Pertemuan antara Daisy dengan Arsel bisa dibilang cukup singkat, karena keduanya langsung berpisah, sesaat setelah mereka menghabiskan menu minuman yang telah mereka pesan sebelumnya. Tentu saja dikarenakan Daisy merasa sedikit takut dan waspada saat ini. Merasa takut dan merasa ia harus waspada, jika nanti ada yang secara diam-diam mengambil gambar mereka tanpa izin seperti sebelumnya.
Terkait permintaan Daisy tadi, Arsel tak memberinya kepastian berarti. Setelah Daisy tanya tadi, Arsel terdiam dan terlihat sedang memikirkan sesuatu. Tak lama setelah itu ia justru melemparkan sebuah pertanyaan, "Lo tau kan nama akun i********: gue?" Arsel menanyai Daisy dengan segenap keyakinannya, bahwa Daisy sangat berkemungkinan mengetahui nama akun Instagramnya.
Mendapati pertanyaan yang cukup random itu, dikarenakan sangat jauh berbeda dengan topik pembahasan mereka saat itu, tentu saja Daisy mengernyitkan keningnya heran. Namun meski begitu, Daisy tetap memberinya sebuah jawaban. "Mana ada. Everything about you gue nggak tau. Nomor hp, nama akun i********:, dan akun media sosial lainnya pun gue nggak tau. Gue ñkecewa hingga menaikkan salah satu sudut bibirnya ke atas.kan bukan fans lo yang pastinya serba tahu tentang semua itu." Daisy mematahkan
"Oke. Kalau orangnya lo gue nggak heran sih. Nama akun gue Arsel_dgtr1 ya?! Lo ingetgggaik. Langsung di follow sekarang juga kalau bisa--"
"Kenapa tiba-tiba lo malah bahas soal nama akun sosmed lo sih?! Pake acara minta gue buat langsung follow akun sosmed lu lagi. Randomnya kelewatan sih. Gue pengen serius bahas soal tadi. Lo mau kan bantu gue buat nge-clear in gosip yang lagi panas ini?" potong Daisy cepat saat didengarnya obrolan Arsel sudah semakin random saja.
Daisy dapat melihat bagaimana Arsel langsung menghela napasnya panjang sesaat setelah ia menyelesaikan ucapannya yang memotong cepat ucapan Arsel tadi. "Yaitu lah caranya. Gue pikir gue bisa ngeredupin gosip itu dengan cara yang masih gue pertimbangkan. Tapi yang pasti akan ada hubungannya dengan akun sosial media gue, makanya gue tanya soal tadi dan minta lo buat cepet-cepet follow akun gue," ucap Arsel menjelaskan yang dengan segera Daisy respon dengan ber ohh ria di hadapannya.
"Sori. Pikiran gue nggak nyampe ke situ tadi. Terus lo bakal kayak gimana ngatasinnya? Bukannya kalau lo angkat gosip ini ke sosial media, gosipnya justru akan semakin besar ya?"
"Ya. Itu salah satu resikonya. Tapi gue yakin rencana ini bakal berhasil sih. Kemungkinannya sekitar delapan puluh persen. Lumayan tinggi. Tapi ada syaratnya!"
"Apa pun deh! Janji yang penting gosip itu menghilang dari muka bumi ini, nggak ada yang berusaha buat nyari kebenaran dari gosip itu lagi, dan gue bisa tenang. Gue nggak perlu khawatir orang-orang bisa ngenalin gue kalau gue adalah orang yang ada di foto itu bareng lo. Gue nggak mau punya masalah sama para penggemar lo yang bar-bar itu. Masalah gue udah cukup banyak. Gue nggak mau ditambah-tambah lagi."
"Oke. Gue jamin kemungkinan besar rencana gue ini akan berjalan lancar, asal lo juga mau ikut turun tangan, supaya masa yang kita punya cukup banyak," ucap Arsel memberitahu Daisy dengan begitu antusias.
"Oke deh. Apa-apa lo chat gue aja. Tapi jujur gue masih nggak ngerti sama rencana lo ini. Beneran kan nama gue akan aman?" Arsel menganggukkan kepalanya dengan penuh keyakinan sebagai jawaban. Daisy yang melihatnya pun turut menganggap kepalanya dengan gerak pelan. "Tapi rencana lo seperti apa? Apa yang akan lo lakuin lewat sosial media lo?"
Arsel menatap Daisy dengan seulas senyum samar. Ia mencoba untuk mengerti kenapa Daisy begitu terlihat khawatir saat ini. Melihat dan mengetahuinya membuat Arsel semakin menekan rasa sabarnya untuk Daisy. "Singkatnya gue akan klarifikasi soal gosip yang beredar di sosial media gue. Insyaallah nanti malam kalau udah fix. Jadi lo harus stan by ya buat nunggu kabar dari gue. Mmm, untuk teknis klarifikasi dan apa yang akan gue lakuin saat itu, apa yang akan gue omongin saat itu, gue nggak bisa ngasih tau lo sekarang. Gue masih mencoba untuk memikirkan ini secara matang, karena gue pengen acara klarifikasinya berjalan dengan sangat lancar kan. Tapi satu yang harus lo yakini, bahwa gue akan berusaha semaksimal mungkin untuk memikirkan jalan terbaik supaya semuanya clear. Supaya lo bisa tenang, nggak perlu khawatir ada yang curiga sama lo, masih nyari tau soal siapa perempuan di foto itu, pokoknya akan gue usahain lo aman."
Daisy memerhatikan Arsel dengan raut wajah penuh percaya. Dengan sebuah harapan besar. Daisy lambat lain mulai mengembangkan senyuman manisnya. Kini sedikit demi sedikit rasa khawatirnya mulai pudar dan terganti dengan sebuah harapan untuk malam nanti. Semoga Arsel dapat mengupayakannya dengan begitu baik. Semoga para penggemar mereka dapat paham dan mengerti. Semoga klarifikasi yang akan Arsel laksanakan malam nanti berjalan dengan sangat lancar sesuai dengan harapan mereka bersama. "Oke, kalau gitu," ucap Daisy dengan nada suara yang terdengar lebih tenang dibandingkan dengan ucapan-ucapan sebelumnya.
Arsel terus memerhatikan Daisy sejak itu. Ia dapat melihat bagaimana Daisy begitu sangat mempercayainya. Menaruh sebuah harapan besar kepadanya. Ia juga dapat melihat betapa Daisy begitu menginginkan hasil yang terbaik. Ketenangan.. Tidak memiliki tambahan masalah.. Sungguh kata-kata itu, kata-kata yang Daisy ucapkan sebelumnya berhasil membuat Arsel terus memikirkannya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Daisy? Apa yang sudah atau sedang Daisy alami saat ini, hingga begitu menginginkan sebuah ketenangan? Hingga tidak Ingin memiliki masalah tambahan, katanya. Seolah-olah Daisy sedang tidak baik-baik saja. Seolah ia sedang memiliki banyak masalah yang harus dihadapi juga dilaluinya.
Awalnya Arsel hanya ingin membuat Daisy tidak begitu memikirkan soal gosip yang beredar. Oleh sebab itu di malam sebelumnya ia mencoba untuk mendapatkan nomor teleponnya, dan mencoba untuk mengirimkan pesan untuknya agar bersiap-siap. Agar nantinya ia tidak terlalu kaget dan dapat bertenang saat menghadapinya.
Awalnya juga Arsel ingin membuat Daisy seperti teman-teman perempuannya yang lain, yang juga pernah berada satu frame dengannya di foto paparazi. Agar melupakannya. Tidak begitu memikirkannya, apalagi mencemaskannya. Bahkan beberapa perempuan yang memiliki kisah yang sama dengan Daisy, juga merasa senang dan berbangga diri saat dirinya bisa menjadi bahan gosip. Tidak peduli akan hujatan, hate comment yang akan didapatnya, juga hal-hal negatifnya. Karena mereka memang menginginkan sebuah ketenaran. Mereka ingin terkenal dan dikenal oleh banyak orang, terutama bagi para followers Arsel.
Namun sekali lagi Daisy ini ternyata berbeda. Ia justru terlihat begitu cemas berlebihan. Dia hanya menginginkan sebuah ketenangan. Membuat Arsel tergugah untuk menyelesaikan masalah yang berawal darinya.
Demi Daisy, karena sejujurnya ia tidak begitu peduli soal gosip-gosip seperti ini. Ia pun tidak pernah mengklarifikasi soal gosip yang tengah beredar sejauh ini. Dan nanti malam, adalah yang pertama.
"Daisy.."
"Hm?" Daisy mendongak dengan tatapan penasaran saat Arsel memanggilnya dengan nada suara yang terdengar cukup berbeda dari sebelum-sebelumnya. Terdengar lebih rendah.
"Gue minta maaf ya kalau ternyata gosip yang beredar soal kita ini, gara-gara lo bareng gue.. Lo jadi ngerasa nggak nyaman dan nggak aman seperti ini. Pokoknya lo mulai dari sekarang nggak perlu khawatir dan cemas lagi. Apa pun caranya agar gue usahain supaya mereka bener-bener nggak akan ngeliat lo."
"Nggak papa. Kita bersama sampai difoto paparazi kayak gitu kan bukan salah lo sepenuhnya. Lo justru yang bantuin gue saat itu. Jadi, jangan merasa bersalah. Gus justru berterima kasih sama lo banyak-banyak. Makasih udah nolongin gue akhir-akhir ini. Hehe. Gue baru sadar kalau tiap kali kita ketemu lo pasti jadi penolong gue. Apes banget ya gue kayaknya? Lo selalu ngeliat gue kesusahan dan dalam masalah wkwk. Makasih juga untuk hari ini. Lo mau nemuin gue di sini, dan mau bantuin gue buat klarifikasi. Thanks banget ya..."
"Sama-sama. Lo sebenernya nggak perlu bilang makasih sama gue. Karena memang gue sendiri yang memang bantu lo."
Keduanya saling memandang dengan seulas senyuman. Kemudian menghabiskan apa yang mereka pesan tadi dengan segera, dan kemudian berpisah. Daisy pamit untuk pulang menuju rumahnya, dan Arsel pun demikian. Ia akan mempersiapkan semuanya dengan matang untuk Daisy, ucapnya.