"Kenapa Lo bawa body guard? Takut iri ya kalau kita lagi uwu-uwuan?"
Rossi menggelayut manja di lengan Beno. Terus terang saja Beno merasa risih dengan sikap rossi yang seperti ini. Tidak biasa biasanya tunangannya ini bersikap seperti itu.
"Kebetulan hari ini langit sudah menyelesaikan tugasnya dan sudah minta izin kok sama pak Wijaya. Tidak apa-apa kan kalau dia ikut?"
"Oh, tentu saja tidak apa-apa. Siapa tahu kalau ada apa pawangnya, Lo bisa lebih terkendali."
Adis menyunggingkan senyum terpaksa. Langit tahu sekarang dia sedang geram. Laki-laki itu sengaja meraih tangan adis dan menggenggamnya. Berusaha untuk memberi dia penguatan supaya dia tidak lagi nelangsa melihat persiapan pertunangan Beno dan rossi.
Beno melirik sebentar tangan adis dan langit yang saling bertaut. Ada rasa kesal di hatinya entah kenapa. Mereka baru saja saling mengenal, kenapa bisa-bisanya saling bergandengan tangan?
"Kenapa kalian malah membahas hal yang tidak penting . Sudah, ayo kita masuk!" ajak Beno yang sebenarnya muak melihat adis dan langit yang tampak lebih mesra darinya.
"Ayo, Sayang. Oh iya, Dena. Ini bawain tas gue. Ini tas mahal, isinya juga barang-barang mewah. Jadi, jaga betul-betul ya?"
Rossi melemparkan tas itu ke arah Adis, lalu segera menggandeng tangan Beno dan mengajaknya masuk ke dalam.
"Iiiih … kalau saja aku enggak butuh pekerjaan ini, aku udah resign dan bejek-bejek wanita sok berkuasa itu."
Adi mengepalkan tangan kirinya dengan kesal. Dia mengatupkan bibirnya sampai terdengar bunyi gemeletuk.
"Hei, sabar. Jangan marah-marah. Nanti nggak ada bedanya kamu sama dia. Kalau kamu ikut marah-marah, berarti sama sama mak lampir. Mau satu spesies sama dia?"
Adis menggeleng kuat dengan cepat.
"Ya udah, kalau begitu santuy aja. Kalau mau membalas dia, balas dengan cara yang elegan. Nggak usah marah-marah dan gak usah teriak-teriak. Norak!"
Adis langsung melengkungkan senyumnya. Lalu, kembali menatap langit dengan wajah yang ceria.
"Pinter banget sih kau … nanti kita cari bahan untuk membalasnya. Yuk!"
Adis tersenyum, lalu mereka berdua segera menyusul Beno dan Rossi di dalam kantor EO yang mereka pilih. Entah apa fungsi Adis di situ. Dia pun tak tahu, tidak mungkin kan hanya untuk membawakan tas itu?
Setelah berbasa-basi sebentar, mereka langsung bercakap-cakap ke intinya. Adis dan Langit duduk di sofa terpisah. Karena memang mereka tidak punya kepentingan, mereka asik ngobrol sendiri.
"Sayang, undangan yang ini sweet ya?"
Rossi menunjuk undangan warna pink.
"Bagus."
"Oh iya, Dena. Kamu sini dong?"
Adis langsung menunjuk dirinya sendiri sambil mengernyitkan dahi sok linglung.
"Iya, kamu. Sini!"
Adis membuang nafas kasar. Enggan sekali sebenarnya, tapi apa boleh buat.
"Ada apa?" tanyanya setelah mereka sampai di samping Rossi.
"Sini dong duduk sini."
Rossi menepuk tempat kosong di sampingnya, minta adis untuk duduk. Adik pun segera duduk meskipun sebenarnya amat sangat malas duduk di samping cewek yang dia anggap norak karena sengaja pamer pamer kalau dia sudah dilamar.
"Nah,mbak Netty. Ini namanya Dena. Dia sekertaris pribadi Mas Wijaya. Jadi dia yang akan ikut andil dalam mengurus semuanya. Jadi, semua ini akan aku serahkan sama dia. Dia yang akan menjadi nara hubung kita. Ya ... mbak netty tahu sendiri kan ya, kalau kita berdua ini sangat sibuk. Jadi dia yang akan Wira Wiri nanti."
Seketika, semua yang ada di ruangan itu tercengang, kecuali mbak Netty tentunya. Adis, Beno dan juga Langit sempat melongo dengan keputusan Rossi.
"Sebentar deh. Kok bisa saya? Kenapa saya?"
Tentu saja Adis langsung memprotesnya. Tidak ada angin dan tidak ada hujan, kenapa tiba-tiba dia diberi amanah sebagai penanggung jawab. Apalagi penanggung jawab acara tunangan Beno.
"Nggak apa-apa kan? Kamu kan asisten pribadi calon suami saya. Jadi nggak masalah kan kalau kamu bantu kita?"
"Maaf mbak. Saya nggak bisa. Pekerjaan saya sudah banyak. Jadi saya nggak bisa mengerjakan hal ini. Mohon maaf."
Adis menelungkupkan kedua tangannya di depan d**a sebagai tanda permohonan maaf.
"Sayang, betul apa kata Dena. Pekerjaan dia banyak. Dia harus mengurus banyak urusan kantor. Jadi untuk masalah ini kita serahkan ke orang lain atau langsung kita saja yang turun tangan di sela-sela kesibukan kita."
"Sayang, kamu bilang dia cekatan dan solutif kan. Jadi kita butuh sosok seperti dia untuk membuat acara kita perfect. We need her. Nggak masalah kan kalau kita minta bantuan dia?"
"Tapi, Sayang. Dia_"
"Sayang, percaya sama aku. Semua yang aku lakukan ini, demi kebaikan kita." Rossi menggenggam tangan Beno, sambil mengulum senyum termanisnya.
Beno akhirnya tersenyum. Dia seperti lelaki yang baru saja kena pelet. Langsung luluh begitu saja.
"Ya udah, kalau memang menurut kamu itu yang terbaik. Aku ikut kamu aja."
Sontak, darah Adis seketika mendidih. Bagaimana bisa Beno mengambil keputusan tanpa mananyakan ketersediaan dari dirinya dulu?
"Maaf, saya harus bicara sama dia."
Adis meraih lengan Beno dengan kasar, lalu menarik lengan itu, dan mengajaknya ke luar. Beno sempat protes, tetapi adis tidak peduli. Tetap membawa beno keluar ruangan secepat mungkin.
Tentu saja Rossi tercengang. Berani-beraninya adis bersikap seperti itu sama bosnya sendiri. Ini aneh dan mencurigakan. Diam-diam, dia mengikuti mereka. Sementara langit, hanya menepuk jidatnya.
'Bakal perang dunia ketiga ini,' batin langit.
Setelah mereka berada di pinggir jalan depan kantor EO itu, Adis melepaskan tangan Beno dengan kasar. Ditatapnya mantan kekasihnya itu dengan tatapan penuh rasa amarah.
"Beno, otak lo di mana sih. Apa sudah sekritis ini naluri lo. Bisa-bisanya Lo menyetujui kalau gue menjadi penanggung jawab acara tunangan Lo. Otak lo di mana?"
Adis berteriak kencang dengan mata yang basah. Kali ini dia benar-benar tidak bisa menahan emosinya. Baginya, Beno benar sudah keterlaluan.
Beno terdiam. Dia bisa merasakan rasa sakit itu. Dia bisa merasakan kekecewaan yang dirasakan oleh adis. Lewat tatapan mata itu, seolah dia bisa menelusup ke dalam diri Adis dan merasakan semuanya.
"Maaf. Apa yang dibilang Rossi benar. Aku hanya bisa mempercayakan ini sama kamu."
"Oke. Gue bakal resign dari kantor Lo. Nggak peduli besok gue mau makan apa. Gue nggak bakalan kuat mengurus semua yang berhubungan dengan pertunangan lo. Lo tahu, gue masih sangat sayang sama lo. Lo juga tahu, bahwa ini menyakitkan buat gue. Tapi tanpa perasaan Lo meminta gue mengurusi semuanya. Fine. Mulai hari ini gue bener-bener resign dari kantor lo. Supaya calon istri kamu itu nggak semena-mena lagi sama gue," ucap Adis penuh emosional. Air mata sudah jatuh ke pipinya secara keroyokan.
Tiba-tiba, Beno meraih tubuh Adis, dan menenggelamkan wanita itu ke dalam pelukannya. Sungguh, dia benar-benar tidak kuat melihat tangis Adis. Dia tidak kuat melihat wanita yang sampai saat ini masih disayanginya itu terluka begitu dalam.
Adis memejamkan matanya. Air mata semakin deras mengalir. Ada rasa bahagia saat dia bisa kembali tenggelam dalam pelukan Beno. Namun, ini tak mengubah apapun, karena laki-laki itu sebentar lagi akan sah menjadi milik orang lain. Karena laki-laki itu, mungkin hanya merasa bersalah saja untuk sejenak.
"Maafin aku," ucap Beno lirih.
"Terlalu banyak salah Lo, Beno."
Di balik pohon, tak jauh dari mereka berdua, Rossi memerosotkan tubuhnya yang bersandar pada pohon besar itu. Air mata mengalir di kedua pipinya. Ternyata inilah faktanya. Ternyata inilah yang membuat dirinya curiga selama ini. Rossi terisak, dan menggigit bibirnya supaya tangis itu tak makin menjadi.