Kejora menekan beberapa digit angka di sisi bingkai pintu kemudian terbukalah benda tersebut.
Langkahnya cepat masuk lebih jauh ke dalam apartemen melewati pintu yang Arjuna yakini sebagai pintu kamar.
Beberapa saat Arjuna mematung dan bingung harus melakukan apa sampai akhirnya ia teringat jika Kejora pasti lapar.
Ia memesan makanan dan berniat untuk memastikan Kejora makan dulu baru lah ia akan pulang.
Tapi sudah satu jam lebih Kejora di kamar mandi, makanan pun sudah tersaji di meja makan dan nyaris dingin.
Arjuna memberanikan diri mengetuk pintu kamar mandi yang berada di dalam kamar Kejora.
“Kejora ... apa kamu baik-baik saja?”
Suara Arjuna yang sedikit kencang menghentak telinga Kejora membuat ia sadar jika Arjuna masih berada di apartemennya.
Ia terlalu fokus menggosok tubuhnya dengan sabun di dalam bathub untuk menghilangkan bekas sentuhan yang ditinggalkan para berandalan itu di tubuhnya.
Tanpa terasa, air mata pun kembali mengalir. “I ... ya, sebentar ...,” jawab Kejora parau dan cukup membuat Arjuna mengerti jika Kejora sedang menangis di dalam sana.
Arjuna masih mematung di depan pintu ketika Kejora keluar dari kamar mandi dan hal itu membuat Kejora mundur satu langkah, ia terkejut.
Refleks menarik setiap sisi bathrobenya di depan d**a seolah dengan begitu tidak ada satu pun yang bisa membuka bathrobe tersebut.
“I ... itu, makanannya sudah dingin.” Arjuna terbata kemudian keluar dari kamar Kejora.
Cantik adalah satu kata yang tadi sempat terlintas dalam benaknya ketika melihat Kejora keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan bathrobe dan ujung-ujung rambut nakalnya yang keluar dari ikatan meneteskan air mengenai leher Kejora yang jenjang.
“Abang beli makan malam buat Kejora?” teriak Kejora dari dalam kamar.
“Yup!” balas sang Arjuna membuat senyum terbit di bibir Kejora.
“Ah ... si Abang ternyata perhatian,” gumam Kejora kemudian masuk ke dalam walk in closet untuk memakai baju tidur.
Beberapa saat kemudian Kejora keluar dengan stelan piyama celana pendek bermotif princess disney.
Bando pita berbahan bulu melingkar di kepalanya untuk menahan rambut, tidak lupa sendal boneka membalut kaki Kejora.
Arjuna mengerjap melihat Kejora yang tampak menggemaskan tersenyum kepadanya.
“Are you okay?” Arjuna bertanya tatkala Kejora telah duduk di kursi meja makan.
Tampang sendu penuh ketakutan yang tercetak di wajah Kejora tadi seakan luruh bersama kotoran di tubuhnya ketika ia membilasnya di kamar mandi.
Kejora yang sebelumnya telah kembali tapi tetap saja tidak bisa membohongi Arjuna karena senyum Kejora tidak sampai ke matanya yang sembab.
Kejora mengangguk menanggapi pertanyaan Arjuna.
“Abang enggak makan?” tanya Kejora santai. “Mau Kejora suapin?” ekspresi tengil itu kembali namun dingin dan hambar, justru Arjuna merasa prihatin.
“Makanlah ... aku sudah makan tadi selama menunggumu di kamar mandi,” kata Arjuna berdusta.
“Bohong! Kejora enggak liat ada piring kotor atau bukusan lain di tong sampah ... kita berdua yuk, Bang ... Kejora enggak akan habis ini, udah malem ... Kejora lagi diet.” Kejora menyuapkan satu sendok ke mulutnya kemudian menggeser piring ke depan Arjuna.
“Ambil sendok lagi, Bang ... takutnya Abang jijik makan dari sendok bekas Kejora.”
Arjuna mengernyit. “Tumben waras.” Hatinya berkata demikian, pasalnya tadi siang ketika makan bersama keluarga—Kejora memberikannya suapan dari sendok bekas gadis itu.
Apa kejadian di pengisian bahan bakar tadi telah membuat Kejora terguncang hingga otaknya kini telah berada di tempat yang seharusnya?
Sekali ini saja Arjuna akan menurut agar Kejora mau makan, ia sedang tidak ingin berdebat atau menerima alasan lain karena hari semakin malam dan ia harus pulang.
Piring itu bergerak ke sana kemari, setiap satu suap Kejora mendorongnya begitu pula dengan Arjuna sampai akhirnya isi piring tersebut habis tanpa sisa.
“Bang, pulangnya nanti ya kalau Kejora udah tidur.”
Entah akal-akalan Kejora atau memang ia masih trauma dengan kejadian tadi tapi suara di dalam hati Arjuna berteriak agar kepalanya mengangguk menyetujui keinginan Kejora.
Meski begitu, raut enggan menghiasi wajah Arjuna yang kemudian duduk di sofa ruang televisi tanpa mengatakan sepatah katapun setelah ia memberi anggukan sebagai persetujuan.
Kejora masuk ke dalam kamarnya membuat Arjuna lega, ia akan menunggu sekitar tiga puluh menit kemudian pergi dari sana.
Alih-alih tidur di dalam kamar, Kejora malah membawa bantal dan selimutnya kemudian duduk di sofa tepat di samping Arjuna.
Sedikit membungkuk menarik sesuatu dari bawah sofa hingga kaki Arjuna terangkat ke atas.
Ternyata sofa tersebut didesain khusus menjadi sofa bed yang bisa diisi oleh dua orang.
“Ini bantal buat Abang, kalau dingin ... Abang boleh masuk ke dalam selimut.” Kejora tersenyum manis setelah berkata demikian.
Terang-terangan Arjuna berdecak, menunjukan ketidak setujuannya. “Aku tidak akan menginap!” tegasnya sambil melempar bantal ke sofa lain.
“It’s oke ... sapa tau Abang berubah pikiran, Kejora ijinin Abang nginep di sini ... tapi hanya sampai pelukan aja ya Bang ... enggak boleh macem-macem, kita belum nikah.”
Si jutek itu enggan menanggapi, mengalihkan tatapan pada televisi, melipat tangannya di d**a setelah bersandar nyaman pada sofa dengan kaki lurus berselonjor.
Arjuna bisa saja pergi tapi ia meyakinkan dirinya jika tetap tinggal demi rasa kemanusiaan setelah apa yang menimpa Kejora.
Kejora berbaring miring menatap Arjunanya dari samping dan demi apapun, ingin rasanya Kejora bergelayut manja di lengan berotot milik sang Arjuna.
Keberadaan Arjuna membuat Kejora merasa aman, perlahan matanya terpejam hingga kesadaran Kejora memasuki alam mimpi.
Film yang sedang ditonton Arjuna tanpa terasa telah berakhir, beberapa lama ia tenggelam menikmati alur cerita dan baru menyadari jika ternyata masih berada di dalam apartemen seorang gadis.
Pandangan Arjuna terpaku pada Kejora yang tampak pulas di sampingnya, begitu damai dan ... cantik.
Arjuna menggeleng samar, lagi-lagi kata itu terlintas dalam benaknya dan ia tidak terima.
Ia beranjak untuk pulang, kakinya sudah turun ke sisi sofa namun urung ketika Kejora tampak gelisah dalam tidurnya.
Kepala gadis itu menggeleng ke kiri dan kanan dengan kening berkerut dan peluh membanjiri.
Arjuna semakin yakin jika Kejora mengalami trauma, tangannya menarik tissue dari atas meja untuk mengeringkan peluh di kening Kejora.
Semakin lama Kejora semakin gelisah, terdengar isakan dari bibirnya.
Arjuna tidak ingin Kejora terjaga karena akan semakin lama lagi ia pulang, ia harus menunggu Kejora terlelap kembali, setidaknya itu yang ia sugestikan dalam pikirannya hingga akhirnya ia memutuskan memeluk Kejora, mengusap kepalanya pelan.
Apa yang dilakukan Arjuna berhasil, Kejora berhenti menggerakan kepalanya, napasnya juga kembali teratur namun sialnya Arjuna malah ikut memejamkan mata, memasuki alam mimpi dengan Kejora berada dalam pelukannya.