"Oh.. udah bangun ternyata" ucap Inara baru saja membuka pintu kamarnya, berniat untuk membangunkan Abyan. Laki-laki yang telah resmi menyandang gelar sebagai suaminya sekitar dua bulan yang lalu.
Tidak ada tanggapan apapun. Saat ini Abyan sedang duduk bersandar di atas ranjang. Jemari tangannya bergerak lincah memainkan ponsel genggamnya. Terlihat seperti sedang berbalas pesan. Entah dengan siapa, Inara tidak mengerti.
Inara segera masuk, berjalan ke arah almari yang terletak di bagian sudut kamar. "Hari ini mas sarapan di rumah, kan?" tanyanya tanpa memandang sang suami. Mata dan tangannya fokus memilah baju yang dirasa cocok untuk Abyan kenakan hari ini.
Menyiapkan baju ganti untuk Abyan adalah salah satu rutinitas baru yang dilakukan Inara setelah menjadi seorang istri.
Abyan mendongak, yang tadinya masih fokus pada ponsel, kini atensinya beralih menatap istrinya. "Aku ada Morning Breafing hari ini. Jadi harus buru-buru. Aku sarapan di kantor aja bareng karyawan lain"
Kemudian kedua kakinya turun dari ranjang, meletakkan ponselnya lebih dulu di atas meja nakas, lalu bangkit berjalan mendekati Inara. Memutar tubuh istrinya agar menghadap ke arahnya. "Gak apa-apa, kan?" tanyanya.
Inara tersenyum manis. "Gak apa-apa, yang penting jangan lupa sarapan ya.." jawabnya. Sedetik kemudian, mengulurkan tangan menyerahkan handuk pada Abyan. "Nih.. mandi dulu"
Abyan balas tersenyum menerima uluran tangan itu, lalu berbalik menuju kamar mandi.
Inara pandangi punggung suaminya yang perlahan menjauh itu, masih dengan senyuman cantik. Sampai akhirnya menghilang bersamaan dengan menghilangnya tubuh Abyan dibalik pintu kamar mandi.
Tatapan Inara berubah sendu menatap pintu kamar mandi yang tertutup.
Lagi-lagi Abyan menolak untuk sarapan bersamanya.
Ini bukan pertama kali suaminya menolak sarapan di rumah. Bahkan selama menikah, dapat dihitung dengan jari berapa kali Abyan sarapan dengannya.
Bukan hanya sarapan, Abyan juga jarang makan malam di rumah. Alasannya selalu sama, tidak jauh-jauh dari urusan kantor.
Terkadang, berbagai pikiran negatif datang menguasai otak Inara. Namun, dengan segera ia buang pikiran itu jauh-jauh. Berusaha semaksimal mungkin untuk tidak mencurigai suaminya. Ia harus mengerti dengan posisi Abyan sebagai petinggi di perusahaan. Tentu kesibukannya tidak bisa disamakan dengan karyawan biasa.
Inara menghembuskan nafas kasar, mencoba menghilangkan pikiran buruknya. Mungkin lebih baik dia juga harus segera bersiap sebelum berangkat kerja.
Ayudia Inara, atau singkatnya dipanggil Ara, adalah seorang wanita berusia 24 tahun yang saat ini sedang bekerja sebagai desainer grafis disalah satu perusahaan Advertaising di Jakarta.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Bekal buat siapa?" tanya Abyan menghampiri Inara yang tengah sibuk di meja makan.
Terlihat sedang memasukkan makanan ke dalam wadah yang biasa digunakan untuk tempat makanan.
Pergerakan tangan Inara terhenti sejenak mendengar suara Abyan. Ia menoleh, menatap Abyan yang berdiri disampingnya dengan setelan kantor, sedang menuangkan air putih ke dalam gelas lalu meminumnya.
"Ah.. ini nanti mau aku bawa ke kantor untuk Malvin" jawab Inara kemudian melanjutkan kegiatannya. "Aku udah terlanjur masak lebih, gak mungkin kalau aku makan sendiri" lanjutnya.
"Kok kotaknya ada dua?" tanya Abyan lagi.
"Satu lagi untuk aku, rencananya aku mau sarapan di kantor aja sama Malvin. Rasanya kurang nyaman kalau makan sendiri, lebih enak kalau ada temannya" Inara berbalik menuju dapur membawa piring kotor bekas makanan. Dengan segera ia mencucinya lalu mengembalikan ke tempat penyimpanan piring dan peralatan makan lainnya.
Abyan masih terdiam ditempatnya berdiri. Perkataan Inara tadi sedikit mengganggu pikirannya. Dia tahu, Inara tidak sedang menyindirnya. Tapi, entah kenapa dia sedikit tersinggung dengan ucapan Inara.
Abyan sadar kalau selama ini ia belum bisa menjadi suami yang baik untuk Inara. Ia juga sadar kekecewaan istrinya setiap kali ia menolak perhatian yang selalu istri cantiknya itu berikan.
Bukannya Abyan tidak suka diperhatikan seperti itu, akan tetapi ia punya alasan sendiri kenapa dia bersikap seperti itu terhadap Inara.
"Kenapa belum berangkat?" pertanyaan Inara berhasil membuyarkan lamunan Abyan.
"Tadi katanya ada Morning Breafing?" tanya Inara lagi sembari melirik jam tangan yang melingkar ditangannya. "Ini udah mau jam 7 loh"
"Iya, ini mau berangkat. Mau sekalian bareng berangkatnya?" tawar Abyan.
"Eh?" Inara sedikit kaget mendengar Abyan menawarinya tumpangan.
Pasalnya, ini pertama kali Abyan melakukan itu. "Gak perlu. Bentar lagi Malvin mau kesini kok. Lagian, kantor mas sama kantor aku kan berlawanan arah. Yang ada mas bisa telat kalau ngantar aku dulu"
Abyan mengangguk, tanpa mau memaksa kehendak istrinya. "Yaudah, aku berangkat dulu"
"Iya, hati-hati"
Melihat adegan sang suami yang mencium sang istri saat hendak berangkat bekerja, mungkin itu sebuah pemandangan yang biasa terjadi dalam hubungan suami-istri. Entah itu sebuah kecupan dibibir sang istri atau hanya sekedar kecupan didahi. Apalagi kalau pengantin baru seperti Abyan dan Inara.
Tapi, jangan terlalu berharap hal itu bisa dilihat dalam kehidupan rumah tangga Abyan dan Inara. Apa yang bisa diharapkan dari sebuah hubungan pernikahan tanpa cinta dan hanya dilandasi oleh kata perjodohan?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti di basement salah satu gedung apartemen mewah di kota Jakarta. Sang pemilik mobil langsung turun dari kursi kemudinya setelah berhasil memarkirkan mobilnya dengan sempurna.
Laki-laki itu —sang pemilik mobil—segera meninggalkan area parkir menuju lift yang akan membawanya pada tujuannya berada disini.
Tak berlangsung lama, laki-laki tersebut kini telah berdiri didepan pintu salah satu unit apartemen di gedung ini. Laki-laki itu langsung menekan beberapa tombol yang terletak di samping daun pintu, memasukkan beberapa digit nomor yang menjadi kunci untuk membuka pintu tersebut. Dan segera masuk ketika pintu terbuka.
Bau wangi yang berasal dari dapur menyambut kedatangannya. Membuat laki-laki itu menarik kedua ujung bibirnya ke atas. Tanpa disuruh, langkah kakinya bergerak membawa tubuhnya bergerak menuju dapur.
"Astaga!" pekik seorang wanita yang sedang mengaduk sesuatu didalam penggorengan.
Kaget ketika tiba-tiba ada sepasang tangan yang memeluknya dari belakang. Wanita itu hanya berdecak lalu melanjutkan kegiatannya. Tanpa melihat pun, ia tahu siapa pelakunya.
"Sekarang, alasan apalagi yang kamu kasih ke istrimu itu?"
Kali ini giliran laki-laki itu yang berdecak kesal. Tidak suka mendengar pertanyaan yang diajukan oleh wanita didepannya ini. dengan perlahan ia melepas pelukannya, berbalik berjalan menuju meja makan yang terletak tak jauh dari dapur. Kemudian duduk disalah satu kursi.
"Aku nyoba buat terus jaga hubungan kita biar gak ngejauh. Tapi, ini yang kamu beri ke aku? Bukannya perjanjiannya aku masih bisa nemuin kamu kapan aja?" ucapnya.
"Kamu gak bisa terus-terusan ngehindar kaya gini, By" ucap wanita itu menghampiri Abyan sembari membawa masakannya.
Kemudian menyiapkan untuk mereka berdua. "Coba dong bersikap sebagai suami yang baik untuk dia. Aku gak mau kalo sampai dia curiga sama kamu dan bakal ngancurin semuanya"
Abyan memutar bola matanya malas. "Udahlah. Harus berapa kali aku bilang, aku gak suka ngebahas dia kalo kita lagi bareng" ucapnya tanpa memandang Rania, wanita yang sekarang duduk dihadapannya.
Dengan sedikit kesal, Abyan menyendok makanannya, memasukkan kedalam mulut dan mengunyahnya dengan cepat.
"Berapa kali juga aku harus bilang, perlakukan dia kaya istri yang kamu cintai"
"Kamu pikir itu gampang?"
"Aku tahu, ini gak gampang buat kamu. Tapi, kita udah terlanjur melangkah sejauh ini, Byan. Kita gak mungkin mundur"
Rania meraih satu tangan Abyan yang menganggur di atas meja. "Aku mohon, By... Lakuin ini demi aku, demi kebahagiaan kita juga. Dengan cara ini keinginan kita berdua bakal terpenuhi. Kamu cuma perlu sabar sampai waktunya tiba, ya? "
Abyan memejamkan matanya sejenak, mencoba mengatur emosinya agar tidak melampiaskan pada Rania.
"Kita masih bisa dapetin itu dengan cara lain" ucap Abyan tak mau kalah.
"Tapi kita udah terlanjur melakukan ini. Tinggal selangkah lagi semuanya selesai dan kamu mau mundur?"
Abyan diam. Dalam pikirannya ia membenarkan apa kata Rania. Ia sudah terlanjur melangkah sejauh ini, mau mundur pun rasanya percuma.
"Coba dari hal-hal kecil lebih dulu. Kaya... sarapan bareng, makan malam bareng atau apapun itu"
Abyan masih diam menatap mata Rania.
"Mulai sekarang, habisin lebih banyak waktu senggang kamu dengan dia. Mungkin di depan kamu dia bisa bilang 'gak apa-apa' pas kamu nolak dia. Tapi apa kamu tahu, perasaan dia sebenarnya? Walau bagaimanapun juga, seorang istri bakal ngerasa sangat bahagia kalau suaminya mau menghargai apa yang dia lakukan. Meski itu hal kecil, tetap aja sangat berarti buat seorang istri" jelas Rania mencoba memberikan pengertian pada Abyan.
"Tapi, kamu juga--"
"Jangan samakan aku sama dia, Abyan" Rania memotong ucapan Abyan.
"Saat ini Inara lebih berhak atas kamu. Kalau kamu mau semua cepet selesai, aku saranin lebih baik kamu cepet ngelakuin itu"
"Ngelakuin apa?" tanya Abyan.
"Jangan pura-pura gak ngerti, By. Aku tahu kamu pasti paham apa yang aku maksud"
"Hem"
"Baguslah. Semakin cepat semakin bagus. Sekarang cepat habisin makanan kamu, hari ini kamu ada rapat jam setengah 9 nanti"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sekitar pukul 12 malam lebih, Abyan baru sampai di apartemen miliknya. Dia segera masuk setelah pintu terbuka. Kemudian berjalan mendekat ke arah sebuah rak sepatu kecil yang terletak tak jauh dari pintu masuk.
Abyan melepas sepatu kerjanya, meletakkan sepatu tersebut di atas rak lalu mengambil sandal rumahan untuk dipakainya.
Abyan berjalan masuk, dilihatnya lampu ruang tengah masih menyala, ia juga mendengar suara televisi.
Apa Inara belum tidur? Pikirnya.
Sesampainya di ruang tengah, Abyan mematikan televisi lebih dulu sebelum beralih ke istrinya.
Abyan menatap Inara iba, wanita itu pasti sedang menunggunya hingga tertidur di sofa begini.
Perasaan bersalah semakin menyesak didada Abyan.
Sebenarnya ia sudah mengirim pesan pada istrinya, memberitahu bahwa malam ini ia akan pulang terlambat dan sudah menyuruhnya juga untuk tidak menunggunya. Namun, seperti biasa, Inara selalu keras kepala. Ini bukan pertama kali istrinya itu tertidur di sofa karena menunggunya, bahkan terlalu sering.
Abyan meletakkan tas kerjanya di atas meja kemudian berlutut didekat Inara. "Maafin aku..." ucapnya pelan. Tangannya bergerak mengusap pipi lembut Inara.
"Eunghh..." Inara melenguh pelan saat merasa ada yang mengganggu tidurnya. Tak lama kemudian, mata bulatnya terbuka. Tatapannya langsung bertemu dengan mata suaminya.
Abyan tersenyum.
"Eh? Mas Byan? Mas udah pulang?" Inara bangkit dari tidurnya lalu duduk bersandar pada sandaran sofa. Sesekali mengucek kedua matanya. Khas seperti orang bangun tidur. "Mas udah makan? Kalau belum aku siapin makanan ya.."
Abyan bangkit dari posisi berlututnya, kemudian ikut duduk di sebelah Inara. "Kamu ke kamar aja, ya? Lanjutin tidurnya. Aku bisa nyiapin sendiri kok" ucap Abyan lembut.
Ini yang disukai Inara dari Abyan. Meskipun pernikahan mereka hanya karena perjodohan, dan sikap Abyan yang bisa dibilang cuek dengannya, tapi sampai sekarang Abyan tidak pernah berlaku kasar kepadanya, seperti cerita-cerita yang pernah Inara baca di novel. Abyan selalu bersikap baik padanya.
Inara menggeleng. "Aku gak apa-apa. Aku bakal lanjut tidur abis nemenin mas makan"
Abyan tersenyum miris mendengarnya. Istrinya benar-benar wanita yang baik dan juga keras kepala. "Yaudah deh, kalau gitu aku mandi dulu ya..."
Inara mengangguk setuju.
Kemudian mereka berdua bangkit dari duduknya, masing-masing berjalan menuju dapur dan kamar.
Inara tersenyum memasukkan makanan ke dalam microwave. Tidak sia-sia dia menahan kantuknya menunggu Abyan pulang, walaupun akhirnya dia tertidur juga. Tapi setidaknya malam ini Abyan mau makan masakannya.
Berbanding terbalik dengan Inara yang terlihat bahagia, raut muka Abyan justru terlihat bertambah kusut menandakan kefrustasiannya.
Bukannya Abyan tidak menyukai perhatian Inara terhadapnya, hanya saja dia merasa sangat tidak pantas menerima itu semua dari Inara.
Abyan bukanlah suami yang baik untuk Inara. Bahkan tadi sore saja dia sudah berbohong padanya.
Abyan bilang dia harus lembur karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini juga. Tapi nyatanya? Abyan justru menghabiskan malamnya di apartemen Rania.
Walaupun Rania sudah menyuruhnya pulang beberapa kali, tapi Abyan tetap kekeh tidak mau pulang. Hingga akhirnya dia pergi dari apartemen Rania sekitar pukul 10 tadi. Tapi tetap saja Abyan tidak langsung pulang.
Abyan sama sekali tidak membenci Inara, justru dia membenci dirinya sendiri yang telah membawa Inara masuk ke dalam masalahnya dengan memanfaatkan kebaikan wanita cantik itu.
Selama ini Abyan selalu berusaha sebisa mungkin untuk membuat jarak dalam hubungan mereka.
Abyan tidak sanggup jika harus selalu bersama dengan Inara. Melihat wajah polosnya yang begitu cantik, melihat senyumnya yang begitu menawan membuat Abyan semakin merasa buruk dan terus-terusan merasa bersalah.
Abyan takut jika suatu hari nanti, wajah cantik istrinya akan menjadi basah oleh air mata, senyum menawan dan tawanya yang riang secara perlahan berganti dengan suara isakan yang memilukan hati.
Abyan takut jika hari itu benar-benar terjadi.
Abyan menyakiti istri cantiknya. Dan yang lebih menakutkan adalah jika dirinya akan kembali terjerat oleh pesona dan kebaikan hati istrinya untuk kesekian kali.
Inara adalah tipe wanita yang sangat mudah dicintai. Siapapun orang yang mengenalnya, pasti tidak akan sulit untuk menaruh hati padanya. Termasuk Abyan sendiri.
Abyan keluar dari kamar mandi setelah beberapa menit menyelesaikan acara mandi malamnya. Dia tersenyum saat melihat sepasang piama masih terlipat rapi di atas tempat tidur.
Istrinya itu tidak pernah lupa untuk yang satu ini. dengan cepat Abyan memakainya lalu segera menyusul Inara di meja makan.
Inara menoleh dan tersenyum saat mendengar pintu kamarnya terbuka, melihat Abyan yang terlihat lebih segar sehabis mandi. Rambutnya masih acak-acakan dan sedikit basah.
Abyan sudah duduk di kursi depan Inara. Kemudian wanita cantik itu berdiri, tangannya dengan telaten mengambilkan makanan untuk suaminya. Tak lupa juga menuangkan segelas air untuk minum. Sungguh, Inara adalah sosok istri sempurna yang selalu diidam-idamkan oleh setiap pria.
"Makasih.." ucap Abyan tulus.
Inara tersenyum manis kemudian mengangguk.
"Kamu gak ikut makan?" tanya Abyan disela-sela makannya.
Inara menggeleng. "Tadi aku udah makan sebelum mas pulang" Ia menatap suaminya ragu. "Aku pikir, mas gak makan di rumah. Jadi aku makan duluan. Maaf ya, karena gak nungguin mas Byan dulu.." Inara merasa buruk sekarang.
"Enggak, aku justru bakal marah kalau kamu gak makan karna nungguin aku" ucap Abyan yang kemudian diangguki oleh Inara.
"Eum.. Mas?" panggil Inara setelah beberapa saat terjadi keheningan diantara mereka berdua. Abyan mendongak menatapnya. "Sabtu besok, mas ada acara gak?" tanya Inara.
"Kenapa?" Abyan balik bertanya.
"Tadi sore teman kuliah aku dulu dateng ke kantor, dia ngundang aku ke acara ulang tahunnya, terus dia...." Inara memberi jeda pada kalimatnya, mengalihkan pandangannya dari mata Abyan. Sedikit ragu tentang apa yang akan dikatakannya.
"Dia minta aku buat ngajak mas juga. Tapi kalau mas gak bisa, gak apa-apa kok. Aku bisa pergi sendiri atau bisa pergi sama Malvin, kebetulan dia juga diundang"
Inara menyelesaikan kalimatnya dalam satu tarikan nafas. Pasalnya, ini pertama kali dia mengajak Abyan pergi bersama. Makanya dia ragu. Apalagi pergi ke acara yang mungkin tidak penting bagi Abyan.
Abyan mendengus kesal, sedikit tidak suka dengan perkataan Inara yang terakhir. Kenapa harus selalu dengan Malvin? Bahkan tadi pagi, Malvin dibuatkan bekal segala. Dirinya saja belum pernah dibuatkan bekal.
"Jam berapa acaranya?"
"Sekitar jam 5 sore. Tapi aku gak tahu selesainya sampai jam berapa"
"Oke. Kita pergi besok"
"Serius?" mata Inara membulat sempurna. Ekspresinya terlihat sangat menggemaskan.
Abyan terkekeh pelan melihat wajah Inara yang terlihat sangat antusias itu. "Seneng banget ya?"
Inara langsung menormalkan wajahnya. "Lebay banget ya?" tanyanya tersenyum kikuk.
"Enggak. Gemes malah..." Abyan masih tertawa kecil lalu meraih gelasnya, meminum airnya hingga tandas tanpa menyadari pipi Inara yang sedikit memerah karena ucapannya tadi.
"Aku udah selesai makan. Ayo tidur"
"Mas duluan aja, aku mau--"
"Itu biar aku aja yang beresin besok. Sekarang aku udah ngantuk" potong Abyan yang menyadari niat istrinya.
Abyan langsung menarik tangan Inara dan membawanya ke kamar. Entah sadar atau tidak, kini Abyan mulai mengikis jarak yang telah ia buat selama ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC.