"Adis?"
Wanita itu membulatkan matanya dan membuka mulutnya lebar saat melihat Adis di tempat itu. Bibirnya mengembang. Ada raut kebahagiaan di wajahnya.
"Santo?"
Adis pun tidak kalah kaget melihat sahabatnya yang dulu. Sudah lama sekali mereka tidak saling bertemu setelah mereka lulus, dan kini … Mereka kembali dipertemukan. Adis tahu bahwa semua kejadian yang terjadi di dunia ini tidak ada yang kebetulan. Pasti ada maksud tertentu dari sebuah kejadian. Entah apa arti dari pertemuan ini.
Adis menghampirinya lalu memeluknya erat. Ya, meskipun dulu mereka berpisah dengan tidak saling menyapa, tetapi tentu saja mereka masih saling menyimpan Rindu.
"Lo ke mana aja? Rindu tahu … "
Adis masih seperti yang dulu, menganggap antara mereka tak pernah ada masalah.
Mereka saling mengurai pelukan. Santi menatap Adis dengan tatapan penuh kebahagiaan.
"Aku di sini-sini aja kok. Kau tambah cantik."
Santi, tak ada raut kebencian sedikitpun di wajahnya. Entahlah, sepertinya dia sudah melupakan yang telah berlalu.
"Masa?"
"Hmmm … kok kamu ada di sini? Jangan-jangan … kamu pacarnya langit ya? Iya?"
Santi tersenyum lebar dengan mata menyelidik.
Langit dan Bu Ranti sama-sama mengerutkan kening. Mereka tidak tahu kalau 2 wanita itu dulunya sangat akrab.
Bu Ranti menghampiri mereka, lalu tersenyum pada mereka berdua. Di tepuknya bahu Santi lembut.
"Masih PDKT. Doain saja dia jadi calon mantu ibu," ucap Bu Ranti berhasil membuat Adis menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena salah tingkah. Sementara langit yang berada di balik mobil, ikut salah tingkah sambil diam-diam mengaminkan ucapan sang ibu.
"Eh Tante. Aduh sampe lupa nggak Salim sama Tante. Ini disuruh ibu anterin lontong sayur buat Tante."
Santi menyodorkan rantang pink yang dia bawa, dan segera diterima Bu Ranti dengan bahagia.
"Waaah … terima kasih banyak ya? Ibu kamu tuh sering banget kirimin tante makanan."
"Sama-sama, Tante. Eh tapi beneran si makhluk yang banyak makan ini calon mantu ibu?"
"Kebiasaan, buka kartu orang."
Santi hanya tergelak.
Saat itu, Bu Ranti pamit ke dalam sedangkan mereka berdua masih berdiri di depan pintu sedang asyik ngobrol. Ternyata, sangat seru bertemu dengan teman lama seperti ini. Berdua tidak menyangka, kalau pertemuan kembali ini, akan semenyenangkan itu.
"Beno gimana? Pernah ketemu?"
"Dia udah jadi orang yang berbeda, San. Padahal dulu, kita sering bertengkar gara-gara makhluk itu."
Adis tertawa, Tapi semua yang melihatnya tahu bahwa itu bukan sebuah tawa kebahagiaan.
"Oe, Tomat! Cepetan masuk! Nostalgianya di lanjut kapan-kapan. Kerja! Jangan sampai telat!"
Langit yang merasa diabaikan, teriak-teriak dari balik mobil.
"Ya elah. Ngobrol dulu bentar. Lagi nostalgia."
"Nggak ada, ayo cepetan masuk! Nostalgia jaman kalian tuh nggak akan bikin bahagia. San, kita duluan ya? Masuk aja nyusul ibu."
Langit menarik tangan Adis yang meronta-ronta ingin dilepaskan, tetapi Langit tetap menarik tangannya dan membawa Adis masuk ke dalam mobil.
"Oe, Langit! Possessive banget sih Lo. Jatah makan Lo, gue embat!"
Santi berteriak di tempatnya, tetapi langit tidak peduli. Dia segera meluncurkan mobilnya menuju ke toko tak peduli meskipun Adis cemberut. Bibirnya mengerucut sampai bisa dikucir pakai tali.
Sedangkan Santi hanya geleng-geleng kepala, kemudian segera masuk dan menyusul Bu Ranti yang sudah berada di dapur.
Sementara di mobil, Adis masih cemberut saking kesalnya pada Langit. Padahal dia rindu sama Santi dan ingin ngobrol banyak. Eh, ditarik begitu saja.
"Kenapa cemberut terus sih?"
"Masih tanya kenapa?"
Adis memelototkan matanya, tetapi sama sekali tidak membuat langit takut, Justru dia tertawa geli saat Adis melotot begitu. Unyu aja, bukan nakutin.
"Nih, sarapanmu!"
Adis melirik sesuatu yang disodorkan oleh Langit. Pizza dari brand yang dia suka. Ah, tetapi kan dia masih kesal sama langit. Masa iya diterima begitu saja pizzanya.
"Nggak mau."
"Idiiiih. Kayak makhluk normal aja kalau ngambek nggak mau makan. Ya udah kalau memang nggak mau, sini biar aku yang makan sendiri."
Langit bersiap menarik lagi pizza itu tetapi langsung diserobot oleh Adis. Mana mungkin dia merelakan makanan favorit dari brand favorit menghilang begitu saja dari dekapannya.
Langit tertawa. Meskipun Baru beberapa bulan kenal tetapi dia sudah cukup mengenal gadis itu. Pertemuan mereka memang belum lama, tetapi intens. Itulah yang membuat mereka dekat, dan itulah yang membuat langit merasakan debar debar di dadanya.
"Dulu kalian akrab ya?"
"Hmmm … "
Adis melahap pizzanya, tetapi mukanya masih menapakkan kekesalan.
"Terus, nggak saling contact karena kalian menyukai orang yang sama?"
"Kok kamu tahu?"
"Tahu lah. Dia kan suka cerita."
"Terus si Santi itu siapa kamu?"
"Dia itu anaknya teman ibu. Ibuku dan ibunya sangat akrab sehingga kita akrab juga sejak kecil. Oh iya, by the way dia udah nikah."
"Apa?"
Adis langsung membuka mulutnya, kaget. Sehingga beberapa remahan pizza yang telah terkunyah berhambur ke jas Langit. Untung saja tidak ke muka. Bisa teriak-teriak si Langit.
"Busyeeeet. Pagi-pagi disembur. Kalau teriak itu pastikan di mulut tidak ada apa-apa dulu."
"Sorry sorry."
Adis segera mengambil tisu basah dan tisu kering yang ada di tasnya, kemudian mengelap jas itu dengan lembut memakai tissue basah. Adis sedikit menekan d**a Langit, meluruskan jas itu, supaya lebih mudah dibersihkan.
Namun, yang ada jantung langit berdetak dengan begitu kencang. Mereka sangat dekat sekarang. Bahkan deru nafas Adis sampai bisa dia dengar.
"Sorry ya? Habisnya aku kaget. Di toko ada jas nggak?"
"Nggak ada. Udah nggak apa-apa pakai ini aja," jawab Langit dengan mata yang fokus ke depan dan tangan masih sibuk memutar-mutar kemudi.
"Huft … aku selalu ceroboh begini."
"Tumben kau merasa bersalah."
"Kalau ini bukan pakaian kerjamu dan masih ada pengganti nggak masalah. Tapi ini udah jauh dari rumah kamu, nggak bisa balik lagi. Gimana dong?"
Adis tap tap jas Langit dengan tisu kering setelah dibersihkan dengan tisu basah.
"Nggak apa-apa. Noda sedikit doang nggak masalah. Jangan sok-sok merasa bersalah gitu. Geli."
"Eh bentar deh, kok jantung kamu berdetak cepat banget sih. Kamu kenapa?"
Langit langsung menyingkirkan tangan Adis dari dadanya. Bahaya ini makhluk. Bisa-bisanya berbicara yang membuat Langit semakin salah tingkah. Entahlah, dia itu polos atau sok polos. Seharusnya dia tahu arti deg-degan itu.
"Apaan sih. Setiap jantung itu pasti berdetak. Kalau tidak, berarti tak bernyawa. Lagian, kesempatan banget sentuh-sentuh d**a. Nggak boleh."
"Ih … kenapa nggak boleh? Belum halal?"
"Iya. Kalau mau sentuh-sentuh, kau harus aku halalin dulu."
"Dihalalin? Mau … "
"Ayoook."
Langit pura-pura menanggapinya dengan candaan. Padahal sebenarnya hatinya tidak bisa diajak bercanda.
"Yuk berangkat!"
"Ke MUI ya?"
Langit tertawa. Begitu juga dengan Adis. Itulah mereka. Suka tertawa karena hal-hal receh. Namun, bagi langit ini bukan hal receh. Dia percaya bahwa setiap ucapan adalah doa, dia berharap apa yang mereka ucapkan kali ini menjadi kenyataan di masa depan nanti.
Saking asyiknya tertawa, Adis sampai lupa dengan pembahasan mereka yang sebenarnya. Santi sudah menikah?