Bab 2
"Bukankah mas tidak mencintaiku, lalu untuk apa mas Hamdan menikahiku? " tanya Aruni yang meringis kesakitan memegangi pipinya yang merah karena ditampar Hamdan hanya karena masakannya sedikit keasinan.
" Karena bisa saja kau berguna untukku, kau bisa menjadi ladang uang untukku. " jawab Hamdan, lelaki itu menyulut rokoknya, lalu membuang asap rokok dari mulutnya ke arah wajah Aruni. Wanita itu menahan kesal dan emosi. Tak menyangka suaminya akan menampar hanya karena masalah sepele di usia pernikahan yang baru tiga hari itu.
" Ladang uang? Bekerja saja aku belum pernah, " timpal Aruni.
" Nanti kuajari kamu bagaimana cara menghasilkan uang banyak tanpa perlu bersusah payah, " sahut Hamdan. Aruni melengos, lalu hendak beranjak pergi sebelum lelaki itu menarik tangannya.
" Kau mau ke mana? " tanya Hamdan
" Mau tidur, " jawab Aruni singkat. Dia mulai menyadari bahwa dia telah salah menikah dengan Hamdan.
" Sepertinya kau semakin tak suka padaku, ya? "
" Sejak awal, aku tidak menginginkan pernikahan ini. Kenapa mas Hamdan tidak berusaha membuatku mencintai mas Hamdan, tapi justru menyakiti, mas? "
" Ditampar gitu aja bilangnya menyakiti. Kau itu tak becus jadi istri, masak sayur asem saja keasinan, jadi gak selera makan, buang-buang uang tau. "
Aruni tak menyangka pernikahannya seperti ini. Meski dia bukan seorang wanita matrealistis tapi, siapapun pasti mengira akan menjalani hidup mewah setelah menikah dengan Hamdan. Lelaki yang selalu memamerkan kekayaan sebelum menikah itu ternyata hanya memiliki uang 50 ribu setelah menikah.
"Uangku habis untuk biaya pernikahan kita. Dan kau harus segera menggantinya dengan bekerja, "
Aruni urung melangkahkan kaki, lalu menoleh pada Hamdan yang masih duduk menikmati rokoknya.
" Emangnya mas Hamdan tidak bekerja?, kenapa harus aku yang bekerja, mas? Dan biaya pernikahan kita itu bukan tanggung jawab ku, bahkan aku tidak berkewajiban menggantinya, Mas, " Aruni mencoba memberanikan diri mengucapkan setiap kalimat yang sepertinya mengundang emosi Hamdan.
Lelaki itu melotot ke arah Aruni.
" Ternyata kau cukup berani membantahku, ya? " Hamdan mendekati Aruni yang berdiri tak jauh dari tempat dia duduk.
Lelaki itu menjambak rambut Aruni yang tertutup kerudung.
" Aduh, Mas.. Sakit.., " keluh Aruni.
" Kau belum tahu siapa aku, Aruni. Aku tidak memiliki hati ataupun cinta. Wanita sepertimu bisa ku dapatkan kpan saja, aku menikahimu agar mendapat ladang uang, kau tahu itu? "
Aruni masih tak memahami tentang Hamdan yang sebelumnya terlihat baik dan lembut. Sikap lelaki itu berubah 180 derajat setelah berhasil menikahinya.
Hamdan memang memboyongnya ke rumah yang cukup besar, tiga kali lebih besar dari rumahnya di kampung. Namun, tak ada tanda-tanda bahwa suaminya itu adalah pria kaya.
"Malam nanti akan ada tamu, kau harus berdandan cantik, tak usah pakai kerudung juga tak apa, agar kecantikanmu semakin nampak, " Hamdan mendekatkan wajahnya ke wajah Aruni yang kebingungan.
" Astagfirullah, tidak, mas. Siapapun tamunya, aku akan tetap menutup auratku, " tolak Aruni.
" Yasudahlah terserah, tapi jangan coba berani membangkang nanti ketika tamuku datang. " Hamdan ngeloyor pergi meninggalkan Aruni yang masih mematung di tempat. Terheran dengan sikap suaminya, bahkan sangat kecewa. Tak memyangka jika dirinya telah menikah dengan lelaki seperti Hamdan yang tampak bersahaja sebelum menikah.
Aruni menuruti keinginan suaminya. Meski ia tidak tahu apa maksud suaminya menyuruh ia berdandan cantik, demi untuk menemui tamu.
Menemui seorang tamu penting? Sepenting apa tamu itu, hingga lelaki itu menyuruhnya menangglkan kerudung dan memamerkan rambut panjang nan legam miliknya.
Namun tentu, Aruni menolak menta- menta permintaan suaminya, karena sudah jelas melanggar syariat. Bagaimanapun juga, Aruni selalu menjga auratnya selama ini. Bahkan kini Aruni pun heran, karena ada seorang suami yang justru ingin kecantikan istrinya dipertontonkan di depan orang lain.
Tak ada persiapan seputar makanan untuk menyambut tamu Hamdan. Suaminya hanya menyuruh Aruni mempersipkan diri semenarik mungkin.
Tamu yang dinanti sepertinya sudah memasuki halaman rumah. Suara derum mobil yang terparkir di depan halaman membuat Aruni gegas keluar kamar.
Hamdan sudah bersiaga di depan pintu, dan menyambut hangat tamu yang melangkah ke arahanya. Sepasang lelaki dan wanita yang tampak elegan itu mengekori langkah Hamdan seusai lelaki itu mempersilakan masuk.
" Wah sudah datang tamunya,Mas?" Dari kejauhan Aruni bertanya, melangkah mendekati ketiga manusia yang akan duduk di sofa ruang tamu.
Ketiga orang itu termasuk Hamdan sontak menoleh ke arah Aruni. Mereka dibuat terkejut oleh penampilan Aruni.
Pakaian syari lebar dengan kerudung panjng menjuntai. Aruni tampak cantik mengenakan setelan gamis berwarna pink itu. Namun, bukan penampilan seperti yang diinginkan Hamdan. Lelaki itu mendengus kesal.
Aruni tak menghiraukan reaksi suaminya. Ia menyalami wanita berbaju minim di hadapannya. Lalu melipatkan tangan kala menghadapi lelaki di samping wanita itu, yang Aruni pikir adalah suami si wanita.
" Silakan duduk.." ucap Aruni pada kedua tamu itu. Mereka sling berpandangan sebentar. Lalu duduk mengikuti Aruni. Hamdan geleng-geleng kepala. Aruni yang tak paham dengan sikap suaminya itu acuh . Mencoba tak peduli.
" Mas Hamdan melarangku menyiapkan makanan, jadi memang tidak ada maknan yang bisa aku suguhkan, kalau klian pesan minuman, masih bisa ku buatkan. Kopi? Teh? Atau yang lain?" Aruni memecah keheningan dengan berusaha bersikap ceria, meski ia pun sebenarnya merasa canggung.
Tamu lelaki itu membuang nafas berat. Lalu mengeluarkan rokok dari sakunya. Menyulutnya, dan membuat kepulan asap di udara . Si wanita pun mengikuti , menyalakan rokok di hadapan Aruni. Wanita berparas ayu itu membulatkan mata melihat pemandangan yang sebenarnya belum pernah ia lihat. Wanita itu memang terbilang lugu, selain karena berasal dari kampung, Selama ini Aruni pun tak pernh bergaul dengn orang bergaya beda.
"Anda merokok?" Tanya Aruni heran.
" Iyya. Memang kenapa? Kau mau?" Tawar wanita itu. Aruni menggeleng cepat.
" Kau tidak bertany siapa kami?" Lelaki itu bertanya. Aruni menoleh pada Hamdan yang duduk di sampingnya sambil menunduk. Sepertinya ia justru malu dengan penampilan istrinya kali ini.
"Oh, yang saya tahu, kalian teman mas Hamdan,kan? Tapi kalian memang belum memperkenalkan diri. Dan mas Hamdan pun tidak menceritakan apa-apa padaku" jawab Aruni, sesekali ia menoleh pada Hamdan yang tak melihat ke arahnya sama sekali.
" Kami adalah bos, atau atasan suamimu,Hamdan. Dan ku tahu? Rumah ini adalah rumah kami yang memang kami berikan pada Hamdan. Tapi tentu tidak dengan cuma-cuma. Bahkan mahar pernikahanmu yang sebesar seratus juta beserta segala biaya pernikahan adalah menggunakan uang kami. " Wanita itu menerangkan. Aruni dibuat terkejut dan heran. Ia menatap lekat suaminya yang tersenyum kecut.
"Lalu?" Tanya Aruni.
"Tidak ada yang gratis di dunia ini. Mahar itu adalah nominal uang untuk membelimu, cantik," jawab wanita bercat rambut emas itu.
Aruni membukatkan mulutnya.
"Pernikahan bukan sebuah akad jual beli. Ini bukan sekedar perdagangan. Mas Hamdan? Apa maksud semua ini?" Aruni menatap suaminya.
"Ya sudahlah, lupaka tentang uang yang kami anggap sebagai nominal harga tubuhmu, tapi kami akan mengajarimu bagaimana cara mendapatkan uang lebih banyak lagi dari nominal angka yang disebutkan Hamdan dalam proses akadmu tempo hari" jelas lelaki di hadapan Aruni. Wanita itu berdiri.
Plak
Sebuah tamparan berhasil mendarat di pipi lelaki bertubuh atletis itu. Semua mata dalam ruang itu menatap tajam ke arah Aruni yang nampak mengatur nafas karena emosi. Hamdan suaminya mulai mengangkat tangan dan melayangkan tamparan balik ke pipi istrinya. Aruni meringis kesakitan.