kring kring kring.
suara alarm handphone berbunyi, entah sudah alarm ke berapa hari ini namun Selena masih enggan bangun dari tidurnya.
"Non, bangun.." bunyi ketukan dari balik pintu kamarnya membuat tidurnya sedikit terganggu.
semalam entah jam berapa Selena tidur, kamar juga terlihat cukup berantakan dengan banyak barang yang berserakan dan beberapa kaleng bir yang tergeletak di beberapa sudut lantai.
"Non, anda akan telat kalau tidak bangun sekarang.." teriak seseorang lagi sambil masih menggedor pintu agar Selena segera bangun dari tempat tidurnya.
"jam berapa Mbok..?" teriak Selena sambil melihat jam yang ada di sebelah meja tidurnya.
Selena bergegas saat melihat sudah pukul 06.45 itu artinya kurang 15 menit lagi gerbang sekolah akan di tutup.
"akhh aku telat!!" Selena bergegas mengambil handuk dan segera masuk ke kamar mandi untuk segera bersiap.
mendengar Selena sudah bangun. Mbok Sari, wanita yang mengurus Selena di rumah ini segera turun dari kamar dan menyiapkan sarapan untuknya.
Selena menyisir rambutnya asal, dia menata rambutnya dan mengoleskan lipbalm di atas bibirnya. matanya melihat cermin dan dia bisa melihat pantulan wajahnya yang sedikit berantakan.
apakah orang lain akan melihat garis kantung mata akibat dia menangis semalam? Selena segera mengambil sedikit foundation untuk menyamarkan kantung mata di wajahnya.
dia mengambil tas dan beberapa buku di tangannya segera turun sebelum jam masuk sekolah di mulai.
"Mbok, pak Supri mana?" Selena sedikit berlari dan mengambil sepatu dan memakainya segera.
"sudah nunggu di mobil Non."
Selena mengangguk dan sedikit berlari keluar rumah.
"Non, sarapan dulu.." ucap mbok Sari.
"gak sempet Mbok, sudah telat." Selena mengetuk jam di pergelangan tangannya.
"ini bawa, makan di mobil juga bisa. ada sup juga jangan lupa di makan." Mbok Sari menyodorkan bekal dan Selena memasukannya kedalam tasnya.
dia melambaikan tangannya pada mbok Sari dan meminta pak Supri untuk segera berangkat ke sekolah.
sesuai dugaannya, Selena benar-benar telat masuk, terlihat pak Sony guru super killer sudah menunggu di depan gerbang sekolah. menanti murid yang telat datang dan menghukumnya dengan tanpa ampun.
"Pak, Selena turun disini aja ya." ucapnya pada pak Supri.
"kenapa Non? kan ini belum sampai di depan gerbang sekolah."
"gak papa, bapak gak lihat itu banyak murid telat yang di hukum. saya gak mau nasib saya seperti itu ya Pak, jadi turun disini aja"
"terus Non Selena mau lewat mana?"
"udah tenang aja Pak, aman kok."
pak Supri mengangguk dan akhirnya mobilnya berhenti cukup jauh dari gerbang sekolah.
Selena keluar dari mobil, dia berjalan sedikit memutar menuju belakang sekolah. kepalanya sedikit menengok ke kanan dan ke kiri melihat situasi apakah aman untuknya memanjat dinding dan masuk kedalam sekolah tanpa melalui gerbang depan.
karena dia cukup malas dengan hukuman yang akan di berikan padanya nanti.
saat hendak memanjat tiba-tiba terdengar suara deru motor yang membuatnya terpaksa berpura-pura berjalan pelan.
byuurrr
"akhhhhh! Hei!!" teriak Selena saat motor itu tiba-tiba lewat genangan yang berada di sampingnya, membuat jaket yang dia pakai basah kuyup karena cipratan air mengenainya.
"sialan!!" kutuk Selena, pria itu memakai seragam seperti dirinya, namun sepertinya dia tidak menyadari bahwa dia sudah membuat orang lain marah karena ulahnya.
"berhenti kamu!! Hey!!" teriak Selena lagi namun pria itu malah menjalankan motornya tanpa menoleh kebelakang.
"Selenaa Gabriella Margareth? kamu telat di hari pertama?" ucap seseorang dari belakang yang membuatnya menghembuskan nafasnya.
Selena menoleh, melihat pak Supri yang sudah tersenyum ke arahnya.
"sedang apa kamu disini, ayo masuk dan jalani hukuman karena kamu terlambat masuk sekolah." ucapnya lagi membuatnya mau tidak mau mengikuti pak Supri dari belakang menuju lapangan sekolah dan menerima hukuman.
ada sekitar 6 anak yang terlambat, termasuk dirinya. namun di antara mereka tidak ada satupun pria yang sedang Selena cari.
"Selena! siapa yang kamu cari? cepat ambil posisi squat jump seperti yang lainnya. kalian ini bagaimana, baru memasuki semester awal dan kalian sudah terlambat masuk sekolah pertama kali setelah liburan?"
semuanya mengambil sikap squat jump dan menunggu aba-aba dari pak Supri.
"sepertinya ada satu murid yang kabur Pak."
"siapa maksud kamu?" pak Supri yang hendak berhitung segera menoleh ke arah Selena.
"tadi saya lihat Devano pak, dia juga telat masuk sekolah kok tapi kenapa dia tidak di hukum?"
semua murid menoleh ke arah Selena, mereka kaget saat mendengar nama Devano terucap dari bibirnya.
"dari tadi bapak tidak melihat Devano telat masuk gerbang Selena, apa kamu mencoba mengulur waktu?"
Selena menggeleng cepat.
"tidak Pak, lihat bajuku yang kotor ini. semua gara-gara dia yang mengendarai motor tanpa melihat sekitar sehingga bajuku menjadi seperti ini, aku melihatnya telat kok Pak."
"apa benar yang di katakan Selena?" tanya pak Supri pada murid yang lain.
mereka semua menggelengkan kepalanya.
"kami tidak melihatnya sama sekali Pak."
Selena memandang ragu ke arah mereka.
namun tidak memiliki bukti karena memang Devano tidak ada disini.
"sudah, cepat selesaikan dan masuk ke kelas untuk memulai pelajaran."
"baik Pak."
pak Supri menghitung sampai ke urutan 20, tanpa sengaja Selena melihat Devano berjalan dari lorong belakang menuju ke kelasnya dengan langkah yang cukup santai.
bahkan saat melewati lapangan yang berisi siswa siswa telat membuatnya tidak menoleh sedikitpun dan tetap berjalan dengan penuh percaya diri.
"Devano..?" panggil pak Supri.
Selena tersenyum menang, akhirnya apa yang dia ucapkan tadi tidaklah salah.
"kamu telat juga? sini kamu.." panggil pak Supri.
"ohhh gak Pak, saya dari toilet tadi." ucapnya spontan.
"yang bener? tadi katanya ada yang lihat kamu juga telat datang ke sekolah.." tatap pak Supri penuh selidik.
"anda bisa bertanya pada bu Nadia Pak, sebelum jam pelajaran beliau saya sudah minta izin mau ke kamar mandi sebentar. lagipula saya tidak bawa tas Pak, tas saya ada di kelas, bagaimana bisa saya telat kalau tas saya sudah ada di sana."
pak Supri mengangguk.
"yasudah, kembali ke kelas." Devano mengangguk dan berjalan menuju kelasnya.
"kamu pasti salah lihat Selena.." ucap pak Supri pada Selena.
"baiklah, tanda tangan di buku sana dan kalian bisa masuk ke kelas. kalau sampai besok nama kalian berada di daftar siswa telat. kalian tidak hanya di hukum squat jump namun juga akan di hukum membersihkan toilet sekolah, mengerti?"
"mengerti Pak."
"baiklah, masuk ke kelas kalian masing-masing."
semua mengambil tas punggung mereka dan berjalan menuju kelas mereka.
*****
hari yang cukup bagus merusak mood Selena, di hari memasuki semester pertama kelas 3 SMA membuatnya harus melakukan olahraga squat jump di pagi hari.
"Selena.. uhh kenapa kamu telat dan juga banyak keringat?" Rena teman bangku sekaligus sahabat Selena sedari kecil terkejut melihat penampilan Selena yang cukup berantakan.
"awal hari yang cukup menyebalkan." ucapnya setengah berbisik. karena guru sudah masuk kelas dan hendak memulai pelajarannya.
tringgggg
bunyi nyaring bel sekolah membuat beberapa siswa dan siswi berhamburan keluar menuju kantin untuk mengisi perut mereka.
"jadi, kamu ketangkap pak Supri saat hendak masuk sekolah melalui tembok belakang?"
Selena mengangguk malas.
"terus baju kamu, kenapa kotor begini?" walaupun tidak terlihat namun dengan jarak yang cukup dekat membuat Rena bisa melihat sedikit noda di baju dan rok Selena.
belum sempat menjawab pertanyaan Rena, Selena sudah melihat Devano berjalan melewatinya dan duduk di kursi kosong yang tidak jauh darinya.
"Devano emang ganteng gak ada obat sih, apalagi kalau di lihat dari jarak sedekat ini."
"gara-gara dia.." Selena berjalan menjauh dari bersiap mengambil makanan di meja yang berjejer di depannya.
"hah? kamu ngomong apa Selena?" Rena mengikuti Selena dari belakang dan mengikuti Selena mengambil makanan dan duduk tidak jauh dari Devano dan teman-temannya duduk.
Selena hanya mengaduk-aduk makanannya, sesekali dia menyuapkan makanan kedalam mulutnya dengan kasar namun tatapan wajahnya menuju satu orang yang membuat harinya buruk.
"gak habis fikir, apa yang membuat mereka tergila-gila padanya." ucapnya sambil melihat sekeliling dengan banyak perempuan memandang Devano dengan tatapan memuja, termasuk Rena sahabatnya.
"apa tidak sedikitpun dia minta maaf. manusia tidak punya empati dan perasaan namun segitu gilanya mereka memujanya!" dengus Selena.
"kamu kenapa sih Selena? daritadi terlihat mood kacau."
"apa yang membuat kamu menyukai pria itu? aku bahkan tidak bisa melihat hal baik dari dirinya sama sekali."
Rena mengernyitkan dahinya.
"maksud kamu Devano?"
Selena mengangguk
"wow! kenapa kamu bertanya seperti itu Selena? 2 tahun ini kamu tidak pernah tertarik dengan Devano namun kenapa kamu sekarang bertanya? bukankah hal seprti ini memang sudah lama terjadi saat kita memasuki sekolah ini?"
"aku cukup membencinya?"
"apa dia melakukan sesuatu? tanya Rena kaget.
"dia yang membuat hariku buruk hari ini."
"jadi..?" Rena paham dengan pembicaraan Selena.
"ya, aku berdiri cukup jauh di trotoar dan dia dengan sengaja melajukan motornya dan akhirnya genangan air itu menghujaniku."
"mungkin dia tidak sengaja Selena, aku yakin Devano cukup gentle dengan meminta maaf saat dia salah. seperti saat bermain basket dia tanpa sengaja mengenai cewe kelas 1 dan dia membawanya ke uks untuk di obati."
"cih! itu karena disana ramai, coba kalau sepi. dia tidak sebaik itu Renata.."
"namun dia tetap tampan.."
"terserahlah! aku mau kembali ke kelas." ucap Selena meninggalkan Rena sendirian di meja makan kantin.
"Selena tunggu!!" teriaknnya dengan berlari namun tetap sesekali menoleh ke belakang untuk melihat Devano.