"Saya ganti saja uang kamu," ucap Ibra dengan cepat. Ibra tidak mau berkenalan dengan perempuan aneh yang memintanya menjadi pacar sewaan. Ini gila.
"Oh tidak bisa. Saya sudah membantu kamu lho. Masa iya, kamu gak mau bantu saya?" ucap Bina memelas. Inilah saatnya ia memperlihatkan wajah lesu seperti orang terintimidasi. Seolah-olah Bina adalah korban.
"Saya kembalikan saja uang kamu," tegas Ibra mengulang. Ibra segera berdiri untuk segera pergi dari Kafe itu dan mencari tempat penukaran uang untuk menukar uang.
"Eitsss ... Mau kemana? Kamu pikir saya percaya begitu saja dengan kamu?" cegah Bina dengan cepat. Bina merentangkan kedua tangannya dan tidak membiarkan Ibra pergi dari tempatnya walaupun hanya selangkah. Kali ini Bina harus mendapatkan Ibra. Menurut Bina, Ibra adalah lelaki yang pas untuk dijadikan pacar sewaan. Pria yang sempurna. Andaikan saja, calon suaminya seperti ini, rasanya Bina tidak mungkin lari dari kenyataan. Bina dengan senang hati dijodohkan. Atau bahkan Bina sendiri yang menyodorkan dirinya untuk bisa dimiliki oleh Ibra.
"Kenapa kamu bilang begitu. Saya orang baik-baik," bela Ibra untuk dirinya sendiri.
"Saya mana tahu. Kamu orang baik atau tidak? Di dunia ini, manusia bisa berkamuflase," jelas Bina ketus. "Lagi pula kita belum kenalan," ucap Bina lagi.
Ibra menarik napas dalam. Ia tidak tahu bagaimana cara menghadapi gadis muda di depannya ini.
"Saya Bina. Kamu?" Tanya Bina sambil mengulurkan tangannya.
Ibra menyatukan kedua tangannya dan tidak membalas uluran tangan Bina.
"Ibra," jawab Ibra dengan suara tetap tenang.
Bina merasa tidak dihargai dan menarik kembali tangannya lalu duduk sambil melipat kedua tangannya di depan dad4.
"Oh jadi namanya Ibra eh Kak Ibra," ucap Bina.
"Hemm ..." Ibra terdengar hanya berdehem saja.
Ibra ikut duduk kembali di kursinya. Mau tidak mau ia mengikuti Bina yang kembali duduk di kursi depannya.
"Jadi pacar sewaan saya ya, Kak," pinta Bina sedikit merengek.
"Tidak," jawab Ibra tegas.
"Satu minggu saja," rengek Bina penuh harap.
"Enggak," jawab Ibra mantap.
"Tiga hari saja," pinta Bina lagi sambil bernegosiasi.
"No!" Jawab Ibra tetap teguh sejak awal.
"Tolonglah ... Dua hari saja, besok dan lusa," pinta Bina lagi dengan nada memohon. Nada suaranya melemah dan sukses membuat Ibra sedikit iba.
Ibra menatap lekat dua bola mata Bina, ia mencari sesuatu di bola mata Bina.
"Mau kan? Dua hari saja, besok dan lusa," pinta Bina lagi.
"Kalau dihitung dengan hari ini berarti tiga hari," jelas Ibra mulai menghitung.
"Eum ... Saya tambah bayarannya. Lusa saya bayar sepuluh juta," ucap Bina cepat.
Ibra menarik napas dalam. Bukan soal bayaran. Apalagi uang sepuluh juta, ia bahkan memiliki lebih dari itu.
"Saya mau tahu alasannya. Kenapa kamu mau menjadikan saya sebagai pacar sewaan kamu." Ibra hanya ingin tahu alasannya. Kenapa harus dia. Banyak laki-laki lain yang bisa Bina bayar untuk itu.
"Pertama, sudah tidak ada waktu lagi. Kedua, saya rasa, kamu pria yang paling cocok untuk mendampingi saya," jelas Bina pada Ibra.
"Mendampingi?" tanya Ibra bingung.
"Eum ... Maksud saya, mendampingi untuk dua hari saja. Gimana?" tanya Bina lagi.
Ibra belum memutuskan jawabannya. Misinya untuk pulang adalah menemui calon istrinya dan melamar lalu menikahinya.
"Apa saja tugasku." Suara Ibra terdengar seperti mengiyakan permintaan Bina.
Bina tidak bisa menyembunyikan binar mata yang membahagiakan itu. Ia merasa menang hari ini.
Bina mulai menjelaskan kepada Ibra, apa tugas Ibra mulai besok. Mereka bertukar kontak untuk pertemuan besok. Ibra hanya menyimpan dan otaknya mulai berpikir untuk memberikan sedikit surprise untuk calon istrinya. Sepertinya ia perlu mengerjai jodohnya itu.
***
Keesokkan harinya, Bina sudah menunggu Ibra di suatu tempat yang telah mereka janjikan. Bina memakai mobil sport hitam milik kakeknya. Sedangkan Ibar memakai motor besar kesayangannya yang sudah lama tidak dipakai.
Bina menyandarkan tubuhnya pada pintu mobil sambil menatap ke arah suara bising dari sebuah motor besar yang terlihat keren.
Tangan Bina meremat, ia rindu pada motor besarnya yang ada di Kota. Tangannya gatal ingin menarik gas sekencang mungkin.
Motor itu mendekat dan berhenti tepat di depan Bina. Sosok laki-laki dengan jaket kulit dan helm full face melihat ke arah Bina. Bina menegakkan tubuhnya dan menatap lekat pria yang sedang membuka kaca helmnya.
"Saya terlambat?" tanya Ibra sambil melirik ke arah jam tangannya sendiri.
Bina menggelengkan kepalanya pelan, "Enggak. Ini kamu?" Bina sedikit tak percaya dengan gaya Ibra hari ini. Kemarin Ibra terlihat mode kalem. Sekarang terlihat macho sekali. "Ish ... Ini cuma pacar sewaan," batin Bina di dalam hati. "Gue gak boleh baper," jelasnya lagi di dalam batin.
Ibra turun dari motor besarnya dan melepas helm full face lalu di cantolkan di kaca spion.
"Saya telat gak?" tanya Ibra mengulang. Padahal pertanyaan itu sudah dijawab oleh Bina.
Lagi-lagi, Bina hanya menggeleng pelan, "Enggak." Jujur, Bina masih spechless Ibra. Sumpah pria kenalannya itu benar-benar pria idamannya. Andaikan saja, jodohnya itu Ibra, Bina pasti tidak menolak dan bahkan ia rela menggatal demi membuat Ibra jatuh cinta
"Hei ... Kamu kenapa?" Ibra mengibaskan tangannya di depan Bina yang terbawa suasana dan melamunkan Ibra tanpa sengaja.
"Ehh ... Gak apa-apa. Jadi gimana sekarang? Mau sekarang?" tanya Bina agak gugup.
"Boleh. Calon suamimu sudah datang?" tanya Ibra lagi.
Bina melihat jam tangannya dan mengangguk, "Sepertinya sudah."
"Oke. Kita ke pom bensin dulu dekat sini. Saya mau simpan motor ini atau mobil kamu yang disimpan?" tanya Ibra memberikan pilihan.
"Aku naik motor kamu aja. Boleh?" Bina menjawab dengan mantap. Ia penasaran dengan motor Ibra.
Ibra menatap Bina dari ujung kaki hingga ujung kepala. Bukan tidak boleh, tapi Bina memakai rok pendek. Walaupun bukan rok span dan lebih seperti rok rempel model payung. Mirip seperti rok untuk atlet tenis.
"Pake itu? Naik motor?" seru Ibra sambil menunjuk ke arah rok Bina.
Bina menunduk menatap rok pendeknya. Baginya tidak ada yang salah. Bahkan Bina berani naik motor besarnya dengan menggunakan rok ini.