Menjadi tempat pelarian itu sakit. Tak ada yang mau. Namun, tidak bagi Langit. Dia tidak keberatan untuk menjadi tempat pelarian, menjadi tempat singgah, dan tempat untuk berhenti sejenak bagi Adis.
Karena baginya, kebahagiaan Adis yang utama. Kebahagiaannya sendiri, biarlah nanti dia yang atur. Andai saja Adis mau, dia tidak akan keberatan.
Entah kenapa rasanya sakit saat melihat kesedihan menggantung di matanya. Dia selalu ceria, jahil, dan bertingkah aneh dan lucu. Namun ketika dia bersedih, keceriaan itu benar-benar menghilang dari dirinya.
Langit sudah berada di mobil. Dia dalam perjalanan menuju ke tempat dimana pertunangan Beno dan Rossi digelar. Dia bertanya-tanya, apa yang dulu pernah Beno lakukan kepada Adis sehingga adis bisa sayang itu dan bisa sesakit itu saat ditinggal pergi? Apakah masih ada tempat di hatin Adis untuk dirinya? Apakah hatinya sudah penuh akan Beno seorang?
10 menit kemudian dia sudah sampai di tempat acara. Beno emang sengaja meminta dia untuk datang lebih awal. Dia ingin ditemani di detik-detik menuju pertunangannya. Langit langsung menuju tempat di mana Beno berada. Dia berada di sebuah ruangan privat setelah di make-up tipis-tipis.
"Hai Bro! Kau tampak tegang!"
Langit menepuk bahunya pelan. Dia tersenyum lalu duduk disamping Beno yang sepertinya sedang bimbang.
"Eh, Langit. Ya, bukan bimbang sih tapi deg-degan. Karena hari ini aku akan resmi bertunangan. Doain semoga lancar ya?"
"Tentu. Oh iya, dapat salam dari Adis katanya semoga acaranya lancar."
"Dia nggak bisa datang?"
"Ya kali … kalau dia datang, gedung ini akan banjir air mata."
"Dia masih sedih?"
"Menurut L?"
Beno membuka kakinya lebar, lalu menunduk sambil mengaitkan kedua tangannya.
"Dia sudah berkali-kali mengecewakanku. Mungkin lebih baik aku mempercepat acara pertunangan dan mempercepat acara pernikahanku. Supaya aku benar-benar bisa lupa dan tidak lagi mengharapkan wanita penghianat itu."
Beno masih menatap ke bawah. Ada kesedihan yang menggantung di sana. Seolah dia adalah satu-satunya makhluk yang menderita.
"Jangan sebut dia penghianat. Dia belum tentu seperti apa yang kamu pikirkan. Kamu belum tahu kebenarannya juga kan? Kamu hanya berasumsi Dan menganggap itu yang terjadi."
"Jangan terus-terusan membela dia, Ngit. Aku yang lebih lama mengenalnya dan tahu dia seperti apa."
"Kalau kamu tahu dia seperti apa, pasti kamu tidak akan menjudge dia seperti itu? Ah, sudahlah. Jangan sampai kita bertengkar di acara pertunangan kamu. Tapi … ada satu hal yang ingin aku bicarakan sama kamu tentang Adis."
"Apa?"
"Boleh aku mendekatinya?"
Jleb. Hatinya terasa seperti tertusuk. Rasanya sakit mendengar pengakuan langit. Entahlah kenapa masih sakit. Padahal dia sudah berusaha untuk melepas, melepaskan dia dari seluruh hatinya.
"Mendekatinya? Kenapa kamu izin padaku? Aku bukan siapa-siapanya. Dia berhak didekati oleh siapapun termasuk kamu, tapi satu pesanku. Hati-hati jika mau dekat sama seseorang. Ketahui dulu seperti apa dia. Supaya kamu tidak menyesal nanti."
Beno menepuk pundak langit. Hanya Beno dan Tuhan yang tahu, tepukan itu diiringi oleh rasa sakit. Andai saja Adis tidak pernah menghianatinya, tentu yang akan menyodorkan jari di acara pertunangan nanti adalah Adis, bukan orang lain.
"Tentu Bro. Aku yakin sama dia. Ya udah, kita ke depan ya? Sepertinya sebentar lagi acara akan dimulai."
"Ayo!"
Dua laki-laki yang menyimpan satu nama yang sama, sedang berjalan beriringan menuju ke ruangan di mana acara pertunangan diselenggarakan.
***
Sudah tahu bikin sakit, tetapi kenapa tetap dilakukan? Itulah wanita yang memiliki jiwa kepo yang tinggi. Seperti apa yang dilakukan oleh Adis sekarang.
Inilah yang menjadi kebiasaan seorang Adis Adena. Dia suka stalk sosial media Rossi. Karena Rossi bak seorang selebgram yang suka memposting semua-muanya di sosial media. Sampai statusnya titik-titik kayak selebgram beneran.
Dan bodohnya, Adis adalah stalker setianya. Tiap hari tak absen dia menengok akun itu. Seperti saat ini. Dia sengaja ingin melihat bagaimana jalannya pertunangan mereka tadi.
Terdapat foto Beno dan Rossi yang saling menunjukkan jarinya yang sudah tak kosong lagi. Mereka berdua tampak tersenyum lebar. Kebahagiaan terpancar dari wajah Beno.
Di beberapa foto dia tampak tertawa, dan mengecup kening Rossi. Dari luar, mantan pacarnya itu benar-benar terlihat begitu bahagia. Tuh kan … setiap kebersamaan mereka ada selalu merasakan sakit, tetapi dia selalu melakukannya. Dasar wanita. Selalu suka mencari penyakit sendiri.
'O.K. sekarang kamu sudah bahagia dan tidak ingat aku lagi. Karena kamu sudah bahagia dan tidak ingat dengan mimpi-mimpi kamu yang dulu. Mungkin mimpi kamu sudah berubah. Semoga aku bisa move on seperti kamu yang sudah tidak ingat aku lagi. Semoga kamu bahagia dengan Rossi, meskipun sampai saat ini aku masih yakin bawa perempuan yang sekarang ada di samping kamu bukan perempuan yang baik,' ucap Adis dalam hatinya.
"Adiiis. Are you O.K? Lo nggak gantung diri di dalam kan?"
Adis buru-buru menutup handphonenya. Bener-bener deh temennya satu itu. Minta di slebeeet mulutnya yang asal membuka. Adis buru-buru membuka pintunya, siap-siap menyemprot sahabatnya yang ngeselin itu. Namun, dia langsung mengurungkan niatnya saat melihat Nana membawa telur gulung 2 plastik penuh.
Adis langsung merebut satu plastik telur gulung dari tangan Nana.
"Untung lo bawa makanan. Kalau nggak, udah gue gibeng Lo."
"Orang yang sedang patah hati memang selalu memiliki kekuatan yang lebih, Adis. Tapi tidak seharusnya kamu melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Tenangkan diri dulu. Seplastik telur gulung ini mungkin bisa meredamkan patah hati yang terlalu dalam itu."
Adis langsung menoyor kepala Nana yang membuat perempuan itu mengaduh.
"Oe, bar-bar banget sih Lo."
Nana menggosok-gosokkan kepalanya lalu dia segera duduk di tempat favorit mereka, di teras kos.
Mereka berdua duduk berdampingan di sana sambil menikmati telur yang dibeli di abang-abang yang tidak jauh dari kos mereka.
"Hmmm … Aku nggak nangis. Lihat nih!" Adis membuka matanya lebar-lebar. Memang sih, sekarang ini dia memang tidak menangis, tetapi terlihat jelas kalau matanya sekarang sedang sembab. Itu artinya dia baru menangis beberapa menit yang lalu.
"Ya elah, mata sembab bagitu. Oh ya, ada satu pertanyaan penting buat Lo."
"Apa?"
"Akhir-akhir ini, gue lihat lo dekat sama Pak Langit. Lo nggak mencoba untuk menjadikan dia sebagai tempat pelarian kan?"
"Hmmm … tentu saja tidak lah. Gue sama dia bagaikan kucing dan tikus. Setiap hari selalu ribut tiada jeda. Bagaimana bisa gue jadiin dia sebagai pelarian. Gue deket sama dia karena sekarang dia bos gue. Jadi nggak masalah kan kalau aku dekat? Kenapa? Kamu cemburu ya? Kamu suka sama langit yang tidak bisa menurunkan uang dengan hujan itu?"
Seperti biasa, ketika sedang curiga, adis selalu memandang lawan bicaranya dengan pandangan menyelidik.
"Ih apaan sih kamu. Ya enggaklah. Aku sadar diri siapa diriku, nggak mungkinlah Aku jatuh cinta sama atasan sendiri. Ngaco! Udah di makan telur gulungnya. Dalam 10 menit nggak habis aku ambil lagi."
Nana langsung melahap satu tusuk telur gulung untuk menghilangkan rasa groginya. Dia tidak mau kalau adis sampai tahu bahwa dia sudah menyukai langit sejak awal dia berada di kantor itu. Bagi Nana, Dia adalah atasan yang kadang tidak menempatkan diri sebagai atasan di depan bawahannya. Dia merangkul semua orang yang berada dibawah divisinya, dia anggap sebagai saudara atau teman mungkin.
Suatu hari, Nana pernah bermasalah dengan laporannya. Dia harus lembur untuk menyelesaikan hari itu juga. Saat itu, dengan sabar dan telaten, Langit membantu dan menemani Nana sampai selesai. Sejak saat itu, dia baper dan mulai suka sama langit sampai saat ini.
"Idih, bintitan Lo kalau mau ngambil lagi apa yang sudah dikasih."
"Makanya kamu jangan mengambil lagi apa yang udah kamu kasih ke Rossi. Relakan saja dia supaya kamu nggak bintitan."
"Ish, ngelantur banget sih Lo. Pertama, Beno itu bukan barang yang bisa di kasih kasih. Kedua, gue nggak pernah memberikan dia kepada siapapun. Dia sendiri yang pergi dan memilih perempuan matre itu. Mungkin mata Beno memang udah katarak, tidak bisa melihat mana yang tulus dan mana yang modus."
Adis menusuk-nusuk kan lidi yang sudah tak berpenghuni itu ke plastik yang dia bawa, sehingga plastiknya berlubang semua.
"Kalau memang nggak mau jangan dianiaya plastiknya. Siniin!"
Nana merebut telur gulung Adis yang masih sisa beberapa. Sementara milik Nana sudah ludes terlebih dahulu.
"Woe, belum abis."
Adis kembali merebut makanannya. Mereka berdua memang begitu, suka berebut makanan yang membuat persahabatan mereka menjadi seru. Kalau salah satu tidak ada, pasti rasanya rindu karena persahabatan mereka yang seru.
"Na, kalau suatu saat lo lihat si mak lampir itu datang ke kantor, kasih tahu gue ya?"
"Ngapain. Tar Lo nangeeeeeees."
"Nggak usah ngeledek deh. Pokoknya kalau dia ke kantor, kasih tahu gue. Gue bakal mencari bukti tentang materi gue yang tertukar. Langit yang menjadi bukti di kantor dan gue bakalan cari bukti di luar kantor. Gue yakin si mak Lampir itu tuh yang ada di balik ini semua. Nggak mungkin kan materi itu jalan sendiri Ke Zoyyas. Yang jelas ini ada kongkalikong banyak orang. Gue harus selidikin. Paling tidak gue harus membersihkan nama gue sendiri. Mengenaskan banget dipecat secara tidak hormat karena penghianatan."
Lagi Dan lagi, adis menusuk-nusukkan lidi itu ke plastik yang tak bersalah. Nana malah melihat plastik itu dengan raut muka kasihan.
"Kasihan banget ya."
"Hidup gue memang begini. Emang minta dikasihani. Kalau begitu nanti belikan aku nasi pecel. Kamu kasihan kan sama aku?"
"Aku kasihan sama plastik yang tidak bersalah itu. Dari tadi kamu tusuk-tusuk. Kamu Pikir nggak sakit ditusuk berulang kali seperti itu. Iya meskipun nusuknya enggak dari belakang bukan berarti enggak sakit."
Nana pura-pura marah dan meninggalkan Adis yang masih terbengong.
"Lhah … dia curhat atau bagaimana sih. Gue yang tersakiti kenapa dia yang sedih?"