Dyana POV
Aku seorang gadis biasa yang cukup terkenal di kampus karena nilai-nilaiku yang sangat bagus dan banyak yang bilang kalau aku memiliki wajah cukup imut. Aku tidak mau mengakuinya. Karena menurutku, aku sama seperti gadis-gadis lainnya. Kerjaanku hanya belajar, belajar, belajar lagi dan sesekali membaca komik di waktu bosan.
Hingga waktu wisuda tiba, namaku dipanggil ke atas podium karena memiliki nilai tertinggi. Yups.. aku lulus dengan nilai sempurna. IPK 4.00 atau biasa disebut Cumlaude. Sebuah hasil kerja keras yang sangat memuaskan untukku. Seusai acara wisuda, aku dan beberapa temanku mengadakan party di rumah Sherly, sahabat karibku dan sahabatku lainnya, Gia dan Wika.
Kami berempat berencana melamar pekerjaan di sebuah perusahaan terkenal di kota ini. Kami bersama-sama mengirim surat lamaran ke perusahaan tersebut dan menurut rumor yang beredar di kampus, karyawan yang bekerja disana diupah dengan gaji yang tinggi. Sedangkan rumor tambahannya, CEO perusahaan tersebut sangat tampan. Blasteran Eropa, katanya. Aku tidak terlalu peduli dengan rumor tambahan itu. Yang terpenting bagiku adalah aku mendapatkan pekerjaan yang aku inginkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hariku.
*******
Author POV
Beberapa hari setelah acara wisuda, Dyana, Sheerly, Gia dan Wika mengirim surat lamaran pekerjaan mereka ke perusahaan Pratama Jaya Group secara bersamaan. Tidak membutuhkan waktu berminggu-minggu, mereka mendapatkan balasan dari surat lamaran mereka melalui email. Hasilnya sangat mengejutkan.
"Astaga !!! Gue.. di........... Tolaaakk !!" Teriak Gia hisrteris.
"Gue juga. Lo wik ??" Tanya Sherly pada wika.
"Sama!" Sambil melirik Dyana.
Dyana belum membuka balasan email dari perusahaan tersebut. Ia juga takut jika lamarannya ditolak oleh pihak perusahaan. Namun, mereka semua terkejut melihat isi balasan email untuk Dyana.
Glek...
"Gue.. ga berani buka"
"Ih buka dong. Gue juga kepo lo di terima atau engga!!" Ucap Wika.
"Ga! Ga bisa! Tetep ga berani gue !"
Sherly menarik paksa hp Dyana dari tangannya. "Oppss.. gue dapet hp lo"
"Sher. Please... gue yakin, Gue juga pasti di tolak !"
"Hmmm.. felling gue bilang.. lo.. di terima. Oke. Kita liat dulu yaa.."
Sherly membuka email balasan dari perusahaan tersebut. Dyana menutup wajahnya erat dengan kedua tangan dan sedikit mengintip dari sela jemari. Wika dan Gia pun mendekat pada Sherly yang sedang membaca email tersebut. Tiba-tiba secara bersamaan, mereka berteriak, terkejut.
"HAAAHH !!!! SERIUS ??"
"Kenapa!!? ga di terima yaa ??"
"Lo.. lo lulus. Minggu depan, lo di panggil untuk wawancara disana" ucap Sherly bahagia.
"Hah ?!!! Serius ?? Yeyy !! Gue gak jadi pengangguran !!" Teriaknya sambil berjingkrak-jingkrak.
Gia dan Wika saling bertatapan dengan sedikit memanyunkan wajah kepada satu sama lain.
Dalam balasan email tersebut, Perusahaan beralasan bahwa yang memenuhi kriteria hanya Dyana Permata. Tidak sembarang orang yang bisa bekerja sebagai karyawan di perusahaan terkenal itu. Sejujurnya dari dalam hati, gadis berambut panjang itu sangat bahagia karena Pratama Jaya Group adalah tempat bekerja idamannya sejak ia masuk kuliah. Selain upah yang cukup tinggi, perusahaan akan memberikan penghargaan atas dedikasi karyawan yang bekerja dengan baik dan berkualitas. Hanya lulusan terbaik dan cerdaslah yang akan mendapatkan pekerjaan di Pratama Jaya Group.
"Yahh.. kita ga bisa kerja bareng-bareng dong?" Ucap Wika sedih.
"Ia Dy, gue pengen banget kita bisa satu tempat kerja." sambung Gia yang juga ikut sedih
Dyana menghela nafasnya panjang. "Gia, wika, walaupun kita ga bisa kerja bareng-bareng, kan, kita tetap bisa kumpul saat weekend."
"Iya. Udah. Jangan sedih. Kan, ga jauh dari Pratama Jaya Group, masih ada perusahaan lainnya. Gue juga mau coba lamar di tempat lain yang ga jauh-jauh amad dari rumah." ujar Sherly.
"Udah dong. Jangan sedih. Sini.. gue peluk dulu. Gue kasih sebagian dari keberuntungan gue hari ini ke kalian" sambil merentangkan kedua tangannya.
Gia, Wika dan Sherly menyambut pelukan lebar dari Dyana. Mereka akan mencari pekerjaan di perusahaan lain dengan semangat dan keberuntungan yang diberikan oleh Dyana.
Dyana melepas pelukannya."Gue janji, kalau gaji pertama gue cair, kita akan makan korean food ?!! Gimana ??"
"SETUJU!!!" Jawab Gia, Wika dan Sherly bersamaan.
*******
Marcel POV
Siapapun ingin menjadi pengusaha sukses di usia sangat muda. Seperti aku, Marcel Pratama. Semua usaha dan jerih payahku karena aku ingin memberikan yang terbaik untuk putraku. Raquello Pratama. Bagiku, dialah satu-satunya harta berharga yang aku miliki. Dia semangat untukku dan membuat aku bisa bertahan hidup hingga saat ini.
Aku hanya akan ada untuk Raquello. Tidak ada siapapun yang akan berada di sampingku, termasuk seorang wanita sekalipun. Walaupun aku masih memiliki banyak waktu untuk bertemu dengan wanita. Tetapi, jika Raquello tidak menginginkannya, aku tidak akan melakukan hal tersebut. Semua hanya demi putraku satu-satunya. Raquello Pratama.
"Papa !"
Aku terbangun dari lamunanku di depan meja makan sambil memegang sendok garpu di kedua tangan. Aku memandang wajahnya. "Kenapa, nak? Butuh sesuatu?"
"Pa.. minggu depan aku ada pementasan di sekolah. Papa bisa datang ?? Aku jadi pemeran utama! Seorang ksatria!!" Ucapnya dengan wajah bahagia dan sumringah.
"Wah.. anak papa memang hebat! Papa akan datang. Papa usahakan ya sayang!" Jawabku seraya mengusap kepala Raquello.
Ia terlihat bahagia. Aku pun ikut bahagia.
"Papa sangat keren !" Ucapnya lagi sambil menyuapkan roti ke mulutnya. Aku hanya memandangnya, tak menjawab.
"Papa adalah sahabat terbaikku dan juga papa yang hebat !" Ia mengacungkan jempolnya. Aku hanya tersenyum melihat wajah yang bahagia.
*******
Author POV
Tak terasa satu minggu pun berlalu. Dyana resmi menjadi karyawan di perusahaan Pratama Jaya Group. Ia dengan mudahnya menjawab semua pertanyaan yang diberikan oleh penguji dan juga ia sudah bisa mulai bekerja pada keesokan harinya. Dengan perasaan bahagia, Dyana segera pulang, menyiapkan semua peralatan yang sekiranya akan dibutuhkan saat bekerja. Serta tak lupa pula menyiapkan pakaian yang akan ia kenakan. Setelah menyelesaikan semuanya, ia merebahkan tubuhnya di atas kasur dan terlelap tidur.
Di kantor.
Seorang pria berbadan tinggi dan tegap berjalan di koridor kantor. Wajahnya sangat tampan. Tatapan matanya sangat tajam. Namun, ia tidak ingin melihat wajah siapapun saat sedang berjalan di koridor. Semua karyawan membungkuk hormat pada pria itu. Ada beberapa karyawan yang mengucapkan selamat pagi padanya. Ia hanya berlalu saat mereka menyapa dan segera berjalan menuju ruang kerjanya.
Baru saja ia duduk di kursinya tiba-tiba seseorang mengetuk pintu dan membawa beberapa dokumen ditangannya.
Seorang pria paruh baya menghampirinya yang sedang duduk santai. "Selamat pagi Pak Marcel. Saya membawa berkas yang anda minta"
"Letakkan di atas meja" perintahnya sombong.
"Baik pak. Saya permisi." Pria paruh baya itu berbalik sambil berjalan meninggalkan Marcel diruangannya.
"Tunggu !!. Siapa seketaris baru saya ?"
Langkah pria paruh baya itu terhenti, ia memutar badannya ke arah si pria sombong, pak CEO. "Dia, seorang wanita lulusan universitas terkenal di sini pak. Nilai ujian akhirnya sempurna. Serta, kepiawaian dan gaya busananya sesuai kriteria perusahaan. Namanya..." belum sempat ia melanjutkan, pria sombong itu memotong pembicaraan.
"Suruh dia masuk ke ruangan." Ujanya dingin sambil membuka berkas yang baru saja diletakkan di atas mejanya.
"Ba.. baik pak!"
Seorang wanita berjalan memasuki ruangan tersebut. Ia mengenakan pakaian blouse baby pink dan rok hitam sepanjang lutut. Gadis itu terlihat sangat feminin namun tetap rapi. Rambutnya di kucir satu agar terlihat segar dan tidak berantakan. Ia memoles Make up natural ala gadis-gadis korea yang sedang hits.
Pria sombong itu tidak menoleh sama sekali saat Perempuan tersebut berdiri dihadapannya.
"Selamat pagi. Perkenalkan.. Nama saya Dyana Permata. Saya yang akan bekerja sebagai sekretaris anda selama di kantor"
"Baik. Untuk hari ini, kamu akan menjadi sekretaris saya di kantor. Tetapi mulai besok, kamu harus berada di sebelah saya selama 24 jam. Mengerti ?".
Dyana tercengang dan tak berani menjawab perintah pria sombong itu. Ia masih syok mendengar ucapan si bos. Tiba-tiba...
BRAKKK !!!!
Dyana terloncat kaget mendengar suara hentakan tumpukan map yang dibanting Marcel tepat dihadapan Dyana.
"Bereskan semua berkas-berkas itu lalu duduklah ditempatmu. Di sana... " sambil menunjuk sebuah meja kosong di sudut ruang.
"B.. baik pak !"
Ia menelan ludahnya. Tak disangka jika pimpinan perusahaan ini sangat dingin dan arogan. Ia bahkan tidak melihat wajah Dyana sama sekali sejak dirinya masuk ke ruangan ini.
Dengan sedikit takut, Dyana pun berjalan perlahan menuju meja kosong yang ditunjuk oleh si bos sambil membawa berkas-berkas yang ada dihadapannya tadi.
"Hey kamu,..!! Nanti ikut saya kemana pun saya pergi. Termasuk saat saya berada di rumah. "
Langkahnya terhenti dan berbalik badan. "M..maksud.. bapak ??"
"Ikuti perintah saya atau kamu ingin di pecat? Saya membayar semua gaji karyawan disini lebih banyak dari perusahaan lain. Termasuk kamu !! Jadi, ikuti atau pecat? Pilihan Itu ada ditanganmu. Dan... jangan terlalu banyak bicara!!"
Glek...
Lagi-lagi, Dyana menelan ludahnya. Ini baru hari pertama. Bahkan belum ada 5 menit ia berada di ruangan ini tetapi pria itu sudah memberikannya pilihan yang tak mengenakkan hati. Dyana menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan.
Aku sering menonton sinetron. Banyak sekretaris yang menjadi simpanan bos. Amit-amit. Aku gak mau. Batin Dyana mengada-ngada.
"Baik pak. Akan saya ikuti "
Suasana ruangan terasa sangat dingin. Bukan karena ruangan ini ber-ac, tetapi kecanggungan yang extrim terjadi antara Dyana dan Marcel, bos barunya di kantor. Sesekali Dyana melirik Marcel yang mengotak-atik keyboard komputer dengan serius.
Meja Marcel yang terletak di depan pintu ruangan terlihat jelas dari tempatnya yang hanya berjarak beberapa meter.
Dyana masih melirik sembunyi-sembunyi. Wajahnya amat serius dan tidak ada raut senyuman terpoles di sana. Bagaimana bisa semua karyawan betah bekerja dengan orang seperti dia ??. Pikir Dyana.
"Jika kamu sudah menyelesaikan pekerjaanmu, ikut dengan saya" ucap Marcel tiba-tiba.
"Kemana, pak ?"
"Jangan banyak tanya!" Bentaknya dengan nada dingin pada Dyana.
Glek...
Dyana menelan ludahnya lagi untuk yang kesekian kalinya. Bukan karena ia haus, tetapi karena ia ketakutan melihat sikap dingin dan galak bosnya, Marcel Pratama.