Satu bulan sebelumnya …
“Ra, aku mendadak ada rapat. Gantiin aku fitting baju, ya!”
Kunyahanku seketika terhenti. Aku menatap kalender di ponsel, memastikan kalau hari ini benar-benar hari minggu.
“Mbak … perusahaan mana, sih, yang ngajak rapat hari minggu begini?”
“Perusahaan luar negeri.”
“Bukannya di sana sistem lebih ketat, ya? Sabar sehari, kek! Kerja mulu, padahal weekend!”
“Ini kasus khusus dan proyek penting. Udah aku tunggu dari jauh-jauh hari.”
Aku langsung memutar bola mata malas. “Yang mau nikah siapa, yang repot siapa.”
“Elang udah on the way jemput, Ra. Mau, ya?”
“Hah!” aku melotot. “Sama dia?”
“Iya. Kan dia juga mau fitting sekalian.”
“Ih, ogaaah! Aku enggak mau. Yang mau nikah, kan, situ, Mbak. Yang berangkat juga kudu situ. Aku nyesel nginep di sini. Malah disuruh-suruh. Tahu gitu mending di rumah sendiri aja. Enak!”
“Hape baru, mau?”
“Aku enggak kekurangan uang. Aku bisa beli sendiri.”
“Nanti malam langsung kirim. Yang 1 TB!”
Sial!
Mbak Kiki ini benar-benar keterlaluan. Iming-imingnya sungguh menggiurkan. Mentang-mentang aku sedang mengincar ponsel baru dengan kapasitas yang besar.
“Beneran, Ra. Malam ini juga aku beliin.”
“Tapi badan kita beda, ya. Aku lebih bohay!” balasku sambil bercanda.
“Pakai ukuranmu aja. Nanti di aku agak longgar dikit enggak papa.”
“Tapi baju nikah bagusnya press body, tahu, Mbak.”
“Badan kita enggak sejauh itu juga, kok, Ra. Aku pakai bajumu masih oke.”
“Ya udah. Dilarang protes kalau besok bajunya enggak pas di badan.”
“Aman.”
Kakak kandungku ini memang berbeda. Dia adalah manusia ter-worcaholic yang pernah kukenal. Padahal perempuan, tetapi rasa-rasanya, keuletannya melebihi sebagian laki-laki.
Perusahaan keluargaku sudah dia yang pegang. Papa dan Mama punya kesibukan masing-masing. Mereka hanya memantau dari jauh. Katakan, sambil menikmati masa tua.
Sementara aku?
Bungsu yang selalu dianaktirikan ini malah kerja di perusahaan farmasi swasta dengan gaji UMR— lebih sedikit. Nominal gajiku bahkan tak ada seperempat dari uang saku yang diberikan orang tua dan kakakku.
Tidak masalah. Yang penting aku ada kesibukan. Sekalipun gajiku kecil, toh sebenarnya uang itu cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupku.
Ya, kebutuhan dasar. Bukan gaya hidup.
“Enggak papa, Lang. Enggak buru-buru. Iya, aku tunggu.”
Aku menoleh, Mbak Kiki baru saja mengangkat panggilan.
Lang, artinya Elang.
Elang Jagatra Adhiraja. Teman sekolahnya dulu sekaligus calon suaminya.
Apa mereka sempat pacaran? Ya, sepertinya. Intinya, mereka sempat dekat.
“Mbak, Mas Elang udah mau jadi suami, lho! Panggilannya ganti, kek! Masa manggilnya ‘Lang’, ‘Lang’, mulu!”
“Nanti pasca akad langsung ganti.”
“Aku aja udah patuh buat ganti. Mbak yang nyuruh malah enggak mau.”
Mbak Kiki tertawa. “Nanti, Ra, nanti. Bentar lagi.”
Calonnya Mbak Kiki adalah Om dari teman dekatku saat kuliah. Namanya Alvan. Jadi, sebelum ini aku memanggilnya Om.
Ya, Om Elang.
Mbak Kiki terus menyuruhku untuk mengganti panggilan, jadi kuturuti. Dia sendiri malah begitu.
Aneh!
“Siap-siap, Ra. Keluar jangan muka gembel begitu.”
“Yaaa. Aku mandi dan dandan bentar.”
“Oke.”
“Jangan lupa nanti malam kutagih hape barunya!”
Mbak Kiki langsung mengacungkan jempol. “Sip! Tagih aja!”
***
“Kok kamu? Di mana kakakmu?”
Sudah kuduga, pertanyaan inilah yang pertama kali terlontar dari mulut calon kakak iparku. Aku keluar gerbang, lalu menunjuk atas.
“Telepon saja calon istrinya, Mas. Saya sekadar disuruh sama dia.”
Mas Elang menatapku sesaat, lalu menelepon Mbak Kiki. Aku sendiri tetap diam, menunggu instruksi selanjutnya.
“Hallo, Ki? Kok malah Naura yang turun? Ah? Minggu-minggu begini ada rapat? Oh, oke. Ya. Hm. Ya. Enggak usah. Hm. Ya.”
Aku mencibir. “Hm. Ya. Oke. Hm. Ya. Oke.”
“Kamu lagi niruin saya?”
Aku tersentak. Ternyata panggilan sudah berakhir.
“E-enggak, tuh!” aku menggeleng. “Saya enggak lagi niruin.”
“Buruan naik. Waktu saya sedikit.”
“Okey.”
Begitu naik mobil, aku segera mengenakan sabuk pengaman. Robot di sampingku langsung menyalakan mesin dan kami pun pergi meninggalkan area rumah Mbak Kiki.
Robot?
Memang, kadang-kadang aku memanggil calon iparku ini robot. Kalau tidak robot, maka patung.
Pasalnya, calon iparku ini orangnya benar-benar kaku dan irit bicara. Bicara kalau ada perlu saja. Sudah begitu, ekspresinya juga itu-itu saja. Aku sampai heran Mbak Kiki mau dengannya.
Memang tampan, tinggi, dan mapan. Tapi bukankah menikah itu tidak hanya soal fisik dan materi? Ada banyak hal yang lebih penting dari itu.
Namun, ya sudahlah. Yang mau menikah itu mereka.
Apa urusannya denganku?
“Jauh enggak, ya, tempatnya?” tanyaku memecah keheningan.
“Enggak.”
“Berapa menit kira-kira?”
“Lima belasan menit.”
“Sudah termasuk macet?”
“Sudah.”
“Masih area kota?”
“Masih.”
Sampai sini paham, kenapa aku memanggilnya robot?
Dia memang begini. Sulit sekali membangun obrolan dua arah. Benar-benar jarang dia mau bertanya balik. Katakan, harus menunggu dia ada kepentingan lebih dulu.
“Oh iya, Om—”
“Panggilan itu lagi.”
“Kelepasan.” Aku nyengir. “Kakak ipar bawa minum di mobil enggak, ya?”
“Ambil di laci dashboard.”
“Baik!”
Aku langsung menarik glove box dan mengambil air mineral kecil yang ada di sana. Namun, begitu botol itu kuangkat, aku dibuat salah fokus dengan tumpukan kotak ukuran kecil yang aku tahu betul apa isinya.
Di saat yang sama, mobil berhenti. Kondisi jalan sedang macet.
“Mas, i-ini—”
Kalimatku terhenti ketika glove box ditutup paksa. Aku menatap Mas Elang, dia juga menatapku.
“Saya tidak suka jajan di luar.”
“Bukan urusan saya!” balasku cepat.
“Setidaknya, jangan fitnah saya di depan kakakmu.”
“Lah, bukan buat main sama Mbak Kiki?”
“Kamu kira kami begitu?”
“Ya siapa tahu. Memang dosa, tapi banyak yang ngelakuin itu sebelum sah.”
“Kami enggak.”
“Enggak usah malu, deh! Udah sama-sama dewasa juga.”
“Terserah!”
Aku menatap luar jendela. “Lagian buat apa bawa k****m sebanyak itu? Di mobil pula.”
“Itu kado dari teman saya setelah tahu saya akan menikah. Hanya iseng!”
“Kalau mau nikah, kenapa harus pakai itu? Apa mau nunda punya anak?”
“Kenapa kamu jadi banyak tanya?”
“Sekadar info aja, Mas. Mbak Kiki disuruh nikah karena Papa dan Mama udah pengen punya cucu. Kalau orang tua tahu ada benda itu, bahaya!”
“Nanti saya buang.”
Mobil kembali jalan. Macet lampu merah sudah teratasi.
Sayangnya, tiba-tiba aku dibuat salah fokus lagi. Rupanya ada satu kotak yang jatuh di bawah. Aku refleks menunduk dan mengambilnya.
“Kamu ambil apa?”
Alih-alih menjawab, aku malah membaca tulisan yang tertera di kemasan.
“Large?”
Mas Elang mendelik dan merebut benda itu dari tanganku. “Naura! Lain kali jangan lancang ambil barang pribadi milik calon iparmu sendiri! Ngerti?”
***