Tak biasanya Sean mengajak Tio yang super sibuk itu untuk makan malam bersama. Tio kini menjadi salah satu dosen perguruan tinggi negeri. Memiliki jam mengajar padat dan sikap baiknya membuat ia disukai mahasiswinya apalagi karena Tio adalah seorang Jomblo most wanted.
Walaupun dia dosen yang cerdas dan tampan, di depan Sean, Tio adalah teman yang paling konyol. Tio masih suka bercanda kelewatan dan kalau sudah bercanda dengan Sean, Tio tidak seperti lulusan S2 tapi masih seperti saat mahasiswa dulu.
Tio dan Sean berteman sejak kuliah. Tio tahu betul siapa Sean. Pertemanan mereka tetap jalan hingga kini walau intensitas pertemuan mereka sedikit berkurang. Tio sibuk mengajar dan Sean sibuk dengan posisi barunya sebagai manajer umum di perusahaan ayahnya yang bergerak di bidang pangan.
Tiap hari Sean disibukkan dengan pekerjaannya hingga ia tenggelam dalam kesibukan dan jarang berinteraksi dengan teman-temannya. Sean juga bukan tipe pria yang punya banyak teman hingga ia menjadikan Tio sebagai satu-satunya tempat untuk bercerita dan meminta pendapat.
"Gue nyium bau-bau darurat nih, tiba-tiba ngajakin ketemuan. Biasanya lo sok sibuk melebihi bapak lo!" sengit Tio sambil memotong Pizza large di hadapannya.
"Emang beneran darurat kali!" jawab Sean seadanya.
"Kenapa lo? Jangan bilang lo ngomongin Betty la fea lo itu? Kenapa dia bos? Lo udah nemuin dia?" kata Tio menyelidik.
"Ini lebih dari Betty! Gue dipaksa kawin!" kata Sean dengan wajah sebal sambil menatap jendela.
"Ya udah kawin! Emang lo udah bilang sama Betty? Betty pasti mau sama lo! Dia tergila-gila sama lo!" kata Tio dengan mata melotot.
"Bukan sama Betty, tapi sama anak tetangga gue!" jawab Sean masih dengan tatapan nerawang di jendela.
"Cantik gak?" tanya Tio dengan pertanyaan umum yang kerap ditanyakan para lelaki jika dihadapkan dengan wanita.
"Cantik sih, tapi gue gak cinta!" jawab Sean.
"Halah lo, lo coba aja gih!" cerca Tio.
"Coba apa? Emang makanan dicoba-coba!" gerutu Sean.
"Ya terus gimana? Lo ngajak gue ke sini minta pendapat gue kan? Ya udah lo terima dulu aja, Bro!" kata Tio tajam.
"Gue gak kepikiran bakalan dijodohin gini! Bukannya Kak Soni aja yang dipilih cewek itu, kesel gue!" kata Sean.
"Lha, ha ha ha. Bisa milih gitu? Asem, enak bener jadi dia," kata Tio setelah mengunyah potongan pizza di mulutnya.
"Bukannya Kak Soni aja yang dipilihnya, musti gue pula. Mana mama maksa lagi. Nasib... Nasib..." keluh Sean.
"Itu karena lo kelamaan jomblo. Udah, fix samaan kita. Gue dijodohin juga," kata Tio tiba-tiba.
"Seriusan lo? Kok gue baru tau lo dijodohin. Apa karena kejombloan lo yang bikin lo di jodohin?" tanya Sean sinis.
"Lo santai dong, bukan berarti kita ini gak laku bro kalau dijodohkan. Kita berdua ini terlalu selektif milih. Ya karena kita terlalu susah ditaklukkan cewek akhirnya orang tua kita naklukin kita dengan cara ngejodohin kita sama cewek pilihan mereka," debat Tio.
"Dijodohin itu karena kita kelihatan gak laku dan ke mana-mana sendiri," komentar Sean. Wajah pria itu seketika cemberut. Ia mengingat dirinya yang berstatus jomlo. Sean tidak terlalu dekan dengan wanita, kecualinsatu orang, wanita itu adalah Betty.
"Bukan gak laku Bro, kita itu susah ditaklukkan cewek! Mendingan lo terima deh perjodohan itu, lupain Betty la fea lo itu." jawab Tio santai setelahnya ia meneguk minuman sodanya. Ia seperti siap menerkam Sean dengan argumen konyolnya. Ia seperti siap menyerang Sean dengan menyarankan menerima perjodohan karena merasa Sean senasib dengan dirinya.
"Lo ada-ada aja, Tio," decak Sean.
"Gue ngomong beneran, sekarang mendingan lo mandi pake kembang tujuh rupa sama tujuh macam air comberan. Supaya lo sadar dan lo hidup tenang!" komentar Tio.
"a***y lo! Lo nyuruh gue mandi pakai air comberan. Yang ada gue sakit jiwa ngikutin saran lo!" gerutu Sean.
"Ini cara supaya lo bisa move on dari si Betty-Betty la fea lo itu!" gemas Tio.
"Lo jangan gitu dong, ngatai dia jelek. Lo sebelumnya suka sama dia ‘kan!" kata Sean tajam. Ia mengingat Betty yang sebelumnya juga disukai Tio.
"Udah ah bosen gue. Dulu aja dia nyatain cinta ke lo malah lo anggap sahabat. Sekarang udahan Betty, mendingan lo merem pikirkan cewek yang mau dijodohin sama lo itu!" saran Tio.
Sean menelan salivanya. Ia memikirkan kata-kata Tio untuk menerima dan melanjutkan prosesi perjodohan antara dirinya dengan Naima. Ia sebenarnya belum siap atau lebih tepatnya tidak mau, tidak ingin dan masih ingin bebas.
Melihat gelagat Sean yang termenung Tio angkat biacara, "Sean, gue dijodohkan sama anak teman nyokap namanya Sari pas gue kuliah. Mulanya gue nolak karena Sari baru tamat SMA, eh ternyata."
"Ternyata?" tanya Sean Penasaran.
"Ternyata pas udah gede dia cakep Bro. Ngebayangin dia waktu kecil? Wuih..." kata Tio geleng-geleng.
"Emang kenapa?" tanya Sean singkat.
"Kerak ilernya, Bro, pas bangun tidur, panjang banget!" canda Tio.
"Ha ha ha, lo bisa aja," Sean mulai tertawa setelah beberapa saat dia terlihat murung.
"Gak ada salahnya dicoba dan lihat cewek itu dari dekat. Lihatnya pakai hati jangan pake dengkul!" kata Tio tajam.
"Gak bisa, sebenernya gue masih pengen bebas," Ralat Sean setelah sekian lama menjadikan Betty sebagai alasan untuk menolak perjodohan.
"Lo ngomong kek, dari tadi pengen bebas. Jangan lo jadiin Betty la fea jadi kambing hitam lo," gerutu Tio.
"Terus gimana dong? Hari silaturahmi makin dekat nih!" keluh Sean.
"Ya udah, mending lo ikutin aja dulu. Entar ke depannya gampang dah," Tio memberi saran.
Sean menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia merasa ini adalah masalah berat. Ia belum ingin terikat dan ia masih memikirkan cinta pertamanya yaitu Betty Lavia yang ia kenal ketika kuliah.
"Kenapa lagi lo? Ini kan baru rencana perjodohan dan lo juga belom akrab sama cewek itu," geram Tio.
Sean masih menerawang dengan tatapan kosong. Tio sahabatnya justru mendukung perjodohan karena dia juga dijodohkan dengan Sari yang sudah pasti usianya lebih muda.
"Jadi, gue harus ikutin saran lo?" tanya Sean dengan wajah polos.
"Iya, bagus, Bro!" jawab Tio dengan wajah penuh kemenangan.
"Oke, kalau begitu," kata Sean singkat sambil meletakkan sendok dan garpu pertanda ia telah selesai menghabiskan makanannya.
"Ya udah, ayo!" ajak Tio.
"Ayo? Kemana?" tanya Sean sengit.
"Ayo bayarin semua makanan ini!" perintah Tio.
"b*****t! Gue terus yang bayar," gerutu Sean. Pria itu kemudian mengeluarkan kartu debet dari dompetnya.