"Mba, buruan bangun toh Cah Ayu!" seruan dari ibu yang entah sudah ke berapa kali masih tetap tak mengubah posisi tidur sang putri.
"Astaghfirullah, kamu ini tidur opo semaput (pingsan) sih?" tanya ibu sembari menyingkap selimut yang menutupi badan putrinya, menggoyangkan bahu, lalu beralih menepuk pipi, dan terakhir menekan hidung dengan ibu jari dan telunjuknya, terus berusaha agar si putri tidur bangun.
Tidak peduli apa yang dilakukan ibu mungkin kategori pidana, bisa saja terkena pasal perbuatan tidak menyenangkan atau perbuatan merugikan orang lain. Hanya satu keinginan ibu yaitu si putri tidur lekas bangun.
"Hmmmm, nggih Bu nggih ini bangun."
Setelah usaha yang lumayan membuat lelah raga dan emosi jiwa, akhirnya si putri tidur pun menggeliat, menggerakkan tubuhnya. Tanda bahwa dia sudah masuk ke dunia nyata, bukan lagi di dunia mimpi.
Masih dalam posisi terlentang,
perlahan membuka matanya menyesuaikan dengan cahaya di kamarnya. Mengerjapkan mata beberapa kali sebelum penglihatannya benar jelas melihat sang ibu.
"Kamu ini loh anak gadisnya Pak Lurah, bisa-bisanya bangun kalah dari ayam berkokok," ucap ibu sambil menarik selimut yang menutupi kaki Kirana.
"Pantas saja jodohnya gak datang-datang, keburu dipatok ayam jodohmu itu Mba." Tangan Bu Rahayu melipat selimut lalu mengambil guling yang ada di bawah tempat tidur. Bisa dibayangkan bagaimana cara tidur Kirana.
"Ya aku kan bukan Roro Jonggrang yang harus bangun pagi buta, buat bangunin ayam supaya berkokok Bu," jawab Kirana yang sudah dalam posisi duduk, sambil mengikat asal rambut panjangnya yang berantakan.
"Jadi nggak salah toh kalau bangunnya siang. Itu Roro Jonggrang bangun pagi aja masih nolak berjodoh sama Bandung Bondowoso yang ngelamar dia."
"Kamu itu loh bisa aja njawal (menimpali) ibu. Wis sana buruan mandi! Katanya hari ini mau pergi ke Danurejo." Sang ibu mengingatkan sang putri.
Ya,, begitulah setiap pagi Kirana saat di rumah. Selain momen akur menghabiskan waktu dengan masak bersama atau belanja bersama. Ada saja hal yang diperdebatkan dengan ibu tercintanya. Dari mulai hal sepele yang sangat tidak penting untuk diperdebatkan, sampai hal besar apalagi kalau bukan soal jodoh.
Usia 26 tahun sudah sepatutnya Kirana ini menikah dan punya momongan, tapi itu menurut ibu dan bapak. Tapi tidak menurut Kirana. Dia masih ingin mengabdikan diri agar menjadi orang yang bermanfaat menurutnya. Mengajari anak-anak di desa tertinggal, atau di lokasi yang tertimpa bencana alam. Mengajari ibu-ibu agar lebih berdaya lagi dengan keterampilan dan pengetahuan yg Kirana dan teman-temannya ajarkan. Itu adalah hal yang menurut Kirana lebih berarti daripada sibuk memikirkan mencari pacar ataupun suami.
Bukan karena Kirana tidak cantik, sungguh dia memiliki wajah yang cantik dan ayu, mata bulat yang berbinar, bulu mata lentik, hidung mancung bibir kecil yang merah muda walaupun tanpa memakai lipstik. Kulit kuning langsat dan berambut lurus hitam legam. Memiliki tinggi badan yang tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu pendek, 164cm lumayan lah untuk wanita Indonesia.
_Sudah terbayang kan cantiknya Kirana?_
Mungkin dengan apa yang Kirana miliki, bisa saja dia mendapatkan kekasih atau suami yang tampan bak pangeran. Tapi sampai saat ini dia masih betah menjomblo alias tidak punya pasangan. Entahlah Kirana tidak pusing memikirkannya. Sepertinya dunia percintaan adalah dunia lain bagi Kirana.
🤍🤍🤍
"Sudah bangun Cah Ayune Bu?"
Tanya Pak Adi, seorang Lurah desa Wanajaya sekaligus ayah kandung dari Kirana. Beliau ini mempunyai dua anak. Pertama namanya Mas Giri, seorang ajudan panglima yang bertugas di Semarang. Istri Giri bernama Arum seorang dokter dan memiliki seorang anak perempuan bernama Nala Ayu berumur 4th. Anak keduanya tentu saja Kirana yang sibuk dengan dunianya dan masih single yang entah kapan punya sisihannya (pasangan).
Pernah beberapa kali Pak Adi berinisiatif mengenalkan pria, baik dari anak rekan sejawatnya, atau kenalannya di kantor. Dari yang lajang bahkan pria yang berstatus pernah lajang dan pernah menikah alias duda.
Sayangnya yang dibawa Bapak kadang aneh-aneh. Pernah beliau mengenalkan seorang pria. Tampilannya bersih, wajah yaa lumayan lah, masih pantas dibawa ke kondangan. Tapi saat Kirana tanya soal visi dan misi, beberapa pertanyaan yang lumayan mendetail dan berat dari Kirana. Lah dia sesak nafas, asmanya kambuh dan sempat pingsan.
Pernah juga datang seorang pria lagi. Dia mengaku duda 2 anak, anaknya satu masih kuliah dan satunya seumuran dengan Kirana. Demi apa yang ini sudah dianggap bapak sendiri sama Kirana. Benar-benar Kirana membangun tembok tinggi untuk yang satu ini. Untuk membayangkan saja Kirana tidak bisa.
Belum lagi yang datang mengaku lajang ternyata sudah beristri dua.
Tak kalah dengan sang suami, Bu Rahayu pun juga berusaha mencari calon mantunya. Mulai mencari anak tetangga, atau teman arisannya, sampai biro jodoh online pun pernah dicobanya. Sungguh perjuangan yang tanpa batas. Walaupun hasilnya terabas tanpa bekas alias ditolak sama sang putri. Sebegitu kepenginnya kah mereka punya mantu?
Atau sebegitu tidak lakunya kah seorang Kirana Pramusita Anantari? Kadang Kirana ingin marah dan teriak keras tapi masih ingat kalau Kirana tidak ingin jadi anak durhaka dan masih ingin masuk surga. Terpaksa hanya sabar dan mengelus d**a.
"Sudah tadi pak, walaupun harus dengan tenaga ekstra dan kesabaran yang berlapis." ujar Bu Rahayu yang duduk di kursi samping sang suami, lalu mengambil cangkir berisi teh lalu meminumnya perlahan.
"Ibu lanjut di dapur ya soalnya nanti ibu ada acara penyuluhan bersama ibu-ibu PKK di kelurahan." Bu Rahayu melangkah ke dapur melanjutkan kegiatannya yang sempat terhenti karena harus membangunkan putrinya.
"Jadi pergi ke Danurejo Bu? Berapa lama kira-kira Cah Ayu disana?"
"2 Minggu Pak disana." Bukan Bu Rahayu yang menjawab tapi Kirana yang menjawab. Gadis yang sudah terlihat segar karena habis mandi. Rambutnya digulung ke atas dengan handuk. Lalu duduk menyesap kopi sang bapak.
"Ehhh,,, kopi Bapak itu! Main seruput saja." keluh pak adi melihat cangkir kopinya berpindah ke tangan Kirana.
"Enak pak kalau kopi punya orang. Kalau bikin sendiri tuh kurang seger." jawab Kirana dengan senyum tak berdosa memperlihatkan gigi rapinya. Kemudian mengambil sepotong pisang goreng didepan sang bapak.
"Jadi ada acara apa di Danurejo sana Mba?" tanya Pak Adi sembari melipat koran, meletakkan di samping piring pisang goreng, kemudian mengambil tas kerjanya, mengecek kembali barang bawaannya karena sebentar lagi beliau berangkat ke kantor kecamatan.
"Meneruskan kegiatan komunitas sebelumnya Pak. Yang kemarin kan sudah membantu bebenah desa dan penyuluhan soal bencana. Nah tim Kirana tinggal sisanya saja, masih mengajar anak-anak sama ngajarin ibu-ibu beberapa keterampilan membuat kue dan cemilan lain. Biar nanti kan bisa buat ide usaha mereka." Jelas Kirana kepada sang ayah.
Tak lama Kirana berdiri menuju dapur menyusul sang ibu yang tengah sibuk dengan alat tempur dapurnya.
"Ibu masak apa?" Kirana mendekati sang ibu, berniat membantu pekerjaan sang ibu.
"Ibu masak iki loh (ini loh) sambal tumpang, kuban adas sama kobis, ayam goreng. Ini sudah mau selesai kok. Kamu mau sarapan dulu sebelum pergi Mba?" Bu Rahayu beralih ke lemari piring mengambil beberapa piring dan mangkuk untuk tempat masakannya yang sudah matang.
"Nggih Bu. Kirana sarapan dulu di rumah. Pasti nanti seminggu lebih bakal kangen berat sama masakan ibu." Kirana memeluk ibunya dari belakang. Tidak peduli kalau sang ibu sedang menuangkan sayur ke mangkuk. Kirana mau bermanja-manja dengan sang ibu.
_tidak ingat ya tadi pagi berdebat ringan sama ibu._
"Oiya Minggu depan Mas Giri juga mau pulang. Kamu jangan lama-lama di Danurejo yo Mba,,! Biar kita bisa kumpul keluarga lebih lama." kata Bu Rahayu sembari meletakkan sayur ke meja makan Menyiapkan piring dan beberapa alat makan. Dan tentu saja Kinara masih bergelendot manja di punggung sang ibu.
"Insyaallah sudah pulang Bu. Mba juga sudah kangen banget sama si cantik Nala." ucap Kirana sembari melonggarkan pelukannya dan mengambil sepotong paha ayam goreng lalu menggigitnya. Sontak sang ibu memukul lengannya dan melotot pada Kirana.
"Kalau maem mbok Yo lenggah Cah Ayu!!(Kalau makan itu duduk anak cantik!)." Kirana tersenyum cengoh tanda bersalah, kemudian dia menarik kursi lalu duduk dan melanjutkan memakan ayam gorengnya.
Sang Ayah sudah duduk manis tidak mau melewatkan moment sarapan bersama dengan putri dan istri tercintanya. Menyaksikan juga kelakuan putrinya yang masih seperti anak kecil, walaupun juga kadang keras kepala dan tambeng (susah) saat dinasehati. Putrinya yang sangat suka menggoda ibunya, memancing perdebatan kecil di antara mereka.
Jujur dalam hati Pak Adi masih belum ikhlas bila suatu hari nanti Kirana benar-benar menemukan jodoh dan akan dibawa pergi suaminya. Putri kecilnya yang dulu selalu menempel kepadanya. Yang sekarang sudah tumbuh dewasa dan masih enggan memikirkan asmara. Pak Adi harus siap jika waktu itu telah tiba.
"Kamu itu loh, sukanya menyibukkan diri terus. Sukanya pergi-pergi, kapan kamu mikirin calon suami?" Sang ibu mulai lagi membicarakan hal yang mungkin hari ini sudah kesekian kali dibahas.
"Jodoh emang nggak kemana, tapi kalau kita nggak kemana-mana ya gak bakal ketemu jodoh. Makanya Kirana sering bepergian Bu, biar cepet ketemu Jodoh." Kirana menjawab dengan senyum usil meledek ibunya.
"Sampun-sampun(sudah-sudah). Yuk kita sarapan dulu. Sudah dah siang, nanti Bapak telat ke kantornya. Cah Ayu nanti hati-hati nggih berangkatnya. Maafkan Bapak tidak bisa nganterin Mba." Pak Adi memotong perdebatan yang akan di mulai. Sebelum nanti debatnya makin panjang tambah lebar kali tinggi lalu dikuadratkan.
"Nggih Pak. Mboten nopo-nopo (tidak apa-apa). Nanti Kirana kumpul di sanggar kok. Kami berangkat bareng dari sana."
Dan akhirnya sarapan penuh rasa cinta dan syukur pun dilakukan oleh mereka. Momen sederhana yang selalu dilakukan oleh keluarga Kirana sebelum berpisah dengan kesibukan masing-masing. Momen yang pasti akan dirindukan saat mereka terpisah jarak.
031125
(salam HauraFira 💕)