"Beno …" ucap Adis dengan bibir bergetar.
"Kenapa kamu enggak menerima keadaan saja? Jangan mempermalukan diri dengan melakukan hal memalukan seperti ini. Aku malu sudah memiliki mantan sepertimu."
Beno menatap Adis dengan tatapan tajam. Air mata Adis langsung menetes ke pipinya. Tangan itu, tangan yang dulu pernah menggenggam tangannya dan selalu memberi dia kenyamanan, sekarang sanggup menamparnya.
"Kau akan menyesal karena telah menamparku. Kau akan menyesal karena lebih memilih dia daripada aku. Kau akan menyesal. Aku punya bukti perselingkuhan pacarmu ini. Kau mau lihat!" Adis berusaha untuk membuka handphone-nya, tetapi Beno merebut handphone itu dan membantingnya dengan sangat keras hingga layar handphone itu retak parah.
Adis menatap handphonnya yang telah hancur dengan mata nanar. Entah apa yang merasuki Beno hingga dia bersikap seperti orang kesetanan seperti itu. Handphone itu … satu-satunya barang berharganya setelah mobil. Itu satu-satunya handphone yang dia miliki, sekarang dihancurkan begitu saja tanpa perasaan.
Adis mengalihkan pandangannya dari handphone itu, dia mengatupkan bibirnya hingga menimbulkan bunyi gemeletuk. Matanya balik menatap tajam laki-laki yang telah menamparnya dan membanting handphonenya.
"Kenapa? Kenapa kau memandangku seperti itu? Tak terima? Kau tahu, Aku tidak akan pernah menyesal menampakkan perempuan menjijikkan seperti kamu, yang tega melakukan segala cara untuk mendapatkan uang. Jadi tidak berlebihan kan jika aku menyebut kamu perempuan murahan?"
Plak … plak …
Kata orang, manusia yang sedang emosi memiliki kekuatan lebih. Seperti adis saat ini. Dia mampu menampar Beno dengan sangat keras dua kali sampai laki-laki itu hampir terhuyung. Sementara Rossi, dia hanya bisa membuka mulutnya lebar-lebar lalu menutupnya dengan kedua tangan.
"Kau tidak berhak menghakimi aku sedikitpun. Kamu tidak tahu sama sekali apa yang sebenarnya terjadi. Kamu salah orang dan aku pasti kan, kamu akan menyesal. Saat semuanya terkuak nanti, jangan harap aku bisa memaafkan kamu! Mulai detik ini, aku tak sudi menempatkan laki-laki sepertimu di dalam hatiku, tak akan lagi. Bagiku saat ini kau lebih menjijikan dari belatung! Kau persis orang kesetanan, Beno."
Adis berteriak kencang tepat di muka Beno. Lalu, Dia segera mengambil handphonenya yang sudah pasti tak bisa dipakai lagi. Wanita itu berjalan cepat setengah berlari menuju ke mobilnya.
Air mata yang tadi tertahan, kini meluncur dengan bebas ke pipinya. Kenapa selama ini dia begitu bodoh. Kenapa dia tetap mengharapkan orang yang jelas-jelas sudah tidak menyayangi dia lagi. Kurang bodoh apa Adis. Kenapa dia masih berharap padahal sudah jelas-jelas dibuang dan diinjak-injak.
"Mulai sekarang, tak ada lagi nama Beno Wijaya di dalam hatiku. Mulai sekarang, laki-laki itu masuk dalam daftar laki-laki yang harus aku hindari. Mulai sekarang laki-laki itu masuk dalam daftar orang yang aku benci. Beno b*****h, busuk, pengecut!"
Adis berteriak, lalu memukul-mukulkan tangannya ke kemudi yang ada di hadapannya. Adis mulai terisak. Dia mengangkat kedua kakinya dan memeluk kedua lututnya. Dia menenggelamkannya wajahnya di atas lutut itu. Dia biarkan air mata mengalir dengan deras. Dia biarkan air mata membasahi pipinya. Dia biarkan air mata membasuh hatinya yang bebal, supaya nama laki-laki itu segera luruh dari sana. Tak ada lagi tempat bagi orang yang sudah menyia-nyiakan, tak ada lagi tempat bagi orang yang sudah merendahkan.
***
Adis membuat catatan-catatan kecil di sebuah kertas. Beno b******k, Beno menjijikkan, Beno pengecut, Beno jahat, Beno tak punya hati, Beno mengerikan, Beno bodoh, Beno tak layak dicintai. Setiap satu kertas berisi satu kaliamat. Dia menempelkan kertas warna-warni itu di dinding kamarnya bertebaran.
Dia menulisnya penuh emosi. Biar. Biarkan saja ada semua lakukan apa yang dia mau. Mungkin ini caranya agar dia tidak lagi menjadi wanita bodoh yang terus-terusan mengharapkan orang yang jelas-jelas tidak lagi mengharapkannya.
Dia sudah tidak peduli lagi meskipun Beno Diporotin sama Rossi. Dia sudah tidak peduli lagi meskipun hidup laki-laki itu berantakan nantinya. Dia juga sudah tidak peduli lagi meskipun dia diselingkuhin. Masa bodo tentang dia.
Ya, itulah yang adis katakan dalam hatinya. Entah itu hanya sesaat atau berlangsung selamanya.
"Adis … kau baik-baik saja?"
Tiba-tiba saja langit muncul di depan pintu kamar Adis dengan nafas ngos-ngosan. Dia baru saja pulang dan mampir ke toko pakaian. Tari mengatakan kalau Adis menelepon dan mengatakan kalau dia tidak bisa kembali lagi ke toko pakaian. Tari bilang, kalau suara Adis serak seperti orang yang baru saja menangis.
Itulah kenapa langit mengendarai mobilnya dengan sangat kencang. Dia ingin tahu keadaan adis dan ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Adis yang saat itu sedang sibuk menempel tempelkan kertas, langsung menoleh ke arah sumber suara.
Dia sudah tidak menangis lagi, tetapi matanya masih sembab. Entahlah, sejak kembali bertemu dengan Beno, sering sekali mata Adis sembab. Sudah tahu Beno selalu menorehkan luka, bisa-bisanya dia masih terus berharap.
"Langiiit. Ngapain kamu ke sini? Aku sudah izin sama Tari. Nggak apa-apa kan kalau aku libur hari ini?"
Langit mendekat ke arah Adis lalu menatapnya lekat-lekat.
"Mata kamu sembab lagi. Kenapa? Terus apa itu di dinding? Mau bikin taman bermain buat cicak? Warna-warni gitu?"
Langit mengamati kertas kertas itu dan membaca satu persatu. Saat itu, baru dia tahu, pasti anak itu ada masalah lagi dengan Beno.
Dia langsung melepas sepatunya, naik ke atas tempat tidur Adis melepas semua kertas-kertas yang baru saja ditempel oleh Adis.
"Langit, kamu apa-apaan sih? Jangan dilepasin!"
Langit tidak menggubris teriakan Adis. Dia tetap saja mengambil kertas-kertas itu lalu dia segera turun, disobek-sobek dan dibuang ke tempat sampah.
"Langit! Aku memang bawahan kamu, aku memang karyawan kamu, tetapi bukan berarti kamu bisa bersikap semena-mena seperti ini. Aku susah susah menulis ini semua dan kamu seenaknya mencopot dan membuangnya ke tempat sampah? Apa maksud kamu?"
Adis berteriak. Ini pertama kalinya dia berteriak marah kepada Langit. Tak pernah dia melakukan ini sebelumnya.
"Sekarang kamu istirahat lah. Nanti kita ngobrol kalau kamu sudah tenang. Kau baik-baik saja kan? Nanti malam aku datang kesini lagi kalau emosi kamu sudah reda."
Langit tidak ikut berteriak. Dia berbicara dengan suara pelan dan lembut. Laki-laki itu lebih bisa bersikap dewasa dan menghadapi semua masalah dengan kepala dingin.
"Aku nggak butuh kamu. Aku cuma butuh kertas itu kembali!" Adis masih berteriak dengan marah.
"Buat apa? Buat apa kamu menuliskan itu semua? Kamu berharap apa dengan menuliskan kata-kata umpatan itu? Kamu tahu enggak, setiap kamu menatap tulisan itu maka kamu akan marah, kamu akan sakit hati dan kamu akan sedih."
"Memang itu yang aku mau. Supaya aku selalu ingat kebejatakan dia. Supaya aku tidak berharap lagi sama dia. Supaya aku tidak lagi berharap dia putus dari Rossi dan kembali padaku. Memang itu tujuannya supaya aku marah dan membenci Dia. Kau tak tahu rasanya menjadi gadis bodoh sepertiku, yang terus-menerus berharap meskipun berkali-kali disakiti. Kau tak tahu rasanya. jadi Lebih baik kamu pulang jangan sok tahu tentang apa yang terbaik buat aku."
Bukan Adis kalau tidak ngeyel ketika dibilangin. Pasti dia akan mengemukakan pendapatnya dan terus akan bicara selama dia merasa itu benar.
Untung yang ada di sampingnya adalah langit. Seorang laki-laki humoris, tetapi bisa serius dan dewasa di saat tertentu. Dia juga selalu bisa berpikir lebih bijak. Ketika melakukan apapun dia selalu berpikir terlebih dahulu. Tidak pernah asal jeplak, kecuali ketika bercanda.
Langit tersenyum, lalu memegang pundak Adis dengan lembut.
"Dis, kebencian jika dipupuk akan terus subur. Kita tidak akan pernah bisa lupa sama dia karena terlalu benci. Kamu pasti sudah pernah dengar kan kalau Antara benci Dan cinta itu cuma beda tipis. Kalau kamu ingin tak ada rasa sakit di hati, coba ikhlasin. Biarkan dia mencari kebahagiaannya sendiri, dan kamu akan mencari kebahagiaan kamu sendiri. Ikhlas. Cuma itu kuncinya supaya kamu bisa bahagia dengan hidupmu sendiri. Waktumu akan habis dengan memikirkan rasa sakitmu sendiri jika kamu tidak mau ikhlas. Ah … pasti kata-kata Ibu tidak pernah bisa sampai di kamu. Karena aku tahu, orang yang sedang emosi itu tak butuh apa-apa. Sekarang Aku pergi dulu ya? Nanti malam aku ke sini lagi. Kita ngobrol. Bye!"
Langit si jahil tersenyum, kemudian dia melangkahkan kaki pergi meninggalkan kamar Adis yang saat itu masih berdiri mematung di tempatnya.
Adis diam, mendengarkan setiap kata-kata yang diucapkan oleh langit. Dia heran pada dirinya sendiri. Kenapa dia menurut saja dengan apa kata langit dan tidak lagi meledak-ledak?
Tapi … jika dipikir-pikir apa yang diucapkan langit banyak benarnya. Jika dia menempelkan rasa sakit yang pernah ditorehkan oleh Beno di kertas, maka dia akan teringat terus dan dia akan merasa sakit terus, dan dampaknya dia akan tidak rela jika Beno bahagia.
'Ah … sepertinya aku harus cari cara lain untuk melupakan Beno dan tidak lagi berharap padanya. Meskipun aku kesel setengah hidup, harus aku akui kalau ucapannya memang benar. Entah baru kepentok apa laki-laki itu bisa cerdas begitu.'
Adis membuang nafas kasar. Kemudian dia melongokkan kepalanya keluar pintu, terlihat langit berjalan dengan langkah gontai ke mobilnya.
Laki-laki itu amat sangat baik terhadap Adis. Bahkan saat dia sedang lelah pulang kerja, dia menyempatkan diri untuk menengok Adis dan memastikan bahwa dia baik-baik saja.
"Kamu jangan terlalu baik padaku, Langit. Aku takut suatu saat nanti aku menyalah artikan kebaikanmu. Aku tak mau suatu saat nanti Aku berharap lebih. Karena untuk saat ini aku tidak mau lagi jatuh cinta sama siapapun. Harus aku akui, kenall cinta yang tidak tepat bisa membuat ribet. Ribet hati, ribet pikiran dan ribet perasaan. Pokoknya ribeeeeet."
Saat itu, langit menoleh padanya. Dia mengulum sebuah senyum manis yang mau buat anak-anak finance klepek-klepek. Dengan reflek, adis ikut menyunggingkan senyum. Namun, beberapa detik kemudian dia langsung menarik senyumnya. Dia kan lagi sebel sama langit, bisa-bisa hanya tersenyum tanpa dikomando itu bibir.