Bulan purnama bersinar terang, jalan setapak di taman istana tidak begitu gelap berkat sinarnya. Bunga-bunga, dedaunan yang dipangkas rapih, dan kolam yang memantulkan sinar rembulan nampak jelas malam itu. Sangat cocok untuk menemani malam yang sunyi dan damai.
Seorang pria dengan rambut dan bola mata hitam legam yang memadu dengan gelapnya malam melangkah pada jalan setapak itu. Langkahnya jelas dan tegap, setiap jejaknya yang terbentur dengan batu menghasilkan rima yang teratur.
Namun di saat yang bersamaan, alunan tubuhnya saat dirinya melangkah terasa santai. Tegap, tapi postur tubuhnya tidak terlihat kaku.
Bahkan kewaspadaan pria itu sedang menurun, pandangannya tidak lurus ke depan, melainkan terpana, terkunci pada bulan sempurna yang memamerkan keindahannya di langit malam.
Samar, bunyi burung hantu tertangkap pendengarannya, riak air kolam saat ikan-ikan berenang, pun gemersik daun yang terhembus angin tidak lepas dari pendengarannya. Tapi perhatiannya terus fokus pada bulan di atas. Seolah dirinya tersihir untuk hanya terpikat padanya.
Tlak!
Suara kecil dan halus itu tertangkap pendangaran tajam pria itu, suara yang seharusnya tidak ada di istana. Dia sangat hafal bunyi-bunyi setiap penghuni istana, termasuk serangganya.
Kepalanya menoleh, matanya mengedar dengan tajam mencari pelaku dari bunyi tersebut yang entah menghilang kemana sepersekian detik sebelum pria itu menoleh.
Anehnya, tidak ada suara apapun lagi setelahnya, sunyi. Namun dirinya pasti, suara tadi bukan berasal dari penghuni istana ini.
Satu menit, dua menit, pria itu terus mengamati spot yang sama sementara indranya yang lain menajam.
Dirinya mulai ragu, apa telinganya sudah tidak setajam dulu?
Dan kala dia berpikir demikian, perasaan itu kembali, dia merasakan keberadaan seseorang di belakangnya. Dengan cepat dia menolehkan pandangannya sedangkan tangan kanannya siap menarik pedangnya.
Benar saja, matanya menangkap sosok yang tertutup sempurna oleh kain hitam. Hanya sisa matanya saja yang terlihat, bahkan mulutnya pun tertutup rapat oleh kain.
Manik mata mereka sempat bertemu selama beberapa saat kala sosok itu berada di atas benteng istana yang tingginya mungkin lima meter lebih. Namun anehnya, pria itu tidak menarik pedangnya. Tangannya kaku dan pandangannya seolah terkunci kala matanya menatap sosok itu.
Begitu dirinya sadar dia nyaris membiarkan seorang penyusup kabur, sosok itu lebih dulu melompat turun sebelum dia berhasil sepenuhnya menarik pedangnya.
Pria itu mengernyit, kembali menyarungkan pedangnya dan berlari, melompati pepohonan yang berada dekat dengan benteng sebelum dia memanjat dan berhenti di atasnya.
Mata hitamnya menyapu setiap senti jalan di bawahnya, tapi tetap tidak menemukan jejak apapun. Dahan yang patah, kereta jerami yang berantakan maupun rumput yang terinjak, semuanya bersih, tidak ada yang berubah dari terakhir pria itu memeriksanya beberapa jam lalu.
Pendengaran pria itu bahkan tidak mendengar adanya langkah kaki walau dirinya sudah dua menit berdiam di atas benteng. Tidak mungkin dia masih berdiam di sekitar benteng, karena suara napas pun pria itu tidak mendengarnya.
Dahinya mengernyit sempurna. Matanya yakin menatap sosok itu, bahkan untuk sepersekian detik dia bisa melihat dengan jelas manik biru tua milik sosok itu. Tapi mengapa tidak ada jejak kepergian maupun keberadaan darinya?
Apa kemampuannya berkurang? Tapi tidak, baru tadi sore dia selesai berlatih dan tidak ada yang aneh dari hasil latihannya. Semuanya selesai dengan sempurna.
Lagipun, hal yang nyaris mustahil bagi seorang prajurit berpengalaman seperti dirinya tidak berhasil menangkap penyusup.
Jikalau demikian, berarti hanya satu jawabannya. Penyusup kali ini, sama hebatnya dengan prajurit kerajaan terbaik seperti dirinya.
====
Langkahnya yang senyap dan gerakannya yang gesit dan cepat mampu menyembunyikan pergerakan sosok berjubah hitam tersebut. Walau kain menutup sempurna mulut dan hidungnya, napasnya masihlah teratur meski dirinya sudah berlari sejauh setengah kilometer dalam tiga menit untuk menjauhi istana.
Posisinya gawat sekali tadi, seseorang menyadari keberadaannya, dia harus segera menjauh tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Tidak ada kemungkinan pasti bahwa pria tadi tidak mengejarnya, dia terlihat sama terlatihnya seperti dirinya. Sebuah kebetulan yang jarang ditemuinya, setelah dirinya meninggalkan gurunya.
Dengan perhitungan penuh, langkahnya mengambil jalan tercepat menuju hutan terdekat yang berjarak dua kilometer ke utara dari pemukiman. Di sana dia menyimpan kudanya. Sebuah alat transportasi terbaik untuk melarikan diri.
Seperti yang diperkirakannya, dia sampai sepuluh menit kemudian. Pepohonan yang saling menghimpit satu sama lain dengan jarak yang cukup menyambutnya seperti kawan lama. Setidaknya itu yang dirasakan olehnya, sebuah tempat yang sangat menggambarkan dirinya, hutan.
Sinar bulan yang berada di atas sana tidak mampu tembus sepenuhnya, dedaunan rimbun seolah membantunya untuk menangkal cahaya bagi siapa pun yang berjalan di dalam sebuah misteri yang tidak berujung.
Tapi hutan adalah kawan baginya, setiap tanah yang ia pijak, dedaunan yang berhembus oleh angin malam, dan para serangga serta hewan yang mengalunkan musik malam hari hanyalah teman berbincangnya. Tersesat atau mati di hutan sama sekali bukan gayanya.
Langkahnya berangsur memelan begitu sosok itu memasuki hutan lebih jauh. Pepohonan semakin rimbun dan sumber cahaya semakin tipis, tapi matanya masih bisa melihat cukup jelas.
Setelah beberapa saat berjalan menulusuri jejak tempatnya menyimpan kuda, akhirnya dia melihat secercah cahaya remang bewarna perak dari kejauhan. Sepertinya itu pantulan sinar bulan dari pelat yang berada pada kudanya.
Dirinya berjalan sedikit lebih cepat, memperlebar langkahnya namun tetap berhati-hati. Tidak ada yang tahu apa yang menunggu di balik daun yang menumpuk dan tanah lembab sebagai pijakannya.
“Maaf, kau jadi lama menunggu.” Dia membuka kain penutup wajahnya, menampakan wajahnya yang tidak terlalu tirus namun juga tidak bulat. Bibirnya yang merah muda alami terlihat berisi, kombinasi sempurna dengan mata dominan bulatnya yang dihiasi bulu mata panjang dan lentik. Bibir gadis itu membentuk senyum saat tangan putih bersihnya mengelus dahi si kuda.
Merasa tidak punya waktu lagi, gadis itu melepas tudung dan jubahnya. Lantas menarik tali yang mengikat rambutnya, membiarkan rambut panjang yang mengikal pada ujungnya terurai dengan nya. Lalu, tali dengan tanda nama ‘Elisha’ pada ujungnya itu diikatkan pada pergelangan tangannya.
Gadis itu menyimpan jubah hitamnya pada tas yang menggantung di kedua sisi perut kudanya sebelum dia menimpa setelan celananya dengan gaun ungu muda yang berbahan sutra. Barulah dia mengenakan jubah putihnya.
Setelah dia mengganti penampilannya, gadis itu melompat naik ke kudanya. Terlepas dari apa yang dikenakannya, gadis itu masih bisa melompat tanpa kesusahan.
Tangannya meraih lampu minyak yang digantungkan pada ranting pohon dan menyalakan apinya. Dirinya memerlukan lampu minyak itu untuk membaur sebagai warga kerajaan.
“Mari kita pulang, sudah cukup urusan kita di sini.” Gadis itu mengelus leher tunggangannya sebelum dia memacunya untuk berlari meninggalkan hutan.
20 Oktober 2023
SweetCupsy