Aku duduk diam, menatap pintu kafe yang baru saja dilewati Anya. Kata-kata terakhirnya masih menggema di kepalaku, seakan menegaskan sesuatu yang selama ini sudah aku duga: **dia tidak akan bisa menjauh dariku**.
Aku tidak mengejarnya. Aku tidak ingin memaksa. Tapi aku tahu, meskipun dia berjalan menjauh malam ini, pikirannya tetap tertinggal di sini, bersamaku.
Aku menyesap kopi yang sudah dingin, lalu meletakkan cangkir itu perlahan. Kepalaku bersandar ke belakang, menatap langit-langit kafe. Rasanya aneh—di satu sisi, aku puas karena akhirnya Anya mulai menghadapi perasaannya sendiri, tapi di sisi lain, ada sesuatu yang mengganjal di dadaku.
Apakah aku sedang menghancurkan seseorang?
Ataukah aku hanya membantu seseorang menemukan dirinya yang sebenarnya?
Aku tidak punya jawabannya. Yang aku tahu hanyalah... aku tidak bisa mundur sekarang.
---
Dua hari berlalu tanpa kabar dari Anya. Aku sengaja tidak menghubunginya lebih dulu. Aku ingin melihat sejauh mana dia bisa bertahan tanpa aku.
Di hari ketiga, ponselku bergetar.
Sebuah pesan dari nomor yang sudah kuhafal di luar kepala.
**_Bisa ketemu?_**
Hanya dua kata. Singkat, tanpa basa-basi. Tapi aku tahu betapa besar perjuangan yang dia lakukan sebelum akhirnya mengirim pesan ini.
Aku tidak langsung membalas. Aku membiarkannya menunggu beberapa menit sebelum akhirnya mengetik jawaban.
**_Di mana?_**
Tidak butuh waktu lama baginya untuk menjawab.
**_Tempat biasa. Satu jam lagi?_**
Aku tersenyum kecil, lalu mengetik satu kata.
**_Oke._**
---
Saat aku tiba di kafe, Anya sudah duduk di sudut ruangan, seperti biasa. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda.
Wajahnya tampak lebih lelah dari sebelumnya. Rambutnya diikat asal, dan ada bayangan kehitaman di bawah matanya, seolah dia kurang tidur.
Aku berjalan mendekat dan duduk di depannya tanpa berkata apa-apa. Aku ingin dia yang membuka percakapan.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan sebelum akhirnya dia menghela napas panjang.
“Aku merasa seperti orang yang sangat buruk, Adit.”
Aku menatapnya tanpa bereaksi. “Kenapa?”
Dia tertawa kecil, tapi getir. “Kamu tahu kenapa.”
Aku mengangkat bahu. “Mungkin. Tapi aku ingin mendengarnya darimu.”
Dia menggigit bibirnya, menunduk, lalu berbisik, “Aku memikirkanmu lebih dari yang seharusnya.”
Jantungku berdetak sedikit lebih cepat, tapi aku tetap menjaga ekspresiku tetap tenang.
Aku bersandar ke kursi, menatapnya dengan tatapan yang tidak terbaca. “Dan bagaimana perasaanmu tentang itu?”
Dia menghela napas lagi, matanya terlihat penuh kebingungan. “Aku tidak tahu. Aku merasa bersalah, tapi di saat yang sama… aku merasa hidup.”
Aku tersenyum tipis. “Mungkin karena selama ini kamu hanya bertahan, bukan benar-benar hidup.”
Dia menatapku, dan aku bisa melihat bagaimana kata-kataku menghantamnya dengan telak.
“Aku mencintai suamiku, Adit.”
Aku mengangguk. “Aku tahu.”
Dia terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih pelan. “Tapi kenapa aku merasa lebih bebas saat bersamamu?”
Aku menatapnya dalam, lalu berkata dengan tenang, “Mungkin karena di sini, kamu tidak harus menjadi versi diri yang orang lain inginkan. Kamu hanya perlu menjadi Anya.”
Dia menutup matanya, menarik napas dalam, lalu menghembuskannya dengan berat. “Aku takut.”
Aku menyentuh jemarinya perlahan. “Takut apa?”
Dia menatap tanganku yang menyentuhnya, tapi tidak menarik diri. “Takut kehilangan kendali. Takut tidak bisa berhenti.”
Aku menatapnya dalam, lalu berkata dengan suara yang nyaris berbisik, “Lalu kenapa kamu masih di sini?”
Dia menelan ludah, menggigit bibirnya, lalu berkata dengan suara yang nyaris tak terdengar, “Karena aku tidak ingin pergi.”
Saat itu, aku tahu…
**Celah itu sudah tidak bisa ditutup lagi.**