Tepat sebelum tengah malam, bunyi langkah terdengar dari arah jalan tanah. Aku berdiri di dekat pintu pesawat dengan tongkat di tangan. Lampu di sekeliling landasan membuat udara terasa hangat, tetapi penglihatanku tetap hanya menangkap beberapa siluet biru yang mendekat. Aku mengenali Kyaa Kari dari suaranya ketika ia meminta kami tidak mengarahkan lampu langsung ke keluarganya.
'Aku datang untuk melihat persediaan,' katanya. 'Bukan untuk menerima tawaran pindah.'
'Baik. Itu sudah jelas.' Aku memberi ruang di pintu masuk. 'Kalian boleh memeriksa dan pergi kapan saja.'
Di belakangnya ada seorang perempuan dan seorang anak. Kyaa Kari memperkenalkan mereka sebagai keluarganya, tetapi tidak menyebut nama mereka. Aku tidak bertanya lebih jauh. Mereka tidak perlu menyerahkan informasi pribadi hanya untuk menilai bantuan yang kami bawa.
Jacklyn menunggu di sisi lorong, tidak terlalu dekat. Ia menjelaskan bahwa pemeriksaan kesehatan yang bisa ia lakukan malam itu terbatas pada melihat kondisi umum dan menanyakan kebutuhan mendesak. Tidak akan ada tindakan tanpa persetujuan. Kyaa Kari menyampaikan itu kepada keluarganya dalam bahasa mereka. Jacklyn menyebut bahwa perempuan itu mengangguk dan anaknya tetap menggenggam ujung pakaian ibunya.
'Apakah kami boleh melihat makanan yang kalian bawa?' tanya Kyaa Kari.
'Ya,' jawabku. 'Anna dan Onni akan membuka ruang penyimpanan. Kami akan mencatat jumlah sebelum dan sesudahnya supaya tidak ada yang tersembunyi.'
Aku mendengar pintu mekanis terbuka, lalu roda troli bergerak di lantai. Aku tak bisa melihat kotak-kotak itu, tetapi Onni menyebutkan satu per satu jenis dan jumlah yang tertera pada label. Jayen mencatatnya dengan suara pelan, sementara Anna memeriksa tanggal penyimpanan. Semua dilakukan di hadapan Kyaa Kari dan keluarganya.
'Berapa banyak yang dapat kalian lepaskan malam ini?' tanyanya.
Aku tidak ingin menjawab dengan angka yang belum diperiksa. 'Kami akan menghitung kebutuhan pesawat dan tim lebih dulu. Aku tidak akan menjanjikan jumlah yang belum kami pastikan.'
Perempuan yang datang bersama Kyaa Kari bertanya apakah makanan itu akan mengurangi jatah mereka jika menolak ke Mars. Aku merasakan pertanyaan itu sebagai sesuatu yang seharusnya kami jawab sejak awal.
'Tidak,' kataku. 'Bantuan ini untuk kebutuhan mendesak. Keputusan tentang perjalanan ke Mars terpisah. Menolak perjalanan tidak membuat kalian kehilangan hak untuk meminta bantuan yang memang tersedia.'
'Dan apakah bantuan itu cukup untuk semua?' Kyaa Kari kembali bertanya.
'Belum tentu. Itu sebabnya kami harus membicarakan jumlahnya dengan jujur.'
Jayen menutup catatannya sejenak. 'Kapten, stok yang bisa dipisahkan malam ini cukup untuk beberapa hari bagi kelompok kecil, bukan untuk seluruh wilayah. Kami belum menghitung kebutuhan air dan obat.'
Aku tidak menyukai kabar itu, tetapi lebih baik mengatakannya sekarang daripada menimbulkan harapan palsu. 'Kami tidak akan menyebut kiriman kecil sebagai penyelesaian.'
Kyaa Kari tidak segera menanggapi. Ia meminta keluarganya memeriksa beberapa kemasan sendiri. Anna menyerahkan satu paket yang sudah dibuka untuk pemeriksaan, lalu menjelaskan cara penyimpanannya. Anak itu menyentuh permukaannya sebentar sebelum ibunya mengambil paket itu kembali. Suara mereka rendah; aku tidak mencoba menerka apa yang mereka bicarakan.
Jacklyn bertanya apakah ada kebutuhan kesehatan yang tidak bisa menunggu sampai pagi. Kyaa Kari menyebut beberapa keluhan di wilayahnya, tetapi ia tidak meminta pemeriksaan keluarganya malam itu. Jacklyn tidak mendesak. Ia hanya menjelaskan perlengkapan pertolongan dasar yang ada dan meminta izin jika mereka ingin melihat daftar, tanpa mengklaim bahwa perlengkapan itu dapat menggantikan fasilitas kesehatan.
Setelah hampir satu jam, Kyaa Kari mengatakan ia ingin pulang. Aku memastikan tidak ada seorang pun yang akan menahan mereka atau mengikuti mereka untuk meminta keputusan. Donnie berdiri agak jauh dari jalan masuk; senjatanya tersimpan dan larasnya tidak diarahkan kepada siapa pun. Aku memintanya mengantar dari jarak yang disepakati hanya jika Kyaa Kari menghendakinya.
'Kami pulang sendiri,' kata Kyaa.
'Baik.'
Sebelum pergi, ia mengingatkan, 'Jangan tulis bahwa kami menerima tawaran Mars.'
'Aku tidak akan menulis itu. Yang akan kulaporkan hanya bahwa kalian memeriksa persediaan dan belum membuat keputusan.'
Ia mengangguk singkat. Langkah keluarganya menjauh, lalu suara mereka larut dalam malam. Tidak ada kesepakatan besar yang lahir dari kunjungan itu. Namun, untuk pertama kalinya, kami menerima batas yang jelas dari pihak yang kami datangi dan tidak mencoba menawarnya.
Jayen menyerahkan catatan jumlah stok kepadaku. 'Setidaknya kita tahu apa yang bisa diberikan dan apa yang belum kita punya.'
Aku menyentuh tepi kertas itu, membaca angka melalui suaranya ketika ia menyebutkannya lagi. 'Besok pagi kita hitung ulang. Setelah itu, Kyaa yang menentukan apakah ia ingin membawa persoalan ini ke pembicaraan yang lebih luas.'
Jacklyn menyetujui. Ia juga mengingatkan bahwa kondisi keluarga yang tampak baik malam ini tidak berarti seluruh wilayah aman. Aku memintanya membuat daftar kebutuhan yang dapat kami nilai tanpa mengambil data pribadi siapa pun.
Beberapa menit kemudian, Jayen bertanya apakah aku ingin ia mengganti istilah 'keluarga yang diperiksa' di catatan menjadi 'keluarga yang memeriksa persediaan'. Aku meminta perubahan itu. Perbedaan kata tersebut penting: mereka bukan objek pemeriksaan kami. Jayen membacakan kalimat baru, lalu menambahkan bahwa laporan juga tidak akan menyebut mereka sebagai pengungsi yang telah memilih Mars. Aku menyetujuinya. Kami akan mencatat tindakan mereka, bukan menyimpulkan niat dari kedatangan mereka.
Ketika semua kembali ke posisinya, aku tetap berdiri di ambang pintu. Tadi aku hampir menilai tamu-tamuku dari cerita tentang kaum kanibal yang belum pernah kubuktikan. Aku sudah mengucapkan pertanyaan itu kepada Kyaa. Kecurigaanku sendiri bukan pengetahuan tentang keluarganya. Aku tidak dapat menarik kembali kata-kata yang telanjur keluar, tetapi aku bisa berhenti memperlakukan mereka sebagai ancaman hanya karena aku tidak mengenal mereka. Besok aku harus meminta maaf, lalu mendengar apa yang sebenarnya mereka perlukan.
Sebelum beristirahat, aku juga meminta Jacklyn mengirim pesan melalui jalur yang sudah dipilih Kyaa: bila keluarganya merasa kurang nyaman saat datang tadi, mereka boleh menyampaikan keberatan tanpa harus kembali ke pesawat. Tidak ada kewajiban menjawab malam itu. Aku tidak ingin ketenangan kami sendiri membuat kami mengira kunjungan itu berjalan sempurna.
Phosperium memberiku cara melihat nyawa, tetapi aku pernah menganggapnya jalan pintas untuk mengetahui orang lain. Aku sudah mengambil kenangan Nomad, Christoff, dan Cherry tanpa menerangkan apa yang terjadi. Malam ini aku tidak meminta tangan tamu-tamuku menyentuh wajahku, tidak mencoba menebak ketakutan mereka dari siluetnya. Cahaya biru hanya memberitahuku bahwa mereka hidup. Untuk mengetahui kehendak mereka, aku harus bertanya dan bersedia mendengar jawaban yang tidak kusukai.