Malam itu gerimis berhasil menjebak banyak orang. Ada yang sampai larut di dalam kofi shop, ada yang duduk sendirian di halte, ada yang menghela napasnya beberapa kali di teras ruko sembari terus menatapi jalanan. Yang basah, yang licin, dan yang renggang itu, dan ada juga yang diam-diam menangis dengan perasaan kebas. Rasanya ... bahkan dia tidak bisa mendeskripsikan bagaimana sekarang ini.
Dia juga tidak tahu setelah ini hidupnya akan seperti apa. Setelah apa yang orang di sampingnya itu lakukan, apa bisa dia menerima dirinya sendiri? sedang dirinya sudah tidak lagi utuh. Baginya sudah banyak sekali bagian yang diambil oleh laki-laki tersebut, dan dia merasa sangat bodoh karena tidak melakukan pencegahan apa pun. Yang dia lakukan hanya menangis. Sampai si pencuri benar-benar berhasil mengambil apa yang ingin dia ambil.
"Gue bakal nikahin lo," ujar Ganendra. Namun, Adira tidak menginginkan itu lagi.
"Menikah itu karena lo emang bener-bener siap menikah, bukan atas rasa bersalah kayak gini." Gadis itu masih memunggungi laki-laki tersebut. Sedang yang laki-laki hanya bisa meliriknya dengan tarikan napas yang panjang. Untuk Ganendra, ini jelas bukan yang pertama, tapi kenapa baru kali ini dia merasa bersalah? Kenapa baru kali ini dia tidak bisa menganggap semuanya wajar di saat seharusnya, untuk ukuran Ganendra ini masih wajar? Dan kenapa baru kali ini dia ingin mengulang waktu untuk mencegah dirinya sendiri agar tidak melakukan itu kepada Adira. Sebab setelah melihat Adira—gadis yang dia cintai meringkuk sambil menangis karena ulah brengseknya, dadanya seperti dihampit oleh dua benda yang keras, dan dua benda itu berkolaborasi dengan baik untuk menghantamnya habis-habisan, sampai kedua mata Ganendra ikut berkaca-kaca akan perasaan kebas itu.
"Dir ...," panggilnya lirih.
"Gue janji gue enggak akan ke mana-mana, gue janji gue akan nikahin lo."
"Gue mau pulang." Gadis itu bangkit, dan menyambar jas almamaternya, tapi dengan gerakan yang sama-sama tidak punya tenaga lagi, Ganendra menyambar tangan itu.
"Gue anter."
"Enggak perlu."
"Hujan, Dir, lo nggak bisa pulang sendiri." Ganendra jelas khawatir. Jadi dia buru-buru menyusul langkah Adira.
"Dir!"
"Gue enggak peduli!"
"Tapi gue peduli, gue enggak mau lo kenapa-kenapa, gue enggak mau lo sakit."
Gadis itu terkekeh pelan, tapi di waktu yang sama air matanya masih keluar, dan tepat ketika Ganendra berhasil menyambar tangannya, dia memejamkan matanya dengan tarikan yang begitu lelah.
"Mau lo tuh apa, sih, Kak? Lo mau apa lagi? Setelah lo sudah ambil apa yang selama ini gue jaga, lo mau apa?"
"Gue cuma mau nganterin lo pulang, Dir, gue enggak mau lo kenapa-kenapa di jalan."
"Gue bukan anak kecil, gue tahu arah pulang, gue juga bisa jaga diri gue."
"Lo kenapa jadi gini, sih, Dir?"
"Lo nggak tahu kalau gue khawatir? Lo nggak percaya kalau gue bakalan tanggung jawab dan nikahin lo? Lo nggak cuma kenal sehari dua hari sama gue, dan seharusnya lo tahu kalau gue selalu menepati omongan gue."
"b******k!" Adira muak, alih-alih merasa bersalah Ganendra justru sangat menyepelekan perbuatannya. Adira pun ingin pergi secepat mungkin dari sana, tapi dia benar-benar tidak punya tenaga lagi untuk sekedar memberontak dan melepaskan cekalan Ganendra yang sekarang ini malah semakin kuat. Jadi dia hanya bisa berkata dengan lirih, dengan nada memohon, "Gue bilang gue mau pulang ...."
"Nggak ada yang nahan lo buat pulang, tapi gue nggak akan biarin lo pulang sendiri."
"Kak—" Setelah memejamkan matanya, gadis itu mendongak, menatap Ganendra dengan perpaduan banyak emosi—bahkan napasnya masih naik turun karena dia juga menahan dirinya agar berhenti menangis di depan laki-laki itu.
"Gue bilang lepasin tangan gue."
"Nggak."
"Kenapa?" tanya Adira yang spontan mendorong d**a laki-laki itu.
"Kenapa lo mesti khawatir? Kenapa lo mesti nggak mau gue kenapa-kenapa padahal itu juga bukan urusan lo."
"Gue benci sama lo, gue tahu lo juga tahu itu!"
"Karena tadi?" tanya Ganendra yang ikut meninggikan suaranya.
"Buat lo mungkin sudah biasa, tapi buat gue enggak!"
"Dan lo juga harus tahu kenapa gue bisa sebenci itu sama lo."
"Because you're an asshole, you managed to make me hate myself, and at the same time, you made me feel like the stupidest person ever. Bodoh karena gue mau ke sini, bodoh karena gue percaya kalau lo butuh bantuan gue padahal lo itu Ganendra! Yang pinter, yang bisa ngelakuin apa pun sendiri, dan bodoh karena dari banyaknya laki-laki baik, gue malah mencintai cowok b******k kayak lo!"
"Dir, gue sayang sama lo ...." Itu benar, Ganendra memang sangat menyayangi Adira, tapi setelah apa yang terjadi, Adira enggan mempercayainya.
"Karena kalau lo beneran sayang sama gue, lo enggak akan ngelakuin itu ke gue, Kak! Lo enggak akan ngebuat gue nangis kayak sekarang!"
"Tapi, Dir ...." Saat Ganendra kembali mencengkal tangan itu untuk yang ketiga kalinya, Adira langsung mendongak, dan untuk ketiga kalinya juga Adira menebas tangan Ganendra.
"Gue mohon, mulai hari ini jangan pernah temuin gue lagi, apa pun alasannya, tolong jangan pernah nyari gue!"
***
Selama satu minggu Adira hanya berdiam diri di kamar. Dia sengaja mengasingkan dirinya dari banyak orang, dan yang dia lakukan hanya menyesali hari itu. Mulai dari dia yang mendatangi Ganendra, dia yang seperti orang bodoh karena membiarkan Ganendra melecehkannya, dan bagian konyolnya, Adira juga menyesali marahnya dia pada Ganedra, dengan kata lain, Adira pun menyesal telah menyuruh Ganendra pergi.
Gadis itu tertawa pada udara yang kosong. Nyatanya Ganendra hanya main-main.
Karena terbukti sampai detik ini, laki-laki itu tidak pernah ke kosan untuk sekedar meminta maaf, meskipun malam itu Adira menyuruhnya untuk pergi, tapi bukankah lebih baik jika dia memilih untuk tidak mendengarkan ucapan Adira. Bukankah lebih baik jika dia tetap bertanggung jawab, dan bukankah akan lebih baik jika dia tetap ke kosan Adira. Sekalipun Adira tidak membukakan dia pintu. Sekalipun dia harus berteriak dan Adira pura-pura tidak mendengar, atau bahkan sekalipun Adira akan langsung mengusirnya.
Sore itu sore yang hangat. Di luar matahari nampak merebah dengan perlahan-lahan. Adira sendiri sudah mulai merapikan buku-bukunya dan berencana akan kembali ke kampus, tapi ketika dia mencari almamaternya, dia tidak menemukan itu. Padahal dia ingat dengan baik di mana dia menyimpan almamater tersebut, lalu selang beberapa menit pintu kosannya diketuk dari luar. Tidak ada tebakan lain di kepalanya siapa orang itu kalau bukan Ganendra, jadi Adira teramat yakin. Namun, sayangnya ketika pintu dibuka, alih-alih Ganendra, yang menemuinya justru orang lain. Dua orang dengan seragam polisi.
Adira sempat tercenggang, bertanya-tanya ada apa sampai polisi menemuinya, bahkan firasat gadis itu mendadak tidak enak. Dia yakin dia tidak melakukan kesalahan apa pun, tapi setelah mereka meminta izin untuk mengeledah kosan Adira dan Adira mempersilakan, begitu proses penggeledahan selesai, Adira justru diklaim sebagai tersangka. Tersangka atas kasus pembunuhan laki-laki bernama Ganendra Wijaya.
Tunggu ....
"Ganendra meninggal?"