Tujuh semester telah berlalu. Kini, kuliah Dita telah sampai pada semester akhir. Untuk menyelesaikan studinya, Dita diharuskan untuk melakukan tugas kuliah yang disebut 'Kuliah Kerja Nyata' atau yang lebih dikenal dengan KKN. Biasanya KKN dilakukan di desa.
Siang ini, Pak Suryo baru saja mengakhiri mata kuliahnya. Dita dan beberapa orang mahasiswa lainnya, masih berkumpul di ruang kuliah.
"Gimana, To? Kamu sudah menemukan tempat yang tepat untuk KKN?" tanya Karsan kepada Winarto yang duduk tepat di depannya. Winarto yang sedang bermain HP membelakangi Karsan, segera mengubah posisi duduknya menghadap ke arah Karsan.
"Sudah," jawabnya.
"Di mana?"
"Di desaku."
"Gimana kalau di desa Seruling aja," usul Laras tiba-tiba.
"Desa seruling? Di mana itu?" tanya Dita sambil mengerinyitkan dahi. Nama desa itu terdengar asing dan unik.
"Di daerah Trenggalek, Jawa Timur. Pemandangan desa itu sangat bagus karena dikelilingi hutan dan berada di daerah perbukitan," jelas Laras.
"Kamu pernah ke sana?" tanya Hendra.
"Belum."
"Dari mana kamu tau kalau desa itu sangat bagus?"
"Kata kakakku."
"Jadi, gimana? Kita akan melaksanakan KKN di desanya Winarto atau di desa Seruling?" tanya Hendra meminta kepastian.
"Kalau yang dikatakan Laras memang benar, aku lebih suka melaksanakan KKN di desa Seruling," timpal Rini yang sedari tadi hanya menjadi pendengar.
Ucapan Rini membuat teman-temannya terdiam seolah-olah menyetujui pendapatnya. Memahami akan hal itu, Karsanpun berkata, "Harus kita cek dulu desa itu apakah desa itu memang sesuai untuk kita jadikan sebagai tempat untuk melaksanakan KKN atau nggak."
"Ya. Selain mengecek, kita juga harus mencari tempat tinggal sehingga begitu kelompok kita tiba di sana, kita tidak perlu lagi mencari tempat tinggal," kata Dita menambahkan.
"Untuk mengecek desa itu, cukup perwakilan dari kita saja yang melakukanya."
"Kira-kira siapa yang akan melakukan pengecekkan?" masih Hendra yang bertanya.
"Gimana kalau Laras? Dia yang lebih tau tentang desa itu," usul Winarto.
"Gimana, Ras? Kamu mau mengecek desa itu?" tanya Karsan.
"Dengan senang hati. Dit, kamu mau menemaniku pergi ke sana?"
"Ya, aku mau," angguk Dita.
Kesepakatan telah tercapai. Merekapun bubar meninggalkan ruangan itu.