Dika sedang menunggu hasil rontgen ibunya ketika orang pertama mulai menjerit di lobi.
Ia ingat jamnya, karena ia baru saja meliriknya: pukul tiga lewat sebelas menit. Sore yang biasa. Lampu neon rumah sakit yang dingin, bau alkohol dan lantai pel, suara televisi di sudut ruang tunggu yang memutar berita basi tentang harga cabai. Dika duduk di kursi besi yang menempel ke dinding, ponselnya tinggal sembilan persen, dan ia sedang berpikir apakah ada warung kopi di dekat sini yang masih buka.
Lalu seorang laki-laki di ujung lobi berdiri terlalu cepat dari kursinya.
Mulanya Dika kira orang itu cuma pusing. Ia berdiri seperti orang yang bangun terlalu cepat dari tidur, sempoyongan, tangan menggapai-gapai udara. Perawat di meja pendaftaran setengah berdiri, mau menolong. Tapi kemudian kepala laki-laki itu mendongak, dan Dika melihat matanya.
Tidak ada apa-apa di sana. Bukan kosong seperti orang melamun. Kosong seperti rumah yang penghuninya sudah pergi dan lampunya lupa dimatikan.
Laki-laki itu menerkam perawat di meja pendaftaran.
Suaranya yang Dika ingat lebih dulu daripada gambarnya—bunyi kursi terbalik, jeritan yang terpotong, dan geraman yang tidak seperti suara manusia, lebih mirip napas yang dipaksa keluar lewat tenggorokan yang lupa caranya bicara. Seluruh ruang tunggu berdiri serempak. Seseorang menjatuhkan gelas. Seorang ibu menarik anaknya ke pelukan.
"Pak! Pak, tenang—" satpam berlari dari pintu, tapi laki-laki itu sudah berbalik ke arah suara, dan Dika melihat darah di mulutnya, dan ia tahu, dengan kepastian dingin yang tidak ia mengerti dari mana datangnya, bahwa hari ini tidak akan berakhir seperti hari-hari biasa.
Ia bangkit. Kakinya bergerak sebelum kepalanya memutuskan. Di koridor sebelah kanan, pintu kaca laboratorium. Di kiri, tangga. Di depan, kekacauan yang menyebar lebih cepat dari yang seharusnya bisa—karena yang Dika tidak tahu saat itu, yang belum diketahui siapa pun di gedung ini, adalah bahwa laki-laki di lobi bukan satu-satunya. Bahwa dalam waktu satu jam, separuh kota akan kehilangan akalnya. Dan bahwa rumah sakit, tempat orang biasanya datang untuk diselamatkan, akan menjadi salah satu tempat paling berbahaya untuk berada.
"Mas!" Seseorang menarik lengannya. Seorang perempuan muda berseragam perawat, name tag-nya berkilat sebentar di bawah lampu: SARI. Wajahnya pucat tapi suaranya tegas, tegas dengan cara orang yang sudah terbiasa memberi perintah di tengah keadaan buruk. "Jangan ke lobi. Ikut saya."
Dika tidak sempat memutuskan apakah ia memercayai perempuan ini. Ia hanya ikut, karena di belakangnya seseorang baru saja berhenti menjerit, dan diam itu jauh lebih menakutkan daripada jeritan.
Mereka berlari ke tangga darurat. Sari membanting pintu besi di belakang mereka dan menahannya dengan punggung, dadanya naik turun. Di balik pintu, suara-suara itu—gedoran, geraman, langkah yang berlari tanpa pola—teredam tapi tidak hilang.
"Lantai berapa?" tanya Dika, napasnya tersengal.
"Atas," kata Sari. "Selalu atas. Yang di bawah itu—" ia menelan ludah, "—mereka nggak bisa buka pintu. Belum bisa. Otaknya nggak nyampe ke situ lagi."
"Mereka. Maksudmu apa, mereka?"
Sari menatapnya. Untuk pertama kalinya Dika melihat ketakutan di matanya, ketakutan yang ditahan dengan susah payah.
"Aku nggak tahu," katanya pelan. "Tapi tiga jam lalu ada pasien masuk IGD, demam tinggi, ngomong nggak nyambung. Sejam kemudian dia gigit dokter jaga. Sekarang dokter jaganya juga begitu." Ia menelan ludah lagi. "Menyebar lewat gigitan. Cepat. Aku belum pernah lihat apa pun semenyebar ini."
Dika memandang ke atas, ke tangga yang berputar naik menghilang dalam bayangan. Lalu ke bawah, ke arah suara.
"Ibu saya," katanya tiba-tiba, suaranya hampir pecah. "Ibu saya masih di lantai dua. Radiologi."
Sari memejamkan mata sebentar. Ketika ia membukanya kembali, ada sesuatu yang lebih keras di sana.
"Maka kita ke lantai dua dulu," katanya. "Tapi cepat. Sebelum tangga ini juga jadi milik mereka."
(bersambung)