Keesokan paginya setelah subuh Maira menyuapi Oma sarapan seperti biasa.
Dia bilang kalau hari ini akan pergi bersama temannya. Oma tidak keberatan dan mengizinkannya.
"Asalkan kamu jaga diri dan tidak terjebak dalam hal buruk, Oma izinkan."
"Iya, Oma. Terima kasih yaah."
Tiara datang satu jam kemudian dengan keceriaannya. Ia memeluk Oma dan memberikan buket bunga untuknya.
Oma Fani tertawa cekikikan. "Kau buat Oma seperti anak gadis saja. Menerima bunga dari pacar."
"Mmh, aku saja tidak pernah mendapatkannya," oceh Maira.
Tiara dan Oma melirik ke arah Maira. "Kalau begitu kau harus cari pacar!" ucap mereka serentak.
"Eeh?" Maira tertawa melihat mereka meledeknya.
“Hahaha.”
Maira dan Tiara permisi ke kamar dulu. Oma Fani duduk di depan tv menikmati acara kesukaannya.
"Banyak banget bajunya? Aku cuman pinjam satu aja," tanya Maira kebingungan.
"Ini semua tidak aku pakai lagi. Jadi akan kuberikan untukmu." Tiara mencobakan dari luar pada Maira.
Maira mengambil salah satunya dan memakai gaun berwarna biru. Tiara menggelengkan kepalanya.
"Bagus, tapi untuk bertemu orang tua tidak pantas. Kamu pakai saat kencan berdua saja."
"Hei, aku hanya sewaan. Tidak mungkin kencan berdua." Maira tertawa lalu mencoba baju lain.
Dari lima gaun yang dibawa Tiara, akhirnya mereka sepakat pada satu baju yang terihat sopan namun, tetap nyaman digunakan.
Gaun berwarna kuning panjangnya selutut. Lengannya pendek dengan potongan kerah berbentuk huruf V. Siluet pinggangnya yang sedikit ketat membuat Maira tampak langsing dan menimbulkan kesan feminin.
Bagian bawahnya pas. Bodi Maira terlihat sangat bagus. Tiara tidak menyangka kalau temannya ternyata punya tubuh seperti model. Selama ini tertutupi oleh pakaian simpel miliknya yang berukuran besar.
Tiara juga membantu Maira berdandan, dia tidak pernah lulus merias dirinya sendiri. Terlalu polos tanpa alas bedak atau garis mata.
Hari ini sentuhan alami dari tangan lihai calon dokter hewan itu pun menari-nari di wajahnya. Satu jam kemudian selesai lah proses riasan Maira. Tiara tersenyum melihat sahabatnya begitu cantik.
“Wah!”
Maira membuka mata dan menatap tampilannya di depan kaca. Tidak yakin kalau bayangan itu adalah dirinya sendiri.
"Bagaimana? Cantik kan?"
Maira tersenyum lebar. "Terasa seperti bukan aku."
"Haha, itu karena kamu tidak pernah pakai apa pun di wajahmu. Harusnya kau gunakan pelembab wajah, perona pipi dan lipstik. Selama ini kamu hanya pakai bedak tabur dan pelembab bibir. Oke lah alismu memang sudah tebal tidak perlu dilukis lagi, tapi setidaknya kamu gunakan lipstik." Tiara memberi saran untuknya.
"Terima kasih ya, Ra." Maira masih tidak menyangka kalau bayangan itu adalah dirinya.
"Mmh." Tiara menganggukkan kepala.
Setelah beres-beres mereka pun pergi. Tiara mengantarkan Maira sampai ke taman. Janji jam sepuluh pagi, Maira tiba pukul 09.45 WIB.
Tiara penasaran dengan wajah bosnya. Ia meninggalkan Maira lalu berhenti di simpang jalan, memantau dari jauh.
Kanz datang menggunakan mobil sport putih yang memiliki logo bintang dikelilingi lingkaran yang bermakna tanah, udara dan laut.
Kanz melambatkan kecepatan untuk mencari Maira ke sekitar taman. Hanya ada seorang perempuan berdiri menghadap belakang, berbaju kuning.
"Tidak mungkin ini dia," ucapnya menepis pikiran yang tepat.
Kanz tidak percaya kalau Maira berpakaian feminin. Kanz berhenti di belakang Maira yang berjarak lima meter dari mobilnya. Kanz menghubungi gadis itu untuk menanyakan kedatangannya. Ponsel Maira berdering, ia merogohnya dari dalam tas. Maira menghadap samping dan mengangkat panggilan itu.
Kanz terkejut, saat wanita di depan mengangkat panggilan darinya itu adalah Maira. Tatapannya nanar dengan senyuman setengah ikhlas menatap ke arah Maira.
Ia mengabaikan ponsel yang telah terhubung padanya.
"Halo, siapa ini?" tanya Maira.
Kanz tetap diam karena masih terbengong melihat wanita itu.
"Halo!" Maira mematikannya.
"Ada saja orang iseng suka menelepon tanpa suara," dengusnya kesal.
Kanz menggelengkan kepalanya, tersenyum tipis dan menghubunginya lagi.
"Hei, jangan mengerjaiku! Kau tahu apa akibatnya?" sahut Maira kesal dengan nomor yang sama.
Kanz terperangah mendengar ocehannya. Ia tersenyum tipis dan menjawabnya. "Ini aku."
"Eh, Bapak, Maaf, aku kira tadi siapa yang menghubungi aku." Maira merasa bersalah sudah marah padanya.
"Aku di belakangmu, masuklah."
Maira menoleh dan melihat mobil sport putih yang tidak pernah ia lihat selama bekerja di cafe.
Maira menunduk ke arah kaca kemudian mengetuknya untuk memastikan bahwa bosnya memang ada di dalam.
Kanz menurunkan penutupnya.
"Masuklah," perintah Kanz.
Maira tersenyum tipis lalu membuka pintu. Duduk dengan posisi nyaman lalu terdiam menatap ke depan, masih merasa aneh dengan penampilan barunya.
Bajunya tersingkap, Maira menariknya agar lebih menutupi pahanya. Kanz memperhatikan perbedaan gaya Maira dan ketidaknyamanannya pada gaun itu.
Kanz paham kalau dress yang digunakannya adalah pinjaman, pasalnya dia tidak pernah melihat wanita ini dalam balutan gaun pendek, kalau miliknya pasti tidak bolak-balik menarik bagian bawahnya.
Tangan Kanz meraih sesuatu di belakang, sebuah jaket kulit miliknya diberikan pada Maira.
"Peganglah," katanya.
"Hah? Untuk apa?" tanya Maira.
Kanz mendelik dengan ekspresi dingin. "Mau aku pakai nanti, jadi kau harus memegangnya,” jawabnya dengan bentakan kecil.
Sebuah alasan sederhana agar Maira bisa menutupi pahanya.
"Oh, baiklah." Maira meletaknya di pangkuan dengan hati-hati.
Maira benar-benar cantik, Kanz meliriknya diam-diam sambil menjalankan mobil.
Tiara yang sudah menantikan mobil pria yang menyewa sahabatnya itu tetap tidak bisa melihat pengemudinya karena kaca mobil terlalu gelap.
Tiara mengirim pesan pada Maira.
"Hati-hati, jika ada hal yang mencurigakan segera lari."
Maira tersenyum membacanya, balasan pun mendarat.
"Iya, terima kasih."
Kanz menjelaskan lagi apa yang harus ia katakan jika dia ditanya oleh mama dan papanya.
Maira meringis melihat rincian data yang harus ia hafal saat ini juga di dalam mobil dalam perjalanan ke rumahnya.
‘Harusnya dia kasih tadi malam padaku. Jika sebanyak ini mana mungkin aku hafal?’ gerutu Mai geram menarik napas dalam.
Di sana tertera informasi pribadi Kanz mulai dari makanan favorit, minuman kesukaan, hal yang dilarang untuknya dan kebiasaan aneh dirinya.
Maira melirik aneh pada Kanz. ‘Pria yang suka bersuara keras ini ternyata takut sama kecoa,’ gumamnya menahan tawa, matanya dibuang ke arah jendela agar Kanz tidak melihatnya.
Maira terus menyibukkan diri menghafal dan memahami setiap lembar data dirinya yang tidak membuatnya tertarik sedikit pun.
Makanan tanpa lada, tidak boleh minum jus jeruk, warna kesukaan hitam, makanan kesukaan nasi goreng Jepang, minum kesukaan jus terong belanda.
Deretan makanan dan minuman yang dibacanya dengan acak membuatnya senyum sendiri.
“Sudah kau hafal?” tanya Kanz.
“Tidak akan terhafal ini, Pak,” jawab Maira lemah.
“Jangan panggil aku dengan sebutan Bapak nanti di sana.”
“Lho, saya harus memanggil apa jadinya sama bapak?” tanya Maira polos.
“Terserah deh, Sayang, Beb, atau apa lah.”
“Ha-Haruskah?” tanyanya Maira bingung.
“Kau ini, susah sekali diatur.” Kanz kembali emosi.
“Maaf, lidah saya kelu kalau manggil Anda dengan sebutan itu.” Maira menyengir.
“CK,” decak kesal Kanz terdengar. “Coba dulu, aku mau dengar,” perintahnya.
“Hah?” Maira memikirkan panggilan apa yang cocok untuknya. ‘Menurutku lebih bagus dipanggil Bos Pemarah sih,’ gerutunya.
“Ehem. Ehem.” Maira cek suara, mendadak grogi. Belum pun disebut dia sudah demam panggung rasanya.
“Sa-“ Maira menghentikan ucapannya yang ingin menyebutnya dengan ‘Sayang’, tapi tidak jadi, lidahnya kaku.
“Salahkan kalau aku panggil dengan sebutan ‘Mas’ aja?” lanjutnya.
Kanz kira dia mau memanggil dengan sebutan ‘Sayang’ tadi. Huft, Maira membuatnya emosi. Hanya panggil ‘Sayang’ aja susah.
“Terserah, tapi nanti harus romantis biar mamaku tidak curiga.”
“SIAP, PAK!”
“Ha? Masih Bapak juga?”
“Eh, lupa saya, Pak. Ahahaha.” Maira membersihkan kerongkongannya lagi.
“Siap, Mas,” jawabnya dengan lembut.
Kanz terhenyak mendengar ucapannya yang mendayu saat memanggil ‘Mas’.
“Coba ulangin,” pintanya.
Maira mengerutkan dahinya. “Ulangin?” dia menghirup napas dan melipat bibirnya, meyakinkan diri agar memanggil pria ini dengan sebutan ‘Mas’.
“Iya, Mas.” Dayuannya tetap keluar. Kanz tersenyum kecil.
“Oke, bagus! Pertahankan.”
“Mmh, Baik, Pak.”