Minggu 29 Mei 2010, pada hari itu seorang gadis cantik telah bersiap-siap untuk pergi merantau ke Jakarta, demi membantu perekonomian keluarganya yang lagi krisis.
Calista Amora, gadis cantik berusia 25 tahun. Memiliki sifat periang, ramah dan mudah bergaul sehingga disenangi warga desanya. Namun pada suatu hari, ayahnya mengalami kecelakaan di tempat ia bekerja. Karena kecelakaan itu pula yang mengakibatkan ayahnya lumpuh dan tidak bisa bekerja lagi, sehingga kebutuhan sehari-hari di keluarganya menjadi tanggung jawab ibunya yang hanya seorang penjahit rumahan, dengan penghasilan tidak seberapa.
Calista pun tidak tega melihat ibunya yang bekerja keras dan selalu terlihat lelah, tapi ibunya selalu berusaha tegar di depan suami dan anak-anaknya. Calista tau ibunya merasa lelah dan capek, tapi beliau tidak pernah sekalipun mengeluh dengan keadaan keluarganya.
Calista mengusulkan pada ibunya, bahwa dia ingin bekerja membantu ibunya mencari nafkah, tapi ibunya menolak dengan usul Calista. Karena pekerjaan di desa tidak cocok dengan Calista. Karena saat ayahnya masih sehat, Calista tidak pernah kerja keras meskipun dia bukan dari keluarga berada, tapi ayahnya selalu memberikan yang terbaik untuk keluarganya.
Calista gadis yang selalu patuh pada kedua orang tua. Dia tidak pernah sekalipun membantah perkataan orang tuanya, karena itulah dia sangat disayangi banyak orang. Hingga pada suatu hari, tepatnya hari Senin, adiknya Calista pulang sekolah lebih awal sambil menangis dan langsung masuk ke kamarnya tanpa memperdulikan Calista dan ibunya yang sedang bertanya padanya.
Calista memiliki adik berusia 13 tahun yang bernama Rendy, yang masih duduk di bangku SMP. Lalu Calista menyusul Rendy ke kamarnya, setelah mengatakan pada ibunya kalau dia akan bertanya pada Rendy apa yang terjadi di sekolah. Sehingga dia pulang dalam keadaan menangis. Rendy bukan anak yang cengeng, apalagi dia seorang laki-laki, tidak mungkin ia bisa menangis hanya karena masalah spele. Saat sampai di depan kamar Rendy, Calista mengetuk pintu kamar itu.
Tok-tok-tok!
"Rendy, Kakak boleh masuk gak?" tanya Calista dari luar kamar.
Hening, tidak ada jawaban dari dalam kamar. Lalu Calista memanggil adiknya lagi, untuk memastikan bahwa adiknya itu baik-baik saja.
"Rendy, kamu di dalam kan?" tanya Calista lagi.
"Iya, masuk saja, Kak!" saut Rendy dari dalam kamarnya.
Akhirnya Calista pun masuk ke kamar adiknya. Calista melihat Rendy sedang menghadap keluar jendela, dengan tangan dilipat ke d**a. Calista duduk di pinggir tempat tidur Rendy, lalu bertanya dengan sangat hati-hati pada adiknya itu.
"Rendy, ada apa? Kenapa anak cowok kok pulang nangis-nangis? Ditanya Kakak sama ibu gak di jawab. Apa ada masalah?" tanya Calista
Rendy melihat sekilas ke arah kakaknya dan kembali melihat keluar jendela sambil menghela nafas panjang.
"Huuuf....! Aku di ancam dikeluarkan dari sekolah, Kak. Karena sudah beberapa bulan tidak bayar uang sekolah. Dan kepala sekolah hanya memberikan waktu tiga bulan saja. Jika dalam waktu tiga bulan aku belum juga membayarnya, maka aku akan dikeluarkan dari sekolah. Darimana kita dapatkan uang sebanyak itu hanya dalam waktu tiga bulan, Kak? Sementara kita tahu sendiri, sekarang kondisi keluarga kita hanya bergantung pada penghasilan ibu. Apa aku berhenti sekolah aja, Kak? Aku cari pekerjaan aja ya, Kak! Agar bisa bantu ibu," usul Rendy pada kakaknya.
Calista sangat kaget dengan pernyataan Rendy, Calista pun menolak atas keinginan adiknya yang ingin berhenti sekolah. Calista tidak ingin adik laki-laki satu-satunya itu putus sekolah, meskipun dia sendiri tidak tau bagaimana cara mendapatkan uang dalam waktu yang sangat singkat itu.
"Tidak Rendy, kamu tetap harus sekolah, bagaimanapun caranya kamu tidak boleh putus sekolah. Dek, ingat kan? Apa yang dikatakan ayah saat ayah masih sehat? Apapun keadaan kita, kita tidak boleh patah semangat," tutur Calista pada adiknya.
"Iya baiklah, Kak. Aku akan tetap sekolah, semoga saja sebelum waktu tiga bulan, aku sudah bisa membayar uang sekolah," ujar Rendy dengan nada lesu.
Setelah puas berbincang-bincang dengan adiknya, Rendy pun telah memutuskan akan tetap bersekolah berkat nasihat yang diberikan kakak perempuannya.
Calista pun pamit keluar dari kamar adiknya dan langsung menemui ibunya di kamar. Saat sampai di kamar ibunya, Calista melihat ibunya baru selesai shalat. Calista pun langsung duduk di hadapan ibunya lalu menceritakan apa yang tadi di ceritakan Rendy padanya.
Ibunya Calista menarik nafas dalam-dalam dan matanya mulai berkaca-kaca, beliau mengerti pasti Rendy sangat malu pada teman-teman dan gurunya, karena tidak membayar uang sekolah. Namun mau bagaimana lagi, semenjak suaminya dinyatakan lumpuh, hanya penghasilannya sebagai penjahit yang mencukupi kebutuhan sehari-hari di keluarganya, itupun kadang sering kekurangan.
Ibunya Calista tidak menyalahkan siapapun, apalagi takdir. Karena ini semua sudah di atur sama Allah Swt, dan beliau selalu sabar dan tawakal atas segala yang terjadi pada keluarganya.
Calista memeluk erat ibunya, ia juga mengutarakan keinginannya untuk membantu ibu dan ayahnya agar bisa membiayai sekolah Rendy adiknya.
"Kita akan menghadapi ini bersama, Bu. Lita akan bantu ibu dan Rendy. Tapi..." Calista menggantung ucapan nya, "Lita akan meratau ke Jakarta, Bu," ujarnya lagi.
"Apa...? Jangan bercanda kamu, Nak." Ibu Widya menatap Calista yang menunduk.
Ayahnya Calista bernama Rismanto, dan ibunya bernama Widya Risman. Ayahnya Calista hanya seorang petani teh di desanya. Sedangkan ibunya, hanya seorang penjahit rumahan. Meskipun hasil jahitan tangannya sangat bagus, tapi mereka tidak memiliki modal untuk membuka usaha konveksi, atau membuka sebuah toko baju kecil-kecilan.
"Bu, Lita mohon! Izinkan Lita pergi ke Jakarta." Calista menggenggam tangan ibunya
"Tapi, Lita." Ibu Widya keberatan dengan rencana Calista
"Lita janji, akan jaga diri dan Lita akan selalu berhati-hati." Calista menatap ibunya.
"Lalu, ayahmu?" tanya ibunya Calista.
"Bu, ibu percaya kan sama Lita?" tanya Calista.
Sambil bersimpuh di kaki ibunya, Calista memohon izin pada ibunya agar di izinkan pergi ke Jakarta. Ibunya Calista menangis menarik Calista ke pelukannya dan bertanya pada Calista.
"kamu akan kerja apa di Jakarta, Lita? kamu tidak tau Jakarta seperti apa? Dan kamu juga tidak kenal orang di Jakarta, lalu bagaimana Ibu bisa melepaskan mu pergi kesana? bagaimana Ibu akan mengatakan pada ayahmu nanti, Lita?" ibunya Calista menangis lalu mendekap anaknya.
"Kita akan menjelaskannya sama ayah, Bu. Ayah pasti mengerti, ini demi Rendy.
Lita tidak mau jadi kakak yang egois, Bu! Yang mengorbankan masa depan adiknya hanya karena keadaan kita seperti sekarang. Lita kan sudah dibekali ayah dengan ijazah sarjana. Lita yakin akan mendapatkan pekerjaan yang layak dengan bekal yang telah ayah berikan pada Lita. Biarkan Lita jadi orang yang berguna buat keluarga kita, Bu," tutur Calista.
Calista Amora atau panggilan sayang dari ayahnya, yaitu Lita. Dia seorang sarjana lulusan Universitas XXX jurusan sekretaris. Calista kuliah dengan beasiswa berkat kecerdasannya, walaupun sebenarnya dulu dia mampu kuliah dengan di biayai orang tuanya, tapi Calista tetap menggunakan kecerdasan otaknya dengan mengejar beasiswa demi meringankan beban orang tuanya.
Calista pun berhasil meraih nilai tertinggi hingga lulus kuliah. Tapi pada saat setelah kebahagiaan kelulusannya lah, ayahnya mengalami kecelakaan dan dinyatakan lumpuh permanen.
Calista dan ibunya lalu masuk ke ruangan khusus ayahnya dirawat dengan peralatan medis seadanya. Karena selain dinyatakan lumpuh permanen, ayahnya juga mengalami riwayat penyakit jantung. Jadi dia harus selalu di kontrol kesehatannya, walaupun dengan peralatan seadanya yang ada di desa itu.
Desa tempat tinggal Lita termasuk desa yang maju dengan pesat, semua pasilitas lengkap termasuk Rumah Sakit. Walupun tidak sebesar Rumah Sakit di kota-kota besar.
Calista menggenggam tangan ayahnya yang nampak pucat dan mulai kurus. Calista menagis melihat kondisi orang yang sangat ia cintai terbaring lemah tak berdaya seperti sekarang. Dalam isak tangisnya, Calista meminta izin pada ayahnya.
"Ayah, maafkan Lita! Karena Lita belum bisa membahagiakan Ayah dan Ibu juga Rendy. Lita minta maaf, Ayah. Karena Lita cuma menyusahkan Ayah dan Ibu. Sekarang Lita mau minta izin sama Ayah. Lita mau bekerja menggantikan Ayah. Lita mau cari kerja di kota. Ayah restui Lita ya...! Lita janji akan selalu dengerin nasihat Ayah. Lita akan selalu hati-hati dan jaga diri Lita sendiri. Ayah harus sembuh ya! Biar bisa lihat Lita sama Rendy suskes nanti, sesuai keinginan Ayah," tutur Calista sambil menagis.
Calista dan ibunya sama-sama menangis, lalu mereka memeluk ayah dan suaminya yang terbaring lemah. Setelah di rasa cukup untuk berbicara dengan ayahnya, walaupun tidak dapat jawaban apapun dari sang ayah. Akhirnya Calista keluar dari kamar ayahnya, lalu berjalan menuju kamarnya untuk mempersiapkan barang-barang yang akan di bawanya ke Jakarta.
Saat sedang berkemas di kamarnya, terdengar pintu kamarnya di ketuk. Calista mempersilahkan orang itu masuk.
Ceklek...!
Pintu terbuka, terlihat Rendy yang masuk ke dalam kamar Calista. Rendy melihat kakaknya sedang mempacking pakaiannya, ia pun lantas bertanya.
"Kakak, kakak mau kemana? Kok baju-baju kakak di masukin ke koper? Kakak gak ada niat buat ninggalin kita kan, Kak?" tanya Rendy dengan menatap tajam kakak satu-satunya itu.
Calista menghentikan kegiatannya lalu menatap Rendy. Calista menjelaskan semuanya dan menceritakan bahwa dia akan pergi ke Jakarta untuk mencari pekerjaan agar ia bisa membantu ibunya dan membiayai sekolah adiknya itu.
Rendy pun tak kuasa menahan air matanya mendengar penjelasan dari kakaknya, ada rasa haru, bahagia, dan sedih semua bercampur jadi satu.
Rendy terharu kakaknya mau berkorban menjadi tulang punggung keluarga, dan bahagia akhirnya dia akan tetap sekolah, tapi dia sedih karena akan berpisah dengan kakaknya itu, dan waktunya tidak bisa di tentukan akan berapa lama, itu membuat Rendy tak kuasa menahan tangisnya, lalu ia memeluk erat kakaknya. Calista pun membalas pelukan adiknya.
"Dek, kamu harus jaga ibu dan ayah selama Kakak gak ada disini! Kamu harus selalu fokus dengan sekolah mu, dan jangan kecewakan Kakak oke." Calista tersenyum paksa. Karena sebenarnya hatinya sangat sakit akan berpisah dengan keluarganya untuk pertama kali.
"Iya Kak, Kakak hati-hati ya! Kabari Rendy juga, kalau ada apa-apa. Rendy janji akan jaga ayah dan ibu selama Kakak gak ada disini," ujar Rendy.
Setelah selesai semua dengan peralatan yang akan di bawanya ke Jakarta. Kini Calista sudah berada di ruang tamu bersama Rendy dan ibunya. Mereka akan pergi mengantar Calista ke terminal bus menuju Jakarta.
Di terminal XXX Calista sudah membeli tiket dan menunggu bus yang akan berangkat, tak berapa lama bus pun datang, dan pihak terminal menyampaikan pada Calista jika bus akan segera berangkat, dan Calista di suruh masuk kedalam bus itu. Calista pamit pada ibu dan adiknya sambil berusaha menahan tangisnya.
"Bu, Lita pergi ya...! Restui setiap langkah Lita," ucapnya.
"Iya Nak, kamu hati-hati ya sayang." Ibu Widya memeluk Calista.
Rendy, jagain ibu! Kakak titip ibu sama ayah ya, Dek! Kalau ada apa-apa kabari kakak." Calista merangkul adiknya.
"Iya Kak, Kakak juga hati-hati ya." Rendy tersenyum pada kakaknya.
Mereka bertiga berpelukan sebelum Calista masuk ke dalam bus yang akan membawanya ke Jakarta. Bus pun berlalu, Rendy dan ibunya segera kembali kerumah mereka dalam keadaan sedih, karena ditinggal anak dan kakaknya.
Bersambung....