Pendidikan tidak hanya di capai dengan uang,tapi dengan tekad dengan kemampuan.
Memasuki masa ujian nasional aktifitas Riska tetap seperti biasa,tidak ada yang spesial seperti pada umumnya yang biasanya untuk menghadapi masa ujian akan bebas tugas rumah.Hal itu tidak berlaku untuk Riska.
Kegiatan sekolah yang padat hingga diadakan ektra kurikuler 3 kali dalam seminggu semata-mata untuk memperdalam materi dalam menghadapi ujian.Sehingga Riska sering pulang sore.
Untung saja Mannaf bisa memahami situasi dan memberi kesempatan untuk fokus pada pelajaran.
"Untuk sementara kita tidak usah ketemuan dulu,kan kamu lagi ujian.Aku takut mengganggu konsentrasi mu"ucap Mannaf.
"Iya"jawab Riska
"Jangan lupa berdoa pada Alloh,agar di permudah dalam memahami dan mengerjakan ujian."Doa ku selalu bersamamu"ucap Mannaf.
"Iya kak,terima kasih"jawab Riska.
"Hei,,,kamu ini terima kasih buat apa?"ucap Mannaf.
"Ya karena kakak selalu mendukungku dan mendoakan ku"jawab Riska.
"Itu kan udah seharusnya aku lakukan".ucap Mannaf.
"Iya tapi tidak semua bisa pengertian dan bersikap seperti kakak"jawab Riska.
"Ok,,Ok,,terserah kamu sajalah.Ingat biarpun kita tidak bertemu beberapa hari ke depan,bukan berarti aku melupakanmu.Kamu selalu ada di hatiku.Jangan pernah meragukan itu.Aku selalu menunggumu."ucap Mannaf.
"Iya kak,terima kasih atas semuanya.Aku jadi merasa tersanjung,he he he."ucap Riska malu-malu.
"Jika kamu tersanjung,jadikan aku spesial di hatimu."ucap Mannaf sambil senyum menggoda.
"Spesial?Emang nasi goreng pke telur?jawab Riska sambil tertawa.
"Kok jadi nasi goreng?Jangan-jangan kamu lapar ya?"ucap Mannaf sambil tertawa.
"Tidak kak,kan tadi bilangnya spesial.Yang spesial kan nasi goreng pke telur,he he he."jawab Riska.
"Kalau lapar bilang aja,yuk mau makan di mana?"ucap Mannaf.
"Gk kak."jawab Riska.
Tiba-tiba saja Mannaf meraih tangan Riska dan mengandeng sambil berucap"aku gk terima penolakan".Jawabanmu jelas berfikir tentang makanan pasti kamu terbayang makan sesuatu.Iya kan?ucap Mannaf.
"Tapi kita mau kemana ini?"tanya Riska.
"Ya makan,kamu pengen makan apa?Nasi goreng mawut di pojokan lapangan?atau nasi goreng seafood di samping KUD,atau nasi goreng janda di samping kantor pos?tanya Mannaf.
"Kan tadi aku dah bilang,gk lapar.Jadi terserah aj."jawab Riska.
"Terserah?itu makanan apa?kok aku baru denger?"Itu menu baru ya?tanya Mannaf sambil pura-pura berfikir.
"Uh kakak nyebelin dech.Terserah itu aku ngikut kakak aj."jawab Riska sambil cemberut memanyunkan bibirnya.
"Ayo kalau mau ikut aku.Ikut aku pulang ketemu ayah ibuku."ucap Mannaf sambil tersenyum menaik turunkan alis,menggoda Riska.
"Ih kakak kok gitu sich,aku kan belum siap."jawab Riska.
"Ok,terus kapan siapnya?Kan cuma ketemu doang gk ngapa-ngapain."ucap Mannaf.
"Gk tahu kak,kan aku juga masih SMK,entar ditanya-tanyai orang tuamu,gimana?"jawab Riska.
"Ya kalau di tanya, tinggal di jawab to.Apa susahnya?"ucap Mannaf.
"Gk semudah itu kak,kan aku gk tau apa yang akan di tanyakan orang tuamu."jawab Riska.
"Itu berarti kamu udah takut duluan sebelum mencoba.Kamu kan pintar,juara kelas selama ini masak gitu aja takut."ucap Mannaf.
"Itu kan beda kak,pelajaran sudah umum disertai penjelasan dan keterangan.Tapi kalau pertanyaan orang tuamu kan gk ada dalam pelajaran dan pasti saat orang tua nanyain pasti disertai dengan ekspresi yang gk aku ketahui,dan mungkin jawabanku akan menjadi dasar spekulasi orang tuamu.Kok kita malah bahas ini sih kak? "jawab Riska.
"Iya juga ya,he he he tertawa sambil nyubit pipi Riska karena gemas.Ayo kita jadi makan apa nih?tanya Mannaf.
"Ih kakak,sakit tau..."kan aku dah bilang terserah."jawab Riska cemberut menampilkan rasa jengkelnya.
"Ya udah ayo naik."ucap Mannaf sambil menstater motornya.
"Kak jangan ngebut dong."ucap Riska.
"Kenapa? Kamu takut? Kalau pegangan yang erat dong!"ucap Mannaf.
"Itu sih kakak yang modus!Pasti hanya maunya kakak to?ucap Riska.
"Bukan gitu,kali aja kamu lapar jadi pengen cepat sampai tujuan."ucap Mannaf sambil senyum menggoda.Padahal memang niatnya pengen di peluk Riska dari belakang.
Tak terasa mereka sudah sampai di depan warung bakso yang terlihat laris karena banyaknya pengunjung yang datang.Untungnya masih ada beberapa meja yang kosong sehingga mereka memilih tempat yang dekat jendela yang bisa untuk melihat suasana luar dan bisa merasakan angin yang sepoi-sepoi.
Setelah pesanan yang mereka inginkan tersaji di hadapan mereka,mereka menikmatinya dalam diam,kadang Mannaf yang tiba-tiba menyuapi Riska dari makanan yang berbeda dari yang Riska pesan.Mau tak mau Riska menerima suapan karena malu jika lama-lama malah terlihat pengunjung lainya.Padahal Riska juga seneng menerimanya tapi dia tidak memperlihatkan perasaan itu.
"Kak malu ah,kan banyak orang liat lho!"ucap Riska.
"Jadi kalau gk ada orang gk papa dong?"ucap Mannaf sambil tersenyum menggoda.
"Bukan gitu kak,tapi kan kita punya makanan sendiri-sendiri".ucap Riska.
"Tapi kan pesanan kita berbeda jadi kamu nyobain punya aku.Sekarang aku coba punya kamu dong!"ucap Mannaf sambil mengedip-ngedip kan matanya memelas.
"Ih kakak sekarang kok jadi modus dan gk ikhlas ngasih gitu.Pamrih minta ganti aku suapin kakak."jawab Riska sambil cemberut.
"Bukan gitu,aku cuma pengen coba bakso yang kamu pesan.Lagian aku kan pengen romantis ke kamu.Beberapa hari ke depan kan kita gk ketemu?"ucap Mannaf sambil tersenyum menaik turunkan alisnya.
"Tuh benarkan kakak modus."ucap Riska.
"Jadi aku gk boleh nih nyoba bakso pesanan kamu?ucap Mannaf sambil menampilkan wajah memelas.
Riska mengedarkan pandangan ke sekelilingnya takut ada yang liat ke arah mereka,setelah di rasa tak ada pandangan yang mengarah ke mereka,Riska dengan cepat menyuapkan sendok ke mulut Mannaf.Dan pastinya Mannaf menerima dengan senang dan wajah berbinar.
"Setelah mereka menghabiskan makanan yang di pesan mereke memilih untuk pulang karena waktu sudah menunjukkan sore.
Perjalanan kali ini Mannaf mengendarai motornya dengan pelan-pelan.Berbeda dari saat mereka datang ke warung tadi.
"Kak kok sekarang jalannya pelan banget?Bisa-bisa magrib kita sampai rumah."ucap Riska.
"Tadi jalan cepat komen,sekarang pelan juga protes.Kan kita habis makan nanti perutnya sakit kalau jalan cepat dijalan kan selalu mulus ada tanjakan maupun geronjalan yang bisa bikin perut kita seperti ada goncangan gitu."ucap Mannaf.
Riska memilih diam tak mau berdebat di jalan.
Padahal Mannaf memang sengaja menjalankan motornya dengan pelan karena tak ingin cepat sampai rumah, maksudnya tak ingin cepat berpisah dengan Riska.