Pagi itu pukul 06.40, seorang pemuda berdiri kaku di depan pintu kaca IGD. Jas putihnya terlalu bersih, tanda baru. Papan namanya mengilap: *dr. Raka Wijaya — Dokter Internsip.* Tangannya, bahkan dari kejauhan, terlihat gemetar.
Alga melihatnya dari nurse station dan tersenyum kecil. Cermin. Setahun yang lalu, persis di tempat itu, dengan ketakutan yang sama persis.
Pemuda itu hampir berbalik. Alga melihat momen itu datang—bahu yang menegang, kaki yang setengah memutar—jeda satu detik yang ia kenal terlalu baik. Maka ia keluar, melewati pintu kaca, berdiri di samping anak itu.
"Hari pertama?" tanya Alga.
Pemuda itu menoleh kaget. "I-iya, Dok. Maaf, saya—"
"Hampir kabur?"
Wajah Raka memerah. "Tahu dari mana, Dok?"
"Karena aku juga," kata Alga. "Di tempat ini juga. Detik yang sama." Ia menepuk bahu pemuda itu. "Masuk. Yang menahanmu di luar tidak akan hilang. Tapi di dalam ada orang yang butuh tanganmu sekarang. Mereka tidak peduli tanganmu gemetar atau tidak. Mereka cuma butuh tanganmu ada."
*Butuh tangan, bukan patung.* Kalimat Renjana, setahun lalu, di malam banjir korban pertama, saat Alga membeku menatap darah. Alga tak pernah lupa. Sekarang ia mewariskannya—tapi dengan satu kata tambahan yang dulu tak ada di mulut Renjana yang dingin: kelembutan.
Mereka masuk bersama. Raka mengekor setengah langkah di belakang, matanya membesar menyapu ruangan—monitor, brankar, perawat yang berseliweran. Persis Alga di pagi itu.
"Bilik dua," Sekar memanggil. "Laki-laki, lima puluhan, nyeri dada, keringat dingin. EKG baru selesai."
Alga membaca EKG dalam sekali pandang. Elevasi ST di sandapan inferior. Otaknya langsung bekerja. Dulu, di hari pertamanya, melihat gambaran inilah yang membuka semuanya—Bu Sulastri, STEMI inferior yang dicoret jadi "maag". Sekarang, di rumah sakit ini, tak ada lagi yang berani mencoret apa pun.
"Raka," kata Alga, menyerahkan kertas EKG itu. "Baca. Apa yang kamu lihat?"
Tangan pemuda itu masih gemetar saat menerima kertasnya. Ia menelan ludah. "Elevasi... ST. Inferior. Ini... ini serangan jantung, Dok. STEMI."
"Bagus. Lalu apa yang kita lakukan dalam lima menit ke depan?"
"Oksigen, akses intravena, aspirin, panggil kateterisasi—" Raka berhenti, takut salah.
"Benar semua," kata Alga. Dan ia melihat sesuatu menyala di mata pemuda itu—ketakutan yang berubah jadi fokus, justru karena diberi tugas. Sama seperti yang dulu Renjana lakukan padanya. Beri dokter muda yang panik sebuah pekerjaan, dan paniknya jadi presisi.
Mereka bekerja bersama. Alga membiarkan Raka memasang akses, membimbing tangannya, menahan diri untuk tidak mengambil alih meski lebih cepat sendiri. Karena dulu Renjana juga menahan diri untuknya. Karena begitulah tangan diwariskan—bukan dengan mengambil alih, tapi dengan membiarkan gemetar itu belajar mantap.
Pasien stabil. Tim kateterisasi datang. Brankar didorong keluar bilik menuju lift, dan Raka berdiri di sana, napasnya tersengal, jasnya kini ada noda—setetes darah di lengan. Tanda pertama bahwa ia sudah benar-benar masuk.
"Dia akan hidup?" tanya Raka.
"Karena kamu tidak kabur," jawab Alga. "Lima menit tadi. Itu selisihnya."
Raka menatap noda di jasnya, lalu menatap pintu kaca yang baru saja ia lewati setengah jam lalu dengan ketakutan. Ada sesuatu di wajahnya yang berubah—sebuah pemahaman pertama tentang apa artinya pekerjaan ini.
Dari kejauhan, Renjana mengamati keduanya. Ia tak berkata apa-apa, tapi sudut bibirnya naik sedikit. Siklus itu berputar lagi. Tapi kali ini, ia tahu, siklusnya sehat. Tak ada stempel ungu menunggu di ujung. Tak ada B2 yang menampung map-map yang dibuang. Hanya seorang dokter membimbing dokter, dan pasien yang dibawa pergi untuk hidup—bukan untuk mati di luar tembok demi angka di laporan.
"Besok," kata Alga pada Raka, "kamu yang membaca EKG-nya lebih dulu. Aku cuma menonton."
Raka mengangguk, dan untuk pertama kalinya pagi itu, tangannya tidak gemetar.