"It's O.K. Nangis aja, Aku akan setia mendengarkan tangisanmu. Aku tungguin," ucap Langit. Dia berbicara dengan santai. Padahal saat itu dadanya bergemuruh. Rasanya ikut sakit mendengar tangis Adis yang begitu pilu. Sekaligus ikut sakit Karena ternyata rasa sayang adis masih sebesar itu pada Beno. Orang yang jelas-jelas sudah tidak percaya lagi padanya dan sudah tidak respect lagi padanya.
Apakah cinta memang seperti itu? dia tetap berdiri kuat dan kokoh meskipun berkali-kali disakiti dan meskipun beberapa kali dilukai.
Iya, tentu saja Adis meneruskan tangisnya yang sulit sekali dihentikan. Hanya yang pernah mengalami saja yang tahu, bahwa menghentikan tangis lebih susah dari apa yang kita bayangkan.
"Apa perlu aku ke situ?"
Tak ada jawaban. Masih terdengar suara tangisan. Ia tak kuasa untuk mengucap apapun. Yang ingin dia lakukan hari ini hanyalah menangis, menangis, dan menangis.
"Ya sudah, aku matikan dulu ya teleponnya. Aku ke situ sekarang. See you."
Langit menunggu sebentar, berharap mendapatkan jawaban, tetapi nihil. Tetap suara tangisan saja yang dia dengar dari beberapa menit yang lalu. Akhirnya langit mematikan sambungan teleponnya, dan segera bergegas menuju ke tempat kost Adis meskipun masih sangat dini hari.
Seperti itulah langit kalau sudah suka sama seseorang. Dia tidak peduli apapun. Yang dia pedulikan dan yang dia inginkan adalah kebahagiaan untuk orang yang dia sayang.
Mungkin dia butuh teman. Langit tahu kalau ada Nana, tetapi terkadang wanita membutuhkan sosok pria untuk membuat dia lebih nyaman untuk menceritakan masalahnya.
Waktu itu jalanan masih sangat sepi, jadi Langit bisa jalan ngebut dan dalam 15 menit dia sudah sampai di depan pintu kamar Adis, dan seperti yang dia sangka. Perempuan itu masih saja terisak. suara isak tangis yang begitu memilukan. baginya saat ini, suara yang paling menyayat hatinya adalah suara tangis ibunya dan suara tangis Adis.
'Apakah semenyedihkan itu ditinggal menikah oleh mantan pacar?' Langit menunduk. Rasa hatinya ikut gundah gulana waktu itu.
"Tom, buka pintu. Cari angin yuk?"
Bingung harus bicara apa, akhirnya kata-kata itu yang keluar dari mulut Langit. Cari angin, klasik banget. Kayak anak SD yang sedang mengajak main temannya. lagi pula kerajinan amat subuh-subuh begini cari angin.
Adis mendengar ketukan pintu itu, dan segera menghapus air matanya yang terus-terusan mengalir. Adis hafal betul itu suara siapa. Dia segera beranjak dari duduknya dan segera membukakan pintu. Setelah pintu terbuka, Adis segera berhambur ke pelukan Langit. Dia memeluk laki-laki itu erat. Tempat yang paling nyaman untuknya ketika dia sedang bersedih.
"By the Way aku belum mandi."
Langit tidak tahu harus berbicara apa. Asal ceplos adalah jalan ninjanya.
"Kau memang selalu begitu kan?" ucap Adis di sela Isak tangisnya. Suaranya masih tersendat-sendat karena Isak tangisnya belum berhenti. Langit tersenyum karena gadis yang berada dalam pelukannya itu sudah mau bersuara.
"Kau mau kita keluar? Jalan-jalan ke mana gitu? Kemanapun yang kamu mau, aku pasti akan antar. Asalkan nggak ke bulan aja."
"No. Aku tak mau kemana-mana, dan Aku berubah fikiran. Aku tak mau datang ke nikahan Beno."
"Kau harus datang. Tunjukkan sama dia, bahwa kau tidak selemah itu."
'Ya, kau harus datang, Tomatku. Kau akan menyaksikan sendiri balasan untuk orang yang sudah memfitnah kamu. Kau harus melihat dengan mata kepalamu sendiri bagaimana ekspresinya ketika semua itu sudah terbongkar. Kalau perlu kau harus merekamnya. Harus," ucap Langit dalam hati. Dia mengelus lembut rambut Adis.
Nyaman. Itu yang dirasakan oleh Adis. Setiap dia ada masalah, Langit selalu ada untuk dirinya dan berhasil membuat dia nyaman. Langit memang tidak banyak bicara, tetapi sikapnya, tingkah lakunya, semuanya membuat Adis nyaman dan tenang.
"Ya udah, kalau begitu aku mau."
"Mau ke nikahan Beno."
"Mau keluar. Sekarang! Aku mau ke danau."
"Hmmm … sekarang?"
"Iya. Mau anter?"
"Mau lah. Aku masih mau dengar suara tangisan kamu. Mubazir kan kamu sudah nangis mendung terus tapi nggak ada yang denger,' ucap Langit sambil tersenyum.
Mana bisa langit menolak permintaan Adis. Subuh-subuh saja dia mau datang ke kost an Adis hanya untuk membuat perempuan itu tenang. Kalau adis sampai tidak bisa merasakan perhatian yang begitu besar itu, benar-benar kebangetan.
"Aku ambil jaket dulu ya?"
"Hmmm … Aku tunggu di sini."
Adis melepaskan pelukannya pelan-pelan. Kemudian menghapus air mata yang masih ada di pipinya, setelah itu dia segera bergegas mengambil jaket dan mereka berdua segera meluncur ke danau yang terletak tidak jauh dari kost Adis. Danau, selalu menjadi tempat terbaik bagi Adis untuk menenangkan dirinya.
"Are you O.K?" tanya Langit sambil menatap adis yang masih menunduk dan tidak bicara satu katapun. Ini sangat jauh dengan hadis yang biasanya. Dia sudah terbiasa mendengar Adis yang cerewet yang selalu mengomentari ini itu. Jadi, sedikit terasa aneh ketika adis diam begini.
"Hmmm …."
Perempuan itu hanya menjawab dengan gumaman pendek. Keadaan hatinya masih belum memungkinkan bagi dirinya untuk banyak bicara.
"Oh … berarti belum O.K. kalau kau sudah baik-baik saja seharusnya kau cerewet."
"Jadi kau pengen aku cerewet?"
"Iya. Aku lebih suka kau yang cerewet. Kau yang suka banyak makan. Kau yang bawel, dan kau yang jahil. Rasanya bukan kamu kalau diam begini."
"Menurutmu aku bisa seperti itu lagi?"
"Bisa lah. Setelah pulang dari acara nikahan nanti, kau pasti bisa kembali tersenyum dan tertawa. I swear!"
"No, it Will not happen."
"I Will make it happen, Tom."
Adis tersenyum tipis.
"Kau selalu baik banget sama aku, Dut. dan kau selalu berusaha untuk menghibur aku dengan kata-kata yang mungkin saja tak mungkin terjadi. Kau sungguh baik. Baiiiiiiik banget. Kenapa? boleh aku tahu alasannya?"
Ya, wajar jika Adis menanyakan itu. Karena untuk ukuran orang yang baru kenal beberapa bulan, Langit termasuk orang yang sangat peduli terhadap dirinya seperti mereka sudah sahabat sejak lama.
"Kalau kita berbuat baik, apakah harus ada alasannya?"
Langit selalu kelimpungan setiap mendapatkan pertanyaan seperti itu. Dia selalu berusaha untuk berbohong senatural mungkin.
"Ya harus. Soalnya kamu baik banget begini cuma sama aku. Sama Nana nggak. Padahal kamu lebih dulu kenal sama Nana ketimbang aku."
Langit tersenyum samar. Biar adis mencari jawabannya sendiri kenapa langit bisa bersikap seperti itu dan Kenapa langit bisa sebaik itu. Ini saja, banyak hal yang tidak diketahui Adis. Andai saja dia tahu semua, apakah mungkin Adis masih bertanya Kenapa langit bisa sebaik itu?
"Karena aku lebih nyaman sama kamu daripada sama Nana. kenyamanan itu tidak bisa dipaksakan, bukan? Itu saja jawaban untuk sekarang dan jangan banyak tanya lagi kayak wartawan."
"Katanya kau suka aku yang bawel, kenapa sekarang enggak boleh bertanya. Dasar labil."
"Siapa yang labil?"
"kamu lah. Masih tanya lagi."
"Aku nggak labil kok. Oh ya, by the way, ini kenapa kita seperti couple begini?"
Adis mulai tertawa kecil sambil memandang kearah pakaian yang sedang dia pakai. Dia baru menyadari bahwa mereka memang seperti couple beneran..
Saat itu, mereka berdua masih sama-sama memakai piyama. Piyama sama-sama bercorak Hitam putih meskipun motifnya berbeda. Mereka tidak peduli dengan penampilan mereka masing-masing waktu itu. Apalagi Langit, yang penting baginya dia bisa cepat sampai di kost Adis dan menenangkannya. Tak peduli bahwa saat itu dia masih memakai piyama.
"Eh iya ya? Kita masih pakai piyama. Tapi nggak apa-apa. Lucu kok."
"Lucu dari mana? Nanti kita disangkain couple beneran sama orang-orang."
"Daripada cuma disangkain couple, yuk kita jadi couple beneran?"
Langit menoleh sebentar, tersenyum, dan wajahnya tampak serius tak ada sedikitpun gurat bercanda.
Deg. Deg. Deg.
Jantung Adis beraksi. Berpacu dengan begitu cepat. Kenapa setiap langit berbicara seolah serius seperti itu, selalu berhasil membuat d**a Adis bergemuruh. Bahkan di saat air matanya belum kering.
"Kebiasaan banget deh bikin baper anak orang. Dosa, Dut!" ucap Adis sambil menunduk.
"Cie … Baper ya?"
Senyum langit mengembang. Berharap ucapan adis memang benar adanya. Baper? Benarkah Adis baper?
"Lain kali jangan kayak gitu lagi."
"Nggak janji."
"Kebiasaan."
Adis menunduk lagi, mukanya muram lagi. Langit mengulurkan tangannya. Mengacak lembut rambut hitam lurus itu penuh kasih sayang.
"Apa yang bikin kamu happy?" tanya Langit. Dia benar-benar ingin membuat Adis happy saat-saat seperti.
"You. You make me happy."
Sontak, dalam d**a Langit seperti sedang ada konser. Bergemuruh, jedag jedug, berisik tak karuan.
Entah Adis bercanda atau serius. Yang jelas, kata-kata itu berhasil membuat hati Langit bergemuruh dan berbunga.
Siapa yang tidak bahagia, jika dia menjadi alasan orang yang dia sayang untuk bahagia.
"Aku harap kau serius dengan kata-katamu. Jika aku bisa bikin kamu happy, aku bisa di samping kamu terus."
Langit kembali mengacak rambut Adis, lalu dia kembali fokus nyetir menuju ke danau. Hari itu entah hari apa. Mereka sama-sama saling bikin baper. Saat ini, dua makhluk yang sedang duduk berjajar di mobil itu sedang sibuk dengan irama detak jantung mereka yang tak beraturan.