•••••
ERIC mengusap tengkuknya pelan. satu jam yang lalu dia baru saja bertengkar dengan Laura, wanita itu meminta padanya untuk pergi berlibur selama seminggu di Hawai. Tentu dia menolaknya, jika saja dia tidak banyak pekerjaan dengan senang hati dia menuruti permintaan kekasihnya, tapi saat ini dia sedang banyak sekali pekerjaan yang harus segera diselesaikan.
Lagi-lagi Eric merasa bersalah dia tahu bahwa kekasihnya ingin menghabiskan banyak waktu bersama dirinya, tapi mau bagaimana lagi kerjaannya menumpuk tidak mungkin dia meninggalkan dan pergi berlibur. biarkan kekasihnya marah dulu nanti setelah semua beres Eric akan membujuknya, kalau perlu menuruti semua kemauan Laura.
"Thony. tolong siapkan mobil, saya mau keluar."pintanya pada Thony sekretarisnya.
"Baik Tuan."
Setelah kepergian Thony. Eric merapihkan semua berkas yang sekira sangat penting untuk dirinya lalu pergi meninggalkan ruang kerjanya. sesampainya di lobby mobil mewah sudah terparkir disana dan berdiri Thony beserta para penjaga lainnya.
"Jika ada yang menanyakan saya katakan bahwa saya ada keperluan diluar."ucap Eric sebelum dia masuk kedalam mobilnya.
"Termasuk nona Laura?"
"Laura tidak akan kesini dia tengah merajuk padaku."
"Ah baik Tuan, anda mau saya setirkan atau menyetir sendiri?"
"Tidak. saya menyetir sendiri." Thony mengangguk.
Eric langsung masuk kedalam mobil dan mengendarai mobil mewahnya meninggalkan Lobby kantor.
•••
Di lain tempat seorang wanita tengah kesal, melihat kondisi apartemennya yang berantakkan. Bungkus snack, kaleng minuman segala macam berserakan di lantai.
"Heh anak ayam lo kalau lagi galau bisa enggak jangan ke aparteman gue, Berantakin doang."ucapnya kesal sambil memunguti sampah-sampah dilantai.
"Enggak. kan cuma lo doang sahabat gue"lirihnya. siapa lagi yang sedang galau kalau bukan Laura.
Dan wanita yang sejak tadi mengecoh bernama Raisa dia sahabat dekat Laura, mereka bersahabat sejak kecil. Raisa kesal dengan sahabatnya yang satu ini kalau galaunya kambuh ditambah tamu bulanannya itu, sangat membuatnya repot. sudah datang dengan keadaan menangis sesenggukan setelah itu lapar lalu makan akhirnya menguras semua stok makanan yang berada di kulkasnya.
"Iya, modal sendiri ge. minimal lo bawa makanan atau minuman, ini mah lo habisin stok makanan gue."gerutunya.
"Lo enggak ikhlas?" Raisa memutar bola matanya malas drama apa lagi yang akan Laura mainkan.
"Gue tanya lo enggak ikhlas?"tanya Laura sekali lagi.
"Udah lo makan baru nanya gue ikhlas apa enggak, lo telat neng."
"pelit banget lo." Laura menimpuk Raisa dengan makanan yang tengah dimakannya.
"Udah ngerusuh sekarang ngatain gue pelit?emang enggak tahu diri lo ya, udah pergi ah recokin pacar lo gih."ucapnya sambil mencubit pipi Laura.
"Ahh lepasin, sakit Raisa."pekiknya sambil mencoba melepaskan tangan Raisa dari pipinya.
"gemes gue."
"Gemes pala lo, gue lebih baik enggak digemesin sama lo nyakitin anjir."kesalnya.
Raisa terkekeh. bagaimanapun Laura adalah sahabatnya dia menyayanginya, Laura adalah perempuan yang rapuh meskipun dia sering menunjukkan sikap galaknya tapi, percaya deh Laura adalah gadis yang manja dia bisa menjadi cengeng hanya karena masalah sepele. Karena Laura juga dia bisa merasakan menjadi sahabat sekaligus kakak diwaktu bersamaan, Laura seperti anak kecil yang apa-apa harus dijagain.