Putri sedang memandangi keindahan taman dari balkon kamarnya. Sekarang ia merasa kesepian. Tidak ada lagi teman tempat ia mencairkan hati dan pikirannya. Mau keluar jalan-jalan juga terasa begitu malas. Ya, memang sih, suaminya tidak mengekang dia mau pergi ke mana pun. Tapi, mesti dengan pengawasan ketat. Dan sebenarnya suaminya tidak memberitahukan bahwa ada seorang pengawal yang mengikutinya ke mana pun ia pergi. Masalahnya Putri pernah melihat orang tersebut dari kaca yang ada di area mall. Pantulan bayangan cermin itu tepat memperlihatkan sosok pria tegap berotot sedang memerhatikan dirinya dari kejauhan dan itu terlihat jelas. Putri tidak merasa takut awalnya, karena ia kenal wajah itu. Pria itu selalu membisikan sesuatu pada suaminya. Dengan kata lain pria itu pengawal Putri sekaligus pengadu.
Dan ya, jangan lupakan si sopir berisik sudah kayak pacar posesif. Mulutnya itu loh, tidak puas kalau tidak bertanya. Mau ke mana? Mau beli apa? Mau ketemu siapa? Kalau masuk mall, mau ke toko mana saja? Sudah makan apa belum? Makan apa saja? Mau berapa lama? Mungkin saja nanti, jika Putri sakit dia juga akan bertanya, sudah minum obat belum? Tuh kan posesif banget.
Putri masih berpikir, apakah ia harus keluar atau tidak. Tapi, jika keluar dia harus ke mana? Mall? Bagaimana jika Lidya ada di sana? Apa cari tempat lain saja?, pikirannya terus bergelut.
“Oke, jalan aja dulu, kalau ada yang terlihat nyaman baru berhenti”, oceh Putri pelan.
Ia langsung bergegas mengambil tasnya. Menemui si sopir posesif, bang Roy.
“Bang Roy, pergi yuk”, ajak Putri.
“Mau ke mana non?” tanya bang Roy dengan siku yang bertengger di jendela mobil.
“Jalani aja dulu bang, entar kalau ada yang cocok baru deh aku berlabuh”, jawab Putri usil.
Bang Roy yang jomblo jadi ternganga mendengar jawaban manis itu. Sudah seperti kata mutiara dalam mencari pasangan.
“Ya ampun non, yang serius napa?”
“Serius bang Roy.”
“Emang mau cari apaan sih non?”
“Emm... cari apa ya bang, pokoknya pengen jalan-jalan aja.”
Bang Roy menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia lalu membukakan pintu mobil untuk nonanya. Setelah nonanya sudah duduk manis, ia pun menutup pintu dan kembali ke bangku pengemudi. Mereka menelusuri jalan raya yang sedikit ramai. Banyak tempat-tempat nongkrong yang telah mereka lewati. Tapi, Putri belum juga menyuruh sopir posesif berlabuh.
Tapi, tiba-tiba, “Bang... Bang... Stop!”
Ciiiitt... Bang Roy mengerem mendadak. “Kenapa non?” Bang Roy khawatir.
“Nggak apa-apa bang, Cuma mau berlabuh di sini aja”, jawab Putri sambil menyengir.
Bang Roy menghela napas, antara lega dan kesal. Lalu, bang Roy melihat kafe tersebut sambil mengerutkan dahinya.
“Coffee Shop?” tanya Bang Roy ragu sambil melihat ke arah Putri.
“Iya bang Roy, emangny kenapa? Gak boleh?”
“Bukan gitu nona Putri, cuma tumben aja. Atau jangan-jangan nona sudah janjian sama seseorang ya?”
“Nggak Bang. Kalau nggak percaya, yuk minum kopi bareng.”
“Eh, nggak deh non. Mending saya sama gondrong aja.”
“Gondrong siapa?”
“Si Boby, tukang lapor non.”
“Oh, si pengawal itu. Ya, udah deh.”
Bang Roy melajukan mobil ke tempat parkir. Setelah terparkir rapi, Bang Roy membukakan pintu untuk Putri.
“Oh iya bang, biarin aja si gondrong tetap ngerasa aku nggak tau keberadaanya ya”, ucap Putri sambil keluar dari mobil.
“Siap non”, jawab Bang Roy terkekeh. “Tapi, non mau berapa lama di sini?”
“Ya, gak tau bang. Bisa lama, bisa cepat.”
“Harus yang pasti non. Gak bisa di kira-kira.”
“Ya Allah, harus ya bang?”
“Demi kebaikan non juga.”
“Lima jam!” ucap Putri usil sambil meninggalkan Bang Roy.
Bang Roy pun ternganga mendengar ucapan Putri. Lima jam? Bisa-bisa berlumut dia menunggu nonanya. Bang Roy menggaruk kepala lalu duduk di luar kafe. Ia memanggil Boby untuk mendekat.
“Ada apaan sih? Ntar aku ketahuan sama non Putri”, ucap Boby sambil menutupi wajahnya dengan hoodie hitam besar yang ia kenakan.
‘Udah ketahuan kali Drong’ ucap Bang Roy dalam hati. “Udah gak usah takut. Aman, aku jamin.”
Boby pun percaya dengan perkataan Bang Roy dan duduk semeja dengannya.
Sementara itu, di dalam kafe...
Putri sedang duduk sambil memainkan gawainya. Memfoto makanan dan minuman yang ada di hadapannya yang terlihat mewah itu. Dalam hati Putri berkata, mungkin jika ia tak sendirian di kafe ini pasti akan sangat mengasikan. Putri jadi teringat Lidya, teman satu-satunya setelah tinggal di Jakarta.
“Permisi, boleh aku duduk?” tanya seseorang dari samping Putri.
Putri melihat kepada orang itu. Ia mengerutkan dahinya. Sesosok pria yang wajahnya tidak asing di ingatan Putri.
“Bang Andi?” ucap Putri ragu.
Andi langsung duduk di hadapan Putri. Tapi, Putri masih bertanya-tanya dalam hati. Benarkah dia Andi kekasih pertamanya ketika SMP?
“Kenapa Put? Kok heran gitu? Aku benaran Andi kok”, jawab Andi terkekeh.
“A.. Aku kaget aja lihat abang di sini. Abang tinggal di sini?”
“Ia, baru tiga bulan. Aku di tempatkan di sini sekarang.”
“Hai Bro!” tiba-tiba terdengar suara yang kuat dari arah belakang Putri.
Putri menganga sangat lebar melihat sosok pria-pria tampan di hadapannya. Bukan karena ia terkesan tapi, ia mengenal mereka semua.
“Kalian? Eza ? Tio?” Putri masih dilanda kebingungan.
Bagaimana bisa mereka semua ada di sini? Dan saling kenal? Jangan-jangan mereka saling cerita satu sama lain tentang kebaperannya dulu, Putri berkata dalam hati. Ia terlihat gugup dan pipinya memerah menahan malu.
Mereka pun ikut bergabung duduk bersama Putri dan Andi. Ketiga pria tampan itu menatap Putri sambil tersenyum. Kemudian, mereka memesan makanan dan minuman.
“Ada apa ini? Kalian mau aku CLBK sama kalian?” tanya Putri bercanda namun terlihat serius.
Mereka berempat pun tertawa terbahak-bahak mengingat kejadian masa lampau.
“Aku gak ngerti deh, teman SMP , SMA dan kuliahku ternyata saling kenal?” lanjut Putri sambil menunjuk satu persatu
“Temen apa demen?” ejek Tio.
“Udah deh, kalian jangan buat aku GR”, Putri memelas.
“Jadi, beneran nih kamu dulu suka sama aku?” pancing Tio teman kuliah Putri.
“He..he..he... Ya bisa di bilang gitu sih”, jawab Putri malu.
Pelayan datang menghampiri meja mereka dan meletakan satu persatu makanan dan minuman yang mereka pesan tadi.
“Maaf ya Put, bukan aku gak suka sama kamu tapi, emang keadaan yang mengharuskan kita menjaga jarak”, Tia menjelaskan sambil menatap dan mengaduk minumannya dengan wajah sedih.
“Iya Put, alasanku juga sama kayak Tio. Tapi, kalau kamu mau kita bisa ulang dari awal kok”, rayu Eza.
“Ingat anak-istri Za”, jawab Putri kesal.
Ketiga pria itu tertawa bersama mendengar jawaban Putri. Merasa geli, karena harus merayu Putri padahal mereka sudah memiliki keluarga masing-masing.
“Tapi, sumpah ya Put. Aku tuh suka banget ganggui kamu sampai kamu salah tingkah sendiri,” ucap Eza masih terkekeh.
“Iya, bener banget Za. Aku juga kayak gitu”, sambung Andi.
“Udah deh, kalian buat aku malu, tau gak?” ucap Putri kesal.
“Jadi, gimana? Tawaran aku di terima gak?” tanya Eza sambil menaikkan alisnya.
“Ih, ngeselin banget deh!” Putri melempar tisu yang ia genggam sedari tadi.
Ingin rasanya pria-pria itu menahan tawa melihat tingkah Putri yang menggemaskan. Tapi, sungguh rasanya tidak tertahankan untuk menertawakannya.
Tiba-tiba, ponsel Putri berdering. Terlihat nama Vartan di layar ponselnya. Putri menerima panggilan itu, ia mengisyaratkan dengan telapak tangannya agar ketiga pria itu diam.
“Assalamu’alaikum”, ucap Putri.
“...”
Putri menarik napas, “Oke, assalamu’alaikum.” Putri langsung menutup panggilan itu.
“Sorry ya, aku duluan”, ucap Putri.
“It’s okay Put”, jawab Andi.
“Iya Put, no problem”, sambung Eza.
Putri berlalu keluar dari kafe itu dan menghampiri Roy yang sudah duduk sendirian. Roy mempersilahkan Putri jalan dahulu menuju tempat parkir. Ia pun sudah mendapat kabar dari bosnya untuk membawa Putri ke kantor.
Tidak lama kemudian, sampailah mereka di kantor Vartan. Sebuah bangunan yang sangat megah menjulang tinggi. Roy menghentikan mobilnya di depan lobby dan seorang wanita yang sangat cantik menghampiri mobil mereka.
“Tolong antar nona Putri ke ruangan pak Vartan ya”, perintah Roy pada wanita berhijab itu.
“Baik, Pak.”
“Non, silahkan turun. Poppy yang akan mengantar sampai ke ruangan pak Vartan”, ucap Roy.
Putri mengangguk saja. Padahal, dalam hati iya bertanya-tanya kenapa wanita yang bernama Poppy itu terlihat patuh pada Roy. Putri pun keluar dari mobil dan di sambut oleh Poppy. Sedangkan Roy melajukan mobil ke tempat parkir. Poppy memperkenalkan dirinya sebagai sekretaris Vartan. Mereka pun, berjalan berdampingan memasuki gedung tersebut. Semua pegawai yang melihat Putri menundukkan kepala mereka sebagai tanda hormat. Ya, semua pegawai bahkan rekan bisnis Vartan sudah mengetahui jika Putri adalah istri Vartan.
“Oh ya Pop, kok kamu patuh banget sama si Roy. Kayak dia atasanmu aja”, tanya Putri yang masih penasaran.
“Pak Roy memang atasan saya bu”, jawab Poppy sambil menekan angka 7 pada tombol di lift dan tersenyum ke arah Putri.
“What?” teriak Putri.
“Intinya pak Roy, tangan kanan pak Vartan bu. Beliau yang mengawasi pekerjaan kami.”
“Ya Allah, selama ini aku nganggap dia sebagai supir biasa”, jawab Putri lesu sambil mengusap wajahnya.
Putri masih mematung, memutar memori seputar obrolan santai dan beberapa kali ucapan usil yang keluar dari mulut Putri. Kalau saja ia tau si sopir posesif itu tangan kanan suaminya pasti ia tidak bisa seakrab biasanya. Tidak lama pintu lift pun terbuka.
“Trus kenapa bang Roy, eh pak Roy mau jadi sopir pribadi saya Pop. Trus dia kerjanya gimana? Nge-handle semuanya gitu, gimana?” Putri menghujani pertanyaan pada Poppy.
Poppy hanya mengangkat bahunya dan tersenyum pada Putri. Bukan berati ia tidak tahu tapi, ada batasan yang mengharuskan ia tidak banyak bicara. Biarlah nanti bosnya yang akan menjawab semua pertanyaan istrinya yang sedang dilanda kebingungan.
Poppy membukakan pintu sebuah ruangan, “silahkan masuk bu, bapak sudah menunggu.”
Putri menarik napas kecewa karena tidak ada tanggapan dari pertanyaannya. Poppy menganggukkan kepalanya kepada Putri. Ia pun bergegas masuk menemui Vartan. Masih saja ingin duduk di sofa yang nyaman eh, Vartan tiba-tiba bertanya.
“Ketemu siapa aja tadi?” ucap Vartan ketus sambil mengetik sesuatu di laptopnya.
“Eh?” Putri kaget tidak jadi duduk. “Itu tadi, em...”
“Duduk dulu, baru ngomong”, potong Vartan.
“Dari tadi juga mau duduk, dianya aja yang ngagetin”, gerutu Putri pelan sambil memonyongkan bibirnya. Akhirnya Putri pun duduk di sofa empuk nan nyaman itu.
“Jadi? Siapa tadi yang kamu temui di coffee shop?” ulang Vartan yang masih mengetik di laptopnya.
“Mereka teman lamaku. Emangnya kenapa?”
“Yakin cuma teman lama?” tanya Vartan melihat ke arah Putri.
Putri mengerutkan dahinya, “ya, kalau kamu tau mereka itu siapa, kenapa harus nanya ke aku lagi?”
Putri terlihat kesal karena ia mulai mengetahui sesuatu. Walaupun masih dugaan saja tapi, ia yakin ada sesuatu pada suami dan tiga pria masa lalunya itu. Kenapa harus main teka-teki? Lebih baik jujur biar semuanya menjadi terang tidak abu-abu kayak begini. Putri berkutat di pikirannya.
Vartan memicingkan matanya, ia lalu bergerak jalan menuju ke arah Putri. Ia terlihat sangat menakutkan bagi Putri.
“Kamu udah berani bentak aku hah? Kamu mau jadi istri pembangkang?” ucap Vartan bertolak pinggang sambil membungkuk membuat wajahnya sangat dekat dengan Putri.
Putri menelan salivanya. Ia dapat merasakan aroma nafas Vartan. ‘Tenang Putri, jangan takut, tarik napas’, ucap Putri dalam hati.
Putri mencoba menolak tubuh Vartan dengan kedua tangannya. Namun, tidak berhasil malah wajah Vartan semakin mendekat. Putri pun menantang Vartan dengan memajukan wajahnya juga dan benar saja membuat wajah Vartan sontak menjauh.
“Aku benci kamu”, ucap Putri perlahan.
Deg... Jantung Vartan sempat terasa berhenti berdetak mendengar kalimat itu. Tapi, sebelum mengucapkan sesuatu Putri langsung menyambar lagi.
“Kamu yang bilang kalau aku harus membencimu supaya semuanya menjadi lebih mudahkan? Aku sudah mencoba apa yang kamu suruh dan kamu bilang aku istri pembangkang?”, ucap Putri kesal.
Vartan mengingat-ingat kata-kata yang telah ia ucapkan pada Putri. Lalu ia tersadar memang pernah mengucapkan itu tapi, saat itu Putri sedang tidur. Yah, Vartan menyadari Putri hanya pura-pura tidur.
“Gini ya, aku gak setuju sama ucapan kamu. Apa dengan membenci kita bisa menyelesaikan masalah? Bukannya kita harus berdiskusi dan menyusun rencana untuk mencapainya?” Putri lanjut nyerocos saat Vartan ingin berbicara.
“Kamu gak nge....”
Putri mengangkat telapak tangannya menandakan agar Vartan berhenti bicara, “Udah deh, aku males berdebat sekarang. Aku mau sholat ashar dulu di sini.”
Vartan menarik napas panjang antara kesal dan lega. “Kamu bisa sholat di ruangan itu”, sambil menunjuk ke arah sebuah pintu.
Putri mengangguk dan bergegas ke arah ruangan yang di tunjuk Vartan. Saat pintu di buka pertama kali yang di lihat adalah tempat tidur yang tidak kalah besar yang ada di kamarnya. Yah, ini adalah ruangan pribadi milik Vartan. Hanya Vartan dan petugas kebersihan yang bisa memasuki ruangan tersebut. Dan sekarang Putri juga akan bebas masuk ke ruangan itu.
Setelah berwudhu, Putri memakai mukena yang selalu dibawanya. “Oh, iya kiblatnya arah mana ya?” Putri bingung. Ia lalu membuka ponselnya melihat aplikasi arah kiblat. Namun, di sana hanya menunjukkan melewati arah barat sedikit. Masalahnya Putri tidak tahu di mana arah barat. Ia pun memutuskan untuk bertanya pada Vartan.
Ia membuka pintu sedikit yang hanya menongolkan kepalanya. Ia ingin memanggil Vartan tapi, tidak tahu sebutan seperti apa yang pantas memanggil nama suaminya itu. Karena, selama ini hanya sebutan aku dan kamu.
“Ehem!”, Putri berdehem kuat.
Tapi, kelihatannya tidak ada respons. Putri pun semakin bingung.
“Ehem! Sst..sst..!”, Putri mencoba lagi.
Sedangkan Vartan, sebenarnya ia ingin sekali tersenyum tapi, ia tahan. Dia tahu Putri mencoba memanggilnya tapi, Vartan juga ingin tahu sampai mana usaha Putri.
Putri sangat kesal karena Vartan tidak menjawabnya.
‘Lalu aku harus gimana? Manggil namanya langsung juga gak sopan. Secara dia lebih tua enam tahun dari aku. Kalau aku panggil mas, kira-kira dia marah gak ya? Tapi, aku juga malu harus memanggilnya dengan sebutan mas’, Putri berdebat dalam hati.
Akhirnya Putri menarik napas panjang. “Mas... Vartan”, ucap Putri perlahan.
Dan pada akhirnya Vartan tidak bisa untuk tidak tersenyum. Yah, walaupun tidak memperlihatkannya pada Putri. Vartan menoleh ke arah sumber suara yang merdu itu memanggil.
“Kiblatnya arah mana mas?” kata Putri lembut.
Lalu, Vartan menunjuk arah kiblat itu. Putri pun tersenyum dan menutup pintu kembali.
***