Arsip dari flashdisk Larasati sudah disalin ke tiga tempat, dicetak, diserahkan ke pengadilan. Yang tinggal hanya satu folder kecil yang belum sempat dibuka siapa pun, terselip di antara ratusan map digital korban. Namanya cuma satu kata: "Penerus."
Alga menemukannya tengah malam, di ruang dokter RS Harapan Kita, saat lampu IGD di seberang kaca menyala redup. Renjana duduk di sampingnya, kopi dingin tak tersentuh. Mereka sudah lelah merayakan; kemenangan tak terasa seperti kemenangan, lebih seperti napas yang akhirnya boleh diembuskan.
"Buka," kata Renjana.
Folder itu berisi satu berkas. Sebuah surat. Diketik, lalu dipindai—ada tanda tangan tangan di bawahnya, miring, terburu, khas orang yang menulis sambil takut waktunya habis. Alga mengenal nama itu meski tak pernah bertemu pemiliknya.
*dr. Larasati Sekar Wening.*
Renjana menarik napas tajam. Selama setahun ini ia melawan demi nama itu, dan baru sekarang nama itu seakan bersuara kembali.
Alga membaca pelan. Suaranya nyaris bisik.
"Untuk siapa pun yang membaca ini," ia mulai. "Berarti aku sudah tidak ada, dan kau memilih untuk tidak diam. Terima kasih. Aku tahu betul harga pilihan itu, karena aku sedang membayarnya saat menulis surat ini."
Tangan Alga gemetar sedikit—tangan yang dulu gemetar di hari pertamanya, yang sekarang sudah mantap menahan kompresi dada, mengintubasi, menjahit. Tapi malam ini gemetar lagi, untuk alasan yang berbeda.
"Aku menjadi dokter karena percaya satu hal sederhana," surat itu berlanjut. "Bahwa nyawa tidak boleh jadi angka. Begitu kita izinkan satu nyawa jadi angka di laporan, kita izinkan semuanya. Dan rumah sakit berhenti menjadi tempat menyembuhkan—ia menjadi mesin yang menghitung siapa pantas hidup. Aku melihat mesin itu menyala di sini. Aku mencoba mematikannya sendirian. Itu kesalahanku."
Renjana menunduk. Tangannya mengepal di atas meja.
"Kepada yang melanjutkan: jangan sendirian. Aku mati karena kira aku cukup kuat untuk berdiri seorang diri. Tidak ada dokter yang cukup kuat. Kita ditakdirkan bekerja dalam tim—di meja resusitasi, di mana satu orang menekan dada, satu menjaga jalan napas, satu menghitung. Begitu pula melawan kejahatan. Carilah tangan-tangan lain. Percayalah pada perawat yang lelah tapi jujur. Pada petugas kebersihan yang tahu lebih banyak dari siapa pun. Pada keluarga pasien yang marah. Mereka senjata yang dilupakan orang berkuasa."
Alga berhenti. Tenggorokannya tercekat. Ia teringat Sekar, teringat Pak Gunawan yang menyelipkan kartu akses dengan tangan keriput, teringat Nayla yang mengumpulkan keluarga korban satu per satu.
"Larasati sudah tahu," gumam Alga. "Sebelum kami semua. Dia sudah merancang jalannya. Kita cuma... mengikuti petanya."
Renjana mengusap matanya cepat, malu bahkan di depan Alga. "Dia memang selalu lebih dulu dari kita semua. Bahkan sekarang."
Alga membaca bagian terakhir. Paragraf pendek, kalimat-kalimatnya patah seperti ditulis tergesa.
"Satu hal lagi. Jangan biarkan kemarahan mengubahmu jadi mereka. Kita melawan karena cinta pada pasien, bukan benci pada musuh. Saat semua selesai—dan akan selesai, aku percaya itu—jangan hancurkan rumah sakitnya. Sembuhkan. Itu yang membedakan kita dari mereka. Mereka menghancurkan untuk menyelamatkan citra. Kita harus menyelamatkan, meski itu berarti mengampuni tembok yang pernah jadi peti mati."
Hening panjang. Di luar, monitor IGD berdenting pelan, irama jantung seseorang yang masih hidup.
"Lima menit selisih hidup dan mati," Alga membaca penutupnya. "Aku habiskan hidupku mengejar lima menit itu. Kalau surat ini sampai padamu, berarti aku kalah dalam lima menitku. Tapi kau—kau masih punya milikmu. Pakailah baik-baik. Jaga gerbang itu. Larasati."
Alga meletakkan kertas itu. Tak ada yang bicara cukup lama sampai kopi Renjana benar-benar membeku.
"Dia menulis surat untuk orang yang belum dia kenal," kata Renjana akhirnya, suaranya parau. "Untuk kamu, Alga. Dua tahun sebelum kamu masuk pintu itu."
Alga menatap tanda tangan miring di bawah kertas. Untuk pertama kalinya sejak semua dimulai, ia merasa tak sedang berdiri di reruntuhan—ia sedang berdiri di atas pundak seseorang.
"Kalau begitu," ujarnya pelan, "kita teruskan."