Wirya menemui Alga di tempat yang tak mungkin disangka siapa pun: kantin pegawai Bumi Sentosa, siang bolong, di antara puluhan orang. Tempat paling ramai adalah tempat paling aman untuk percakapan yang paling berbahaya.
Dokter dengan pantofel mengilap itu duduk dengan nampan yang tak ia sentuh. Untuk pertama kalinya sejak Alga mengenalnya, jas Wirya tampak kusut. Ada noda kopi kecil di lengannya. Hal sepele, tapi pada Wirya, sepele itu berarti dunianya mulai retak.
"Saya tahu kamu merekam saya, dulu, di ruang obat," kata Wirya tanpa basa-basi, suaranya rendah. "Saya tidak bodoh."
Alga tak menjawab. Ia membiarkan diam bekerja.
"Mereka akan menjadikan saya tumbal," lanjut Wirya, menatap kopinya yang dingin. "Saya tahu cara kerja orang seperti Damar. Kalau perahu tenggelam, dia akan menunjuk saya. 'Dokter Wirya yang mencoret diagnosis. Dokter Wirya yang memulangkan pasien. Tanda tangan dia ada di semua status.'" Ia tertawa, getir, tanpa suara. "Dan dia benar. Tanda tangan saya memang di sana. Saya yang memegang penanya. Damar tidak pernah menyentuh satu status pun. Dia cuma bicara. Bicara itu tidak meninggalkan tanda tangan."
"Karena itu kamu di sini," kata Alga.
Wirya akhirnya menatapnya. Mata dokter itu, yang dulu licin dan ramah palsu, kini hanya lelah dan takut. "Apa yang ditawarkan polisi itu?"
"Saksi mahkota," kata Alga. "Perlindungan. Hukuman ringan kalau kamu bekerja sama penuh—menyerahkan semua, menyebut nama, bersaksi di bawah sumpah siapa yang memberi instruksi. Kamu tidak akan bebas, Dok. Kamu ikut membunuh orang. Tapi kamu tidak akan jadi satu-satunya yang tenggelam sementara Damar dan Halimah berenang ke pantai."
Wirya diam lama. Di sekeliling mereka, kantin berdengung dengan kehidupan biasa—perawat tertawa, sendok berdenting, seseorang mengeluh soal jadwal jaga. Dunia normal yang berputar di atas kuburan yang mereka semua bantu gali.
"Kamu tahu," kata Wirya pelan, "saya dulu juga dokter internsip. Sepertimu. Tangan saya gemetar di hari pertama, persis." Ia menatap tangannya sendiri, kini stabil oleh tahun-tahun praktik dan kompromi. "Lalu seseorang berkata pada saya: di rumah sakit ini, kamu bisa jadi tangan yang menyelamatkan, atau kamu bisa jadi tangan yang menutup mata. Yang pertama membuatmu lelah dan miskin. Yang kedua membuatmu naik." Ia menelan ludah. "Saya pilih naik. Setiap status yang saya coret, saya bilang pada diri saya: angka. Cuma angka di laporan. Bukan orang."
"Mereka orang," kata Alga, suaranya tajam dan rendah. "Bu Sulastri orang. Dia menggenggam tangan saya kemarin. Pak Solihin orang. Anak yang hampir kamu stempel ungu minggu lalu—orang."
Wirya menutup mata. Saat membukanya, ada sesuatu yang patah di sana, dan sesuatu yang lain—mungkin sisa dari dokter internsip yang gemetar dua puluh tahun lalu—mencoba bernapas lagi.
"Saya punya salinan sendiri," kata Wirya tiba-tiba. "Damar tidak tahu. Setiap instruksi yang dia berikan lewat telepon, saya rekam. Setiap pesan, saya simpan. Bukan untuk melawan—saya tidak sebrani itu. Saya simpan untuk asuransi. Untuk hari seperti hari ini, kalau perahu tenggelam." Ia mengeluarkan ponsel lama dari saku, meletakkannya di nampan, mendorongnya satu inci ke arah Alga. "Di sini ada suara Damar menyebut kuota. Menyebut 'bersihkan ranjang tujuh'. Menyebut—" ia ragu, "—menyebut dr. Larasati. Sebelum dia 'kecelakaan'."
Alga membeku menatap ponsel itu.
"Saya tidak akan menyerahkannya pada kamu," kata Wirya, menarik tangannya. "Saya akan menyerahkannya pada polisi yang kamu sebut. AKP Bayu. Resmi. Dengan jaminan tertulis." Ia berdiri, mengambil nampannya yang tak tersentuh. Untuk sesaat ia berdiri di sana, dokter berjas kusut, lalu berkata, nyaris berbisik:
"Suruh dia menelepon saya malam ini. Sebelum saya berubah pikiran. Sebelum saya kembali jadi pengecut."
Ia berjalan pergi, pantofelnya masih mengilap, tapi langkahnya tak lagi sombong. Pelaksana telah memutuskan melawan dalang. Rantai bukti yang putus di atas Damar—malam ini akan tersambung.