Setelah mencicipi beberapa menu yang paling membuat Daisy tergoda untuk segera mencicipinya, Daisy tak sekali pun merasa menyesal. Apa yang dilalui Daisy sejak pagi hari hingga harus tersasar di daerah lain bersama Arsel, rasanya terbayar sudah dengan apa yang ia dapat dan temukan di tempatnya berada saat ini. Street food yang cukup terkejut di daerah Jakarta Utara.
Menurut Daisy, pantas saja suasana di sana begitu ramai. Semua kedai makanan tidak ada yang sepi pengunjung. Bahkan tidak sedikit kedai makanan yang ia temui, sampai menyiapkan nomor antrian saking banyaknya pengunjung yang ingin mencicipi menu makanan yang mereka sediakan.
Dan tentu saja Daisy termasuk salah satunya. Pengunjung yang dengan rela berlama-lama mengantri demi dapat menikmati makanan yang sepertinya luar biasa enak itu. Mengingat penggemarnya begitu banyak.
Daisy pernah mendengar sebuah tips, yang ia dapat dari salah seorang YouTuber yang menurutnya cukup terkenal. Saat itu video yang Daisy tonton adalah tentang wisata kuliner di street food suatu daerah-- Salah satu alasan mengapa Daisy selalu ingin berwisata kuliner di berbagai daerah, ya karena tergoda dan merasa ingin merasakan langsung sensasi yang dirasakan si YouTuber tersebut. Apalagi makan adalah salah satu hobi Daisy. Dan tips yang Daisy maksud tadi adalah tentang bagaimana mencari kedai makanan terfavorit di antara banyaknya kedai makanan di suatu tempat. Yaitu dengan cara mencari kedai makanan yang memiliki lebih banyak pengunjung dibandingkan dengan kedai-kedai makanan yang lain. Karena bisa dipastikan jika makanan yang mereka jual memiliki rasa yang nikmat, yang membuatnya memiliki banyak peminat.
Menu makanan kedua yang Daisy pilih adalah seblak sumsum. Arsel pun memilih makanan yang sama agar keduanya tidak terpisah. Untuk dapat mencicipi menu makanan ini, Daisy dan Arsel harus rela mengorbankan waktu tiga puluh menitnya untuk mengantri. Belum lagi waktu dari masa disiapkan hingga masa dihidangkan. Namun keduanya bersyukur karena cita rasa yang mereka dapatkan begitu sangat memuaskan. Melebihi ekspektasi mereka saat memutuskan untuk memesan menu makanan di kedai makanan tersebut.
"Alhamdulillah. Mantap banget nih seblaknya. Tingkat kematangannya pas. Kuah seblaknya luar biasa enak. Sumsumnya beeehh, juara!" Celoteh Daisy saat ia sudah berhasil menghabiskan setengah porsinya.
Mendengar celotehan Daisy, Arsel yang pada saat itu sedang begitu menikmati seblak sumsumnya, menjeda terlebih dahulu kegiatan makannya. Memberikan respon atas antusias Daisy dalam mengomentari cita rasa menu makanan pilihannya. "Wkwk. Review nya masuk Pak Eko! Lo kayak tadi, udah kayak YouTuber konten makanan sama reviewer makanan beneran deh. Udah pro banget soalnya, keliatannya."
"Jelas dong! Orang tontonan gue hampir setiap hari yang begituan mulu wkwk."
For your information Daisy ini jika membuka aplikasi YouTube ia lebih sering melihat konten-konten video soal makanan. Selain itu paling juga tentang video musik. Menonton dan mendengarkan lagu-lagu dari para musisi favoritnya. Juga, video yang isinya tentang review produk. Daisy lebih suka menonton video tentang ketiga itu jika dibandingkan dengan konten-konten berisikan prank, konten yang isinya penuh dengan drama yang berlebihan, konten podcast yang isinya tentang gosip, drama publik figur, dan lain sebagainya.
"Wahh, pantesan kalo gitu. Coba deh lo kasih penilaian. Menurut lo dari satu sampai sepuluh, seblak sumsumnya nilainya berapa?"
"Mmm, sembilan setengah dari sepuluh sih. Udah perfect banget soalnya. Recommended. Kalau deket mah gue pasti akan sering-sering beli ini di sini. Cuma sayangnya jauh. Apalagi gue mageran anaknya," jawab Daisy yang diakhiri dengan sesi curhatnya. Menyayangkan jaraknya yang cukup jauh dari lingkungan tempat tinggalnya.
"Ohhh, jadi lo orangnya mageran? Udah gue tebak sih wkwk!"
Meski Arsel tak salah karena menebaknya demikian, karena memang fakta sebenarnya pun seperti apa yang Daisy ucapkan tadi, namun tetap saja mendengar seseorang sudah menebaknya bahwa Daisy merupakan tipe orang yang mageran membuat Daisy kini mencemberutkan wajahnya. "Masa sih gue sejelas itu? Semudah itu ditebak? Lo nebaknya berdasarkan apa dah? Berdasarkan penampilan gue, atau keliatan dari wajah gue, atau.. apa?" tanya Daisy yang meskipun ia kini sedang merasa kesal, Daisy pun merasa penasaran terkait bagaimana cara orang menilainya.
"Lo percaya apa yang gue bilang tadi? Wkwk. Lo ini emang serius banget ya orangnya hehe. Nggak. Tadi gue bercanda aja. Kalau menurut gue ya, semua hal bisa jadi bahan penilaian bagi seseorang. Tergantung bagaimana cara berpikir mereka. Kalau gue pribadi, gue nggak berani sih nilai orang hanya karena penampilan dan wajahnya," jawab Arsel yang membuat Daisy semakin ingin tahu bagaimana kelanjutannya. Bagaimana cara Arsel menilai orang, dan kelanjutan apa yang hendak laki-laki itu ucapkan selanjutnya.
"Misalnya penampilan seseorang nggak rapih, terkesan urakan, pokoknya yang kayak gitu. Walaupun penampilan dia kayak gitu, gue tetep nggak berani nilai dia. Di saat mungkin orang-orang akan dengan mudahnya menilai bahwa, ya palingan aslinya nggak beda jauh sama penampilannya. Tipe urakan, susah diatur, nggak peka, dan lain-lain. Begitu pun sebaliknya. Saat gue liat orang penampilannya rapih, bersih, pokoknya semuanya oke deh. Perfect. Gue juga tetep nggak berani nilai dia. Di saat kebanyakan orang pasti gampang banget bilang waaahh.. dia ini pasti orangnya baik banget deh. Tegas, rapih, peduli, pokoknya sempurna deh."
"Terus soal nilai orang dari wajahnya. Orang yang good looking tuh pasti udah dipuja-puja. Kebanyakan orang akan dengan mudah bilang waahh pasti dia ini apa lah, itu lah, pokoknya kayak yang sesempurna banget. Begitu pun sebaliknya kan?" Daisy mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali sebagai tanda setuju.
"Tapi fakta sebenarnya kan hanya Allah dan orang yang bersangkutan yang tahu. Orang-orang terdekatnya pun kita nggak tau mereka bener-bener bisa menilai dengan baik atau tidak. Karena terkadang, yang penampilannya not good sebenarnya dia orang yang good, penyayang, lembut, dan lain-lain. Yang penampilannya so good, kita nggak tau padahal aslinya itu mungkin dia pemarah, pelit, suka cibir orang, dan lain-lain."
Daisy kembali mengangguk-anggukkan kepalanya. "Mm, jadi baiknya don't judge a book by its cover nggak sih?"
"He'em. Gue sih ya setiap mau cepet nilai orang selalu bilang begitu ke diri gue sendiri. Hey, you! Lo siapa berani banget dengan mudahnya nilai orang? Don't judge a book by its cover! Jadi gue, kan ada kalanya ya kita harus menilai seseorang. Kayak buat netapin siapa aja yang boleh ada di circle kita, kan nggak boleh sembarang. Jangan sampai kita ngebiarin orang yang bisa bawa pengaruh buruk buat kita. Atau misal pas cari pacar, partner kerja, dan lain-lain. Kan ada kalanya kita harus bisa nilai orang. Gue nggak akan liat hanya dari satu sisi sih. Tapi dari segala sisi. Bagaimana sikap dia, penampilan dia, dan lain-lain."
"Mmm, gue pernah datang ke sebuah kajian. Terserah lo mau percaya atau nggak hehe. Beliau, orang berceramah bilang.. jadi kita kalau baru sekali kenal, kita nggak bisa tau akhlak seseorang. Nggak bisa tau hanya dalam satu hari. Tapi untuk tau akhlak seseorang, kita bisa mengacu kepada pesan Umar bin Khattab. Bahwa ada tiga cara untuk mengetahui akhlak seseorang. Pertama, ketika dalam perjalanan jauh. Akhlak seseorang itu akan nampak baik dalam keadaan susah mau pun senangnya. Ketika kita bareng-bareng terus sama dia. Misalnya cepet ngeluh nggak? Apakah sabar? Pemarah? Atau bagaimana."
"Kedua ketika kita berbisnis dengannya. Ketika bagi hasil, nanti akan terlihat sifatnya. Baik dan adil kah, atau justru serakah, egois, dan licik?. Pokoknya kalau ada yang bersifat keuntungan duniawi, yang bersifat finansial, nanti biasanya tuh akan terlihat. Suka ada tuh yang belum apa-apa udah ada yang ingin dominan, pengen dapet untung yang banyak. Ya pokoknya harus hati-hati sih."
"Ketiga ketika dia diberi amanah atau kepercayaan. Kita bisa nguji dia, misal dengan minjamin dia buku, atau nitipin sesuatu, barang, kendaraan, atau apalah itu. Nanti juga bisa ketahuan. Kalau dia orangnya baik, akhlaknya baik, maka orang tersebut akan berusaha untuk menjaga apa yang dia pinjam, atau apa yang kita titipin ke dia dengan baik-baik, dengan hati-hati, ya pokoknya dia akan amanah. Hal lainnya pun misal ketika kita buat janji. Dia janji datang pukul tiga sore misalnya. Eh malah dianya dateng jam empat sore. Udah gitu nggak merasa bersalah sama sekali lagi. Lalai dan sesukanya. Dari situ juga bisa nampak sih akhlak seseorang itu gimana. Ya nggak?"
Daisy yang pada awalnya begitu bersemangat dalam menyimak, tiba-tiba terkekeh pelan saat mendengar beberapa kalimat yang terkahir disampaikan Arsel. "Wkwk. Duh gue jadi merasa agak tersindir sih buat yang terakhir itu. Tapi gue nggak pernah sengaja juga sih ngelakuinnya. Ya beberapa kali pernah sih salah gue sendiri berangkatnya mepet-mepet. Itu juga karena gue pikir yang lain palingan juga pada milih datang telat. Tapi ya ketika sampai di sana, kalau ternyata udah ada yang datang misal hanya seorang pun, gue pasti bilang sih maaf telat. Dan gue kasih tau alasan sebenarnya sama dia."
"Yaa, itu setidaknya lo merasa bersalah. Dan lo pun ngelakuinnya karena nggak sengaja, dan sekali pun misalnya sengaja karena circle lo biasanya begitu kan? Pada ngaret?"
"Ya iyalah. Gue mana berani buat datang telat kalau yang bikin janji sama gue nggak suka telat."
"Yaa berarti itu kan beda lagi. Intinya sih kita harus hati-hati dalam menilai orang. Jangan sampai kita misal, ngerekomendasiin seseorang karena penilaian sekilas kita. Eh taunya dia penipu, pembohong, dan lain-lain. Jangan sampai juga kita tiba-tiba nge-judge orang hanya dari penilaian sekilas. Tanpa tau cerita sebenarnya. Itu membuat kita merugikan dia. Dia turut dinilai jelek juga sama orang-orang karena penilaian kita itu. Padahal aslinya dia begitu. Mungkin aslinya dia sebaliknya."
"Setuju sih gue. Nggak boleh sembarang nilai orang. Apalagi kalau cuman liat dari penampilan doang," ucap setuju Daisy, karena sebenarnya pun ia kerap kali dinilai seperti itu oleh orang-orang. Hanya dari menilai bagaimana penampilannya, orang-orang dengan mudahnya menganggap dia yang tidak-tidak. Urakan, pembangkang, berbeda jauh lah dengan Daisha, dan lain-lain. Padahal menurut Daisy sendiri penampilannya biasa saja. Dia hanya tidak terlihat feminim, anggun, juga elegan seperti Daisha.
Bahkan yang membuatnya terkadang merasa miris. Sang Mama sering kali menilainya dengan menyangkut pautkan dengan pilihannya. Karena disebabkan Daisy berkuliah di jurusan seni, sang Mama tidak hanya sekali dua kali menilainya. Pemalas, sukanya main-main. Sukanya senang-senang dan hura-hura. Berbeda sekali dengan Daisha yang selalu dipuji rajin, penurut, dan lain-lain.
Padahal Daisy sering belajar kok. Daisha pun adakalanya dia nggak belajar. Adakalanya dia nonton drama, dan lain-lain dalam artian bersenang-senang seperti dirinya.