Kelereng hitam jernih itu bergulir ragu, dia sudah bagun dari dua menit yang lalu namun ingatannya tidak menjelaskan apapun tentang kasur hangat dan tirai kasur megah di atasnya.
Bergerak dengan tidak nyaman, Xia merasakan sakit di seluruh tubuhnya. Apa penculik-penculik itu berhasil membawanya? Dan apa ini rumah b****l yang di isukan itu?
Xia merinding, kenapa dia tidak dibunuh saja malam itu? Lebih baik bukan dibanding dijual seperti ini?
Suara langkah kaki terdengar, begitu berat dan tegas. Membuat siapapun yang mendengar langkah itu merinding akan intimidasi yang kuat.
Menelan ludahnya, Xia memejamkan matanya kuat, ketakutan melingkupi tubuhnya begitu saja. Suara tirai mahal yang disingkap itu membuatnya semakin menahan nafas.
"Kau benar-benar sudah bangun rupanya." Suara itu bagai sungai dipagi hari, dingin dan tenang menusuk kedalam indra pendengaran Xia.
Mengintip dibalik kelopak mata itu, Xia mendapati seorang pria, dengan ikatan rambut tinggi dan hiasan kecil namun tampak bersinar juga mahal.
Siapa orang ini? Apa dia benar-benar di rumah b****l? Tuhan tolong katakan tidak.
"Kau takut padaku?" Suaranya masih setenang tadi, pria itu duduk diatas kasur, disebelah Xia. Menatap lurus kearah bola mata jernih milik gadis itu, memukau dan menenggelamkan.
"Saya sekali, padahal aku yang menyelamatkan mu saat itu." Tangan dingin dan lebar itu bergerak, mengusap pipi kurus milik gadis itu. Pipi seputih s**u, terasa lembut ditangannya.
"Menyelamatkan?"
(●´∀`●)
Langkahnya terburu-buru, menggenggam tangan-tangan kecil itu Xia mulai kehabisan nafas. Darah di dahinya terus menetes membasahi wajar pucat itu. Lima bocah kecil yang sedari tadi ia tuntun untuk berlari bersamanya juga tampak sudah sangat kelelahan.
Tidak! Tidak boleh, ujung dari hutan ini bahkan belum sama sekali terlihat, mereka tidak boleh ditangkap lagi.
"Ayo, kalian bisa." Sebisa mungkin Xia mengontrol nafasnya yang mulai sesak. Langkah-langkah itu mulai melambat, Xia terbantuk-bantuk namum tetap berusaha. bertahan.
Para penculik yang marak melaksanakan tingkah kejamnya itu terlihat di ujung sana, tampak semakin mendekat setiap detiknya. Menculik anak dan perempuan-perempuan muda. Dari kabar yang Xia dengar, para anak-anak itu akan di jual sebagai b***k, dan perempuannya akan di jual ke rumah b****l.
Sesak, dadanya sesak sekali. Pandangannya mulai berkabut. Langkahnya gadis itu mulai goyah. Memejamkan matanya sebentar Xia masih berusaha melangkah menuntung bocah-bocah didepannya.
Kelereng hitam itu menyipit begitu menagkap cahaya beserta suara langkah kaki kuda jauh didepan sana. Melihat samar-samar seragam yang dikenakan kuda-kuda itu hati Xia dipenuhi kelegaan.
Kuda kerajaan! mereka sudah sampai!
Mendorong tubuh bocah-bocah kedepan dengan kuat, Xia terbatu-batuk kuat. Matanya menyiratkan printah untuk terus berlari kearah para bocah yang dituntunnya.
Lagi pula dengan tubuh lemah itu apa yang ia harapkan? Hidup di musim dingin seperti ini saja setiap tahunnya sangat menyiksa. Mungkin ini memang jalannya untuk mati.
Lima bocah itu berlari, menjauh meninggalkannya yang terbatuk-batuk kehabisan nafas.
Tangan Xia ditarik dengan kasar, para penculik itu berhasil menyusulnya.
"Perempuan kurangajar!" Pipi Xia ditampar kuat, menghempaskan tubuh lemah itu keatas tanah yang ditutupi salju tebal. Sudut bibirnya sobek dan berdarah.
Apa ini? Bahkan meskipun tidak mati karena penyakitnya dia akan tetap kesakitan?
Tubuhnya sudah terlalu lamas, dengan tubuh lemah ia sudah berlari dari tengah hutan sampai hampir benar-benar keluar dari daerah hutan gelap di seberang desanya. Semua tenaganya sudah habis, bahkan untuk bernafas terasa begitu menyakitkan baginya.
Ditengah hutan, diantara pohon-pohon yang sudah kehilangan daunnya, digantikan salju putih yang menutupi seluruh bagian hutan Xia tampak menyatu dengan alam.
Rambut sehitam kayu eboni dengan kulit pucat yang memerah karena dingin, dia bagai peri hutan yang tengah terluka.
Cantik, terlalu cantik. Bagai mutiara ditengah tubuh kerang, ia bersinar dengan alami. Sungguh kecantikan yang membutakan mata.
"Jangan bunuh dia, diantara semua orang yang kita tangkap dia yang paling menarik." Salah satu penculik itu berseru.
Tubuh Xia diangkat kasar. Pria itu menatap pasukan berkuda diujung sana. kemudian memaki.
Tubuh Xia yang sudah lemas diangkat keatas bahu, kemudian tiga pria penculik itu berlari kembali memasuki hutan.
Dada gadis itu semakin sesak, dia akan mati sakit sekali!
Suara langkah kuda terdengar dibelakang mereka, membuat langkah kaki pria yang membopongnya semakin cepat juga kasar, tubuhnya terguncang kuat menyebabkan benturan kasar pada perutnya.
Kuda itu bergerak kencang, melewati mereka kemudian berhenti didepan menghalangi jalan.
"Dia hanya sendiri. Ini tidak akan sulit." Suara kekehan dari pria yang menggendongnya terdengar.
Tubuh Xia dibaringkan dibawah pohon, terkapar tanpa perlawanan. Dia sudah tidak sanggup lagi bangkit apalagi berlari dalam keadaan ini.
Kepalanya menoleh kearah seorang pria yang berhadapan dengan tiga penculik itu.
"Kenapa dia nekat sekali!!" Xia berteriak dalam hati, dia akan melawan tiga penculik berbadan besar itu.
Xia berusaha membuat kontak mata, meskipun pandangannya sudah benar-benar kabur. Berusaha mengirim sinyal agar pria itu tidak nekat dan membahayakan dirinya sendiri.
Xia tidak dapat melihat dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi, namun suara teriakan-teriakan penculik itu terdengar saling bersahutan kecang, suara tulang-tulang yang patah pun terdengar kuat diantara suara angin dingin di tengah hutan.
Bayangan empat pria didepannya berganti, hanya satu pria yang terlihat berdiri dengan tegap disana. Siapa itu? Apa salah satu penculiknya? Atau pria yang datang menyelamatkannya.
Pria itu mendekat, Menatap Xia dari atas.
"Kupikir mereka berlebihan tentang kecantikan peri putih, tentang gadis yang lebih indah dari pada pemandangan yang ditutupi salju." Suara berat itu mengalung masuk kedalam telingannya, terdengar begitu menyeramkan namun entah mengapa terasa menenangkan.
Gadis yang tidak mampu bergerak itu terdiam, matanya yang tampak tidak fokus itu terlihat begitu memukau. Dengan baju putih yang robek disana sini kulit putihnya terlihat dibeberapa bagian. Tampak menyatu namun terpisah dengan salju. Rambutnya yang hitam pekat terurai menciptakan kontras antaranya dengan salju, namun kulit putih itu tampak berseru bahwa dia seputih salju. Dia benar-benar bagaikan peri salju.
Tubuh gadis itu diangkat lembut, tangan yang menyentuh kulitnya terasa begitu dingin, namun d**a bindang yang menyentuh tubuhnya justru terasa begitu hangat.
Pria itu bersiul dengan kencang, Suara hentakan kaki kuda diatas salju terdengar. Tubuhnya diangkat keatas kuda, disusul pria itu. Kemudian kembali disandarkan ke tubuh pria itu, sebelah tangannya memeluk tubuh gadis lemah itu, menahan agar kepala Xia tetap menempel pada dadanya meski tubuh gadis itu bergetar bersama hentakan langkah kuda.
Hangat dan nyaman, menyalurkan rasa hangat pada tubuh gadis itu, pandangannya yang kabur perlahan menggelap, kemudian kesadaran gadis itu tenggelam dalam kegelapan.
TBC ....
fantasy romance ya guys, hope you like it