Ruangan kost yang begitu gelap dan kosong, membuat Indira malas untuk bangun dari kasurnya. Dilihatnya jam yang ada di ponselnya, masih jam 7 pagi. Ia lalu meletakan kembali ponselnya di sebelah bantalnya. Matanya terasa berkunang-kunang. Kepalanya terasa sakit seperti ditusuk-tusuk. Ia paksakan untuk bangun karena ia sudah bertekad untuk berolahraga pagi. Diambilnya handuk dan peralatan mandinya. Walaupun siang sudah menjelang, ia tetap berkeinginan berolahraga karena ia merasa dirinya tidak begitu sehat akhir-akhir ini. Dengan perasaan penuh semangat, ia kemudian melakukan ritual mandi terlebih dahulu agar segar saat berolahraga.
Dilihatnya jam yang melingkar di tangannya, sudah menunjukan pukul 8 pagi. Jam sporty berwarna merah andalannya yang selalu ia pakai kemanapun ia pergi. Rambutnya yang terkuncir rapi di belakang dan poninya yang menyibak terkena angin dari luar, membuatnya merasa lebih bersemangat dengan berolahraga walaupun sudah kesiangan. Matahari pagi kala itu memang tidak begitu terik, awan masih menyelimuti langit biru yang tak kalah terang. Namun sepertinya cuaca cukup cerah bagi Indira untuk berlari-lari kecil menuju taman olahraga dekat kostnya. Sudah mulai banyak orang-orang yang ingin berolahraga di taman tersebut. Maklum saja, karena hari ini adalah hari minggu. Setiap orang dipenjuru kota pasti sedang berlibur dan menikmati cerahnya hari ini. Banyak penjaja makanan dan mainan di sana untuk menjual dagangannya. Namun focus Indira kali ini adalah menggerakan seluruh tubuhnya untuk menata kembali kehidupannya yang berantakan.
Ia sedang menikmati joggingnya ketika terdengar suara teriakan terdengar dari balik semak tidak jauh dari dirinya. Semua warga yang saat itu berada dekat dengan sumber suara, berusaha mendekati sumbernya. Indira yang sedikit penasaran dengan keadaan di dekatnya, mengikuti warga yang lain untuk mendekati sumber suara tersebut. Setelah berada di sana, betapa terkejutnya ia ketika melihat sesosok wanita tergantung kaku di dahan pohon. Kondisi tubuhnya sudah memucat yang artinya ia sudah tewas sejak lama. Waktunya belum bisa dipastikan, tetapi Indira cukup yakin sepertinya antara tengah malam hingga sebelum pagi menjelang. Karena letaknya yang cukup tersembunyi tertutupi oleh semak-semak dan jalan menuju lokasi harus melewati sedikit turunan, membuatnya tidak terlihat dari jalan utama. Belum lagi sekeliling lokasi tersebut yang memiliki banyak pohon-pohon yang tingginya hampir sama antara satu dengan yang lain dengan jarak yang cukup dekat atau sekitar 1 meter antar satu pohon dengan yang lainnya, membuat kondisi lokasi tersebut cukup gelap. Indira lalu mendekati sosok jenazah tersebut. Seorang pria setengah baya juga ikut berusaha mendekati jenazah tersebut dan akan menurunkannya. Namun tindakan tersebut dicegah oleh Indira begitu ia melihatnya.
“Jangan, Pak! Kita harus lapor polisi terlebih dahulu.”
“Nggak bisa, Mbak. Kasihan wanita ini jika jenazahnya dilihat oleh banyak orang.”
Indira paham akan hal itu, tetapi ia juga paham segala prosedur yang wajib dilakukan jika menemukan jenazah yang tidak dikenal. Membantu akan mengganggu penyelidikan polisi karena banyak bukti yang akan terkontaminasi.
“Saya paham, tetapi alangkah lebih baiknya kita menunggu pihak kepolisian jika Bapak atau saya atau warga tidak bersalah di sini terbebas dari masalah. Apa Bapak mau dipenjara hanya karena DNA yang tidak sengaja tertempel di tubuh korban, padahal Bapak bukan pelakunya?”
Mendengar hal tersebut, pria tersebut kemudian mengurungkan niatnya. Indira segera memberi kode padanya untuk segera melaporkan hal tersebut kepada pihak berwajib. Pria tersebut kemudian mengeluarkan ponselnya, menekan nomor darurat lalu melaporkan kejadian yang sedang terjadi di taman ini.
Sambil menunggu pihak kepolisian datang, Indira memperhatikan kembali sosok jenazah tersebut. Ia perhatikan dengan saksama dari atas hingga bawah. Tak ada rasa takut yang dirasakan oleh Indira karena ia sudah terbiasa akan hal itu. Saat ia berada persis di bawah wanita itu, ia melihat ke arah matanya. Tertutup. Tetapi ia bisa melihat terdapat debu-debu halus di bulunya. Ia perhatikan kembali bulu mata tersebut. ‘Air matakah?’ ujarnya dalam hati. Ia kemudian memperhatikan dari leher, d**a, pergelangan tangan, hingga kaki. Ketika angin berhembus, ia mencium aroma yang tidak asing baginya. Ia berusaha mengingatnya, tetapi saking tipisnya aroma itu, ia tidak bisa mengingatnya dengan jelas.
“Mbak, apa mbak polisi atau semacamnya?” tanya pria tadi karena melihat gerak-gerik Indira yang kentara.
“Semacamnya? Mungkin,” Ia menjawab dengan tersenyum.
Setelah setengah jam pengamatan itu, pihak kepolisian pun datang. Mereka lalu mengeluarkan peralatan yang diperlukan dan juga kamera demi keperluan investigasi. Kapten Lukas memimpin investigasi tersebut. Ia merupakan sosok muda sekitar umur 40an dengan wajah 30an. Wajahnya sungguh bisa membuat wanita adem dibuatnya, tetapi ia bisa terlihat gusar jika TKP yang sedang ia investigasi bersama timnya terganggu oleh orang asing yang bagi dia awam atas hal ini.
“Sepertinya kita sudah menemukan tersangka!?”
Indira lalu menoleh ke arah Kapten Lukas. Ia lalu menyeringai seakan-akan kecurigaannya bisa membantu pihak kepolisian.
“Mungkin anda bisa melihat waktu kematian dan waktu yang tepat untuk saya berada di sini.”
“Bukankah ini waktu yang tepat untuk saya menanyakan apa kepentingan anda di sini?”
“Saya? Bukankah hal wajar untuk setiap masyarakat berjalan-jalan dan berolahraga pagi di taman ini?”
Kapten Lukas mendengus kesal, “Maksud saya, di lokasi TKP ini. Bukankah sudah jelas ini adalah area terlarang untuk sembarang orang? Sentuhan kecil saja, anda bisa merusak bukti yang ada.”
“Saya tidak menyentuh apapun, saya hanya mengamati.”
“Tapi…..”
“Ada banyak yang mencurigakan pada korban ini….”
“Tapi….”
“Saya melihat…..”
“Kapten Lukas, bisa kemari sebentar?”
Kapten Lukas yang masih kesal karena kekesalannya belum tersampaikan, ia memilih untuk mengahampiri timnya yang sedang bertugas menyelidiki tubuh korban. Indira pun hanya bisa terdiam karena opininya terpotong.
“Sepertinya ini bunuh diri. Tidak ada tanda-tanda perlawanan jika ia dicekik atau diserang. Kukunya juga bersih,” ujar salah satu anggota tim penyidik kepada Kapten Lukas. Kapten Lukas mengamati segala hingga detail meyakinkan kembali bahwa dugaan tersebut bisa jadi benar.
“Baiklah, itu dugaan sementara kita, kita perlu menginvestigasi lebih lanjut, mencari tahu identitas korban, dan mencari keluarga atau kerabat terdekatnya. Sepertinya dugaanmu benar, jika memang ini bunuh diri.”
“Saya rasa bukan,” Indira muncul di belakang Kapten Lukas sambil memperhatikan jenazah yang sudah diturunkan tersebut. Kapten Lukas sangat kaget dengan kehadiran Indira yang tiba-tiba di belakangnya. Ia nampak kesal karena Indira belum juga keluar dari garis batas polisi.
“Saya rasa bukan hak anda yang menentukan hal tersebut.”
“Menurut pengamatan saya, ini pembunuhan. Ada banyak kejanggalan di tubuh korban?”
“Lalu apa contohnya?”
“Bisa kita lihat dari bulu matanya yang lumayan kotor….”
“Hanya butiran debu,” ujar Kapten Lukas dengan nada mengolok.
“Lalu kukunya yang begitu bersih, bukankah itu cukup aneh?”
“Wanita yang merawat kukunya dengan nama manicure.”
Indira tampak tak mau mengalah, “Lalu bagaimana dengan aroma aneh ini? Saya yakin ini aroma obat-obatan….”
“Bukankah anda terlalu banyak berimajinasi? Ini bukan permainan detektif atau semacamnya untuk seorang pemabuk seperti anda.”
Indira terkesima, “Bagaimana anda…..?”
“Bukankah pengamatan saya tepat? Pengalaman saya sebagai seorang polisi jauh lebih banyak dibandingkan anda. Saya yakin ini adalah bunuh diri. Sebaiknya anda menyingkir sebelum saya menangkap anda karena menghalangi jalannya proses investigasi.”
Indira hanya bisa terdiam kesal. Masih banyak yang ia yakini mencurigakan yang bisa ia sampaikan. Tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia lalu keluar menjauhi area TKP dan mendekati kerumunan yang berada di balik garis batas polisi. Ia melihat kembali ke arah TKP, di sana Kapten Lukas masih memperhatikannya agar ia benar-benar yakin Indira menjauhi lokasi tersbut.
Di tengah kerumunan, Indira tidak sengaja menabrak salah satu wanita yang sedang membawa beberapa makanan yang dibelinya. Cepat-cepat ia meminta maaf kepada wanita tersebut. Wanita itu hanya tersenyum melihatnya.
“Bukankah aneh memang? Menyatakan suatu kasus sebelum menyelidiki lebih mendalam?”
Indira lalu mendongak meperhatikan maksud wanita tersebut.
“Aku merasa ada yang aneh juga dengan wanita itu. Bunuh diri? Di lokasi yang cukup ramai walaupun tersembunyi?”
Indira mulai senang ada yang sependapat dengannya, “Dan masih ada kejanggalan yang lain.”
Wanita tersebut tampak tertarik dengan komentar Indira, “Apa itu?”
“Debu yang ada di mata wanita itu. Kemungkinan bukan debu sembarangan. Bisa jadi air mata atau hal lain.”
“Lalu polisi berkata apa?”
“Hanya debu biasa.”
“Itu mungkin saja.”
Indira nampak kesal dengan jawaban wanita tersebut, “Tidak, tidak, itu nampak beda. Seperti butiran Kristal atau semacamnya, hanya tidak berkilau.”
“Berarti air mata, kemungkinan.”
Indira mulai senang dan bersemangat.
“Masih ada yang lain?”
“Tentu saja!”
Wanita itu semakin tertarik, “Apa perlu kita selidiki lebih lanjut? Mungkin itu banyak membantu.”
“Bagaimana?”
“Mungkin dengan menyisir area TKP setelah polisi pergi dari lokasi.”
“Untungnya aku sempat memotret jenazah tersebut. Mungkin kita bisa menunggu hingga sore atau malam. Lalu kita sisir area ini.”
“Baiklah kalau begitu. Kita bisa menunggu dengan ngopi bersama mungkin? Tidak mungkin kita berdiam menunggu di sini saja. Paling tidak kita bisa meneliti lebih jauh kecurigaanmu dimulai dengan foto tubuh korban.”
“Aku berpendapat hal yang sama. Mungkin kita bisa ke kosku bersama? Aku Indira,” Indira mengulurkan tangannya kepada wanita tersebut.
“Aku Janice, atau panggil saja Jane,” Jane menyambut jabatan tangan tersebut.
Lalu mereka pergi bersama-sama menuju kost Indira. Sepanjang perjalanan mereka saling mengemukakan pendapat seakan-akan mereka sudah lama saling kenal dan memahami satu sama lain.