"Kotor sekali!" Frans — lelaki yang nyaris menabrak Julia Mengibas-ngibaskan tangan mencoba menghalau debu agar tidak terhisap hidungnya.
"Apa gak sebaiknya aku antar kamu ke dokter?" Frans yang tadinya ingin duduk sofa mengurungkan niat melihat debu yang menumpuk di sana.
"Aku baik-baik saja!" Julia berteriak dari kamarnya. Walau kakinya sakit, ia tetap memeriksa keadaan rumah lamanya. Rumah yang sudah lama tidak ia datangi.
Seluruh furnitur kamar tidur tertutup dengan kain putih. Tidak sekotor ruang tamu dan ruang makan.
Memastikan listrik dan air masih bisa digunakan, Julia kembali ke ruang tamu untuk menemui Frans.
"Terima kasih sudah mengantarkan aku pulang."
Frans yang sedang memperhatikan foto-foto lama Julia berbalik saat mendengar suara wanita itu.
Tangannya masuk ke dalam saku celana, tidak ingin menyentuh barang apapun. Ia berbalik dan menatap Julia iba.
Sang supermodel yang dulu tinggal di penthouse dengan segala fasilitas mewah kini harus tinggal di rumah kecil dan kotor.
"Kamu yakin tidak ada yang perlu diperiksa?" Frans kembali bertanya. Matanya memperhatikan Julia yang berdiri di dihadapannya dengan seksama.
Julia menggeleng pelan.
Canggung, akhirnya Frans memilih untuk pamit undur diri. Sebelum pergi, ia mengeluarkan dompet, mengambil seluruh uang merah yang ada di dalamnya lalu memberikannya kepada Julia.
"Tidak perlu, Tuan. Aku baik-baik saja, tidak ada cedera. Lagipula ini semua salahku yang berjalan sambil melamun," tolak Julia. Ia mendorong tangan Frans pelan, tidak ingin menerima uang dari pria asing itu.
Sebagai gantinya, Frans mengeluarkan kartu nama dan memberikannya kepada Julia.
Frans Longheart - CEO Stars Agency.
"Anda punya agensi?" tanya Julia setelah membaca kartu berwarna hitam hanya bertuliskan nama serta nomor telepon Frans.
"Aku akan sangat senang kalau kamu mau bergabung dengan Stars dan menjadi artis kami."
Julia kembali menggeleng. Kepercayaan dirinya sudah tidak seperti dulu. Sudah lama sekali ia meninggalkan dunia showbiz, rasanya tidak mungkin kembali.
"Jangan terburu-buru, hum? Pikirkan dulu. Aku bisa membuatmu bersinar seperti dulu bahkan lebih." Frans meyakinkan.
Julia mengantarkan pria keturunan Perancis itu sampai di depan pintu. Menunggu sampai mobil mewah yang nyaris menabraknya menghilang di belokan baru ia masuk kembali ke rumah.
Ia membuang nafas panjang sambil memperhatikan keadaan rumah lamanya melupakan sejenak kejadian hari ini Julia merapikan rumah orang tuanya yang sudah dipenuhi Debu
Ia mulai dengan melihat pakaian lama yang ia tinggalkan sebelum ia pindah ke Perancis. Ibunya menyimpan rapi semua pakaian lama Julia dalam kardus.
Masih bagus dan layak pakai. Yang terpenting pas di badan Julia.
Salah satu kelebihan Julia adalah ia tidak mudah gemuk. Itu sebabnya dulu saat model lain harus diet ketat untuk menjaga postur tubuhnya, ia hanya perlu berolahraga.
Kotak lain yang Julia buka membuat matanya mengembun. Bagaimana tidak, isinya adalah hadiah dari penggemarnya. Mulai dari gelang, kalung, boneka, bunga mawar bahkan ada juga sepatu.
Mengenang masa kejayaannya dulu membuat Julia tiba-tiba merindukan catwalk dan jerit penggemar yang memanggil namanya.
Julia segera menyadarkan diri dari lamunannya. Tidak ada gunanya mengenang masa lalu, tidak akan merubah hidupnya saat ini.
Ia mulai membersihkan rumah peninggalan orang tuanya. Terlalu asyik sampai-sampai ia baru berhenti ketika perutnya berbunyi karena lapar.
Julia meringis sambil mengusap perut untuk mengurangi rasa perihnya. Ia mengambil tas dan melihat isi dompet merk Perancis hasil kerja kerasnya dulu.
Malam ini ia akan makan seadanya, besok Julia akan mengisi barang-barang di rumah.
Ada beberapa lembar uang seratus ribu. Seingat Julia di rekeningnya juga masih ada uang yang cukup sampai ia mendapatkan pekerjaan.
Untung saja ia punya rekening atas namanya sendiri. Ia juga rajin menyisihkan uang bulanan dari Setya yang tidak seberapa.
Julia memilih pergi supermarket yang biasa ia datangi dengan Setya untuk belanja bulanan. Bukan untuk mengingat kenangannya dengan Setya namun karena harga di supermarket itu terbilang relatif murah.
Ia harus menghemat uangnya sampai ia bisa mendapatkan penghasilan tetap.
Julia mengambil troli dorong lalu mulai berkeliling. Deterjen, sabun cuci piring, pembersih lantai sampai obat pembasmi nyamuk. Julia memilih barang dengan harga paling murah dan juga barang yang sedang promo. Sebisa mungkin ia menghemat uangnya.
Tangan Julia tiba-tiba menahan troli-nya. Kakinya berhenti mendadak ketika melihat punggung Setya. Suaminya itu sedang belanja berdua bersama Monika.
Jantung wanita itu kembali terasa diremas-remas. Kejadian kemarin kembali terulang di kepala Julia.
Matanya memanas siap mengeluarkan air mata. Ia mendongak, mencegah air mata keluar.
Perlahan ia mundur, menghindar dan tidak ingin bertemu dengan pasangan, sayangnya Monika terlanjur melihatnya.
“Oh… coba lihat siapa ini, Mas?” Setya ikut berbalik. Ia terkejut melihat Julia yang tampil sederhana tanpa riasan wajah.
Wanita itu mengenakan dress model lama dengan motif bunga. Rambut Julia digelung asal-asalan dan ia tidak memakai parfum seperti biasanya.
“Say – Jul, kamu tinggal dimana sekarang?” Setya segera mengoreksi panggilannya kepada Julia mengingat ia sedang bersama Monika.
Julia berdecak, memaki dirinya sendiri yang begitu bodoh belanja ke supermarket yang biasa ia datangi bersama Setya.
Ia mundur perlahan, tidak tertarik untuk berbincang dengan pria pengkhianatan seperti Setya. Selain itu hatinya sakit melihat suaminya berdua dengan wanita lain.
Setya memegang troli Julia, mencegah istrinya pergi. "Aku belum selesai bicara, Julia!” ujarnya penuh penekanan.
“Ini yang buat aku berpaling, kamu tidak bisa menghargai aku! Selalu menghindar kalau aku ingin bicara serius." Setya mendelik, meninggikan suaranya tidak suka.
Julia menahan air matanya agar tidak jatuh. Julia melihat ke arah yang berbeda, tidak ingin memperlihatkan rasa sakitnya.
Monika berdiri di sebelah Setya, mencoba menenangkan pria itu dengan mengusap lengannya.
“Makanya, kalau jadi istri itu hargain dong suami. Jangan salahin suamimu kalau cari wanita lain, coba ngaca dulu. Punya cermin, kan?” Monika membuat suasana semakin panas. Terbukti, Setya terprovokasi dan setuju dengan ucapan simpanannya itu.
Setya dengan polosnya mengangguk setuju. Ia kembali memperhatikan penampilan Julia. 180 derajat berbanding terbalik dengan Monika.
“Coba lihat penampilanmu! Kamu itu istri manajer, tapi penampilan seperti pembantu rumah tangga. Makanya aku malu kalau bawa kamu ke acara penting perusahaan apalagi kalau ketemu klien.”
Hati Julia sakit seperti diremas mendengar ucapan suaminya barusan. Tangan Julian mengusap air mata dengan cepat, tidak tahan mendengar perkataan Setya.
“A — apa maksud kamu, Mas?” Suara Julia bergetar. Ia memaksakan bibirnya bergerak, meminta penjelasan.
“Masih kurang jelas? Kamu itu malu-maluin jadi istri! Makanya mas Setya lebih pilih aku. Yang bisa memuaskan dia.” Monika mewaliki Setya menjawab Julia.
“Selain itu kamu itu mandul. Bukan wanita sempurna.”
Kali ini air mata Julia mengalir dengan deras. Tidak peduli jika ia menjadi perhatian orang-orang.
“Julia? Ada apa ini? Apa mereka menyakitimu?”