"Nyonya benar-benar di bawah tekanan, Tuan."
Tangan Elvan terkepal kuat begitu melihat wajah Zehra yang lelah dari rekaman kamera pengawas yang terhubung langsung ke ponselnya. Sesekali wajah ayu sang istri basah oleh air mata dan diusap perlahan dengan ujung jilbabnya.
Elvan mengalihkan pandangannya pada Mirza. "Saya sangat berterima kasih padamu karena sudah mengusahakan ini. Berkat usahamu yang diam-diam memasang CCTV di balkon kamar Zehra, saya bisa melepas rindu walaupun sebentar."
"Saya sudah berkomitmen untuk menjadi tangan kanan Anda yang setia, Tuan."
"Mengenai gugatan cerai itu, apakah bisa dibatalkan? Bagaimana menurutmu?" tanya Elvan.
"Kuncinya ada pada Nyonya Zehra, Tuan."
"Zehra tentu pasti menolak, tapi saya khawatir jika suatu saat Zehra kalah oleh tekanan ibunya."
Mirza hanya bisa terdiam. Ia pun memikirkan hal yang sama dengan Elvan. Bisa saja pertahanan Zehra goyah. Perempuan itu hanya seorang diri melawan keegoisan ibu kandungnya sambil berusaha menjadi perisai untuk anak-anaknya agar mental mereka tetap stabil selama di rumah mewah yang menjadi penjara untuk mereka.
Elvan kembali mengamati ponselnya yang menampilkan Zehra sedang mengawasi Aura dan Aira bermain boneka di balkon. Dua gadis kecil itu mendapatkan boneka beruang dari Retno. Meskipun Zehra kesal dengan sang ibu, ia tak pernah mengajarkan anak-anaknya membenci nenek mereka. Sementara Adam sibuk membaca buku, seperti kebiasaan Zehra waktu kecil.
"Sepertinya Zehra tak banyak beraktivitas di sana. Pasti dia tertekan sekali," gumam Elvan.
"Kata salah satu pengawal, Nyonya Zehra lebih banyak di kamar. Dia baru keluar kamar kalau anak-anaknya mau bermain atau makan. Nyonya tidak pernah keluar rumah sejak tinggal di sana," tutur Mirza.
Elvan mendelik. "Kamu tahu dari mana?"
Mirza terkekeh pelan. "Maaf, Tuan. Salah satu pengawal Ibu Retno adalah teman lama saya. Tentu saja dia adalah sumber utama informasi untuk Anda."
"Berarti kamu bisa leluasa masuk ke rumah itu untuk pasang CCTV ini karena dia, bukan?"
"Oh, jelas, Tuan." Mirza tersipu malu.
Elvan tertawa. "Wah, kamu cerdik juga! Sering-sering saja berpikir begitu!"
"Ah, Tuan bisa saja!"
***
"Aku tidak akan melepaskanmu."
"Diam! Kamu yang memaksaku melakukan ini!"
"Bukankah kamu menikmatinya? Kenapa sekarang kamu malah menghindar dariku?"
"Kamu membuatku muak, Frans!"
"Muak? Kenapa, Retno?"
"Kamu sudah bangkrut. Kamu tidak bisa menjamin kehidupanku lagi!"
"Oh, jadi begitu, ya?"
Pria paruh baya yang masih terlihat tampan di usia setengah abad itu tersenyum sinis. Ia tatap Retno dari atas ke bawah.
"Kenapa kau melihatku begitu?"
"Kau memang cantik, masih sangat cantik." Frans berjalan mendekat, sampai tak menyisakan jarak sedikit pun. "Tak ku sangka mendiang suamimu tertipu dengan kepolosanmu, padahal hatimu begitu busuk. Kasihan pula putrimu yang harus terlahir dari rahimmu. Untung saja tabiatmu tak menurun padanya."
"Frans, kau jangan --"
"Jangan apa, hmm?"
"Jangan pernah bocorkan rahasia kita berdua!"
"Jangan mengancamku, Retno! Kau tentu tahu kalau aku lebih berkuasa darimu. Detik ini juga, aku bisa membuatmu mati mengenaskan tanpa perlu mengotori tanganku."
Retno tak bisa berkutik. Pria yang bernama Frans Archer tak pernah main-main dengan ucapannya. Ia sampai menyalahkan dirinya sendiri karena nekat berurusan dengan Frans. Tubuhnya kini bergetar hebat ketika tatapan Frans semakin tajam seolah hendak mengulitinya hidup-hidup.
Frans tidak akan pernah melepaskan Retno begitu saja setelah semua pengorbanannya untuk wanita itu. Miliaran rupiah telah ia habiskan untuk memenuhi keinginan Retno yang tak pernah puas akan harta peninggalan mendiang suaminya, bahkan ia membantu menyelamatkan perusahaan milik mendiang suami Retno agar tak jatuh dalam kebangkrutan.
Frans mencintai Retno, tetapi Retno malah memilih pria asal Turki itu karena waktu itu kondisi ekonominya masih lemah. Siapa sangka, sepuluh tahun Retno menikah, mereka bertemu kembali dan menjalin hubungan terlarang.
"Jika kau ingin lepas dariku, maka kau harus mengembalikan semuanya!"
***
Zehra berdiri seraya menatap kosong ke arah taman belakang rumah itu. Tempat di mana ia menikmati masa kecilnya selama sang ayah masih hidup. Ayahnya adalah cinta pertamanya. Pria itu tak pernah menyakitinya. Ia pun sangat beruntung karena ia juga memiliki seorang suami yang tak pernah menyakitinya.
Ah, bagaimana keadaan kekasihnya itu? Berminggu-minggu mereka tak bertemu. Anak-anaknya pun merindukannya. Surat gugatan cerai yang Retno ajukan atas namanya juga sudah ia robek. Ini adalah rumah tangganya dan Zehra tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkannya, termasuk ibunya sendiri.
"Bunda." Adam menghampiri Zehra, lalu memeluknya dari belakang. "Kenapa Bunda belum tidur?"
"Gimana dengan adik-adikmu? Kamu juga belum tidur." Zehra menarik perlahan tangan Adam, lalu memeluk erat tubuh kecilnya.
"Si kembar udah tidur dari tadi. Bunda mikirin Ayah?"
Zehra mengangguk pelan. "Sekarang Ayah ada di mana, ya? Apa Ayah baik-baik saja?"
"Ayah orang yang kuat. Ayah pasti baik-baik aja. Mungkin dia di suatu tempat yang jauh, tapi aman. Bisa jadi Ayah sedang merencanakan sesuatu."
Zehra tersenyum. "Tahu dari mana kamu?"
"Hanya feeling?"
"Kamu ini!" Zehra mencubit gemas pipi putra satu-satunya. "Pintar sekali, persis ayahmu."
"Bundaku juga pintar. Pintar banget malah."
Zehra tersenyum lebih lebar. Ia sangat bersyukur bisa melahirkan anak-anak yang hebat dan selalu menjadi penenang jiwanya. Dalam hati pun ia berharap semoga Elvan selalu baik-baik saja, meskipun ada rasa bersalah karena ia tak sempat merawat Elvan saat terluka akibat berusaha melindunginya.
Apakah Zehra tak pernah berusaha kabur dari rumahnya? Tentu saja pernah, akan tetapi pengawal ibunya berhasil mencegahnya. Lebih parahnya lagi, Retno mengganti pagar rumahnya dengan lebih tinggi dan setiap sudut rumah itu dipasang kamera pengintai.
"Tidurlah, Adam."
"Mau sama Bunda. Bunda juga harus tidur."
"Baiklah, Bunda juga ikut tidur."
***
Retno tersenyum licik begitu ia berhasil membuat ulang surat gugatan cerai atas nama Zehra. Ia sudah membayar mahal pengacara yang akan membawa surat gugatan tersebut ke pengadilan agama. Ia harus membuat putrinya segera bercerai agar Xavier bisa segera menikahi Zehra dan akhirnya memiliki menantu yang kaya raya.
"Kenapa Nyonya tak suka pada Elvan?" tanya pengacara itu.
"Siapa yang suka memiliki menantu miskin dan tidak jelas asal-usulnya seperti dia?" Ucapan Retno terdengar sinis.
"Bukankah Zehra terlihat bahagia dalam pernikahannya?"
"Bahagia apanya kalau nggak punya uang!"
Tanpa Retno sadari, pengacara tersebut tersenyum sinis sembari menggerakkan pulpen kecil di saku jas hitam miliknya. Setelah itu, ia ambil amplop coklat berisi surat gugatan cerai Zehra.
"Baiklah, saya ambil ini. Besok pagi akan saya bawa ke kantor pengadilan agama."
"Bagus! Memang seharusnya kau melaksanakan tugasmu."
Pria itu berdiri, lalu bergegas pergi meninggalkan ruang kerja Retno. Dengan langkah cepat, ia keluar dari rumah mewah itu dan bergegas masuk ke dalam mobilnya.
Ponselnya berdering, lalu ia jawab panggilan tersebut.
"Gue berhasil, Za!"