Tringg...
Lonceng toko itu berbunyi, ada pelanggan masuk, seorang laki-laki. Pelanggan pertama di hari itu, sekaligus pelanggan yang tak terduga.
"Selamat datang, " sambut pemilik toko dengan senyum ceria dan polosnya.
Keduanya bertatapan, tatapan lembut, teduh, yang entah mengapa menyiratkan kerinduan. Seperti mata yang lama tak saling memandang, mata yang selalu menunggu waktu untuk bertemu.
Laki-laki itu bergerak, berhenti tepat di depan kasir, tempat si pemilik toko berdiri.
"Hai, apa kabar?" sapa nya dengan suara yang masih sama, suara yang menenangkan.
"Hai?" hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut perempuan itu, si pemilik toko.
Tersenyum kaku, seolah ia tak pernah senyum sebelumnya. Hening, tak pernah ada yang menyangka pertemuan itu akan terjadi.
"Apa kabar?"
"Baik, kamu gimana?"
Laki-laki itu tersenyum dan melihat sekeliling, matanya menyiratkan kebanggaan
"Aku selalu percaya kamu pasti bisa."
"Iya, kan memang cuma kamu yang percaya mimpi-mimpiku."
Perempuan itu tersenyum bangga, dengan mata penuh harap pada laki-laki itu.
"Mimpi kamu terlalu indah untuk ga di percaya, da."
Perempuan itu berhenti tersenyum, menatap lama laki-laki itu. 'da', panggilan itu, panggilan yang hanya diberikan oleh dia. Sesuatu yang sudah lama tak di dengar, yang dulu selalu di sematkan setiap akhir kalimat untuk menandakan bahwa dia bicara pada satu orang.
"Kamu mau pesan apa?"
"Oh iya, aku mau chocolate cake satu ya da."
"Boleh, buat Thalia ya?"
"Iya da"
Suaranya masih sama. Tenang, tapi entah kenapa ada rasa aneh di dalam hati perempuan itu ketika mendengarnya. Rasanya hangat, seperti sesuatu yang sudah lama hilang dari pelukan.
"Kalau thalia biasanya Bunda beli yang slice, ga boleh makan coklat banyak-banyak katanya. Mau itu aja?"
"Boleh da, Bunda biasa kesini ya?"
Sambil menyodorkan satu lembar uang, laki-laki itu bertanya seraya tersenyum, dengan mata yang menyiratkan kesenangan.
"Iya, ka. Ga usah bayar gapapa."
"Ngga da, kamu jualan ya aku harus bayar."
"Baiklah."
Perempuan itu tak bisa berkutik, bagaimanapun laki-laki itu kalau sudah bicara serius gak akan bisa di bantah.
Sambil menyiapkan pesanan, perempuan itu menerawang. Membayangkan betapa waktu membawa banyak perubahan pada Lelaki-Nya itu. Sepertinya dia akan dapat hukuman, karena mengakui sesuatu yang bukan miliknya, lagi.
"Ini pesanan kamu, maaf ya lama."
"Untuk sesuatu yang secantik ini, kayaknya nunggu berhari-hari juga aku gapapa."
"Iya, terus nanti kamu bikin ulasan rating toko ku bintang 1, dengan kata 'kerja nya lama banget, kue kecil aja harus di buat berhari-hari'. Iya, kan?"
Perempuan itu mengejeknya, dan si laki-laki hanya tertawa. Mengacak rambutnya, dan si perempuan hanya cemberut manja. Persis, seperti yang mereka lakukan dulu.
"Haha, kamu masih ga berubah ya da? Ga mungkin dong aku kayak gitu."
"Ya siapa tau kan."
Tawa merekan berhenti, waktu seakan menyadarkan bahwa semua harus selesai saat itu.
"Aku pergi dulu ya da, senang bertemu kamu lagi."
"Iya, aku juga. Hati-hati ya."
Laki-laki itu pergi, meninggalkan si perempuan dengan hati dan rambut yang sudah di acak-acak. Pikirannya melayang, membayangkan masa lalu, ketika mereka masih menjadi kita.