sandra dan Sasa asik berbicara,mereka tampak akrab satu dengan lainnya ditambah Sasa yang mengetahui jika mereka sudah bersatu kembali menjadi sepasang kekasih yang serasi.
"mbak Sandra kita keruang makan sekarang yuk,mungkin mas Bryan sudah selesai mandi dan berganti pakaian".seru Sasa mengajak Sandra keruang makan.
Acara dinner bersama membuat mereka semakin romantis dengan suasana hening diruangan itu hanya ada mereka berdua.
"Mbak Selina ...ini makanan penutupnya saya masih banyak kerjaan tolong antar ke meja mas dewan ya!"seru bi Arsi memberikan puding buah kepada Selina.
Ia berjalan memandang kearah Bryan dari kejauhan sambil membawa puding buah itu sebenarnya ia merasa tidak enak dan tidak nyaman dengan sikap Bryan yang berubah padanya.
Selina meletakkan pudding buah itu di atas meja dengan hati hati melihat mereka berdua yang tampak mesra saling menatap satu dengan yang lain.
"Sebentar ada sesuatu di bibirmu"ucap Bryan mengambil tissu dan mengusapnya di sudut bibir Sandra yang sedikit ada sisa makanan tertinggal disana.
Selina merasa gugup dan segera pergi dari ruang makan itu namun sebelum pergi tangannya menyenggol gelas yang berada di pinggir meja sampai terjatuh.
***
"