Ada dua hal yang akan membuatmu menangis, kebahagiaan dan kesedihan.
oOo
Suara hujan menemani Tiara saat dia duduk dan dikelilingi di antara para buku, tidak ada teman lain bagi Tiara kecuali buku. Entah novel fiksi atau ensiklopedia bahkan tetralogi. Semua dia menyukainya. Terutama aroma buku yang membuat dia candu. Lantunan musik Jeremy Zucker dan Astrid S. membuatnya sesekali mengangguk-anggukan kepala, earphone yang melekat di telinganya terpasang dengan tali yang mengeliling lehernya. Kebiasaan setiap harinya, dia pasti selalu mengunjungi perpustakaan kota sejak kecil. Percuma saja jika dia di rumah, Bi Raya juga pasti tidak ada. Kalau pekerjaan rumah sudah selesai, biasanya Bi Raya akan kembali pulang menjaga toko laundry miliknya.
Beberapa menit kemudian, keceriaan menjadi haru. Perlahan suara isak tangis membuat beberapa pengunjung menatap ke arah Tiara. Tetesan air matanya membasahi mejanya. Dia menangis terharu membaca buku karya Dee Lestari yang membuat dia tak sanggup menahan bahagia saat happy ending. Persatuan dua hati yang membentuk cinta membuat Tiara terharu, selama ini dia tidak tahu apa itu cinta yang sesungguhnya, yang dia tahu hanya ketika kedua orang tuanya hanya memikirkan bisnis. Dia hidup tanpa ada pemberian cinta. Jelas hidupnya terasa hampa bahkan mungkin hatinya saja kosong tak bertuan. Tokoh dalam novel di setiap halaman yang dia baca membuatnya menyadari suatu hal, dia sangat bahagia untuk bisa membaca dan membayangkan mereka. Berbagai kisah cinta telah dia baca, membuat sedikit demi sedikit senyuman manis terukir dalam wajah cantiknya.
Tiara tanpa sengaja menjatuhkan buku lainnya ke bawah, suara dentuman buku terjatuh dari meja membuatnya melepas earphone dan mengambil buku itu. Ketika dia kembali mendongak dan duduk dengan tegap, pandangannya dipenuhi dengan seorang lelaki tampan yang kemarin menolong kakinya yang terjepit dari pintu. Artha Anggara, dia tampak oke dengan hoodie merah dan celana jin hitam. Meski dia menggunakan tudung dan rambutnya sedikit keluar, dia terlihat tampan bagi Tiara.
"Artha?" sapa Tiara dengan suara sekecil mungkin. Takut apabila penjaga perpustakaan ini akan menegurnya karena berbicara terlalu keras.
Artha mendongak dan mendapati wajah Tiara yang berbinar, seketika hadir rasa risi dalam hatinya. Dia memutar bola matanya dan bangkit membawa buku yang dia baca dan duduk di tempat lain. Tepat di pinggir jendela yang membuat dia lebih terdengar jelas suara percikan hujan ketimbang suara Tiara yang melengking di telinganya. Biasanya, benci akan menjadi cinta. Sayangnya Artha tidak setuju dengan statement itu. Jika benci, selamanya akan benci.
"Tha?" sapa Tiara lagi. Gadis manis ini tidak menyerah, dia melepas ikat rambutnya dan membiarkan rambutnya menjuntai ke bawah. Merapikan sedikit poninya dan menyisirnya dengan jari. Menjadi cantik adalah salah satu cara perempuan memikat lelaki. Seperti yang dilakukan Tiara saat ini. Artha sama sekali tidak meliriknya, dia terus membaca buku tanpa menoleh ke sumber suara yang memanggilnya. Suara Tiara bagi Artha seperti hantu perempuan dalam film horor yang membuatnya lebih memilih berlari daripada membalas panggilannya.
"Tha?" Tiara terus memanggil Artha tanpa menyerah, dia duduk tepan di depan Artha.
Panggilan ketiga dari Tiara membuat Artha melepas hoodie-nya dan menatap Tiara tajam. Raut wajahnya jelas terlihat kesal, namun Tiara malah tersenyum seolah tanpa beban hidup. Artha kemudian memejamkan matanya, memikirkan kata-kata yang tepat untuk dia keluarkan agar tidak menyakiti Tiara.
"Perpustakaan akan jauh lebih menyenangkan jika tanpa suaramu," ucap Atha dengan suara rendah.
Tiara lalu tersenyum lebar, menunjukkan deretan gigi putih dan lesung pipitnya, dia mengangguk dan mengibaskan rambutnya lalu menopang dagunya dan menatap lekat Artha. Dengan rasa tanpa malu serta kepercayaan tinggi, Tiara mengedipkan matanya. Wajah Artha menjadi pucat pasi melihat Tiara yang seperti itu. Dia tidak menyangka, jika Tiara ternyata perempuan yang suka menggoda lelaki. Kenyataannya, Artha salah besar. Kedipan sebelah mata itu bagi Tiara adalah jawaban 'Oke'. Biasanya ayahnya selalu melakukan hal itu kepada ibunya saat ibunya mengomel tanpa henti.
"Kamu ngapain?" tanya Artha, dia sudah tidak bisa menahan rasa ketidaknyamanannya.
"Aku? Enggak ngapa-ngapain." Tiara mengendikkan bahunya.
"Diamlah, aku mau membaca buku. Mengisi otakku dengan ilmu."
Tiara terperangah dan makin terpesona dengan Artha, jika saja orang lain yang mendengar ucapan Artha, sudah pasti mengiranya congkak, lain halnya dengan Tiara, dia malah mengaguminya. Dia melirik buku yang dibaca oleh Artha. Buku tentang budidaya ikan lele, tak disangka ternyata Artha juga ingin berkecimpung di dunia bisnis. Tiara lalu memilih memperhatikan Artha lekat-lekat, menikmati wajah Artha yang nampak damai saat membaca buku. Baginya Artha jauh lebih tampan saat membaca buku ketimbang berbicara dengannya. Bagi Tiara sifat Artha berubah-ubah, saat pertama kali dia menolong Tiara, Artha nampak ramah dan sekarang malah besikap dingin. Terkadang, lelaki jauh lebih rumit daripada perempuan.
Tiara tahu dalam hatinya pasti Artha gelisah karena sedari tadi dia pandangi. Dia akhirnya memilih membaca novel kedua, kali ini novel Berhenti di Kamu milik Dewi Wulan Sari. Dia membaca seksama, kisah Aura dalam novel ini membuat dia terenyuh. Aura terus mempertahankan rasa cintanya sampai akhir. Dia tidak menyangka, ada juga cinta seperti itu. Air matanya menetes saat membaca 'mengikhlaskan adalah cara agar tidak ada rasa sakit' dalam novel itu. Dia tak tahu bagaimana rasa sakit yang sesungguhnya, mencintai saja rasanya tidak pernah. Menurutnya seperti saat ini dia hanya sebatas kagum kepada Artha. Kisah Aura dan Arya membuat hatinya tersentuh, air matanya belum berhenti menetes, bahkan ketika dia telah membaca bab selanjutnya.
"Nangis? Kenapa?" tanya Artha. Dia merogoh sakunya dan mencari sapu tangan. Dia mengulurkan sapu tangannya, memberikan kepada Tiara. Artha ingat pesan ibunya, jika tidak bisa menghapus air mata wanita dengan tanganmu, berikanlah dia kekuatan untuk bisa tersenyum, itulah lelaki sesungguhnya.
"Enggak papa. Ceritanya bagus," ucap Tiara dengan suara gemetar karena menangis.
Artha menarik napas, dia kira ada apa sampai Tiara menangis seperti itu. "Lebay," cibirnya.
Tiara menutup bukunya dan mencubit tangan Artha dengan gemas. Ucapan Artha membuat dia kesal.
"Bilang sekali lagi coba! Apa? Aku enggak dengar!" ucap Tiara dengan nada sebal tapi masih mengontrol nada tingginya agar tidak ditegur penjaga perpustakaan.
"Dengerin baik-baik. L-E-B-A-Y." Artha menjulurkan lidahnya lalu meninggalkan Tiara sendirian. Merasa ditinggalkan, Tiara menutup bukunya dan meletakkan di rak buku yang telah dibaca, dia lalu berjalan tergesa-gesa mengikuti langkah Artha. Sayangnya di luar masih hujan, mereka terhenti di teras toko dan duduk di bangku. Saat ini pengunjung sangat sepi, tidak lebih dari sepuluh orang. Kini hanya mereka berdua duduk di teras ditemani ikan koi yang sibuk berenang kesana kemari.
"Kamu kenapa ngikutin aku?" tanya Artha.
"Gak tau, aku suka aja."
Artha menatap Tiara jengah, kalau sudah begini dia tidak ada cara lain selain membiarkan Tiara bertindak sesukanya.