••••
SORE ini Laura sudah boleh pulang dari rumah sakit setelah dinyatakan membaik oleh dokter. Tiga hari dirumah sakit bagi Laura adalah sebuah hal yang sangat menyebalkan. apalagi Eric yang beberapa hari ini ke bawelannya semakin bertambah, pria itu tidak membiarkan Laura melakukan apapun dia tidak boleh ini, jangan kesini enggak boleh itu Laura sangat muak sekali.
Seperti sekarang Eric terus saja memaksanya untuk makan-makanan rumah sakit yang rasanya hambar.
"Udah deh aku udah kenyang Ric."tolak Laura saat melihat Eric akan menyuapinya lagi.
"Sedikit Lagi sayang."
Laura menggeleng. "Enggak mau." Eric hanya menghembuskan nafas pasrahnya.
Dia menaruh mangkuk dimeja dan memberikan segelas air putih pada Laura.
"Yaudah. nanti kamu harus makan banyak kalo enggak pipi kamu enggak tembem lagi."kata Eric sambil menguyel-uyel pipi Laura tanpa mempedulikan Laura yang sudah meringis.
"Iya nanti makan banyak tapi lepaskan dulu ini tangan kamu, sakit tahu diuyel-uyel gini."
Eric terkekeh lalu mengecup pipi Laura membuat pipinya bersemu.
"Ehem nyamuk banyak." Eric memutar bola matanya sebal, Raisa selalu merusak momen mesranya bersama Laura.
"Lupa ada nyamuk."celetuk Eric yang tengah mengelus rambut hitam Laura.
"Sialan lo." Laura hanya terkikik geli saja.
"Udah cepat beresin lama banget si Sa."
"Udah selesai ini. ayo pulang gue udah sumpek bangat nih sama suasana ruangan engap banget."sahut Raisa sambil menenteng tas yang berisi keperluan Laura selama dirumah sakit.
"Aku gendong."kata Eric yang langsung ditolak oleh Laura.
"Aku bisa jalan sendiri."
"Enggak kamu masih lemes banget ini."
"Aku bisa kok." Eric enggak habis pikir kenapa si Laura itu sering banget semaunya dia, keras kepala banget enggak bisa apa nurut sekali-kali.
"Aku gendong kamu."ucap Eric yang seketika langsung membawa tubuh Laura dalam gendongannya. mereka bertiga keluar dan berjalan menuju Basement.
"Eric turunkan malu."pinta Laura yang terlihat sedikit risih karena sepanjang perjalanan menuju tempat parkir mereka menjadi pusat perhatian, itu sedikit membuat Laura malu dan risih.
"Kenapa malu?! kamu milikku biarkan mereka tahu bahwa wanita yang cantik ini hanya milik seorang Eric Braham." Raisa menatap jengah dua orang didepannya, kenapa dia terjebak diantara b***k cinta seperti mereka ini. Raisa sangat muak sekarang.
***
Sampai di apartemen Eric merebahkan Laura diranjangnya, Eric membantu melepaskan sepatu sedangkan Raisa sejak tadi sudah pamit pulang.
"Istirahat yang cukup jangan dulu aktivitas iya sayang."ucap Eric memperingati Laura dia tahu bahwa Laura sering sekali ngeyel tak mau mendengarkan ucapannya padahal semua itu demi kebaikannya.
"Jangan pergi temenin aku."
"Manja." Eric merebahkan tubuhnya disamping Laura dan membawa Laura dalam dekapannya.
"Begini lebih nyaman."
"Sekarang tidur." Eric mengusap kepala Laura dengan lembut dan mengecup kening Laura berulangkali sampai mereka tertidur dan Eric melupakan janjinya dengan seseorang.
Di Lain tempat seorang wanita duduk dengan gelisah. wanita itu adalah Sarrah sejak tadi dia menunggu kedatangan Eric sudah hampir dua jam lamanya tapi Eric belum juga terlihat, malam ini mereka ada janji untuk makan malam romantis tapi entah berada dimana sekarang Sarrah tidak tahu karna Eric tidak menghubunginya sama sekali.
"Eric kamu dimana si?nomor malah enggak aktif."gerutunya dia benar-benar kesal, dua jam bukan waktu sebentar tapi Eric membuatnya menunggu selama ini.
"Hallo Sarrah."sapa seorang wanita yang entah datang dari mana langsung duduk dihadapannya tanpa permisi lagi.
Sarrah menatap wanita yang duduk di depannya dengan tatapan bingungnya sedangkan wanita itu menatap Sarrah dengan tatapan yang seolah tengah meneliti.
Sarrah dibuat merinding ketika segaris senyum miring menghiasi wajah wanita itu.
Lama mereka ada pada keheningan akhirnya Sarrah yang memecah keheningan. "siapa kamu."tanya Sarrah.
wanita itu menatap Sarrah lama sebelum akhirnya menjawab...
"Kenalkan Raisa Andrian Rehandi."ucap Raisa dengan wajah yang masih tersenyum sinis.
Sarrah terkejut. Dia kenal dengan Marga Rehandi, dia sangat tahu. Raisa yang melihat ada keterkejutan di wajah wanita itu hanya tersenyum sinis.
"A-ada apa?"tanyanya dengan nada gugup yang tak dapat disembunyikan.
"Jauhi Eric dia sudah memiliki kekasih dan dia adalah sahabatku. aku rasa kamu sudah tahu jika pria itu sudah punya kekasih--
Raisa menatap Sarrah lebih dalam..
"Aku tidak tahu dimana letak harga dirimu sebagai seorang wanita, melihat kamu yang bahagia padahal kamu hanya orang ketiga. Aku jadi berpikir apa hidupmu tidak ada hal yang menyenangkan sehingga menjadi simpanan kamu baik-baik saja."
"Tutup mulutmu. ingat kamu tidak ada hak apapun. Eric yang mau denganku berhentilah ikut campur."
Raisa sudah menduga wanita seperti Sarrah ini gampang sekali terpancing emosi dan tersinggung, melihat Sarrah yang langsung membentak saat dirinya telah selesai berbicara sudah membuktikan bahwa Sarrah gampang sekali dipermainkan emosinya.
"Wow aku tidak percaya model secantik dirimu mau menjadi simpanan."
Raisa mengetuk-ngetuk meja seolah dia tengah berpikir. "apa jangan-jangan karena dia seorang Eric Braham si pengusaha kaya raya?"
Raisa menatap Sarrah yang wajahnya sudah memerah akibat menahan amarahnya.
"Atau karena--
"Tutup mulutmu aku mencintai! dia berhenti berbicara itu."teriak Sarrah yang sudah tidak mau lagi mendengar kata-kata penuh hinaan dari Raisa.
Memangnya kenapa jika dia menjadi orang ketiga, dirinya dan Laura samakan? sama-sama mencintai Eric. terlebih Eric juga maukan kenapa seolah hanya dia yang salah disini.
"Wow aku terkejut dengan teriakanmu barusan tapi...
Raisa mendekatkan wajahnya ke Sarrah lalu berkata. "kau tau siapa aku? jangan berani macam-macam denganku jangan mengusik orang terdekatku ingat itu."
Apa Raisa pikir dia takut dengan ancaman seperti itu. Wanita bodoh! dia tidak takut sama sekali, dia tetap akan mempertahankan Eric disisinya dan menjadi satu-satunya wanita yang berada dihidup Eric. itu akan terjadi suatu saat nanti.
"Aku dan Laura sama. kita sama-sama mencintai Eric, lalu apa salahnya?silakan ancam aku sekuat apapun kamu mengusirku dari kehidupannya tapi Eric tetap akan menarikku kembali karena apa?karena dia membutuhkan aku."
Raisa tersenyum dia cukup terpukau dengan cara Sarrah saat membela dirinya sendiri, dia sudah menebak bahwa Sarrah tidak akan mau melepaskan Eric.
"Lebih tepatnya membutuhkan teman untuk dibawa ke ranjang, ya alias pemuas nafsu."
Plak. Raisa tersenyum sinis saat Sarrah melayangkan tamparan dipipinya, wanita ini ternyata tidak tahu siapa dia.
"jaga mulutmu Raisa atau..
"Atau apa hm, kamu mau apa?apa ada yang salah dalam perkataanku tadi, aku rasa itu benar. Eric membutuhkan kamu hanya sebatas untuk nafsunya tidak lebihkan?"sela Raisa yang semakin membuat amarah Sarrah meningkat.
"Dan kamu, apa yang kamu lakukan disini menunggunya seperti orang bodoh sedangkan dia tengah tertidur nyaman dengan kekasihnya. dia membutuhkan kamu hanya untuk nafsu, apa kamu tidak bisa melihat itu?!"
"Aku rasa kamu tidak bodoh Sarrah, pikirkan baik-baik ucapkanku."
Setelah mengatakan itu Raisa langsung pergi meninggalkan Sarrah yang terdiam mematung. wanita itu terduduk dia tidak bisa membendung air matanya lagi, ucapan Raisa begitu memohoknya.
Sisi lain dari seorang Raisa. siapa yang tidak mengenal Raisa, wanita penuh kelicikan kebringasan seperti ayahnya. namun Raisa tidak pernah menunjukkannya terhadap Laura.
Laura hanya tahu Raisa yang galak, cerewet dan baik tanpa tahu siapa Raisa yang sebenarnya.
Dan Sarrah tahu setelah ini hidupnya tidak akan tenang lagi, Raisa tidak akan pernah main-main disetiap ucapannya. Dengan terisak Sarrah meninggalkan tempat itu dengan langkah gontai dia berjalan tanpa perduli dengan angin malam yang dingin, dia kecewa pada Eric dan juga pada dirinya.