Ditinggal istri yang telah berpulang sejak dua puluh tahun lalu, serta jarang dikunjungi ketiga putra nya yang memilih hidup di kota, membuat kakek Sugi, enam puluh lima tahun, melalui hari-hari tua nya dengan penuh kesendirian.
Dikampung halaman, sudah tak ada lagi teman yang dulunya main kelereng, engklek bersama, mengejar layangan, mencuri jambu monyet, mandi di kali, atau yang pernah bersembunyi menghindari tentara Belanda, yang bisa ia kunjungi. Sebagian besar teman kecil meninggalkan kakek Sugi karena faktor tutup usia ataupun sudah tak nyambung jika di ajak bicara.
Hanya satu yang membuat Kakek Sugi beruntung, ia masih punya segalanya di kampung. Sawah dua hektar sangat cukup memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
Tiap sore, jika senja mematik cahaya penuh hangat, ia dengan jaket tebal berbulu domba, topi kusam dimakan zaman pada kepala, akan berjalan ringan dibantu tongkat rotan berwarna keemasan ditangan. Menyapa para penduduk kampung yang kebetulan berpapasan lewat hanya demi mengusir kepenatan dalam rumah besar yang sepi.
"Sore kek Sugi, lagi jalan-jalan sore ne?" sapa seorang warga dengan ramah.
"Iya, sekalian lihat sawah. Mari."
Basa basi. Kakek Sugi biasanya pilah-pilih orang yang akan di ajaknya bicara. Tapi ketika melintasi warung yang ramai ibu-ibu pada kumpul, ia melipir mampir.
"Eh, kakek Sugi, dari mana?" tanya Fenty, janda pirang beranak dua yang berumur 30 tahun.
"Dari rumah rencana liat sawah." Lelaki uzur itu lalu masuk kerumunan lima wanita.
"Mau belanja dulu, kek?" tanya Fenty lagi.
"Gak ah, pengen tau aja obrolan kalian." Kakek Sugi membagi satu persatu pandangan kepada lima wanitanya. Penuh warna.
"Duduk dulu, kek," ajak Ningrum mempersilahkan. Wanita berumur 35 tahun yang telah bersuami itu menggeser tubuh sekalnya, mempersilahkan kakek Sugi duduk di kursi kayu yang disediakan pemilik warung.
Kakek Sugi mengarahkan b****g tipisnya pada bekas dudukan yang hangat. Ia tak canggung duduk berhadapan dengan wanita dan ikut nimbrung obrolan yang tadi sekilas terdengar.
"Kalian lagi ngomongin apa ne?" tanyanya sambil melepas topi yang menutupi rambut putihnya dari tadi.
"Biasalah lah kek, kita lagi ngegosip, hihihi!" sela Fitri, gadis berumur 25 tahun yang masih menjadi primadona kampung.
"Wah kalian ini. Kayak gak ada kegiatan aja sore-sore gini," ucapnya sambil mengipas bagian atas tubuh dengan topi kusam.
"Suami kita belum pulang, kek, jadi aman lah nyantai sore disini. Lagian ada gosip terhangat loh kek, tentang Pak Jarwo," jawab Novi, wanita yang sedang menyusui bayi dalam pangkuan. Ia duduk disamping Fenty, tepat didepan kakek Sugi.
"Jarwo si kepala desa? Ada apa ya dengannya!" kakek Sugi mulai penasaran kabar pria yang seumuran anak tertuanya itu, sembari menatap Novi dengan resah.
Nita, wanita yang baru menikah sebulan lalu, bersuara pelan membisiki telinga kakek Sugi, "Pak Jarwo ketahuan punya istri lagi, kek. Hihihi!"
Kakek Sugi terperanjat. Disamping suara Nita yang memancarkan sengatan tegang, kakek Sugi juga tak menyangka kepala desa yang sering berkunjung ke rumah untuk meminta nasehat, justru berulah.
"Mungkin kabar itu cuma gosip?" Kakek Sugi masih belum mempercayai omongan Nita.
"Lah si kakek, mentang-mentang Pak Jarwo baik dan deket sama kakek jadi kakek gak percaya gitu kabarnya? Pak Jarwo emang nikah lagi, kek," jawab Ningrum dengan ketus.
"Masa sih?" ucapnya menoleh samping.
"Iya!" suara lima wanita hampir kompak. Mereka menatap kakek Sugi dengan senyum jahil, merasa lelaki ini bukan sekutu mereka.
"Kenapa kalian keliatan senang? Bukannya itu aib bagi keluarga Jarwo?" tanya kakek Sugi heran memandangi satu persatu. "Kalian juga hati-hati loh, nanti gak dapat bantuan, hee." Kekeh kakek Sugi menilai pakaian mereka yang minim dan tipis membuat munculnya piktor.
"Gimana kami gak senang, kek. Buk Nana itu kan sombongnya minta ampun. Baru punya suami kepala desa aja besar kepala. Lagu-lagunya udah kayak istri pejabat yang banyak harta pula, gak mau bergaul lagi dengan kami-kami ini," balas Ningrum meninggi. "Sekarang rasain deh tu ulah Pak Jarwo yang kawin lagi." Ningrum mengumpat kesal pada wanita bernama Nana, istri Jarwo yang kelakuan nya di anggap berubah semenjak suaminya setahun lalu jadi kepala desa.
"Oh! Jadi kalian itu sebetulnya iri ya sama Nana?" Kakek Sugi mengambil kesimpulan dari sikap mereka berlima.
"Ya... gak iri juga sih kek. Secara Pak Jarwo itu kan bukannya lelaki yang kaya-kaya amat, tampangnya pun jelek dekil. Cuma menang pengaruh aja di kampung kita, ngapain harus iri sama Buk Nana," jawab Fitri menjelaskan. Ia yang dari dulu tau bertetangga dengan Nana, tau sifat wanita itu seperti apa.
Kakek Sugi bergumam dalam hati, "Kasian juga si Nana. Sugeng ayahnya, pasti akan menangisi kemalangan anaknya di alam sana."
Kelima wanita itu masih tertawa jahat mencela nasib Nana, perempuan berumur 40 tahunan itu diterawang akan bercerai dengan suaminya.
"Menurutku ya, Buk Nana pasti bakalan minta cerai deh sama Pak Jarwo," seru Fenty dengan wajah senangnya. Dia sudah membayangkan dikampung mereka bertambah lagi satu janda.
"Alasannya apa?" tanya Novi yang masih memegang erat bayi yang didekap nya.
"Dia itu dimadu loh Nov, bukannya diselingkuhi. Mau taruh dimana muka Buk Nana kalo di olok warga suaminya berani nikah lagi? Apa dia percaya Pak Jarwo berbuat adil? Secara istri kedua pak Jarwo ini juga kan masih muda, setara usia Nita. Pasti malu lah dia," seru Fenty panjang lebar memandangi Nita yang duduk disamping kakek Sugi.
"Kamu kok tau semua, Fen?" Kakek Sugi menyela ucapan janda pirang.
"Dikampung sebelah berita pak Jarwo ini udah viral loh, kek!" Fenty antusias menambah jelas berita Jarwo si kepala desa.
"Emang kamu tau siapa wanita muda yang dinikahi Jarwo?" tanya kakek Sugi lanjut penasaran.
"Nama wanita itu Salsa, guru SD kampung sebelah," terang Nita sambil memegang segelas nutri sari.
Kakek Sugi segera memandangi pengantin baru ini, "Emang udah lama ya Jarwo menikahi guru itu?" Kakek Sugi mencoba mengingat kapan terakhir kali kepala desa itu main ke rumahnya.
"Sudah dua sampai tiga bulanan ini lah, kek, sebelum aku mereka nikahnya!"
Mendengar jawaban itu, kakek Sugi merenggut. "Sialan emang si Jarwo, pantas waktu acara nikahan Nita dia juga menyindir nikmatnya jadi pengantin baru," gumam kakek Sugi baru menyadari maksud omongan kepala desa nya itu.
"Emang kakek Sugi gak ada niatan buat nikah lagi?"
Kaget Sugi kaget ditanya hal seperti itu.
Fenty si janda pirang langsung mencela ucapan Novi. "Hus! Mana mungkin kakek Sugi punya hasrat lagi. Liat aja tubuhnya kurus kering ceking begitu, sama nasi aja udah gak doyan apalagi sama serabi." Ia yang dikenal ceplas-ceplos ini tak ragu menilai sosok kakek dihadapan-nya lurus-lurus saja hidupnya.
Hahaha,
Kakek Sugi mulai sakit hati dengan candaan mereka semua, ia yang tak pernah memikirkan mencari pasangan sepeninggal istrinya karena setia, mendadak menemukan hasrat kejantanan yang selama ini tertutup kenangan.
"Sialan juga mulut mereka," gumam kakek terus memandangi mulut lebar Novi yang sedang menyusui bayinya, Fenty si janda girang dengan tato disekujur tangan. Serta Fitri pemilik kulit paling berseri dengan rambut panjang terurai yang cantiknya begitu aduhai.
Kakek Sugi lalu menimpali ledekan lima wanita ini, "Gini-gini kakek masih kuat tau." Ia langsung berdiri dari tempat duduknya saat itu juga. Entah apa maksudnya tadi mengatakan dirinya masih kuat. Ia pun bingung.
"Kuat apaan kek?" Ledek Nita yang berada disampingnya.
"Ah, kamu ini. Pake ditanya segala. Kuat menanggung beban hidup lah," jawab asal kakek Sugi karena kelabakan.
Mata mereka memandangi heran kakek Sugi. Lalu mereka pun lanjut tertawa saat mendengar jawaban kekonyolan kakek Sugi.
Lelaki uzur itu beradu pandang dengan satu wanita yang menarik hati. Tentu saja pada Fitri yang jadi primadona kampung.
"Kalo aku nikahi gadis cantik ini, apa kata anak-anak ya?" gumamnya dalam hati.
Pandangan kakek Sugi tak lepas juga dari tatapan seorang wanita yang berada di samping Novi. Fenty melihat dari atas sampai bawah tubuh kakek Sugi, berharap menemukan sesuatu yang besar dibalik celana kain yang dipakai lelaki uzur itu. Seorang janda sepertinya sangat tertantang mencari kebenaran apakah lelaki didepan nya ini masih punya hasrat.
"Kalo kakek masih kuat, cari perempuan dong kek buat diajak nikah." Ningrum mencolek lengan kakek Sugi dengan bahunya.
"Hahaha!" Mereka semua menertawakan terus kondisi kakek Sugi yang di anggap payah.
Kakek Sugi benar-benar tidak berkutik melawan kelima wanita tukang gosip tersebut.
"Sudah ah, aku mau jalan dulu. Kelamaan disini pikiranku kemana-mana," cicit resah kakek Sugi sudah tak tahan dipandangi oleh senyum meledek dari mereka semua.
"Kakek emang mau kemana?" tanya Ningrum, berharap lelaki uzur itu tidak mengambil hati ucapan ia dan teman-temannya tadi.
"Aku kan mau liat sawah," jawab kakek Sugi memakai topi kusamnya, mengayuh cepat kaki dengan tongkat nya meninggalkan kumpulan kelima wanita.
Baru jalan beberapa langkah, seorang dari mereka lanjut menilai. "Ternyata kakek Sugi asik juga ya orangnya," ucap kagum Nita pada lelaki uzur yang masih keliatan punggungnya.
"Maksudmu, Nit?" tanya Fitri membalikkan setengah badan melihat kakek Sugi yang terus berjalan ke arah luar kampung.
"Ya elah, Fit. kamu gak ngerasa apa dari tadi kita ngobrol panjang lebar tapi kakek Sugi tetap nyimak? Itu kan tandanya pendengaran kakek Sugi masih normal. Coba liat dia, umur segitu aja masih kuat jalannya!" Nita terus memperhatikan langkah pelan kakek Sugi sambil meletakkan gelas minumnya ke bekas tempat dudukan lelaki uzur tersebut.
"Iya yah, baru ngeh aku," jawab Ningrum yang setuju dengan pernyataan wanita yang duduk dibangku yang sama.
Fenty, janda pirang pun bergumam, "Bisa kali ne!" niatnya mencari tau.
***
Hamparan sawah luas yang menguning menjadi pemandangan biasa di kampung kakek Sugi. Burung Pipit, burung Blekok sawah beradu dipucuk padi saling serang memperebutkan kekuasaan. Orang-orangan sawah yang dipasang guna untuk menakuti hawa binatang, bergerak menghalau burung saat disapu semilir angin.
Suasana alam yang tenang sedikit terganggu dikala mata buram kakek Sugi seperti melihat ada tiga motor yang terparkir jauh ditengah gubuk sawahnya. Ia mengucek kedua mata dengan sebelah tangan, memastikan apa yang dilihatnya adalah salah.
"Apa itu benaran motor?" tanya kakek Sugi pada diri sendiri, melihat benda yang posisinya berjarak itu terlihat amat kecil.
Ia melangkah memasuki jalan sepetak yang berasalan semen tak banyak dengan penuh gelisah. Menjelang hari berganti malam, sepertinya ada pemuda kampung yang sedang melakukan pesta miras digubuk sawah miliknya.
Ia mendekat dan akhirnya sampai. saat mengecek ketiga motor itu ia melihat juga pada gubuknya yang berdinding dari anyaman bambu dan beratap jerami itu tertutup rapat daun pintunya.
Ia menaiki tiga anak tangga yang terbuat dari papan dengan penuh kemarahan. Tongkat rotan nya sudah siap memukul tubuh para pemuda yang telah berbuat kurang ajar di petak sawah miliknya.
"Heh! Keluar kalian," bentak kakek Sugi menggedor daun pintu dengan rotan ditangan.
Brakkk,
Daun pintu dibuka cepat dari dalam, membuat tubuh kakek Sugi terhuyung ke belakang. Dua orang pemuda dari dalam bergegas keluar dan menabrak lagi tubuh lelaki uzur hingga menyebabkan dirinya ikut terpental menghantam anyaman bambu.
"Aduh!" pekiknya kesakitan. "Pemuda sialan... Jangan kabur kalian?" Kakek Sugi berusaha bangkit untuk mengejar tapi ia kalah cepat. Kedua pemuda itu sudah di atas motor mereka lalu menghidupkan motornya, dengan kecepatan tinggi meninggalkan gubuk.
"Siapa sih mereka?" Kakek Sugi yang tak sempat melihat wajah pemuda tadi berakhir kesal karena tidak bisa melaporkan kenakalan pemuda tersebut pada orang tuanya.
Ia melihat satu motor matic yang tersisa, bunyi grasak-grusuk terdengar di dalam gubuk. Kakek Sugi segera mendekati daun pintu, rotan di atas kepala siap mengayun tubuh pemuda yang berani kabur menghindari nya. Tapi begitu dibuka lebar daun pintunya_
"Hah... Ayumi?"
Alangkah terkejutnya kakek Sugi saat melihat seorang gadis berseragam sedang berdiri panik memasang pakaian bawahnya.
Gadis yang diteriaki dengan suara berat itu melorotkan tubuhnya ke lantai triplek karena takut, apalagi rotan di tangan kakek Sugi sudah sangat siap mengayun.