•••
Apartemen Laura 21:45 malam.
"apa aku salah dengar?"Raisa tersentak kaget dengan suara yang tiba-tiba sekali, dia membalikkan badannya melihat siapa yang barusan bersuara.
"sekali lagi aku tidak salah dengar? Eric dengan Sarrah model yang sedang naik daun itu?!"
Raisa menghembuskan nafas leganya setelah melihat siapa seorang yang berbicara tadi.
"Raisa aku tanya cepat jawab!!"
Raisa menatap tajam orang yang berdiri didepannya. "enggak sopan nguping pembicaraan orang lain."
"kamu berbicara dengan nada membentak bagaimana aku tidak mendengarnya."
memang salahnya sih tapi itu karena dia terlalu emosi sampai tidak sadar bahwa banyak kemungkinan Laura akan mendengar tapi syukurlah bukan Laura yang mendengar semua pembicaraannya tadi.
"apa abangku ini akan mengambil kesempatan itu?" Raisa terkekeh tapi bertolak belakang dengan apa yang ditampilkan diwajahnya.
"Tentu. ayolah jangan panggil Arsan Rehandi jika tidak mengambil kesempatan."
Raisa tersenyum sinis. "ah benarkah?"
Arsan mengangguk. "Lihat aja."
"Kau tau Arsan mereka sudah menjalani hubungan selama hampir setahun, tanpa sepengetahuan Laura bukankah pria itu pemain drama yang ahli?" Raisa terkekeh sinis mengingat pertama kali dia mengetahui hubungan itu ketika Eric menjemput sarrah dari kantornya.
"akan aku berikan sebuah permainan yang bagus. apa kau mau ikut bermain?"tanya Arsan sambil menghisap rokoknya.
Raisa mengerutkan keningnya. "apa yang kamu maksud?"
"iya seperti menjebak seekor tikus."
"Terserah kamu saja."
"kamu tahu aku sangat mencintainya sampai sekarang aku masih tetap mencintainya namun wanita itu lebih memilih pria b******k itu." Raisa menghela nafas kasar lalu dia menatap mata tajam yang tak pernah dia lihat sebelumnya.
"aku pikir kamu sudah melupakannya tapi ternyata kamu masih mencintainya." Raisa terkekeh
"aku sudah mencoba merelakan gadisku dengan pria b******k itu namun ternyata pria itu tidak menjaga gadisku dengan baik bahkan ia mengkhianatinya."ucap Arsan dengan emosi yang menggebu-gebu.
Dia sudah belajar merelakan Laura namun Eric dengan seenaknya mempermainkan Laura. jadi jangan salahkan kalo dia akan menarik Laura dalam pelukannya lagi.
"lihat saja aku akan mengambil gadisku kembali."-batinnya.
Hening tidak ada yang bicara sepatah pun hanya suara angin malam yang menemani keheningan. bukan tanpa sebab mereka diam tapi kini mereka tengah mengatur emosi masing-masing.
"bagaimana kamu masuk?"tanya raisa memecahkan keheningan.
Arsan melirik Raisa sebentar. "pintu apartemen tidak dikunci sehingga aku langsung masuk aku khawatir dengan kalian berdua."jawabnya.
"bagaimana kamu tahu ada aku disini?"
Arsan menyentil dahi Raisa sehingga sang empu mengerang kesakitan.
"Aku baru sadar mempunyai adik bego banget motormu kan ada GPS."
"Oh iya lupa."
Arsan memutar bola matanya. "aku jadi nyesel dulu minta papa sama mama untuk membuatkan aku adik nyatanya bego gini."
Raisa terbengong bengong dengan ucapan Arsan yang tak lain kakak kandungnya sendiri. "aku juga nyesel punya Abang macem kamu."balasnya tak kalah sewot.
sedangkan Arsan tertawa melihat wajah adiknya yang sudah memerah karena kesal.
Arsan Andrian Rehandi adalah anak pertama dari Andrian Rehandi dan dia juga kakak kandung dari Raisa. tidak semua orang tahu bahwa Arsan adalah kakak kandungnya Raisa, hanya keluarganya saja yang tahu tentang Arsan. semenjak kejadian beberapa tahun lalu ketika dia masih kecil membuatnya tidak ingin dikenal dengan keluarga Rehandi dulu dia belum siap untuk itu semuanya.
Sedang asik berbicara mereka dibuat kaget dengan suara tangisan.
"Raisa kamu dimana hiks."mereka berdua saling berpandangan sebelum akhirnya menghampiri asal suara itu.
Raisa memeluknya. "kenapa bangun?"tanya Raisa.
Laura menggeleng Raisa menghela nafas membiarkan Laura tenang dahulu.
"ekhem Abang dicuekin ini?"Laura menatap Arsan dengan kesadaran yang masih setengah.
Namun sedetik kemudian dia langsung loncat ke pelukan Arsan. "abang kapan sampainya kok enggakga bilang Laura mau ke sini?gimana Belanda abang ketemu dengan kakakku tidak? Laura kangen banget."ucap beruntun Laura.
Arsan hanya terkekeh sambil mengeratkan pelukannya.
"Belanda enak. abang jarang ketemu dengan Ardan dia sedang sibuk dengan kerjaannya."jawab Arsan
"tapi lusa mereka datangkan?" Arsan mengangguk, Laura senang bukan main meski Eric tidak datang tapi tidak masalah yang penting keluarga kecilnya datang.
"Udah kali pelukannya gue berasa nyamuk."celetuk Raisa. mereka berdua tertawa tanpa memperdulikan raut wajah Raisa yang berubah cemberut.
"Raisa lapar."
"kalo lapar baru cari gue."
"mie instan aja iya." Laura langsung mengangguk cepat wajahnya berbinar tatapan matanya seolah sangat mendamba.
"Enggak usah pasang wajah kaya gitu, udah lo duduk aja gue buatin."
"abang buatin juga iya." Raisa hanya menatap dingin Arsan yang tengah cengengesan menatapnya.
beberapa menit kemudian Raisa datang dengan membawa tiga mangkuk mie, dia meletakkan dimeja.
"Makasih Raisa cantik."ucap Laura
Raisa memutar bola matanya malas lalu berkata. "Iya. udah makan itu."
"makasih adikku."ucap Arsan sambil mengambil mangkuknya, Raisa hanya berdehem saja.
"bang mau pulang atau nginap?"tanya Laura sambil memakan makanan yang dibuat oleh Raisa tadi.
"menurut kamu abang nginep atau tidak?"tanya balik Arsan
"gausahlah bang nyempetin ruangan aja."sahut Raisa dengan nada sewotnya.
Laura tertawa geli dengan ucapan Raisa barusan. Arsan menatap adiknya dengan raut wajah jengkelnya.
"halahkan kamu yang bikin sempit badan kaya gajah gitu."ejek Arsan
"Bilang apa?"
"GENDUT." Raisa melotot lalu memukuli Arsan dengan sendalnya sedangkan Laura sudah tertawa terbahak.
"ampun Sa ampun."rintih Arsan
"rasain ini biar tahu rasa usil bangat jadi orang rasain." Raisa seperti orang kesetanan memukul Arsan tanpa kasihan. Raisa tidak perduli salah Arsan sendiri sudah tahu wanita paling sensitif jika berhubungan dengan berat badan tapi Arsan malah meledeknya, Cari mati emang !!.
"Udah Raisa kasihan bang Arsan udah merah banget itu mukanya." Raisa menyudahi pukulannya dia menatap Arsan yang masih merintih. bodo amat pikirnya.
semenit kemudian mereka menyudahi perkelahiannya dengan syarat kalo Arsan harus mengajakny ke Mall bersama Laura besok, Arsan hanya bisa mengiyakan saja dari pada dia bonyok lagi.
"gila pukulannya sakit banget."keluh Arsan dengan wajah yang memelas
"siapa suruh abang ngatain aku gajah udah tahu cewe itu sensitif kalo bahas masalah berat badan."jawab raisa sewot
"Emang Lo cewek?"celetuk Arsan.
Raisa melotot galak lalu ia berkata.
"mau di pukul lagi?" Arsan langsung lompat dan memeluk tubuh Laura yang sejak tadi tertawa terus.
"Tolong lindungi abang Ra."Raisa memutar bola matanya malas. cihh dasar suka mencari kesempatan.
Raisa tersenyum tanpa disadari oleh Laura dia senang setidaknya Laura tertawa meski Raisa harus berlaga seperti bukan dirinya.
••••
Dentuman musik begitu kencang, kerlap-kerlip keindahan malam menyapa setiap manusia yang tengah asyik menari di atas Dancefloor. duduk dengan segelas wine ditangannya sambil sesekali menghisap sebatang rokok lalu menikmatinya, entah bagaimana dia bisa disini yang jelas sudah sangat lama dia baru masuk lagi ke tempat yang menurut orang tempat para pendosa.
Eric meneguk lagi wine yang dia pesan tadi entah sudah berapah gelas yang dia habiskan dia tidak perduli. dia hanya ingin minum sekarang, berharap semua permasalahan bisa dia lewati tanpa harus menyelesaikannya. Eric benci jika harus ribut dengan Laura harus berjauhan dengannya, Eric tidak suka saat dia melihat Laura menangis terlebih karenanya, dia benci saat dia membuat Laura kecewa tapi lagi-lagi dia bodoh terus saja mengulangi perbuatannya lagi.
.
"cukup bro. Lo bisa mabuk." Eric melirik sekilas kearah samping dia tidak perduli dengan ucapan seorang barusan.
"Gue bego banget iya Jack."
"emang."
"Gue cinta sama Laura tapi--
"Lo juga butuh Sarrah."selanya. Eric menatap Jack sahabatnya yang tengah menikmati rokoknya.
"Kita itu sama. Sama-sama b******k cuma gue belum pernah namanya selingkuh, Lo tahu kenapa selama ini gue enggak pernah serius?" Eric menggeleng.
"Karena gue tahu saat kita udah mulai hubungan serius berarti sudah siap komitmen dan gue belum siap berkomitmen, lebih baik seperti ini setidaknya gue enggak menyakiti pasangan gue. selingkuh mau itu karena dia yang buruk, Lo yang bosan atau alasan apapun itu tetap salah. Lo cinta Laura lo lepasin Sarrah, kalo lo enggak mau nyentuh Laura karena dia belum sepenuhnya hak lo gampang tinggal lo nikahin, gue liatnya Laura pasti mau. jangan egois mungkin sekarang lo belum ketahuan tapi esok kita enggak bisa jamin, saat itu tiba Lo harus siap dengan kemungkinan yang terjadi, misalnya kehilangan Laura." Eric merasa tertohok dengan ucapan Dion barusan, dia tahu dia egois tapi jauh dari lubuk hatinya ada sepercik perasaan untuk Sarrah bukan hanya sekedar nafsu. kurang b******k apalagi dia.
"Pikirkan baik-baik jangan sampai Lo nyesel."
"Gue cabut." Eric berdiri sepertinya dia harus menidurkan badannya dia benar-benar sudah pusing sekarang.
"Kemana lo?"
"Pulang." Dion mengangguk. Eric langsung pergi meninggalkan tempat itu, dia benar-benar butuh tidur.