"Maksud lo ngapain kejar temen gue? Lo mau apakan lagi dia? Belum puas juga selama sebulan penuh lo mendapatkan penolakan?" tanyanya.
Jafin tidak memedulikan ucapannya, melainkan pria itu pergi menyusul Dilla yang beberapa menit lalu berhasil menghilang dari pandangannya.
"Ah, Dasar stress!" gerutu orang tersebut. Persis seperti Dilla tadi, memanggil Jafin dengan sebutan Stress.
Seiring waktu telah berputar dan hari pun telah berganti. Esoknya Jafin kembali lagi mendekati Dilla, tetapi kali ini dengan cara yang berbeda. Jafin meminta maaf atas kesalahannya kemarin yang memaksa Dilla untuk memenuhi keiinginannya.
Pria itu berusaha bersikap biasa saja, namun sedikit romantis sampai membuat seorang Dilla pun terkesima melihat tingkah juga ketampanannya yang hakiki.
"Mau, kan maafin gue, Dil?" tanyanya setengah gigi bergemertak.
Dilla melupakan panggilan sahabatnya dan dia melangkah mendekat pada Jafin, satu tangan kanannya sengaja terangkat. Kemudian, mengusap wajahnya.
"Aku maafin kamu, kok. Tapi dengan satu syarat, gimana?"
"Syarat?" Kening Jafin mengkerut dan satu alisnya terangkat, lalu menarik napasnya dalam-dalam.
Halaman kampus Bina Nusantara Jakarta menjadi saksi atas bersatunya hubungan mereka. Dilla dan Jafin saling berjanji untuk tetap berhubungan baik, tidak saling benci atau pun lainnya.
Dalam hati kecil seorang Jafin Samudra Jiratulhaq ini, pria ini begitu senang karena satu rencannya mendekati Dilla terwujud. Namun, mengenai hubungan pacaran ini dia juga harus memastikan padanya, apakah benar percakapan kemarin kalau mereka ini pacaran atau tidak.
Jam mata kuliah pertama Jafin telah dimulai, dia meminta izin untuk pergi masuk kelas. Akan tetapi, di kala Jafin hendak berpamitan rona wajah Dilla seketika berubah. Gadis itu tak lagi mengurai senyum manisnya, senyum itu seolah-olah hilang kala Dilla akan kehilangan sesuatu berharga.
Mungkinkah hati Dilla tak menerima jika Jafin menghilang walau hanya sedetik saja?
Berarti rayuan maut yang diberikan Jafin untuknya benar-benar ampuh? Bukankah begitu?
Jafin menoleh ke belakang sebelum dirinya masuk ke kelas, lalu mendekat dan membisikkan sesuatu ke telinga Dilla.
"Gue gak akan pergi jauh, kok. Secepatnya akan kembali," ucapnya. Lagi, pria itu memberi kecupan hangat di pipinya.
Lambat laun Jafin telah menghilang dari pandangan Dilla. Sementara itu, Dilla masih berdiri di tempat yang sama sambil memegangi pipi kanannya. Bekas sentuhan itu masih terasa, sampai tiba-tiba tanpa diduga perasaan Dilla sedikit bergemuruh. Antara ingin mengejar Jafin atau tidak.
"Apa aku mulai menyukainya? Ah, tidak! Bagaimana bisa aku termakan rayuan mautnya. Sedangkan, kemarin saja aku membencinya. Tapi tunggu!" gumam Dilla menghentikan kalimatnya.
Sebelum memasuki ruangan, kepala Dilla memutar satu memori di mana dalam memori ingatannya gadis itu pernah mengatakan satu kalimat ketika Jafin mengutarakan perasaannya.
"Jadi, gimana? Mau, kan terima cinta gue? tanya Jafin setengah mendesak gadis di hadapannya.
"Iya, aku mau jadi pacarmu dan hari ini kita pacaran," balasnya tanpa tersenyum sedikit pun.
"Aduh, Dilla. Bodoh banget jadi orang," gerutunya, memaki diri sendiri.
***
Cuaca hari ini terasa sejuk, meski di luar banyak polusi udara. Langit terlihat cerah, dengan awan putih membersamainya. Jafin begitu bahagia, saat seorang Dilla menghampirinya seusai mata kuliah selesai. Jantungnya bagai bertalu tak berirama saat Dilla mendekatinya dan jarak mereka sangat dekat.
Jafin mengambil kesempatan untuk memulai menanyakan kepastiannya perlihal hubungan mereka. Beruntung di dalam kelas sekarang ini hanya ada beberapa anak saja, mereka masih sibuk dengan buku-bukunya masing-masing. Sementara, Jafin dan Dilla tak pernah berhenti mencuri-curi pandang.
"Boleh gue nanya satu hal sama lo?" tanya Jafin membuka suaranya.
"Tanya? Apa?"
"Kemarin saat gue nyatain perasaan gue sama lo dan saat itu juga, lo menerima cinta gue. Lalu, sekarang apa kita pacaran?" Kalimat panjang yang diucapkan oleh Jafin berhasil membuat Dilla terdiam.
Beberapa menit Jafin dan Dilla tak bersuara, hanya saja ketika teman-temannya berpamitan untuk pulang lebih dulu. Baik Jafin maupun Dilla, mereka mengangguk bersamaan sambil mengeluarkan senyum terbaik mereka.
Kini tinggallah mereka berdua di dalam kelas, semua anak telah pergi. Keheningan mulai semakin terasa saat semilir angin berembus menjadikan bulu kuduk masing-masing berdiri.
"Kok gak jawab? Bukannya lo udah maafin gue, ya?" Jafin melontarkan kembali kalimat yang sama.
"Eum, maaf sebelumnya, Fin. Bukan maksud aku gak terima atau nolak. Aku bingung buat bilang jujur."
"Kenapa malu, Dil?" tanyanya.
Mendadak kedua tangan Dilla memegang tangan Jafin. Seketika aliran darah dalam tubuh pria itu memanas, pikiran kotor pun mulai bersarang lagi dalam memori di kepalanya. Namun, meski begitu Jafin berusaha menghilangkannya dulu dan menunggu jawaban kepastian dari Dilla. Wanita icarannya.
Dilla mengalihkan pandangannya menatap seisi ruangan, lalu memastikan bahwa tidak ada orang yang melihat atau mengganggu kebersamaan mereka. Dan setelah Dilla memastikan tak ada satu orang yang berkeliaran di sana, dengan spontan Dilla melakukan hal yang kemarin Jafin lakukan pada gadis itu.
Sayangnya, Jafin menyukai tingkah Dilla dan kesempatan itu pun diambilnya.
Seluruh tubuh Jafin merasakan panas yang membara, kehangatan-kehangatan yang dia rasakan saat melakukan hal tersebut berhasil membuat keringat dingin bercucuran.
"Mulai berani juga, ya, lo?" Pertanyaan itu terucap setelah keduanya telah selesai beraksi.
"Itu jawaban dari aku atas pertanyaan kamu tadi dan ma-maaf aku terlalu terburu-buru untuk lakuin itu tadi." Dilla terbata-bata dan gadis itu menjauhkan tempat duduknya.
Jafin mengangkat dagu Dilla, meminta gadis itu segera menatapnya tanpa memalingkan wajahnya.
"Enggak masalah. Gue suka cara lo menjawab pertanyaan gue. Jadi, kita pacaran?"
Dilla tersenyum mengangguk, lalu mereka pun berpelukan.
"Nah gitu dong, dari kemaren jawabnya. Jadi, gue gak susah-susah ngejar lo lagi," gumamnya, tanpa sengaja terdengar oleh Dilla.
"Oh, berarti kamu gak mau ngejar aku? Kamu capek ngejar-ngejar aku?"
"Bu-bukan gitu, Sayang. Udah lupain aja, sini-sini," balas Jafin menenangkan sang kekasih.
Hari ini tanggal Sepuluh Oktober 2018 Jafin Samudra Jiratulhaq dan Faradilla Yoshi Wiratmaja resmi menjalin ikatan pacaran. Keduanya menghabiskan momen-momen kebersamaannya di dalam kelas, walau semua anak telah pergi dan tentunya materi kuliah hari ini telah selesai.
Tak disangka dan tak diduga, yang terlihat oleh kedua mata Jafin ini. Dilla merupakan tipikal perempuan yang manja. Namun, itu hanya menurut pemikirannya saja.
"Yang."
"Hm."
"Pulang, yuk!" ajak Jafin.
"Ayo."
Ketenangan dan kebahagiaan mereka hanya sesaat, setelah kedatangan seorang gadis yang tiba-tiba datang menggebrak meja. Gadis itu seolah-olah tidak suka atas kebersamaan mereka.
Jafin dan Dilla bangkit dari duduknya, berdiri menatap perempuan di hadapannya.
"Apa-apaan sih? Rusak suasana aja," ketus Jafin yang tidak menyukai kehadiran si gadis.
"Dil, gue mau tanya sama lo. Lo sedang apa di sini? Berdua-duaan dengan play boy cap terasi kek dia?" tanyanya mengabaikan kalimat Jafin.
Sorot mata gadis itu begitu tajam menatap Dilla, membuat suasana menjadi ricuh meski hanya bertiga.
"Kenapa kamu tanya gitu? Jangan pernah bilang kalau cowok aku ini play boy, apalagi pake cap terasi cap apaan itu. Denger, ya! Kita memang temenan sejak kecil, tapi bukan berarti kamu larang-larang aku buat dekat dengan siapapun. Hak aku," terang Dilla menjelaskan.
Jafin berusaha melerai pertengkaran adu mulut antara Dilla dan si gadis yang memakai pakaian gaun berwarna merah hati. Namun, usaha Jafin melerai pertengkaran tersebut malah tidak menghasilkan sama sekali. Kedua gadis itu semakin gencar dan tidak ada yang mau menang.
Yang satu memaki-maki Jafin dan yang satunya lagi mengagung-agungkan pria itu.
|| Jika Cinta telah merasuki hati seseorang, mereka akan lupa bagaimana cara mereka melihat kenyataan yang sesungguhnya ||
"Gue tau gue sahabat lo, tapi gue gak mau lo jadi korban atas kebucinan pria ini!" Gadis itu menunjuk ke arah Jafin.
"Wey! Gak gitu juga kali," cetus Jafin merasa tersindir.
"Dil, lo tau gak? Mungkin lo baru sebulan ngenal ini cowok, tapi gue udah tiga tahun kenal sama dia. Gue tau bagaimana sikap dan perilaku cowok ini. Lo tau? Si Jafin playboy ini udah nyakitin 99 perempuan. Mungkin lo, korban dia yang ke 100."
Satu tamparan mendarat di wajah gadis bergaun merah hati.
Yes, puas! Suruh siapa lo bongkar-bongkar kedok gue, lo terima akibatnya, kan? Gue gak akan biarin lo rusak rencana gue, bisiknya.
"Kamu jangan sok tau, ya! Mana mungkin, Jafin menyakiti perasaan wanita sebanyak itu? Aku yakin kok, dia tipikal cowok baik-baik. Enggak seperti apa yang kamu pikirin," sanggah Dilla.
Dilla memang tidak terlalu mengetahui seluk-beluk Jafin atau masa lalunya seperti apa. Bagi Dilla, mengetahui masa lalu seseorang merupakan hal yang tidak penting. Hanya akan merusak hubungannya saja.
"Dil, plis! Dengerin gue sekali ini aja! Tadi gue dikasih tau sama anak-anak pas gue mau cari lo, mereka bilang lo ada di kelas Sastra Inggris. Ya udah gue ke sini. Dil, sebagai teman dan sekaligus korban PHP si Jafin ini, gue cuma gak mau lo ngerasain hal yang dulu gue dan yang lainnya rasain."
"Udahlah, ya! Kamu sebaiknya pergi atau kalau tidak biar kami yang pergi!" usirnya.
"Ayo, Sayang," ajak Dilla.
Dilla menggenggam erat tangan Jafin, mengajaknya pergi dari tempat itu. Namun, sebelum itu gadis yang tadi sempat mengganggunya ternyata dia menghalangi kepergian Dilla dan Jafin.
Dalam kondisi seperti ini, Jafin tidak banyak bicara. Pria itu menyerahkan semuanya pada Dilla dan membiarkan gadis pujaannya untuk beradu mulut dengan sahabatnya.
"Tunggu! Dil, kalau lo masih tetep bersikeras dengan pemikiran kalau Jafin bukanlah play boy seperti yang gue katakan sebelumnya. Terserah! Gue gak peduli, tapi jika suatu saat nanti lo sakit hati atau nyesel. Gue akan selalu ada buat lo!" ungkapnya.
Jafin mengusap-ngusap punggung Dilla, memberikan ketenangan kepada gadis itu. Tak lupa juga, pria itu memberikan suntikan-suntikan ucapan ke dalam pikiran Dilla bahwa apa yang tadi diucapkan oleh gadis si Pengganggu ini tidak lah benar.