'- Selamat Membaca -'
Revisi
Senin, 28 Juni 2021
______________________________
Perempuan dengan outfit sederhana yang ia kenakan setiap harinya, Baju kemeja maroon dan celana dasar bewarna hitam dan sepatu sneakers dan tas ransel hitam yang selalu ia bawa saat ke kampus. Ia tengah menunggu kedatangan seseorang yang telah berjanji akan ia temui saat urusan dikampusnya selesai.
Bicara masalah kampus, Kirana, nama perempuan yang tengah menyeruput Caramel Moccacino yang tinggal setengah dan Cheese cake yang telah habis menandakan jika orang yang ditunggunya telah ngaret sangat lama. Proposal judul yang ia ajukan kembali ditolak oleh pembimbingnya. Ia sudah frustasi dengan masalah per skripsian yang tak kunjung di acc, 'gimana mau di acc, judul aja masih di tolak'
Ketahuilah, didalam pikiran Kirana saat ini hanyalah bisa lulus dengan cepat lalu bekerja dan menunggu pendamping yang mau meminangnya. Jika tidak, maka ia akan mempertimbangkan untum melanjutkan studinya. Jika lamaranmu tak kunjung datang, maka aku akan melanjutkan pendidikan ku. Kalimat yang pernah Kirana lihat disalah satu media sosial yang begitu marak digunakan hampir semua kalangan masyarakat.
Ia setuju saja sih dengan kalimat itu, tapi masalahnya Otaknya sanggup? Entahlah. Ini saja dirinya sudah ingin menyerah dan mencari duda kaya raya agar hidupnya terjamin. Kenapa duda? Karna biasanya yang berpengalaman lebih menantang untuk di miliki.
"Kebiasaan deh si Elen, tiap datang gak pernah tepat waktu" dengus Kiran dan orang yang ditunggunya, telah menampakkan dirinya.
"Panjang umur lo, baru juga gue omongin"
"Maaf Ki, Tadi gue habis beli beberapa keperluan untuk acara Nikahan gue." Kiran memaklumi Helena- sahabatnya yang sebentar lagi akan melepaskan masa lajangnya.
"Santai Len, duduk dulu. Lo keliatan capek, pesan makanan atau minuman gih" Helen langsung saja mengiyakan usulan Kirana dan memanggil pelayan dan menyebutkan pesanannya begitu juga dengan Kirana yang kembali memesan makanan berat karna tadi ia hanya memesan cemilan sembari menunggu Helena dan dikarenakan waktu makan siang sudah masuk, ia akhirnya memesan kembali sekalian makan siang.
"Udah berapa persen persiapannya?" Tanya Kiran saat pelayan cafe pergi, ia memfokuskan dirinya pada Helena yang menyandarkan diri di kursi.
"80% dan hampir selesai semuanya, tinggal beberapa hal lagi sih tapi udah ditangani adik gue. By the way makasih banget lo udah bantuin buat nyari vendor untuk acara gue ntar dan gue juga srek banget sama vendor nya. Gatau lagi gue kalau lo gak bantuin Ki. Tapi ya, gue masih bingung gimana mau cari pengganti gue untuk ngajar di TK Nusatama. Seenggaknya untuk satu bulan aja deh. Abis itu gue balik lagi ngajar setelag honeymoon pastinya" Kiran terkekeh mendengar ucapan Helena yang langsung menceritakan keluh kesahnya dan ia juga memikirkan ucapan Helena yang tengah mencari guru pengganti untuk sementara.
"Gue aja gimana?" Mata Helena melotot tak percaya saat Kiran-sahabatnya dari SMA itu menawarkan diri. Padahal dulu Kiran menolak mentah-mentah saat ia ajak untuk menjadi guru disalah satu sekolahan sembari kuliah.
"Lo yakin? Kenapa tiba-tiba?" tanya Helena, karna ia tidak percaya jika Kiran mau untuk menawarkan diri menjadi seorang guru, karna Kiran sendiri pernah bilang jika menjadi seorang guru adalah hal yang tidak akan bisa ia lakukan. Ia bukan lah orang yang terlalu sabar menghadapi tingkah laku manusia yang beragam dan menjadi seorang guru itu tanggung jawabnya besar meskipun gajinya tidak sebanding dengan pengabdian yang dilakunan oleh guru-guru untuk mendidik calon-calon penerus yang sukses dimasa depan.
Dan jika Kirana telah mengajukan diri untuk terjun di dunia yang ia bilang memerlukan tanggung jawab yang besar itu, maka telah terjadi sesuatu hingga membuat Kirana berubah haluan.
Kirana mengangkat bahunya acuh, "Gue bosan, Judul gue ditolak mulu. Pengen refreshing, sekalian cari duit, soalnya gue sama Kak Radit lagi marahan dan dia nahan semua uang saku gue sampai gue minta maaf sama dia. Yakali gue bakalan ngelakuin hal itu."
"Emangnya masalahnya apaan sih sampai-sampai lo berantem sama abang lo? Padahal kan abang lo sayang banget sama lo. Adik satu-satunya."
Raut wajah Kirana menyendu mengingat ia yang tengah bermasalah dengan Abang kesayangannya itu. "Gue maki-maki Ayah waktu dia berkunjung ke rumah Bang Radit. Gue tahu sih tingkah laku gue kurang ajar, tapi lo tahu kan semua cerita masa lalu gue, yang gak akan pernah segampang itu buat gue maaf in kesalahan ayah gue hingga buat Bunda pergi ninggalin gue sama Bang Radit selamanya."
Helena tahu masalah itu, karna itu adalah saat-saat masalah bertubi-tubi menimpa Kirana dan bahkan sahabatnya ini pernah dibawa ke psikolog karna emosi Kirana yang gak stabil serta hampir saja ingin mengakhiri hidupnya menyusul Bundanya. Bunda Mayang, Ia sebagai sahabat Kirana juga merasakan kehilangan orangtua saat Bunda Mayang meninggal karna mereka sangat dekat bahkan orangtua mereka bersahabat dan kematian Bunda Mayang membawa luka mendalam pada Kirana.
"Bang Radit nampar gue dan bilang kalau gue gak sopan sama Ayah, padahal Bang Radit juga tahu kesalahan Ayah. Awalnya Bang Radit juga benci tapi sekarang malah dia udah maaf in Ayah secepat itu Len, gue gak bisa kayak Bang Radit. Ayah udah khianat in Bunda dan sama aja Ayah juga udah buat rasa percaya gue sama dia hancur. Dan gue gak semudah itu bakalan maaf in dia karna dia juga penyebab Bunda meninggal. Karna gue gak mau minta maaf sama ucapan kasar gue sama tuh orang tua, gue diusir Bang Radit dan semua fasilitas gue di cabut. Sial banget kan." Kirana menceritakan semuanya dengan tenang, seakan-akan dia hanya menceritakan kejadian yang tidak sengaja dialaminya. Jika orang luar melihat cara Kirana bercerita mungkin mereka akan berpikir Jika hal yang diceritakan Kirana tidak akan berdampak pada dirinya. Tapi ia, yang telah mengenal Kirana bertahun-tahun lamanya tahu jika keadaan perempuan itu tidak baik-baik saja. Bagaimana bisa dirimu baik-baik saja disaat satu-satunya keluarga yang kamu punya dan paling kamu sayangi dan satu-satunya tempat sandaran mu hilang.
Dan Helena yakin, jika Bang Radit tidak akan setega itu membiarkan adiknya luntang lantung dijalanan. Atau membiarkan adiknya kesusahan. Karna saat ini pandangannya tertuju pada parkiran. Ada sebuah mobil yang ia kenali dengan baik ada disana. Sedangkan Kirana tidak bisa melihat karna membelakangi posisi tempat parkiran Cafe. Itu adalah mobil Bang Radit. Abang Kirana.
"Jadi lo mau gantiin posisi gue?"
Kirana mengangguk mengiyakan. Karna tidak mungkin mengandalkan uang hasil freelance nya saja dan tabungannya. Ia harus mencari penghasilan tetap walaupun hanya untuk sementara waktu. Setidaknya ia bisa bertahan hidup dan menghidupi dirinya jika Bang Radit benar-benar tidak peduli lagi pada hidupnya.
"Kuliah lo?"
"Cuma tinggal nyusun skripsi doang kalau ntar judul gue udah di acc. Mata kuliah lain gue udah selesai semester kemarin."
"Oke, besok kita langsung ke TK Nusatama aja, ketemuan disana jam sembilan ya. Gue bakalan bilang Bu Kasih kalau lo yang bakalan nge gantiin gue buat sementara atau bisa jadi ntar lo diangkat jadu guru tetap disana. "
Senyum Kirana terbit. "Tapi lo harus minta maaf juga sama Bang Radit Ki, gue yakin Bang Radit gak akan setega itu buat nelantarin adik kesayangannya ini"
Kirana berdecak karna ucapan Helena ada benarnya. Mana pernah ia susah sekalipun ia bertengkar dengan Abangnya itu. Tapi kali ini, ia ingin membuktikan jika dirinya juga bisa bertahan hidup dan tidak menyusahkan Abangnya dan kakak iparnya.
"Nanti deh kalau gue udah gak kesal lagi sama Bang Radit" Helena menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Sahabatnya itu. Teringat dengan paper bag yang ia bawa, lalu memberikannya pada Kirana.
"Nih, gaun untuk jadi bridesmaid gue ntar. Punya si Lina udah gue kasih kemarin pas ketemu di kampus. Tinggal punya lo doang. Kemarin diajakin ketemuan gak bisa lo nya."
"Hahaha sorry deh, kemarin gue mager banget buat keluar dan lagi asyik main sama Hesa." Hesa atau Mahesa adalah keponakan Kirana dan jika mereka sudah bertemu maka jangan harap Kirana akan bisa dihubungi. Karna fokus Kirana beralih bermain sampai puas tanpa melihat hape seharian bersama keponakannya itu. Bahkan dulu saat awal-awal kuliah, Kirana yang menjaga Hesa karna Abang dan Kakak iparnya harus pergi keluar kota untuk menjenguk Orangtua Kak Danira yang dirawat di rumah sakit. Sudah dapat dipastikan Kak Danira dan Bang Radit akan fokus merawat Ayah dan Ibu Kak Nira sehingga Hesa dititipkan pada Kirana. Dan bocah itu lengket banget dengan the one and only aunty nya itu.
"Permisi, ini pesanannya" Makanan dam Minuman yang mereka pesan akhirnya datang dan mereka menikmati makan siang mereka sembari membicarakan hal lainnya.
•
•
•
•
•
"Selamat datang kembali Den Yasa" Sambut sopir yang bertugas menjemput anak majikannya yang akan menetap di Indonesia setelah beberapa tahun tinggal di luar negeri.
"Terimakasih Pak Jon, tolong bawakan koper saya yang ada disana ya" tunjuk laki-laki yang di panggil Yasa atau bernama Lengkap Yasa Manendra Wijaya dengan dagunya karna ia sedikit kesusahan menggendong dua anaknya yang mengalami jet lag sehingga membuat anaknya yang berumur lima tahun masih tidur dalam gendongannya. Satu gendong di punggung sedangkan satu lagi gendong dibagian depan. Nasib jadi duda dan mempunyai dua anak.
"Baik den" Pak Jon langsung menggeret troly yang berisi satu koper besar dan beberapa barang bawaan lainnya.
Yasa mengikuti langkah Pak Jon menunju mobil yang ada di parkiran bandara. Tubuhnya benar-benar lelah terlebih membawa kedua anaknya yang masih kecil dan butuh ekstra penjagaan sedangkan dirinya hanya sendiri. Beruntung anaknya tidak rewel dan mau mengerti kesusahannya.
Mempunyai anak kembar berumur 5 tahun dan ia harus mengurus sendiri semua urusan anaknya termasuk bisnis yang ia jalankan di luar negeri bersama temannya. Dan kali ini, ia diharuskan pulang oleh sang Ibunda Ratu yang memintanya untuk menetap di Indonesia. Terlebih ibunya juga ingin ikut serta untuk mengasuh anak kembarnya. Bersyukur dirinya keluarganya tidak mempermasalahkan masalah yang menimpa hidupnya beberapa tahun belakangan ini sehingga mempunyai dua krucil yang sangat menggemaskan ini. "Ayah sayang kalian" ucap Yasa berusaha sepelan mungkin memindahkan anaknya dari gendongannya kedalam mobil dan menata tempat duduk agar nyaman bagi kedua buah hatinya.
"Jalan sekarang den?" Tanya Pak Jon saat Yasa masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang bagian depan. "Iya pak. Saya tidur ya pak, nanti kalau sudah sampai, tolong bangunkan ya pak." ucap Yasa setelah memastikan kedua anaknya yang berada di kursi penumpang bagian belakang nyaman dan masih tertidur. Ini saatnya mengistirahatkan tubuhnya.
"Baik Pak" jawab Pak Jon dan menjalankan mobilnya meninggalkan bandara menuju kediaman Wijaya.
_____________________________
Bersambung....
Big Hug
REN
See you next chapter..