Andai pikiran Lauritz berjalan layaknya manusia normal, tentu dia akan menolak permintaan Yuta untuk mengantarnya pulang di tengah malam seperti ini. Namun, berhubung Lauritz memang unik menjurus aneh, dia segera menyanggupinya tanpa perdebatan sama sekali. Tentu saja hal itu didasari rasa penasaran Lauritz yang tidak sanggup ditahan lebih lama lagi. Dia harus segera mencari tahu asal aroma yang melekat pada tubuh Yuta.
Lauritz sendiri yang mengantar Yuta ke tempat kos gadis itu. Tentu ada pengawal pula yang mengikuti dengan mobil lain karena Lauritz memang tidak pernah bepergian sendiri demi keamanannya. Tiba di tempat kos Yuta, keduanya segera masuk ke kamar gadis itu. Hanya berdua saja agar tidak terlalu menimbulkan keributan mengingat sekarang sudah dini hari.
Yuta masuk ke kamarnya lebih dulu dan menyalakan lampu.
Kamar kos itu berukuran tiga kali empat meter. Ada ranjang single di sisi kiri, meja belajar yang catnya sudah terkelupas di sudut, lemari plastik dua pintu, dan satu jendela kecil yang menghadap ke tembok rumah sebelah.
Lauritz berdiri di ambang pintu.
“Masuk aja,” ucap Yuta. “Tapi jangan ngomentarin apa pun.”
“Aku tidak akan berkomentar.”
“Kamu udah ngerutin dahi.”
“Itu bukan komentar.”
Yuta memutar bola matanya.
***
Lauritz masuk dan berdiri di tengah ruangan.
Lalu ia menarik napas.
Dalam-dalam, pelan, dengan mata terpejam — cara bernapas yang jelas sudah ia latih ratusan kali dan tidak pernah menghasilkan apa pun.
Yuta menunggu.
Sepuluh detik.
Dua puluh.
Lauritz membuka matanya.
“Tidak ada.”
Sesuatu di dada Yuta ikut jatuh, dan ia sendiri kaget mengapa ia merasa kecewa.
“Coba lagi.”
“Yuta—”
“Coba di deket lemari.”
Lauritz menurut.
Tidak ada.
“Di deket meja.”
Tidak ada.
“Di deket—”
“Yuta, cukup.”
“BELUM CUKUP!”
Suara Yuta memantul di dinding kamar kecil itu, dan keduanya langsung diam.
Yuta menutup mulutnya sendiri.
“Maaf,” bisiknya. “Aku nggak tahu kenapa aku jadi ngotot.”
Lauritz memandanginya dari tengah ruangan.
“Karena kamu ingin ini berarti sesuatu,” ucapnya.
Yuta menunduk.
“Aku juga,” lanjut Lauritz pelan.
***
Mereka duduk di lantai, bersandar ke sisi ranjang, dengan jarak setengah meter di antara mereka.
Pukul satu lewat.
“Lauritz.”
“Hm.”
“Kalau ternyata itu cuma kebetulan gimana?”
“Maka aku akan mengantarmu pulang dan tidak mengganggumu lagi.”
“Beneran?”
“Beneran.”
“Kamu nggak bakal nyulik aku lagi?”
“Aku tidak pernah menculikmu. Aku memberimu dua pilihan.”
“Dua pilihan yang dua-duanya kamu yang atur.”
Lauritz terdiam.
“…itu benar,” akuinya.
“Nah.”
“Aku minta maaf.”
Yuta menoleh cepat.
“Apa?”
“Aku minta maaf,” ulang pemuda itu, masih memandang lurus ke depan. “Untuk malam itu. Aku bertindak seperti orang yang menganggap keinginanku lebih penting daripada keberatanmu, dan itu memang persis yang kulakukan.”
Kamar kecil itu sunyi.
“Fadi nggak pernah minta maaf,” ucap Yuta akhirnya.
“Aku tahu.”
“Dia nulis 'terpaksa'.”
“Aku tahu.”
Yuta menarik lututnya ke dada.
“Dua tahun,” gumamnya. “Dua tahun, terus selesai di satu koridor.”
Lauritz tidak menawarkan penghiburan. Tidak mengatakan bahwa Yuta pantas mendapat yang lebih baik, atau bahwa waktu akan menyembuhkan, atau kalimat apa pun yang biasanya orang ucapkan.
Ia hanya duduk di sana.
Dan entah bagaimana, itu jauh lebih baik.
***
Pukul dua kurang, Yuta bangkit untuk mengambil air.
Ia membuka lemari plastiknya, menggeser tumpukan pakaian untuk mencari botol minum yang biasanya ia simpan di sana, dan tanpa sengaja menjatuhkan sesuatu dari rak paling atas.
Sebuah kotak kayu kecil.
Kotak itu jatuh ke lantai dan tutupnya terbuka.
Dan Lauritz, yang sejak tadi duduk bersandar ke ranjang dengan mata setengah terpejam, langsung berdiri begitu cepat sampai kepalanya membentur rak.
“ADUH—”
“Kamu kenapa?!”
Lauritz tidak menjawab.
Ia berjalan ke arah kotak itu, berlutut, dan menatapnya seperti orang yang menatap sesuatu yang mustahil.
“Lauritz?”
“Ini apa?”
Yuta berjongkok di sampingnya.
Di dalam kotak kayu itu ada beberapa benda kecil: sepasang anting yang sudah menghitam, selembar foto lama, dan sebuah botol kaca mungil berisi cairan bening yang tinggal seperempat.
“Ini punya mama aku,” ucap Yuta. “Botolnya minyak. Katanya dibuat sendiri sama nenek aku dulu.”
Lauritz tidak bergerak.
“Lauritz.”
“Buka botolnya.”
“Apa?”
“Yuta.” Ia menoleh, dan wajahnya benar-benar pucat sekarang. “Tolong buka botolnya.”
Tangan Yuta gemetar ketika ia memutar tutupnya.
Pemuda di sampingnya menarik napas.
Dan untuk pertama kalinya dalam dua puluh enam tahun hidupnya, Lauritz menutup wajahnya dengan kedua tangan dan tidak sanggup berkata apa pun sama sekali.