Langit baru saja keluar dari pintu gerbang rumah Jordan. Laki-laki terus teringat akan ciuman mesra mereka berdua. Ah … sahabatnya harus tahu ini semua. Beno harus tahu ini.
"Rossi memang benar-benar licik dia. Bisa-bisanya dia membungkus kebejatannya dengan perhatian yang seolah tulus. Bodoh banget sih Lo Wid, melepaskan perempuan sebaik dan setulus Adis demi perempuan seperti itu. Ah … tapi baik sih kamu lepaskan dia. Biar dia kuat aku saja," gerutu Langit pada dirinya sendiri.
Sebenarnya dia ingin memberitahu Adis, tapi rasanya masih sungkan karena ternyata sang laki-laki adalah sepupunya sendiri. Apalagi Adis kenal sama laki-laki itu.
Sudahlah, yang penting sekarang adalah Beno. Beno harus tahu. Langit segera meluncurkan mobilnya menuju ke apartment Beno. Ya, lusa mereka akan menikah. Jadi Beno harus tahu supaya dia bisa berfikir akan melanjutkan ataukah harus berhenti sebelum pernikahan itu benar-benar terjadi.
Saat itu hari sudah mulai petang. Langit mampir dulu ke mushola untuk salat. Sekalian dia ingin menenangkan pikirannya yang semrawut.
Dia berulang kali berpikir, apakah tindakannya untuk memberitahukan ini pada Beno adalah tindakan yang benar? Jika dia memberitahukan ini sudah pasti pernikahan mereka akan bermasalah. Ada persiapan pernikahan mereka sudah bisa dibilang 100%. Semuanya sudah siap.
Lagipula, mungkin in jika pernikahan mereka gagal, Adis akan punya kesempatan untuk berharap kembali kepada Beno. Apakah dia rela Jika Adis kembali pada laki-laki itu?
Tapi kalau tidak, kasihan Beno ke depannya. Manusia ular seperti Rossi tidak bisa ditebak. Bisa jadi dia merencanakan rencana buruk di depan nanti yang akan berbahaya untuk Beno.
Langit mengusap rambutnya kasar, lalu membuang nafas begitu saja. Masalah ini benar-benar menguras pikirannya.
"Sepertinya aku harus salat dulu supaya lebih tenang," ucapnya pada dirinya sendiri, kemudian dia segera menuju ke tempat Wudhu, dan segera melaksanakan salat supaya dia bisa berpikir jernih. Terus terang saja kejadian beberapa menit yang lalu di rumah Jordan membuat pikirannya buyar.
***
Setelah selesai melaksanakan salat, Entah kenapa Jordan tiba-tiba merasa yakin untuk membongkar ini semua di hadapan Beno. Urusan Adis yang mungkin bisa kembali memiliki harapan untuk Beno, biar itu menjadi urusan belakang. Dia yakin kalau memang jodoh pasti Adis akan bersamanya apapun yang terjadi.
Beberapa menit kemudian langit sudah sampai di depan pintu apartement Beno. Dia hendak memencet bel. Tapi seseorang menahan pergelangan tangannya. Sebuah tangan yang bersih dan mulus. Langit menoleh. Ada Rossi di sana.
"Ngapain Lo ke sini?" tanya Rossi sinis. Perasaannya sudah tidak enak. Itulah kenapa dia berusaha untuk tidak mengizinkan siapa pun menemui calon suaminya di detik-detik pernikahannya.
Langit langsung mengibaskan tangannya dan menatap perempuan menjijikkan itu dengan sinis.
"Sandiwaramu akan berakhir. Kau tidak bisa lagi berpura-pura. Aku tidak akan pernah membiarkan kamu menikah dengan sahabatku. Wanita ular sepertimu tak pantas untuknya."
Langit menatap Rossi dengan rahang yang mengeras. Rasanya jijik dengan perempuan itu. Dia benar-benar harus membongkarnya sekarang.
"Apa maksudmu perempuan ular? Jangan kurang ajar ya kamu. Kalau kamu macam-macam, aku pastikan kamu akan dipecat dari kantor calon suamiku."
"Oh ya? sebelum kamu memecatku, bisa jadi kau akan dipecat duluan menjadi calon istrinya."
Saat itu tentu saja Rossi panik. Tapi dia selalu berusaha untuk menutupi rasa panik dengan wajah angkuh dan sombongnya.
Dia tidak boleh terlihat panik dihadapan langit. Karena itu akan semakin menguatkan bahwa memang ada apa-apa dibelakang Beno.
"Dipecat jadi calon istri? Itu tidak akan pernah terjadi, Langit. Aku tahu kau selalu berusaha untuk merusak hubungan ku dengannya karena Gadis itu kan? Kamu anteknya Adis kan? Pernikahan ini akan tetap berlangsung dan kau tidak akan pernah bisa menggagalkannya."
"No … Aku tidak akan pernah menggagalkan pernikahan kamu. Aku tidak punya kuasa untuk itu. Aku hanya ingin menunjukkan bukti-bukti saja pada calon suamimu itu. Supaya dia berpikir sendiri, dia akan maju … atau mundur."
Langit tersenyum sinis pada perempuan yang ada di hadapannya. Senyum sinis penuh percaya diri itu membuat Rossi yakin bahwa Langit memang mengetahui sesuatu bisa membahayakan pernikahannya. Panik, khawatir dan takut. Ya, tentu saja dia takut kalau langit memang benar-benar mengetahui rahasianya. Jika ini benar-benar terbongkar maka usahanya selama ini akan sia-sia di detik-detik terakhir.
"Eh,Pak Satpam. Pak! Tolong! Ada orang yang akan berbuat rusuh di apartemen calon suami saya. Tolong bawa dia pergi, Pak!"
Ya, kebetulan saat itu ada seorang satpam yang lewat. Kesempatan emas bagi Rossi untuk mengusir langit dari situ.
"Hei, apa-apaan kamu? Sebegitu takutnya ya kamu sehingga kamu memfitnah aku seperti ini?"
Tentu saja Langit kaget tiba-tiba diadukan pada satpam. Memang dasar perempuan ular. Pasti dia udah lihai dalam hal seperti ini.
"Tolong Pak, amankan Pak."
"Baik, Mbak."
Satpam yang memang tidak tahu apa-apa itu segera meraih lengan Langit berusaha untuk membawanya keluar dan pergi dari tempat itu.
"Nggak perlu Pak. Saya bisa pergi sendiri tanpa diseret begini. Lepasin!"
Langit mengibaskan tangannya hingga terlepas dari cengkeraman tangan satpam itu.
"Aku tahu kau ketakutan. Makanya kamu melakukan hal konyol ini kan? Aku tidak sebodoh itu, Rossi. Kau harus tahu kalau perbuatan jahat itu pasti akan terkuak. Tuhan pasti akan memberikan jalan untuk saya untuk membongkar semua kebusukan kamu. Seperti apapun kamu menyembunyikannya, pasti akan terkuak. Ingat kata-kataku!"
Langit kembali tersenyum sinis pada Rossi, kemudian dia pergi begitu saja meninggalkan Rossi yang masih deg-degan. Untung saja ada satpam yang lewat saat itu. Kalau tidak, dia tidak tahu nasibnya akan seperti apa. Mulai saat ini Rossi harus ekstra hati-hati. Dia harus benar-benar menjaga calon suaminya. Langit adalah ancaman untuk pernikahan mereka berdua.
Sementara Langit, dia langsung bertindak. Begitu sampai di dalam mobil, Langit segera mengambil handphonenya dan menghubungi Siti. Berharap perempuan itu bisa mendapatkan informasi yang dia inginkan.
"Halo, Sit! Bagaimana? Apakah ada kabar yang bisa membuat Saya gembira?" tanya Langit tanpa basa-basi begitu telepon diangkat oleh Siti.
"Sementara ini belum, Mas. Tapi biasanya Mbak rosi sering sekali ke sini. Nanti kalau ada kabar terbaru, Saya akan hubungi Mas langit segera."
"Oke. Saya benar-benar akan menunggu kabar dari kamu ya? Aku pasti akan memberikan bonus yang lebih jika kamu mendapatkan informasi yang aku inginkan."
"Siap Mas Langit."
Langit segera mematikan sambungan teleponnya. Kalau orang suruhannya tidak bisa mendapatkan informasi yang diinginkan, dia bisa mengharapkan Siti. Semoga Siti bener-bener bisa menjadi titik terang.
"Tidak mungkin kebusukan kamu tidak terbongkar, Rossi."