"Sayang aku hamil!!" dengan senyum bahagia aku berjalan ke arah suamiku dan duduk di atas pangkuannya.
"Benarkah..??aku sangat bahagia sayang terima kasih telah memberiku hadiah yang sangat indah ini." jawabku saat istri ku mendekat dan kupeluk tubuh indah itu di atas pangkuanku tak lupa ku kecup kening itu berkali kali.
"Apa kamu bahagia sayang..?? tanyaku tanpa melihat ke arahnya.
"Pertanyaan macam apa itu??kenapa kau tanyakan itu?hhmm ku angkat dagu nya agar wajah cantiknya terlihat jelas olehku. "ada apa,apa yang kau takutkan sayang."
Dengan menatap matanya aku dapat melihat dengan jelas jika mas bram sangat bahagia atas kehamilanku, aku pun merasa bahagia tapi ada sesuatu yang membuat aku takut,kenangan itu membuat sedikit trauma akan kehamilan ini.
"Aku hanya takut sayang,aku aku takut akan kejadian itu." tanpa sadar air mata jatuh membasahi pipi dengan erat aku memeluk tubuh tegap mas bram dan berusaha untuk menghentikan isakan ini.
"Huss, sudah ya jangan menangis, aku tau bagaimana perasaanmu sayang aku pun sama tapi apa kita akan terus menangisi masa kelam itu,semoga dengan hadirnya dia bisa memberikan kita senyum baru."
Ku elus lembut punggung mayang mencoba menenangkan dia dari rasa takut yang kini dia rasakan,semoga ini takdir yang baik untuk kehidupan kami Ya Tuhan.
"Sudah ya kita istirahat jangan bersedih kasihan dia sayang,nanti aku akan mengantarmu ke dokter ya."
"Iya sayang,makasih ya."
Akhirnya kami kembali ke peraduan dan berdoa agar tidak ada lagi mimpi buruk di keesokan hari.
Pagi ini aku terjaga lebih dulu ku pandangi wajah mayang dengan lekat,
aku merasakan betul rasa takut yang hinggap di dirinya atas kehamilannya ini, rasanya kepala ini terasa berat hingga ku putuskan untuk membersihkan badan ini berharap rasa berat itu hilang. Ku putar kran shower dan membasahi diri ini ku pejamkan mata merasakan dinginnya air menghuyur badan.
"Hai,sudah selesai mandinya..??
Sapa mayang saat melihat aku keluar dari kamar mandi dengan senyum cantiknya.
"Uda bangun," ku kecup keningnya penuh rasa cinta.
"Dingin ah di keringin dulu dong rambutnya,apa hari ini kamu ke kantor sayang??
"Iya,pukul 9 nanti ada meeting semoga proyek kali ini bisa aku ambil doain ya sayang."
Ku jawab dengan memilih kemeja di lemari setelah rapi dengan baju kantorku ku mendekat ke mayang yang terlihat lemas dan pucat aku sangat kawatir dengan nya ku pegang keningnya dengan telapak tangan ini.
"Badanmu tiba tiba panas sayang,kamu juga terlihat pucat kita ke dokter ya sayang.?"
Ajakku ke mayang aku sangat mengkawatirkan kesehatannya terlebih sekarang dia sedang mengandung.
"Tidak usa ya,hari ini aku akan beristirahat saja ya aku takut jika harus ke dokter,mungkin dengan istirahat aku akan baikan sayang."
Sengaja aku menolak ajakan mas bram untuk ke dokter karena aku merasa akan ada bahaya lagi jika semua orang tau aku mengandung lagi,itu lah yang aku takutkan.
"Kamu yakin hanya dengan istirahat kamu bisa sehat kembali,mayang jangan berfikir yang aneh aneh ya kasihan bayi kita ya,laki laki ataupun perempuan kelak setelah dia lahir dia yang akan meneruskan kepemimpinanku maka dari itu jagalah dia ya." ku katakan dengan sangat hati hati takut jika perkataanku menyingungnya wanita hamil katanya kan lebih sensitif dalam segala hal.
"Justru itu lah yang aku pikirkan mas, apa kamu sudah lupa dengan semua yang kita alami,apa kamu juga lupa jika ini bukan kehamilan pertamaku mas,apa kamu tidak mencurigai sesuatu yang aneh dengan kehamilanku yang lalu dan..??"
Tak sanggup rasanya aku meneruskan kalimat itu lidah ini seperti membeku dan bibir ini justru mengeluarkan isakannya terlalu pedih bagiku jika mengingat semuanya.
"Maksud kamu..??"
Ku dudukan badan ini dan menghadap ke arahnya,ku remas jemarinya yang kini terasa sangat dingin.
"Mas,apa kamu tidak merasa aneh atau ada yang janggal dengan kejadian yang berulang kali kita alami,coba kau ingat ingat mungkin kau akan menemukan keanehan itu mas."
Jawabku dengan suara serak menahan tangis,ku lihat mas bram nampak berfikir dengan pandangan lurus ke depan dan sekejap kemudian dia sudah menatapku dengan tatapan yang sulit ku artikan.
"Ya kau benar sayang,ada yang janggal dengan semua itu aku baru menyadarinya setelah kau mengingatkanku,semuanya terkesan seperti sudah di atur tapi siapa dalang dari semuanya itu sayang."
Jujur aku memang menyadari semuanya tapi kenapa aku baru mengingat semuanya terasa janggal dan seperti sudah di atur,tapi aku tak tahu siapa yang sudah tega melakukan itu terhadapku,perasaan aku tak punya musuh dan aku pun bukanlah orang yang jahat ataupun kejam bahkan aku terkenal ramah dan penyabar lalu siapa yang tega melakukannya terhadap keluargaku,ku tautkan kedua alis ini menatap wajah mayang yang sedari tadi memandang kebingunganku.
"Andai aku tau,sudah ke masukan dia ke penjara mas."
Sahutku saat menyadari tatapan dari mas bram yang kebingungan.
"Hhm mas,boleh aku usul??
ku gigit bibir bawah ini karena aku takut usulku kali ini di tolak olehnya.
"Silahkan sayang apa usulmu,selama usulmu tidak menyakiti kita aku akan menerimanya."
"Sayang apa lebih baik kita sembunyikan saja dulu tentang kehamilanku,pada semuanya termasuk pada alisya,ya walau aku tau dia sangat menginginkan seorang adik,apa kau menerima usulku.?" kupandang lemas wajah di hadapanku ini,berharap dia tau maksudku.
"Kenapa harus di sembunyikan,alisya pasti senang jika dia tau sayang."
"Mas,aku tak bermaksud membuat sedih alisya tapi kita harus menyelidiki ini semua apakah benar itu semua murni sebuah kecelakaan ataukah ada tangan lain yang mendalanginya,jujur mas aku takut kehilangan dia lagi mas."
Ke elus lembut perut yang datar ini.
"Nanti kita bicarakan lagi ya,aku akan diam tak memberi tahu siapa pun tentang semua ini,ayo kita sarapan dulu sayang aku takut akan kesiangan tiba di kantor."
Ya ku putuskan untuk mengakhiri dulu pembicaraan ini,dan mengajak mayang untuk sarapan.
"Ya sudah tapi fikirkan lagi usulku ini, aku sedang malas untuk sarapan tapi aku akan menemanimu dan alisya sarapan mungkin dia siap dan menunggu kita di meja makan."Jawabku sambil menarik selimut yang menutup tubuh ini.
Ku rangkul bahu istriku ini dan berjalan bersama keluar kamar.
"Pagi tuan nyonya,sarapan sudah siap." dengan senyum bibik menyapa ke arah kami.
"Pagi,bik alisya mana bik tumben nih anak." Tanyaku saat sudah duduk di atas kursi dan tidak melihat alisya di pagi ini.
"Non Alisya belum keluar dari kamar nyonya,apa perlu saya panggilkan??
"Gak usa bik biar saya saja yang panggil bibik teruskan saja kerjaannya,oia bik apa di dapur ada s**u coklat kalau ada tolong ya bik buatkan satu untuk saya."
"Sepertinya ada nyonya,s**u coklat punyanya non alisya,apa nyonya mau?"
"Iya mau bik tolong ya bik, mas mau s**u coklat juga.?"tawarku ke mas bram
"Ndak usa aku sudah minum teh hangatnya,tumben sayang lagi pengen ya."godaku ke mayang
"Ssttt..." dengan jari telunjuk ku arahkan dibibir tanda agar mas bram tak meneruskan kata katanya dan melihat kesekeliling rumah takut jika ada yang mendengar dan curiga.
"Sudah ya jangan di bahas,mas mau makan ikan apa sini aku ambilkan, tumben ya alisya kok belum keluar mas biasa nya dia uda rame duluan lo."
Mengambil piring mas bram dan menyendokan nasi beserta lauk dan sayurnya.
"Ini mas,aku tinggal ke kamar alisya dulu ya.??pamitku di balas dengan anggukan kepala mas bayu.
"Pagi mama papa."sapa alisya dengan riang.
Belum sempat badan ini berdiri suara riang alisya sudah menyapa pendengaranku,dengan senyum ku balas pelukannya.
"Baru aja mama mau ke kamar kamu,eh uda nongol aja nih bocah,hmm kok tumben kamu ini biasanya nomer satu di meja makan."
Tanyaku ke alisya yang sudah sibuk mengambil nasi dan lauk untuk sarapan nya,ya dia alisya putri ku dan mas bram yang kini masih berusia 9 tahunan tapi dia sangat mandiri dan menolak jika di bantu termasuk sekarang ini melayani dirinya sendiri tanpa mau aku layani, ku lihat bibik berjalan ke arah kami dengan membawa dua gelas s**u coklat di nampan.
"Ini nyonya,non s**u coklatnya."
Memberikan satu gelas ke tanganku dan menaruh satunya di meja makan.
"Makasih bik,bibik sudah sarapan dan yang lainnya juga sudah sarapan belum bik?"
"Loh bibik kenapa bikin s**u coklatnya dua gelas bik,kan cuma aku yang minum bik."dengan wajah bingung ku tanyakan pada bibik.
"Eh iya non,tadi mama non alisya minta bikinin jadi bibik bikin dua gelas, maaf Nya saya sudah sarapan barengan sama yang lainnya tadi Nya,saya permisi dulu ke belakang ya Nya." pamit bibik
"Iya bik,silahkan." jawabku kemudian menyeruput s**u hangat itu,entahlah rasanya sangat nikmat sekali s**u ini di lidahku dan kudengar mas bram sedang bicara pada alisya.
"Alisya,lain kali kalau ada mama sedang ngobrol sama bibik jangan di potong ya sayang,kasian itu bibiknya tadi bingung mau jawab yang mana."
Dengan suara lembut dan tangan mengelus rambut panjangnya ku berikan pengertian pada alisya agar tak mengulanginya lagi,aku pun sudah selesai sarapan dan bergegas berangkat ke kantor.
"Iya pa,maafin alisya ya pa janji deh gak ulangi lagi pa.!!"jawab alisya dengan menundukan kepala.
"Iya Sayang papa berangkat ke kantor dulu ya,berangkat sekolahnya hati hati ya gak boleh nakal ya cantik."
Ku kecup kening putriku dan beralih pada kening istriku berjalan menuju pintu utama berbarengan dan berkata dengan pelan ke arah mayang.
"Siap papaku sayang dan mamaku sayang."dengan hormat dan menunjukan deretan gigi putihnya.
"Sayang hati hati ya maaf sesuai permintaanmu aku akan menyembunyikan kabar baik ini,aku akan menyelidikinya mulai dari kantor ya."
"Iya mas maaf ya mas semoga kali ini kita bisa menyelamatkan nya karena naluriku yakin jika dia seorang anak laki laki yang tangguh sepertimu."
Tanpa sadar pipi ini sudah basah kembali,sungguh pahit memang jika harus mengingatnya berulang kali.
"Sudah jangan menangis,nanti alisya lihat ya,aku pergi dulu selesai meeting nanti aku kabari ya."
Ku usap air mata yang mengalir itu, d**a ini bergetar melihat lelehan air mata mayang rasanya sangat perih semoga aku bisa menemukan kejanggalan dalam semua kejadian yang aku alami dan mayang,Amiin.